ads

Tampilkan postingan dengan label - Cooming Soon -. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label - Cooming Soon -. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2019

Pesantren Impian

Judul      :  Pesantren Impian. 
Penulis   :  Asma Nadia.
Penerbit :  Asma Nadia Publishing.
Tebal      :  300 halaman.

Pesantren Impian sebenarnya novel lama Asma Nadia, tapi baru sekarang di filmkan dan akan diputar serentak di bioskop seluruh tanah air tgl. 3 maret bulan depan. Mungkin saja teman -teman ada yang belum membaca, iseng saya meresensi PI.

Pesantren Impian didirikan oleh Teungku Budiman sebagai penebusan dosa masa lalu yang hitam nan kelam. Terletak di sebuah pulau terpencil, yang bahkan tak tercantum di peta Aceh.

Menyelenggarakan pendidikan gratis setara SD hingga SMA bagi warga sekitar.

Dalam pelaksananya, PI juga merupakan tempat rehabilitasi bagi pemuda dan pemudi yang bermasalah. Mereka diundang secara misterius untuk menetap selama satu tahun. Untuk belajar lebih mendalam tentang agama .Mereka juga datang dengan membawa masalah dari latar belakang yang berbeda.

Ada si gadis, yatim piatu yang bekerja apa saja untuk menampung dan membiayai hidup teman - teman yang senasib. Hingga suatu hari tanpa sengaja, untuk mempertahankan kehormatannya, telah mengakibatkan seseorang meninggal dunia.

Si gadis sedang diburu dan dicari - cari polisi sebagai pembunuh. Menerima undangan ke PI mungkin merupakan jalan untuk menghindar.

Rini, korban pemerkosaan yang hamil dan gagal bunuh diri, padahal kuliahnya sudah di semester akhir. Demi nama baik keluarga, orangtuanya menerima undangan PI untuk Rini menetap di sana.

Eni, polwan yang menyamar, kasus pembunuhan yang sedang diselidiki, di duga pelakunya adalah salah satu dari 15 pemuda dan pemudi yang saat itu datang sebagai undangan untuk merehabilitasi diri.

Ditengah -tengah penyelidikannya, bahkan satu titik terang pun belum diperoleh,  justru telah terjadi lagi pembunuhan secara aneh dan misterius.

Situasi di PI menjadi sangat mencekam, menakutkan dan menegangkan. Semua penghuni menyimpan tanya, menduga -duga, saling curiga, berteka -teki dalam pikiran semasing.

Siapa si gadis?

Siapa pemerkosa Rini?

Dan siapa Umar? Pengacara hebat yang mendampingi Teungku Budiman sebagai penyandang dana Pesantren Impian.

Anda penasaran?

Sila baca Novelnya


Jumat, 20 Oktober 2017

Ain Jalut (Novel Islam)

Novel Ini menurut Mimin : Bagus, Layak dibaca... apalagi buat orang-orang yang malas baca sejarah Islam tapi suka membaca novel. Meski bisa saja berisi beberapa cerita fiktif, tapi garis besarnya berdasarkan cerita nyata.

Sinopsis:
Saifuddin Quthuz adalah satu di antara tokoh besar dalam sejarah muslimin. Nama aslinya adalah Mahmud bin Mamdud.. Ia berasal dari keluarga muslim berdarah biru. Quthuz adalah putra saudari Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur pernah melawan pasukan Tartar dan mengalahkan mereka, namun kemudian ia kalah dan lari ke India. Ketika ia sedang lari ke India, Tartar berhasil menangkap keluarganya. Tartar membunuh sebagian mereka dan memperbudak sebagian yang lain.

Mahmud bin Mamdud adalah salah satu dari mereka yang dijadikan budak. Tartar menjuluki si Mahmud dengan nama Mongol, yaitu Quthuz, yang berarti “Singa Yang Menyalak”. Tampaknya sedari kecil Quthuz memiliki karakter orang yang kuat dan gagah. Kemudian Tartar jual si Mahmud kecil di pasar budak Damaskus. Salah seorang bani Ayyub membelinya. Dan ia dibawa ke Mesir. Di sini, ia pindah dari satu tuan ke tuan yang lain, sampai akhirnya ia dibeli oleh Raja Al-Mu’izz Izzuddin Aibak dan kelak menjadi panglima besarnya.

