ads

Tampilkan postingan dengan label Novel Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Oktober 2017

Ain Jalut (Novel Islam)

Novel Ini menurut Mimin : Bagus, Layak dibaca... apalagi buat orang-orang yang malas baca sejarah Islam tapi suka membaca novel. Meski bisa saja berisi beberapa cerita fiktif, tapi garis besarnya berdasarkan cerita nyata.

Sinopsis:
Saifuddin Quthuz adalah satu di antara tokoh besar dalam sejarah muslimin. Nama aslinya adalah Mahmud bin Mamdud.. Ia berasal dari keluarga muslim berdarah biru. Quthuz adalah putra saudari Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur pernah melawan pasukan Tartar dan mengalahkan mereka, namun kemudian ia kalah dan lari ke India. Ketika ia sedang lari ke India, Tartar berhasil menangkap keluarganya. Tartar membunuh sebagian mereka dan memperbudak sebagian yang lain.

Mahmud bin Mamdud adalah salah satu dari mereka yang dijadikan budak. Tartar menjuluki si Mahmud dengan nama Mongol, yaitu Quthuz, yang berarti “Singa Yang Menyalak”. Tampaknya sedari kecil Quthuz memiliki karakter orang yang kuat dan gagah. Kemudian Tartar jual si Mahmud kecil di pasar budak Damaskus. Salah seorang bani Ayyub membelinya. Dan ia dibawa ke Mesir. Di sini, ia pindah dari satu tuan ke tuan yang lain, sampai akhirnya ia dibeli oleh Raja Al-Mu’izz Izzuddin Aibak dan kelak menjadi panglima besarnya.

Dalam kisah Quthuz ini, kita bisa mencatat dengan jelas bagaimana skenario ajaib Allah SWT. Tartar telah memperdaya muslimin dan memperbudak salah satu anak-anak muslimin dan mereka jual langsung di pasar budak Damaskus. Untuk kemudian ia diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lainnya, yang akhirnya sampai ke suatu negeri yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Boleh jadi karena usianya yang masih kecil ia tidak melihat negeri jauh ini. Namun, pada akhirnya ia menjadi raja di negeri asing itu dan sepak terjang Tartar yang membawanya dari ujung dunia Islam ke Mesir pun harus berakhir di tangannya!

Subhanallah yang telah mengatur dengan Maha Lembut dan memperdaya dengan Maha Bijak. Tiada sesuatupun di bumi dan langit yang samar bagi-Nya.

ومكروا مكرًا ومكرنا مكرًا وهم لا يشعرون

“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (An-Naml [27]: 50)

Quthuz –sebagaimana mamalik (budak yang dididik militer) lainnya–tumbuh dengan pendidikan agama yang benar. Semangat Islam yang kuat bergelora di dalam hatinya. Sejak kecil, ia dilatih dengan seni menunggang kuda, metode pertempuran, seluk-beluk manajemen dan leadership. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda gagah berani, mencintai dan menjunjung tinggi agamanya. Ia juga seorang yang kuat, penyabar, dan perkasa. Selain itu semua, ia juga dilahirkan dari keluarga raja.

Masa kanak-kanak Quthuz layaknya para pangeran yang lain. Hal ini membuat dirinya begitu percaya diri. Ia tidak asing dengan masalah kepemimpinan, manajemen negara dan kekuasaan. Di atas itu semua, keluarganya hancur oleh Tartar. Hal ini–tentu saja–membuat dirinya paham betul dengan bencana Tartar. Sebab orang yang menyaksikan tidaklah seperti yang mendengar.

Semua faktor ini berpadu menjadikan Quthuz seorang yang memiliki karakter sangat unik. Ia merasa ringan dengan penderitaan, tidak takut dengan para musuh bagaimanapun banyak jumlahnya atau unggul kekuatan mereka.

Pendidikan Islam dan militer, juga pendidikan untuk berpegang teguh kepada Allah, agama dan percaya diri, semua itu mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan Quthuz –rahimahullah-.

Nama Quthuz mulai muncul ke permukaan setelah terbunuhnya Raja Al-Muizz Izzuddin Aibak dan istrinya Syajarah Ad-Dur dihukum mati. Kemudian kekuasaan beralih kepada “Sultan Bocah” Al-Manshur Nuruddin Ali bin Izzuddin Aibak. Quthuz-lah yang memegang perwalian atas sultan kecil tersebut.

Quthuz meskipun ia secara real menyetir roda pemerintahan di Mesir, namun pada kenyataannya yang duduk di kursi kekuasaan adalah seorang sultan bocah. Tentu hal ini melemahkan wibawa pemerintah di Mesir dan merongrong kepercayaan rakyat kepada rajanya serta menguatkan niat musuh-musuhnya karena mereka melihat raja adalah seorang bocah.

Dengan mempertimbangkan ancaman Tartar yang menakutkan, problema internal yang mencekik, kekacauan dan pemberontakan dari mamalik bahriyyah dan ambisi para emir Bani Ayyub di Syam, maka Quthuz melihat tiada makna keberadaan “Sultan Bocah” Nuruddin Ali di kursi negara terpenting di kawasan, yaitu Mesir, di mana tiada lagi harapan untuk membendung Tartar kecuali di pundaknya.

Dari situ, Quthuz mengambil keputusan berani, yaitu menurunkan Nuruddin Ali dan ia mengambil alih kekuasaan di Mesir. Keputusan itu bukanlah hal yang aneh. Sebab sebenarnya Quthuz adalah penguasa real di Mesir. Semua orang –termasuk “sultan bocah” itu sendiri–mengetahui hal itu. Seolah-olah ada boneka lucu di mana Quthuz-lah yang menggerakan boneka tersebut. Boneka itu adalah sultan yang bocah. Apa yang dilakukan Quthuz tiada lain hanya mengangkat boneka itu, untuk memperlihatkan seorang singa gagah yang di tangannyalah peta geografi dunia akan berubah, begitu pula lembaran-lembaran sejarah lainnya.

Penggantian ini terjadi pada tanggal 24 Dzul Qaidah 657 H, yaitu beberapa hari sebelum kedatangan Hulagu di Aleppo.

https://www.mediafire.com/file/24d7dg0ppi18tw6/Ain%20Jalut.rar

Minggu, 25 Juni 2017

Khadijah : Tersingkapnya Rahasia Mim

Setelah Ibrahim dan Hajar meninggalkan Al-Quds, keduanya harus menempuh perjalanan panjang meng- arungi padang pasir. Di belakang mereka hanya ada satu teman perjalanan. Ia adalah "angin sakinah" yang berembus tidak terlalu kencang. Tiupan angin ini begitu sepoi, lembut membelai, seolah hendak mengungkapkan dukungannya kepada keluarga yang tunduk berserah diri itu. Setiap langkah yang diayunkan merupakan satu tataran terangkatnya derajat mereka karena mampu melewati ujian yang akan membuat keduanya dikenang sebagai hamba yang agung dalam sejarah.

Selama berhari-hari, tanpa bicara, mereka terus berjalan. Sang ayah berada di depan, sementara sang ibu berada persis di belakangnya dengan seorang bayi mungil dalam pelukan. Sementara itu, "angin sakinah" menyelimuti mereka dalam tiupan lembut membelai dan terus mengiringi mereka berjalan... terus berjalan.

Mereka kemudian berhenti di suatu bukit kecil yang banyak sisa reruntuhan. Tempat ini dinamakan Bait al-Atik, tempat yang dulu pernah ditinggali Adam, rumah paling tua di dunia yang saat itu dalam keadaan rusak dan reyot, dengan dinding hampir roboh karena hempasan angin dan berada sendirian di antara ham- paran samudra padang pasir yang mengelilinginya.

Hajar lalu bertanya kepada suami dan juga nabi yang diimaninya.

"Akankah Kanda meninggalkan kami berdua di sini?" Tak ada jawaban, tak pernah ada jawaban…

Sampai akhirnya sebuah pertanyaan yang terucap, "Ataukah semua ini adalah sebuah ujian yang diperin- tahkan Allah?"

Ayahanda kita, Ibrahim, dengan wajah menanggung pedih namun berserah diri kepada takdir yang menim panya berkata, "Iya, Dinda akan ditinggal di sini seba- gai perintah dan ujian dari Allah."

Ibrahim pun melangkahkan kaki untuk meninggalkan nya.

Ibunda Hajar hanya seorang diri di tengah-tengah pa- dang pasir dengan bayinya. Ibrahim meninggalkan me reka di Baitul Atik yang tinggal puing-puing bertim- bun pasir. Perintah Allah telah menghendaki yang demikian sebagai ujian sehingga Ibunda Hajar pun men- jadi "Hajar" yang sesungguhnya.

Hajar berarti batu
Ia berarti pula ruangan
buaian
dan juga: mata

Setelah sejenak memandangi hamparan padang pasir di panas terik tanpa ada tempat berteduh, tebersit perasaan papa dalam hati Hajar yang masih muda belia. Memang telah disampaikan jauh sebelumnya bahwa semua ini adalah sebatas ujian baginya. Namun, tetap saja hatinya tersayat dan semakin tersayat oleh lang- kah kaki sang suami yang semakin menjauh mening- galkannya.

Inilah saat awal dimulainya rangkaian ujian. Ibrahim Khalilullah adalah satu-satunya tempat berteduh, seo- rang nabi yang diimani, seorang suami yang dicintai, tempat berbagi dan segalanya baginya.

Kini, ibunda kita hanya seorang diri, sunyi di tengah- tengah hamparan samudra padang pasir dalam usia- nya yang masih muda.

Akankah hanya terus duduk dan menunggu? Ah… setidaknya Ismail masih ada di sisinya.

Ismail adalah buaiannya. Tidaklah mungkin ia tahan terhadap terik padang pasir, haus yang melanda, dan panas mentari tanpa dipayungi yang dapat menghenti kan detak jantungnya. Panik bercampur gelisah hati Hajar. Ia pun bersimpuh di hadapan buah hatinya, memerhatikan dengan penuh iba wajah bayinya yang pucat pasi karena berhari-hari dalam perjalanan. Wa- jah mungil itu lalu diusapnya dan kemudian ditutupi.

"Duhai Allah, janganlah Engkau perlihatkan kematian nya kepadaku," pintanya dalam pilu.

Setelah bersimpuh merintih dalam tangisan, kembali- lah sang ibunda kita dalam kesadaran. Ya, suaminya yang juga seorang nabi telah berpesan bahwa semua ini adalah serangkaian ujian. Untuk itu, ia tidak ingin melewati serangkaian ujian ini hanya dengan duduk menanti. Mungkin saja, seandainya hanya sendiri, akan ia kuatkan ujian ini dengan hanya menanti. Na- mun, sebagaimana jiwa seorang ibu, Hajar menyadari kalau kehidupannya tidak akan mungkin berlalu se- orang diri.

Ia pun kembali bangkit untuk sang buah hati. Demi anaknya, ia basuh wajahnya dari linangan air mata. Ibunda kita itu bangkit untuknya.

Dengan cepat, ia berlari ke bukit Safa. Semakin jauh berlari, dalam pandangannya, bukit itu terlihat penuh dengan rerimbunan pepohonan. Hatinya penuh harap saat berlari ke sana.

Benarkah yang ia lihat hanya mimpi? Ataukah itu hanya sebuah ilusi?

Sesaat Hajar tertegun, tebersit merenungi tabir mimpi itu. Tabir mimpi itu mengentakkan jiwanya untuk ber- lari. Ia kumpulkan kembali tenaga untuk berlari; pela- rian untuk mengejar iradah, harapan, dan kedekatan. Sesuatu yang penuh dengan jiwa yang terbakar, lesatan seorang ibunda ke dalam kobaran unggun perapian.

Sesampai di Safa, matanya menyapu sekeliling bukit. Ia menerawang mencari kailah yang berlalu atau sumber air yang ada di kejauhan. Ia mencari dan terus mencari. Namun, semua itu tiada. Tidak ada sama sekali yang tersapu oleh pandangannya, baik jejak kaki maupun gerakan yang memberikan harapan.