Dalam kisah Quthuz ini, kita bisa mencatat dengan jelas bagaimana skenario ajaib Allah SWT. Tartar telah memperdaya muslimin dan memperbudak salah satu anak-anak muslimin dan mereka jual langsung di pasar budak Damaskus. Untuk kemudian ia diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lainnya, yang akhirnya sampai ke suatu negeri yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Boleh jadi karena usianya yang masih kecil ia tidak melihat negeri jauh ini. Namun, pada akhirnya ia menjadi raja di negeri asing itu dan sepak terjang Tartar yang membawanya dari ujung dunia Islam ke Mesir pun harus berakhir di tangannya!

Subhanallah yang telah mengatur dengan Maha Lembut dan memperdaya dengan Maha Bijak. Tiada sesuatupun di bumi dan langit yang samar bagi-Nya.

ومكروا مكرًا ومكرنا مكرًا وهم لا يشعرون

“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (An-Naml [27]: 50)

Quthuz –sebagaimana mamalik (budak yang dididik militer) lainnya–tumbuh dengan pendidikan agama yang benar. Semangat Islam yang kuat bergelora di dalam hatinya. Sejak kecil, ia dilatih dengan seni menunggang kuda, metode pertempuran, seluk-beluk manajemen dan leadership. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda gagah berani, mencintai dan menjunjung tinggi agamanya. Ia juga seorang yang kuat, penyabar, dan perkasa. Selain itu semua, ia juga dilahirkan dari keluarga raja.

Masa kanak-kanak Quthuz layaknya para pangeran yang lain. Hal ini membuat dirinya begitu percaya diri. Ia tidak asing dengan masalah kepemimpinan, manajemen negara dan kekuasaan. Di atas itu semua, keluarganya hancur oleh Tartar. Hal ini–tentu saja–membuat dirinya paham betul dengan bencana Tartar. Sebab orang yang menyaksikan tidaklah seperti yang mendengar.

Semua faktor ini berpadu menjadikan Quthuz seorang yang memiliki karakter sangat unik. Ia merasa ringan dengan penderitaan, tidak takut dengan para musuh bagaimanapun banyak jumlahnya atau unggul kekuatan mereka.

Pendidikan Islam dan militer, juga pendidikan untuk berpegang teguh kepada Allah, agama dan percaya diri, semua itu mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan Quthuz –rahimahullah-.

Nama Quthuz mulai muncul ke permukaan setelah terbunuhnya Raja Al-Muizz Izzuddin Aibak dan istrinya Syajarah Ad-Dur dihukum mati. Kemudian kekuasaan beralih kepada “Sultan Bocah” Al-Manshur Nuruddin Ali bin Izzuddin Aibak. Quthuz-lah yang memegang perwalian atas sultan kecil tersebut.

Quthuz meskipun ia secara real menyetir roda pemerintahan di Mesir, namun pada kenyataannya yang duduk di kursi kekuasaan adalah seorang sultan bocah. Tentu hal ini melemahkan wibawa pemerintah di Mesir dan merongrong kepercayaan rakyat kepada rajanya serta menguatkan niat musuh-musuhnya karena mereka melihat raja adalah seorang bocah.

Dengan mempertimbangkan ancaman Tartar yang menakutkan, problema internal yang mencekik, kekacauan dan pemberontakan dari mamalik bahriyyah dan ambisi para emir Bani Ayyub di Syam, maka Quthuz melihat tiada makna keberadaan “Sultan Bocah” Nuruddin Ali di kursi negara terpenting di kawasan, yaitu Mesir, di mana tiada lagi harapan untuk membendung Tartar kecuali di pundaknya.

Dari situ, Quthuz mengambil keputusan berani, yaitu menurunkan Nuruddin Ali dan ia mengambil alih kekuasaan di Mesir. Keputusan itu bukanlah hal yang aneh. Sebab sebenarnya Quthuz adalah penguasa real di Mesir. Semua orang –termasuk “sultan bocah” itu sendiri–mengetahui hal itu. Seolah-olah ada boneka lucu di mana Quthuz-lah yang menggerakan boneka tersebut. Boneka itu adalah sultan yang bocah. Apa yang dilakukan Quthuz tiada lain hanya mengangkat boneka itu, untuk memperlihatkan seorang singa gagah yang di tangannyalah peta geografi dunia akan berubah, begitu pula lembaran-lembaran sejarah lainnya.