Kemudian, ia kembali berlari dengan cepat menuruni bukit. Ia terus menatap bukit yang lain dalam lesatan kaki berlari. Nama bukit itu adalah Marwa. Kali ini, hatinya penuh harap. Mungkin ia akan mendapati apa yang dicari dengan mendaki puncaknya.

Demikian seterusnya hingga genap tujuh kali ibunda kita naik turun di antara bentangan dua kaki bukit Safa dan Marwa dengan terus berlari. Berlari dan terus berlari sembari hatinya penuh dengan tangis, mendoa, dan merintih dengan kelembutan air susu ibu kepada Ilahi Rabbi. Ia bakar dirinya dengan api tazar- ru' yang membara, seolah dirinya telah menjadi lilin yang berpijar nyala apinya.

Dan Allah telah mengujinya dengan kesendirian. Per- juangannya telah menjadi mahkota ujian suci ini, yang pada akhirnya dijawab dengan air Zamzam yang terkumpul untuknya.

Zamzam adalah air cinta, perjuangan, dan kemaksum an seorang ibu.

Air telah menjadikan kehidupan baru bagi Hajar dan buah hatinya. Pun sebagai hadiah sebuah kota baru bagi umat manusia. Lesatan ibunda Hajar di antara bentangan dua bukit Safa dan Marwa bukan hanya bagi buah hatinya, melainkan juga bagi kota Mekah yang akan dibangun kemudian.

Para penduduk Mekah selalu mengenang perjuangan ini dengan menaruh ke dalam keyakinan penghormat- an atas dua bukit yang telah Allah jadikan sebagai is- yarat. Hajar berupaya mengumpulkan air yang mer- embes dari dalam tanah dengan terus berkata "tung- gu!" seraya membendungi sekitarnya dengan tanah, dengan perasaan khawatir akan lenyap.

"Tunggu… tunggu…."

"Zamzam…."

Lewat dirinyalah air bersejarah itu hingga kini memi- liki nama.

Tatkala tempat di sekitar sumur mulai hijau merim- bun, saat burung-burung mulai beterbangan hinggap di sana, dengan menukik dari ketinggian terbangnya, hal itu menjadikan tanda adanya sumber air bagi para musair yang memandanginya dari kejauhan. Mereka pun mengikuti arah terbang burung-burung itu. Se- sampainya di sana, di saat mereka dapati sebuah su- mur dengan seorang ibu dan putranya, segeralah me- reka berucap salam.

Demikianlah, dengan persyaratan menjunjung hak Hajar dan putranya, para pengembara yang melewati nya satu persatu ditawari menetap di sana. Mereka pun dengan senang hati memutuskan menetap di tem- pat itu. Kabilah Jurhum telah memenuhi janji untuk menjunjung hak Ibunda Hajar dan putranya. Mereka menetap di sana untuk menjadi saksi terbangunnya kota nan indah yang baru: "Bekah".

Para pengembara kaum badui sering melafalkan huruf B berdekatan dengan huruf M sehingga kaum Jurhum kemudian lebih terbiasa menyebut Bekah dengan Mekah. Lalu, tibalah masa putra Ibunda Hajar, Ismail, yang juga seorang nabi seperti ayahandanya, Ibrahim, menikah dengan salah satu putri penduduk Mekah dari al-Quds.

Setelah berabad-abad kemudian, generasi yang berasal dari garis keturunan Jurhum, yaitu Qusay, yang juga menjadi pemimpin bagi kota Mekah, menjadikan garis keturunan nabi terakhir terhubung dari Nabi Ismail, Ibunda Hajar, hingga Nabiyullah Ibrahim.

Buku ini tertulis dengan niat menjelaskan sosok ibun- da mulia Khadijah al-Kubra, yang juga merupakan istri sang utusan terakhir, Muhammad, dan cucu dari Ibunda Hajar yang terlahir berabad-abad kemudian.

Semoga Allah berkenan mencurahkan rida dan rid wan-Nya kepada mereka dan semoga kita yang mewarisinya mampu meneladani kehidupannya dalam guyuran limpahan safaatnya.




Kamis, 01 September 2016

Ksatria Hutan Larangan (Buku I)

Judul : Seri Kesatria Hutan Larangan; Pangeran Anggadipati, Darah dan Cinta di Kota Medang
Penulis : Saini K.M
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang
Terbit : Agustus 2008
Tebal : viii + 394 halaman
Genre : Fiksi Sejarah
ISBN : 978-979-1227-28-5
 
Sejak munculnya Gajah Mada yang ditulis oleh Langit Kresna Hadi, genre fiksi sejarah Jawa membanjiri khasanah buku hingga saat ini dan sukses melegakan dahaga para pencinta cerita silat jaman dahulu. Salah satu kisah yang ikut bergulat dan memeriahkan dunia buku silat adalah karya dari pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, yang ikut memprakarsai terbentuknya Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, Saini K.M.

Walaupun kemunculan buku seri Kesatria Hutan Larangan yang diterbitkan Bentang ini setelah Gajah Mada, ternyata buku ini sudah ditulis secara bersambung di harian Pikiran Rakyat pada tahun 70-an dengan judul Puragabaya. Selain itu, karya cerita silat yang berlatar sejarah kerajaan Sunda Pajajaran ini pernah dipentaskan dalam bentuk teater.

Secara garis besar buku ini mengisahkan tentang Pangeran Muda dari Kutabarang yang menempuh penggemblengan menjadi seorang puragabaya. Lulusan puragabaya nantinya akan bertugas untuk menjadi pengawal para pemimpin Pajajaran. Saat berumur sebelas tahun, dia dijemput oleh seorang guru yang juga puragabaya bernama Rakean. Tidak sembarang orang dapat menjadi calon puragabaya karena untuk mendapatkan sosok belia untuk ditempa di Padepokan Tajimalela, pendidik harus melakukan penyelidikan latar keluarga serta tabiat keseharian si calon.