Penggantian ini terjadi pada tanggal 24 Dzul Qaidah 657 H, yaitu beberapa hari sebelum kedatangan Hulagu di Aleppo.

https://www.mediafire.com/file/24d7dg0ppi18tw6/Ain%20Jalut.rar

Selasa, 11 Juli 2017

Berjalan Di Atas Cahaya

Inilah ayat Al-Qur’an yang menuntut kita mencari ilmu dengan segala panca indra yang kita miliki. Sebuah tuntutan melakukan perjalanan ilmu dari siapa pun yang kita temui, apa pun yang kita jumpai. Karena setiap apa yang kita lihat, dengar, dan rasa, adalah cahaya dari-Nya.

Dan, hakikat dari sebuah perjalanan adalah taaruf. Saling mengenal antarmanusia. Bahwa kita bersaudara meski terhadang letak geografis, ruang, dan waktu. Meskipun kita terparuh-paruh dalam berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit, terpisahkan samudra, gunung, gurun, dan hutan belantara, perasaan sebagai sesama saudara Muslim tetap melekat. Kita satu keluarga.

Kecintaan atau kebanggaan pada suatu suku, ras, atau bangsa tertentu hanya seperti debu yang menempel di permukaan, datang silih berganti, lalu dengan mudah hilang tersapu waktu. Sedangkan kecintaan pada Allah bagaikan akar kokoh yang menghunjam ke sanubari. Jutaan bahkan miliaran Muslim di seluruh dunia merayakan kepatuhan kepada Allah, sebuah keyakinan yang tak akan pernah lekang oleh zaman.

Selepas buku 99 Cahaya di Langit Eropa hadir, saya tidak pernah membayangkan mendapatkan respons luar biasa dari para pembaca budiman. Hampir setiap hari saya menerima e-mail, atau pesan dari pembaca yang menyatakan apresiasi mereka terhadap 99 Cahaya di Langit Eropa via sosial media. Banyak di antara mereka mengagumi keterkaitan antara Islam dan Eropa. Menyatakan percaya-tidak percaya akan banyaknya misteri Islam di Eropa. Ada pula yang kerap mengajukan pertanyaan bagaimana kehidupan Muslim di Eropa. Mereka menanyakan Fatma, Marion, atau Sergio.

Saya sungguh sangat terharu. Meskipun mereka tidak mengenal sahabat-sahabat saya secara pribadi, saya bisa merasakan kedekatan mereka sebagai sesama saudara Muslim. Saudara seiman, yang meskipun terpisah jarak puluhan ribu kilometer, tetap dekat di hati sebagai satu keluarga. Tersambung dalam ikatan persaudaraan yang tulus.

Hal inilah yang akhirnya memacu saya untuk kembali menulis buku tentang kisah dan cerita orang-orang yang tinggal di Eropa, yang bagi saya, mencerahkan batin. Kisah mereka bukan kisah extravaganza, tetapi begitu mendalam, menyejukkan, dan melegakan. Cerita tentang sesuatu yang
sepele, namun di balik cerita itu bersemayam kisah yang mendalam.

Bagi saya pula, kisah mereka adalah jembatan-jembatan yang memudahkan perjalanan saya selama di Eropa. Terakhir saya ke Eropa bersama salah satu televisi swasta untuk liputan Ramadhan, baik mereka saudara sebangsa Indonesia maupun orang lokal di Eropa, menjadi semacam malaikat kecil yang dikirim Tuhan kepada saya untuk memudahkan semua perjalanan panjang yang ”seharusnya” rumit.

Assalamu’alaikum (Semoga kedamaian selalu menyertai kamu).

Itulah bahasa universal yang saya gunakan untuk berhubungan dengan Muslim dunia. Yang membuat saya tercengang, ungkapan itu juga menjadi bahasa yang dilontarkan orang-orang bule kepada saya. Tentu, karena mereka melihat saya yang berjilbab. Ungkapan itu bukan dilontarkan sebagai permainan, melainkan sebagai bentuk penghormatan kepada saya.

Lagi dan lagi, perjalanan adalah pematang panjang tak bertepi tak berujung. Lebih daripada sekadar jalan-jalan untuk diunggah ke alam Facebook atau Twitter. Lebih daripada sekadar mendapatkan tebengan murah. Lebih daripada sekadar mendapatkan tumpangan mobil gratis. Lebih daripada
kepuasan ketika mendapatkan harga best deal alias harga paling murah dari maskapai penerbangan atau penginapan.

Saya percaya, dengan segenap kerendahan hati, semua dari kita adalah saudara yang terhubung dengan pilinan kasih dan cinta. Itulah yang membuat perjalanan hidup ini begitu
bermakna.

Jangan pernah menganggap satu manusia—yang kauanggap gak penting—yang kita temui dalam hidup, takkan pernah kita jumpai lagi. Setiap mereka adalah jalan keluar.