Sebelum Pangeran Muda mengetahui keterpilihannya, dia Muda sempat melihat kematian sahabat sepermainannya, Raden Jamu yang pernah menjalani pelatihan sebagai calon puragabaya. Melihat kematian sahabatnya tersebut, Pangeran Muda menyadari bahwa pendidikan yang akan didapatkan di Padepokan Tajimalela bukanlah main-main dan nyawa adalah taruhannya.

Calon puragabaya akan gembleng menjadi manusia yang sangat langka, berkemampuan laksana binatang buas, sekaligus harus berbudi pekerti yang halus. Hal ini membuat para calon tidak hanya mendapat keahlian bertarung, namun juga pelajaran rohani yang langsung diberikan oleh Eyang Resi, sang pemimpin Padepokan. Di awal kedatangannya, Pangeran Muda tertinggal pelajaran. Beruntung Pangeran Muda mendapatkan teman baru, sekaligus teman sekamar, yang dengan rendah hati memberikan bantuan, Raden Jalak Sungsang atau Janur.

Sayang, Janur tidak dapat lebih lama mengikuti pelatihan karena kematian menghampirinya di salah satu tahapan menjadi puragabaya. Setelah ditinggal Janur, Pangeran Muda kemudian sekamar dengan Raden Jante Jalawuyung. Jante lah yang nantinya akan menjadi pusat konflik dari trilogi Kesatria Hutan Larangan, walaupun sosoknya hanya sering sekelabat saja dikisahkan.

Setelah melewati tahun ketiga, para calon puragabaya harus menjalani ‘praktek lapangan’ dengan mengirim mereka untuk mendampingi para pemimpin di Pajajaran. Sebelum berangkat ke Pakuan Pajajaran, Pangeran Muda diajak oleh Jante untuk mengunjungi rumahnya. Disinilah asmara mulai mewarnai kisah dalam buku setebal 394 halaman ini, antara Pangeran Muda dan Putri Yuta Inten, putri dari kerajaan Medang, yang tidak lain adalah adik dari Jante Jalawuyung.

Latar kehidupan Saini K.M yang diwarnai oleh dunia seni, dengan kampung yang selalu marak dengan kesenian, termasuk pencak silat, membuat beliau mampu mendeskripsikan gerakan-gerakan silat dengan sangat apik, dan dapat melayangkan imajinasi pembaca pada kehidupan masyarakat para jaman kerajaan Pajajaran. Selain itu, cara penulis yang dikenal sebagai penggiat sastra dan teater di Tanah Pasundan, dalam menuturkan ceritanya sangat mengalir, sehingga membuat proses membaca terasa nyaman, apalagi didukung dengan ‘kebersihan’ typo.

Konflik dalam buku ini terbilang tidak berkepanjangan. Konflik-konflik dalam buku ini dirasa hanya untuk memperkuat gambaran sosok seorang Puragabaya dan bagaimana mereka mengambil tindakan dalam menghadapi masalah. Konflik baru terasa ‘berat’ ketika tanpa sengaja Pangeran Muda membunuh Jante, yang nantinya akan berlanjut pada buku Seri kedua Kesatria Hutan Larangan; Raden Banyak Sumba, Bara Dendam Menuntut Balas.

Download

Senin, 29 Agustus 2016

Empress Orchid

Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada "3 ta", yaitu Tahta, Harta dan Wanita... Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria). Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri. 

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya. Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan. Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. 

Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti. "Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri," sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya. Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya... 

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit. Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu. 

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar. Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai "Puteri kebajikan nan tak tertandingi!" 

Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan. Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani. Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing. 

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka. Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai "Kota Terlarang" penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri. Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi! Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang. Anchee Min dalam bukunya seolah menyiratkan kebenaran dari sebuah fakta, bahwa sejarah itu dibuat oleh sang pemenang....

Download

Dragon Keeper

Mangkuk bambu itu melayang ke arah kepala si gadis budak. Seketika ia menunduk. Dia sudah berpengalaman menghindari bendabenda yang dilemparkan ke arahnya, mulai dari batu tinta hingga tulang ayam.

Tuannya kembali mengempaskan diri ke tempat tidur, kehabisan tenaga karena berusaha melempar mangkuk tadi. "Beri makan binatang- binatang itu, anak sialan."

"Ya, Master Lan," sahut si gadis.

Lan merengut dan menatapnya dengan ekspresi muak, seakan dia melihat sesuatu yang menjijikkan. Lan hanya tersenyum kalau sedang menertawakan ketololan si gadis budak.

"Jangan lama-lama."

"Tidak, Master Lan."

Si gadis menyelinap ke luar rumah tepat ketika sebuah guci anggur kosong melayang ke arah pintu.

Hari itu udara terasa dingin menusuk tulang. Si gadis budak pun bergegas menuju kandang- kandang binatang. Kelihatannya tak lama lagi bakal turun hujan salju, karena langit tampak mendung.

Si gadis memakai celana panjang yang kepen-dekan, dan pada bagian lututnya penuh tambalan. Tuniknya pun sudah lusuh dan banyak tisikannya. Pakaiannya itu tidak dapat menghentikan angin dingin yang langsung menembus ke kulitnya.

Si gadis tidak mempunyai nama; dia pun tidak tahu berapa usianya. Rasanya sudah seumur hidup dia tinggal di Istana Huangling. Pernah pada musim panas tahun lalu, Lan mengatai bahwa dia terlalu bodoh untuk ukuran gadis berumur sepuluh tahun. Karena hanya bisa menghitung sampai sepuluh, dia tidak tahu sudah berapa usianya sekarang.

Gunung Huangling termasuk dalam serangkaian pebukitan gersang yang menandai perbatasan sebelah barat kekaisaran Han. Sepanjang musim dingin, wilayah tersebut terkubur salju hingga sepinggang, dan di terpa angin dingin membekukan. Sebaliknya pada musim panas hawanya begitu membakar sehingga rasanya seperti bernapas dalam kobaran api. Ayah sang Kaisar sengaja membangun istana di tempat terpencil ini untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekaisarannya. Tapi saking jauhnya lokasi istana ini dari mana- mana, hanya sedikit sekali orang yang pernah melihatnya.