Satu demi satu dari mereka adalah jembatan-jembatan kita dalam mengarungi perjalanan. Mereka adalah malaikatmalaikat Tuhan yang Dia kirim untuk kita. Tak peduli dari mana, apa warna kulit, atau agama mereka. Yang kita kenal jauh sebelum kita sadar bahwa kita mengenalnya.

Satu demi satu cerita yang tertoreh dalam buku ini sungguh sebuah percikan cahaya kebaikan dan pengalaman yang tak ternilai harganya untuk saya. Tak kesemuanya adalah cerita traveling yang selalu diidentikkan dengan jalan-jalan mengembara dari satu area ke area lain. Tapi, cerita-cerita dalam buku ini merupakan rangkaian traveling hati dan perasaan. Dari pertemuan dengan orang-orang “tak penting” atau “tak diinginkan” inilah, kita sesungguhnya tengah berjalan di atas cahaya-Nya.

--> Cooming Soon <--



Sabtu, 08 Juli 2017

Ketika Barongsai Menari

Judul : Ketika Barongsai Menari
Pengarang : V. Lestari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 2000

Kristin tinggal di rumah barunya di kawasan Pantai Nyiur Melambai yang dibeli dan dirancang sendiri oleh suaminya, Adam. Kristin akan melahirkan. Ia sengaja tinggal di rumah itu sebelum bayinya lahir. Namun, terjadi hal-hal aneh saat mengandung bayinya. Ia sering melihat sesosok pria di seberang rumahnya tengah berdiri dengan pakaian formal, dan menatap ke arahnya disertai dengan sapaan yang ramah. Tiap kali Kristin ingin melihat pria itu dari halaman rumahnya, pria itu menghilang. Sejak itupun, bayinya tidak kunjung bergerak selayaknya seorang bayi di dalam kandungan ibunya. Seakan-akan bayinya telah meninggal dalam kandungan. Adam adalah orang yang tertutup. Ia tidak ingin istrinya tahu akan sejarah rumah itu. Kira-kira sudah setahun setelah kerusuhan Mei 1998. Beberapa hari setelah tinggal disitu, Kristin mulai mengenal tetangganya yang sedikit, karena sebagian rumah di kawasan tersebut hancur dijarah. Namun, ia paling akrab dengan tetangga sebelahnya, Maria. Mereka sangat akrab. Suatu hari, Maria melihat foto kenangan keluarganya — anaknya sudah pindah ke Amerika karena tidak tahan dengan diskriminasi orang berketurunan Cina — dan Kristin melihatnya. Saat melihatnya, Kristin melihat wajah yang ia kenali. Foto itu sangat mirip dengan pria yang biasa ia lihat di seberang rumahnya. Saat itu juga, terjadi kontraksi dan akhirnya Kristin melahirkan.

Pak Harun dulu menjabat sebagai satpam di kawasan Pantai Nyiur Melambai. Ia menjadi teman baik Adam. Ia membantu warga di kawasan tersebut saat penjarahan dimulai. Saat itu ia melihat seseorang keluar dari rumah keluarga Lie. Saat itu pasangan Lie sedang tidak ada di rumah. Yang berada di rumah itu adalah anak bungsu keluarga Lie, Sonny. Kakaknya, Tom, juga sedang pergi. Saat penjarahan terjadi, Pak Harun sempat menggedor rumah keluarga Lie, namun tidak ada yang menjawab. Maka dari itu, ia meninggalkan kediaman Lie. Ia tidak tahu bagaimana Sonny saat kejadian itu berlangsung. Setelah rumahnya dibakar, ditemui jasad Sonny di dalam rumahnya. Kematiannnya menjadi misteri, bahkan sampai setahun setelah kerusuhan itu terjadi. Sonny adalah calon suami dari Susan, anak Maria yang sekarang tinggal di Amerika. Kejadian ini membuat Susan tertekan. Setelah Pak Harun mengunjungi keluarga Maria, ia mendapat tugas dari Maria untuk menyelidiki kematian Sonny. Setelah selang beberapa bulan, ia mendapatkan barang hasil jarahan kepunyaan keluarga Lie. Pak Harun ingin mengembalikannya kepada keluarga Lie, namun ia meminta imbalan sebesar lima juta rupiah. Ia bekerja sama dengan Adam untuk mengembalikan guci itu, agar ia tidak dianggap sebagai sang penjarah. Karena kelicikannya untuk mengetahui siapa yang berani menjual guci itu dengan harga murah kepadanya, Pak Harun dijebak oleh kenalannya di sebuah pasar yang ramai dan dituduh sebagai pencuri, sehingga ia dipukuli oleh orang banyak sampai meninggal dunia.