Tempat kediaman Kaisar luasnya lebih dari tiga perempat keseluruhan lahan istana yang dikelilingi tembok tinggi. Kandang, gudang, dan pondok pelayan dibangun berdesakan di seperempat bagian tanah yang tersisa. Selama si gadis budak di Huangling, belum sekali pun Kaisar datang ke istana itu.

Para budak tidak diperkenankan masuk ke dalam istana. Master Lan mengancam akan memukul kalau si gadis budak berani masuk ke sana. Kadang- kadang Master Lan pergi ke istana itu, dan biasa¬nya dia pulang dalam keadaan marah. Dia terus menggerutu tentang ruangan yang terbuang sia-sia serta perabot yang hanya diselubungi kain, semen¬tara dia harus tidur di rumah yang berkamar satu dan beratap bocor.

Dibandingkan sudut kandang lembu, tempat si gadis budak tidur yang beralaskan jerami, rumah Master Lan tampak sangat mewah. Lantai tanahnya dilapisi karpet, dan ada lukisan naga di atas bentangan sutra biru di temboknya. Perapian terus dinyalakan sepanjang musim dingin, begitu juga sistem pipa yang dipasang untuk menghangatkan tempat tidurnya. Bahkan jika disamakan dengan tempat tinggal si gadis budak, kandang kambing tampak lebih bagus.

Tapi bukan kambing itu yang akan diberi makan oleh si gadis. Juga bukan lembu, babi atau ayam. Di sudut terjauh di istana itu, ada sebuah "kandang" lain. "Kandang" itu berupa lubang di dalam tanah, sumur batu karang Huangling yang dipahat dengan kasar. Satu-satunya jalan masuk ke lubang ini berupa pintu berjeruji, bukan terbuat dari bambu seperti kandang binatang lainnya, melainkan dari perunggu.

Ketika melongok ke dalam lubang, dia tak bisa.......

Download

Minggu, 28 Agustus 2016

My Name Is Red

Judul : My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Atta Verin
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 725 hlm

Sejarah mencatat, Sultan Ustmaniyah Murat III (1571-1595) dikenal sebagai sultan yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. Di masa kekuasaannya ia memerintahkan para miniaturis (pembuat ilustrasi buku) kenamaan di negerinya untuk membuat Kitab Keterampilan, Kitab Segala Pesta dan Kitab Kemenangan yang dikerjakan di Istanbul. Para miniaturis Ustmaniyah yang paling menonjol, termasuk Osman sang Miniaturis dan murid-muridnya, ikut andil dalam pengerjaan buku ini.

Penggalan sejarah inilah yang oleh Orhan Pamuk (54 thn) - peraih nobel sastra 2006 asal Turki - dijadikan sebagai ide utama novel My Name is Red . Dikisahkan saat itu Sultan menugaskan Enisthe Effendi salah seorang miniaturis (pembuat ilustrasi buku) terkenal untuk membuat sebuah buku rahasia yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi indah untuk merayakan kejayaannya. Tindakan sultan ini memotong jalur resmi dimana biasanyaTuan Osman selaku Iluminator Kepala Istana yang diberi wewenang untuk mengerjakan buku-buku Sultan. Dalam mewujudkan proyek sultan ini Enisthe dibantu oleh empat miniaturis lainnya yang masing-masing dikenal dengan julukan ; Elok, Zaitun, Bangau, dan Kupu-kupu.

Novel ini diawali dengan terbunuhnya Elok , salah satu dari keempat miniaturis yang bekerja dibawah pimpinan Enisthe Effendi. Pembunuhan ini menimbulkan keresahan diantara para miniaturis lainnya karena mereka mennganggap hal ini ada kaitannya dengan proyek pengerjaan buku Sultan yang dibuat dengan gaya Eropa yang pada masa itu dianggap sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.

Lalu dikisahkan Hitam, salah satu murid dan keponakan Enisthe kembali ke rumah pamannya sepulang dari pengelanannya ke berbagai tempat selama dua belas tahun. Sejak lama Hitam telah menaruh hati pada Shekure, putri “Enisthe”-nya. Sepulang dari pengelanaannya pun ia masih menyimpan cintanya pada Shekure. Sayangnya Shekure telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Namun belum pulangnya suami Shekure selama bertahun-tahun dari peperangan membuka peluang bagi Hitam untuk merebut Shekure ke pelukannya.

Di tengah usaha Hitam merebut cinta Shekure dan belum terungkapnya siapa pembunuh Elok, Enisthe terbunuh secara mengenaskan. Namun hal ini tak menghalangi niat Hitam untuk menikahi Shekure. Dengan siasat liciknya akhirnya Hitam berhasil menikahi Shekure, namun Shekure belum mengijinkan Hitam untuk tidur seranjang dengan dirinya hingga Hitam berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya.

Ketika kematian Elok dan Enisthe sampai ke telinga Sultan. Ia memerintahkan Hitam selaku murid Ernisthe dan Tuan Osman selaku kepala bengkel miniaturis Istana mengungkap siapa pembunuhnya. Mereka diberi waktu 3 hari untuk menemukan pembunuhnya, jika gagal nyawa mereka dan para miniaturis lainnya akan jadi gantinya.

Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pembunuhnya adalah gambar seekor kuda dengan hidung yang terpotong. Hal ini menyeret ketiga miniaturis lainnya (Bangau, Zaitun, Kupu-kupu) menjadi tersangka utama. termasuk Untuk memperkaya penyelidikannya Hitam dan Tuan Osman diizinkan untuk masuk kedalam jantung Istana dimana terdapat ruang penyimpanan harta yang berisi buku-buku berilustrasi indah Kitab Para Raja yang berisi lukisan-lukisan menakjubkan, yang diimpikan bisa dilihat sekali saja oleh para miniaturis selama seumur hidupnya.