Tom, kakak dari Sonny dan anak sulung dari pasangan Lie, bekerja sebagi seorang dokter di sebuah rumah sakit di Amerika. Dia mengambil cuti dan pulang ke Jakarta. Sebelumnya, ia sempat bertemu dengan Susan. Susan bahkan sempat menginap di apartemen miliknya. Susan menitipkan sebuah sweter atau baju hangat untuk orang tuanya. Setelah berada di Jakarta, ia mengunjungi orangtuanya. Tak lupa ia mengantarkan pesanan Susan kepada Maria. Sejak saat itu, Tom bertemu dengan Kristin. Mereka lumayan akrab, padahal baru kenal. Sejak saat itu, para keluarga di kawasan Pantai Nyiur Melambai makin sering berkumpul.

Semakin lama, kedok Adam semakin terungkap. Ia yang membunuh Sonny. Keluarga kawasan Pantai Nyiur Melambai mulai mencurigainya. Sejak kelahiran bayi yang Kristin beri nama Jason, bayi itu selalu merengek ketika Adam dekati. Tiap kali Jason merengek, Adam merasa itu adalah teriakan Sonny. Keputusasaan menyelimuti pikirannya. Akhirnya, ia mengorbankan apa yang telah ia perjuangkan. Ia berpura-pura pergi menjeguk temannya, namun ia ternyata tidak pergi. Begitu Tom telepon ke rumah Maria, yang mengangkat adalah Henry, suami Maria. Lalu, terdengar teriakan Maria. Rumah Kristin terbakar. Untungnya Kristin dan Jason tak apa. Tak beberapa lama setelah kajdian itu, Kristin mendapat berita dari Tom bahwa Adam meninggal dunia. Akhirnya, Kristin kan menikah dengan Tom dan Susan akan pulang ke Indonesia, bersama pacarnya, Ronald, teman baik Tom yang juga menjabat sebagai dokter.

Nilai-Nilai Hidup yang diperoleh dari cerita :

1. Jangan berbuat keji agar kelak tidak mendapat balasannya.

2. Tidak membedakan orang lain berdasarkan SAR (suku, agama, dan ras)

3. Manusia tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain.

4. Jangan main hakim sendiri, karena bisa mencelakai orang lain. 


--> Coming Soon <--



The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba

Untaian kata-kata di dalam novel ini dirangkai sedemikian indah, dengan gaya kalimat yang biasanya dipakai di tulisan-tulisan berlatar negeri 1001 malam ini. Ditambah dengan penggambaran setting kerajaan kedua negeri yang kaya dan megah. Apalagi istana yang dibangun oleh para jin suruhan Nabi Sulaiman, begitu mempesona dan pasti membuat takjub orang yang melihatnya, bahkan dari kejauhan.Di kala itu, Ratu Sheba masih memimpin negeri Saba’eeya, dan Nabi Sulaiman (putra Nabi Daud, yang di kala itu menjadi raja negeri Ursyalim) sebagai Putra Raja yang nantinya akan menggantikan kedudukan sang ayah.

Kalo mengikuti perjalanan cinta Nabi Sulaiman dan Ratu Bilqis (panggilan kesayangan dari Nabi kepada Ratu Sheba, yang berarti : permaisuri yang cantik), pasti jadi terhanyut, trus jadi pengen rasanya dicintai sedemikian tulus dan indah. Seperti salah satu surat Ratu Bilqis kepada Nabi Sulaiman berikut ini,

‘Dengan Nama Allah Yang Esa,

Surat ini hanya goresan tinta hitamku, saat datang sunyi, saat ku terkenang engkau begitu saja… entah kenapa…

Mungkin ada rahasia di antara kita, meski entah apa…

Sebab sejak kutinggalkan negerimu,

satu, dua, tiga… bilangan angka sibuk mengganti hariku yang suram.

Mungkin karena kau telah hadir di hatiku, dan membangun sebuah tugu harapan yang meminta kerelaanku untuk mengabdi.

Wahai Sulaiman! Dengarkanlah!

Kukatakan sekarang, baha aku, perempuan yang kau sebut sebagai Bilqis Ratu Saba’, menerima permintaanmu di aktu itu.