Novel My Name is Red ini bisa dikatakan novel yang kaya akan perspektif. Novel ini bisa dibaca sebagai novel sejarah peradaban islam, misteri, intrik sosial, dan teka-teki filosofis. Pamuk mengemas kisah dalam novel ini dengan sangat menarik. Narator dalam novel ini berganti-ganti dalam setiap babnya, masing-masing diberi judul sesuai dengan naratornya seperti : Aku Adalah Sesosok Mayat, Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh, Aku Dinamai Hitam, bahkan benda-benda matipun menjadi narator dalam novel ini seperti : Aku adalah Sekeping Uang Emas, Aku Adalah Merah. dll. Masing-masing narator bertutur, bercerita dan berargumen mengenai peristiwa pembunuhan dan keadaan di sekelilingnya menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang realis ada pula yang surealis. Uniknya walau si pembunuh turut menjadi narator, identitas si pembunuh tetap tak terduga hingga bab-bab terakhir.

Di halaman-halaman awal pembaca seolah diajak mengambil kesimpulan bahwa novel ini adalah novel misteri karena Pamuk membukanya dengan bab “Aku Adalah Sesosok Mayat”. Kalimat permbuka novel inipun memikat dan mengundang penasaran pembacanya karena dinarasikan oleh tokoh yang telah meninggal.

Kini aku hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh di dasar sebuah sumur. Walau sudah lama sekali aku menghembuskan napas terakhirku dan jantungku telah berhenti berdetak, tak seorang pun tahu apa yang terjadi padaku, selain pembunuh keji itu. (hal 17)

Namun Pamuk tak hanya mengajak pembacanya untuk larut dalam cerita misteri pembunuhan, di bagian berikutnya pembaca diajak beralih ke kisah percintaan yang membara antara Hitam dan Shekure, lalu pembaca juga akan disuguhkan debat filosofis yang menarik akibat benturan budaya Timur dan Barat khususnya dalam hal gaya melukis dimana di jaman itu melukis dengan gaya kaum Frank (Eropa) yang menggunakan metode perspektif tiga dimensi dimana benda digambar sebagaimana terlihat oleh mata telanjang dianggap penistaan terhadap agama islam yang hanya boleh membuat gambar/lukisan dengan teknik dua dimensi saja.

Namun yang mengejutkan dari semua itu – sebuah akibat yang wajar dalam memperkenalkan pemahaman Frank dalam lukisan kita – adalah menggambarkan potret sultan kita dengan ukuran sesungguhnya, dan wajahnya dilukiskan dengan semua detailnya! Tepat seperti yang dilakukan para pemuja berhala. (hal 684)

Download

Samita - Sepak Terjang Hui Sing

Hui Sing memejamkan matanya. Dara itu duduk bersila di atas batu hitam di bawah pohon waringin besar di tengah hutan, agak jauh dari gua tempat rombongannya beristirahat. Dua telapak tangannya menengadah dan diletakkan di atas lutut. Ujung jari tengah dan ibu jarinya menyatu, sedangkan tiga jari lainnya meregang.

Desah napasnya begitu jarang dan tertata. Hui Sing mulai merasakan dath dingin menyebar di seluruh jalan darahnya. Nyaman sekali. Senyum gadis itu merekah. Dalam kondisi meditasi seperti ini, pancaindra Hui Sing sangat peka menangkap segala gerak di sekelilingnya.

Suara gesekan daun yang terembus angin di pucuk dahan pun bisa ia dengarkan. Terpisah dari hiruk pikuk satwa hutan yang juga sibuk siang itu. Kelinci hutan, burung-burung, sampai geliat ular pohon juga tak henti mengeluarkan getar suara yang berbeda.

Tiba-tiba dua kelopak mata Hui Sing terbuka. Ia mendengar gesekan angin yang berbeda tak jauh dari tempatnya bersemedi. Gerakan tubuh sese¬orang berilmu kanuragan yang tidak rendah. Hui Sing hanya punya waktu sesaat untuk menduga-duga.

Dalam sekejap, ia merasakan angin mendesak sangat keras dari arah belakang. Sontak Hui Sing menyentakkan tubuhnya ke atas. Sesosok hitam bercadar muncul dan memburu tubuh Hui Sing dengan sebilah golok. Gerakannya luar biasa cepat. Beberapa kali Hui Sing harus berjumpalitan di udara menghindari serangan maut yang dilancarkan nyaris tanpa suara itu.

Bahkan, beberapa kali batang golok itu hanya sebatas jari lewat dari leher Hui Sing.

"Siapa kau?!"

Tubuh Hui Sing terus melenting menghindar dari serangan golok itu. Tapi rupanya sosok bercadar itu tak ingin berkompromi. Dia terus mengurung ruang gerak Hui Sing dengan goloknya yang haus darah.

Hui Sing lalu melompat ke dahan pohon, men¬cari posisi yang lebih bagus. Si penyerang misterius itu pun tak hendak mengendurkan serangannya. Jadilah keduanya bayangan cepat, berlompatan di dahan-dahan raksasa bak dua ekor tupai yang sedang berkejaran.

Hui Sing tak mau gegabah. Jurus-jurus yang digunakan penyerangnya begitu asing. Gadis itu tak mau sembarangan bertindak hingga merugikan diri sendiri. Makanya, dia memilih terus menghindar. Mengandalkan gin kangis untuk terus berlompatan di dahan-dahan pohon raksasa itu.

Rambut legamnya pun berkibaran indah meng¬ikuti gerakan tubuhnya yang lebih mirip orang yang sedang menari. Hui Sing sedang menerapkan jurus Tarian Bidadari yang tersohor di daratan Tiongkok. Dia bergerak waspada, namun lemah gemulai.

Beberapa kali lengannya menjadi tumpuan, bergelantung di dahan-dahan pohon untuk menye-lamatkan diri dari serbuan golok si penyerang yang semakin dahsyat. Rupanya, penyerang berca-dar itu pun penasaran bukan main karena sudah puluhan jurus, namun tak dapat menyentuh Hui Sing satu helai rambut pun.

Beberapa kali bacokan golok di tangannya menebas ruang kosong atau dahan-dahan kayu tua. Keruan saja, dahan pohon berumur ratusan tahun itu hancur dalam satu kibas saja.

Kini, gerakan golok itu semakin menggila. Ber-putar keras mengincar ulu hati Hui Sing. Namun, murid utama Laksamana Cheng Ho itu tahu benar bahwa lawan yang ia hadapi mempunyai kemam¬puan mumpuni. Makanya, dia pun sangat berhati- hati. Bahkan sekadar menggerakkan ujung jari sekali pun, dipikir dengan penuh perhitungan.

Akan tetapi, kali ini Hui Sing bertemu dengan lawan yang benar-benar tangguh sekaligus ulet. Langkah menghindarnya tak cukup untuk melindungi diri. Setelah melewati empat puluh jurus, si penyerang berhasil mendesaknya.

"Hiyaaa ...!"

Tak ada pilihan. Ujung golok itu nyaris saja menyentuh kulit leher Hui Sing. Tak mau mati konyol, Hui Sing menghentakkan dath dingin lewat telapak tangannya yang mengangsur ke depan.

Download

Kunanti Di Gerbang Pakuan (Buku III)

“Hati-hati anak muda. Kalau pun engkau bersedia ikut dalam misi ini, tapi jangan kau jadikan gerakan kita ini sebagai ajang untuk pemuas balas dendam. Ini adalah perjuangan. Dan tak ada urusan pribadi di sini. Dalam agamaku tabu melakukan peperangan dengan dada bersimbah dendam!” kata Perwira Goparana mengingatkandengan suara tegas.

Pragola masih menundukkan wajahnya.

“Sepuluh tahun silam, Cirebon mengutus ksatrianya untuk menyusup ke Pakuan. Dia sudah hampir berhasil mengemban misi dalam upaya melemahkan sendi-sendi kekuatan di pusat istana. Sayang sekali, ksatria yang masih muda itu terperosok ke dalam urusan pribadi. Dia mendendam Sang Prabu Ratu Sakti karena urusan cinta…” kata Perwira Goparana.

“Mungkin yang dimaksud olehmu adalah Raden Purbajaya. Sepuluh tahun lalu memang ada peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Ratu Sakti. Peristiwa ini hampir-hampir melibatkan Bangsawan Yogascitra,” gumam Pangeran Yudakara.

“Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Raja sebetulnya di luar perintah Cirebon. Tapi apa pun kenyataannya, menurutku tindakan Purbajaya waktu itu bisa membantu usaha-usaha kita. Paling tidak dengan adanya peristiwa itu, telah terjadi bentrokan dan saling curiga di antara pejabat dan bangsawan Pakuan,” tutur Pangeran Yudakara seperti bicara pada diri sendiri.

“Namun harus diingat Pangeran,tujuan Cirebon menyusupkan orang-orangnya ke pusat pemerintahan Pajajaran bukan sekadar ingin mengadu-domba dan membuat kekacauan di Pakuan. Tujuan Cirebon adalah menginginkan Pajajaran benar-benar menjadi negara besar dengan landasan kepercayaan dan keyakinan agama baru,” giliran Perwira Jaya Sasana yang berbicara, padahal sejak tadi lelaki setengah baya ini kerjanya hanya mengatupkan bibir saja.

Perwira Goparana mula-mula termenung mendengar perkataan rekannya ini, namun pada akhirnya mengangguk jugasebagai tanda membenarkan akan pendapat Perwira Jaya Sasana ini.

Mereka bertiga berbincang-bincang dulu sebentar. Namun sesudahnya, kembali menatap Pragola.

“Sudah sejauh mana pengetahuanmu tentang Dayo Pakuan beserta tugasmu nanti, anak muda?” tanya Perwira Goparana. Pemuda itu tidak menjawab, melainkan menoleh kepada Paman Manggala.

“Sudah saya beri sedikit pengetahuan. Tapi alangkah baiknya bila Juragan sendiri yang memberi pengarahannya…”tutur Paman Manggala hormat sekali.

Suasana hening sejenak. Perwira Goparana malah tengahmenyaksikan seekor nyamuk yang mendekati api pelita. Nyamuk itu terbang mengelilingi cahaya pelita. Dan dengan gagah berani menyambar-nyambar lidah api pelita. Namun keberaniannya kurang perhitungan. Sebab pada suatu saat tubuhnya hangus menabrak lidah api pelita. Perwira Goparana tersenyum melecehkan manakala melihat tubuh nyamuk yang sedikit gosong dan jatuh tak berarti diatas tikar pandan.

“Syarat utama memasuki Pakuan bukan keberanian, melainkan kehati-hatian,” gumam Perwira Goparana tanpamenatap ke arah siapa pun. “Dan engkau anak muda, engkau hanya bisa berhasil ikut dalam ikut misi ini bila sanggup bertindak hati-hati,” sambungnya sambil mulai menatap Pragola.
“Seusai pergantian pucuk pimpinan dari Sang Prabu Ratu Sakti kepada Sang Lumahing Majaya, ada beberapa perubahan situasi di Pakuan. Dulu, zamannya Ratu Sakti, suasana di dalam istana seperti api dalam sekam. Sesama pejabat saling bercuriga satu sama lain. Atau bahkan saling bermusuhan dan saling menjelek-jelekkan. Akibat dari situasi ini, mereka lengah terhadap gerakan penyusupan. Namun kini keadaan sudah tak seperti itu. Sang Lumahing Majaya bukan orang berperangai keras, namun kendati dia bukan pemarah dan pendendam, dia adalah seorang Raja yang amat hati-hati. Barangkali rasa hati-hati ini terbentuk karena peristiwa yang menyertai sebelumnya. Kekacauan bahkan pertempuranyang beberapa kali terjadi di wilayah Pakuan, berlangsung karena adanya tindak penyusupan dan pengkhianatan.Maka bercermin dari peristiwa ini, semua pejabat dan perwira di Pakuan amat berhati-hati dalam menerima kedatangan orang dari luar. Wilayah-wilayah kandagalante seperti Tanjungpura, Muaraberes, Tanjungbarat, kendati masih di bawah kekuasaan Pakuan tapi penguasa di sana sudah menaruh kecurigaan lain. Apalagiterhadap wilayah Sagaraherang.Bahwa sepuluh tahun yang lalu wilayah ini menjadi pusat pengendali penyerbuan ke Pakuan, masih menjadi mimpi buruk yang tak mau mereka lupakan. Itulah sebabnya,, dalamupaya penyusupan ini, engkau harus bertindak hati-hati…” kata Perwira Goparana panjang-lebar.

Pragola mengangguk-angguk kecil beberapa kali sebagai tanda maklum akan penjelasan ini. Namun sesudah merenung sejenak, pada akhirnya pemuda bermata bulat binar ini mengemukakan pendapatnya.

“Ampun beribu ampun Juragan bila apa yang ingin saya kemukakan ini tak berkenan di hati,” tuturnya menyembah danmenunduk.

“Sampaikanlah apa yang menjadipikiranmu, anak muda. Sebab lebih banyak pendapat yang masuk, akan lebih bagus,” kata Perwira Jaya Sasana menatap pemuda itu.

“katakanlah anak muda!” kata Perwira Goparana pendek.

Download


Kemelut Di Cakrabuana (Buku II)

LELAKI tua berjenggot putih itu mangangkat kaki kanannya dengan lutut sejajar pusar, sedangkan sepasang tangannya siap siaga di depan dada dengan telapak terbuka lebar.

Lelaki itu menahan napas sejenak, mulutnya berkomat-kamit. Secara tiba-tiba kaki kanan yang terangkat itu melompat ke depan. Bersamaan dengan itu sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga kuat. Tenaga dorongan mengarah ke depan, ke arah sebongkah batu yang jaraknya ada sekitar lima depa (1 depa kurang lebih 1,698 meter). Seiring dengan teriakan yang keluar dari mulut lelaki tua itu angin pukulan pun terdengar berciutan. Kemudian tak lama antaranya terdengar suara ledakan memecah jantung. Bongkahan itu hancur hampir menjadi kerikil bertaburan.

"Mengagumkan sekali Paman Jayaratu!" teriak seorang pemuda yang berdiri terpana pada jarak sejauh lima depa.

"Suatu saat, engkau yang harus melakukan gerakan ini," kata Paman Jayaratu menatap pemuda itu.

"Saya?"

"Ya, Purbajaya ...!"

"Untuk apakah?"

"Untuk membela agamamu! Untuk memperkokoh, memperkuat bahkan membuatnya besar," tutur Paman Jayaratu.

"Paman kan pernah bilang, Islam tak butuh kekerasan," kata Purbajaya.

"Memang betul, Islam tak butuh kekerasan tapi kekuatan. Ilmu kedigjayaan adalah bagian dari kekuatan. Dan itu perlu untuk kewibawaan agama kita," tutur lagi Paman Jayaratu.

"Harus dengan kedigjayaankah Islam melebarkan sayap?" tanya pemuda itu, duduk bersila di sebuah hamparan tikar pandan.

Paman Jayaratu menghela napas. Kemudian dia pun mencoba duduk bersila di atas tikar yang sudah ditempati pemuda itu. Sebelum meneruskan percakapan, Paman Jayaratu mengnakan kembali baju kurung warna hitamnya. Ikat kepalanya yang juga berwarna hitam pun segera dikenakannya lagi, sehingga nampak kontras dengan warna rambut putihnya yang riap-riapan tertebak semilir angin tengah hari.

Mereka berdua duduk di bawah pohon kaso yang rindang yang berdiri terpencil di kaki bukit itu. Nun jauh ke sebelah utara nampak dataran rendah pantai utara yang langsung berbatasan dengan warna laut biru pesisir Cirebon.

"Kenakan kembali pakaianmu, Purba..." kata Paman Jayaratu.

Purbajaya segera mengambil baju rompi hitam yang terbuat dari kain beludru biru. Dadanya yang bidang dan putih sedikit tertutup oleh rompi. Purbajaya pun segera mengikat kepalanya dengan ikat kepala warna putih.

"Dalam hal apa pun kedigjayaan adalah lambang kegagahan. Namun harus diingat, kegagahan hanyalah sebuah pelengkap, atau bagaikan kembang pelengkap keindahan. Sedangkan sumber dari segala kekuatan itu sendiri adalah saripatinya. Islam di saat saat perkembangannya memang butuh kegagahan. Namun kegagahan itu sudah barang tentu jangan mengalahkan tujuan utamanya sendiri. Ingatlah, kalau pun ada terdengar orang Islam melakukan peperangan, itu bukanlah pamer kegagahan atau pun pamer kekuasaan, melainkan mempertahankan keberadaan. Kita berkewajiban mempertahankan keberadaan Islam. Untuk itu kita butuh kedigjayaan dan kekuatan," tutur Paman Jayaratu panjang lebar.

Purbajaya duduk tegak memangku kedua belah tangan. Termenung sejenak, kemudian mengangguk-angguk.

"Saya siap berlatih kedigjayaan, Paman ..." kata Purbajaya pada akhirnya.

"Tapi ingatlah, kau tidak dididik untuk jadi tukang berkelahi atau pun tukang pukul. Agama kita benci kepada kesombongan, takabur dan kejam," tutur Paman Jayaratu. Pemuda itu mengangguk-angguk lagi.

"Apakah agama kita benci pembunuhan?" tanya pemuda itu tiba-tiba.

"Hati-hatilah bicara pembunuhan sebab dalam agama kita, pengadilan pertama di hari kiamat adalah perkara pembunuhan!" potong Paman Jayaratu tegas.

"Jadi dalam agama kita tak boleh ada pembunuhan, Paman?"

"Di sini bukan berbicara masalah boleh atau tak bolehnya tapi menitikberatkan pada perkara apa yang kita hadapi ini."

"Tugas saya kelak dari Negri Carbon ini adalah menyelundup ke Pajajaran," gumam Purbajaya tiba-tiba dengan wajah tegang. Dia khawatir di tempat musuh nanti akan berhadapan dengan tugas-tugas membunuh.

Download

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...