Datanglah ke negeriku…

Datanglah bukan sebagai janji, terpaksa, ataupun dengan membawa lamunan kelam yang tersedu lirih, seperti yang kulihat darimu kala melepas kepergianku.

Namun, datanglah sebagai pengantin lelakiku karena aku selalu ada menantimu.

Kukirim surat cinta ini walau tanpa alamat. Kutitipkan leat rindu burung merpati yang terbang tinggi ke negerimu. Semoga Allah menunjukkan jalan kepadanya sehingga surat ini dapat kaubaca sebagai kabar gembira, insya Allah.

Disini, di Saba’eeya, aku menanti….’

Kisah ini diceritakan oleh Lahela, penata rias sekaligus orang kepercayaan Ratu. Disini pun dipaparkan juga perjalanan hidup Lahela; suaminya -Harb dan putra-putrinya; dan beberapa tokoh-tokoh yang selama ini kurang kita kenal dalam kisah Nabi Sulaiman. Lahel (begitu panggilan Ratu kepadanya) pun mempunyai cerita sendiri dengan Harb yang harus ditinggalkannya demi membawa misi ke negeri Saba’eeya dan kemudian mengabdi kepada Ratunya.

--> Coming Soon <--


Pelangi Di Atas Glagahwangi

Kisah yang diawali dengan berkunjungnya Mpu Janardana bersama adik angkatnya Woro Kembangsore ke padepokan kakak seperguruannya Resi Wiyasa di padepokan Indrakila. Kunjungan akibat rasa rindu yang telah lama pada saudara tua seperguruan, membawa jalinan kisah yang pelik dan panjang. Dan dari sinilah kisah terus terangkai terjalin satu sama lain, mengalun bagai tembang sendu penuh liku. Mereka tidak sadar bahwasannya sinar pagi cerah itu akan membawa kehidupan pada pergerakan mentari ke senjakala.

Kunjungan seorang Mpu Janardana yang masih melajang meski sudah berumur, ditemani adik angkatnya yang juga masih gadis ke padepokan Indrakila, yang disana ada dua gadis remaja yang sedang dalam masa perkembangan, kemudian membawa dan menimbulkan konflik cinta tak berbalas. Dua orang gadis belia, Woro kembangsore dan Endang Kusumadewi sama-sama jatuh cinta pada sang Mpu Janardana yang masih melajang meski berumur tapi tetap gagah perkasa. Cinta yang tak terbalas, hanya lantaran sikap sang Mpu yang memang lemah-lembut dan perhatian pada tiap orang mendapat tanggapan berlebihan dari dua gadis muda belia tersebut.

Keberadaan Mpu Janardana di padepokan Indrakila juga sempat memberikan bantuan pada seorang warga muslim di desa Sibalungu yang bernama Naradipa, seorang penganut muslim yang baru, ajaran baru yang sedang berkembang dipesisir utara pulau Jawa. Keberadaan Naradipa dengan agama yang berbeda menimbulkan ketidak senangan bagi beberapa orang, karena adanya beberapa warga yang mulai datang dan bertandang ke rumah Naradipa untuk sekadar mengetahui tentang agama baru itu. Dan ini menjadi alasan beberapa orang picik seperti Mudra dan Kalpika, pemuda dari desa itu sering mengganggu dan tidak menginginkan keberadaan Naradipa di desa Sibalungu. Namun Resi Wiyasa sebagai pemuka agama Syiwa tidak suka denga sikap para pemuda yang dapat dikatakan tidak menjunjung hak asasi pribadi dalam beragama, maka ditugaskanlah Mpu Janardana untuk membantu Naradipa terbebas dari tekanan beberapa warga itu. Dan dari kondisi ini juga merupakan titik awal bagi seorang Mpu Janardana untuk mulai mengenal agama baru tersebut, Islam. Meski dia tidak serta merta menganut agama baru itu. Mpu Janardana dan Resi Wiyasa tetap pada sikapnya bahwasannya tiap manusia berhak hidup dengan pilihannya, dan tak ada orang yang berhak untuk mencampurinya, apalagi untuk urusan kepercayaan pada Tuhan.

Di sisi kehidupan lain, bibit konflik telah tertanam. Kehidupan akan merangkai kisahnya. Kecemburuan dari adik angkatnya, Woro Kembangsore, akan sikap dan kebaikan Mpu Janardana pada putra sang Resi, Endang Kusumadewi, mengawali segala konflik. Rencana untuk berkunjung dan tinggal dalam waktu sebulan di padepokan Indrakila akhirnya harus di batalkan, kepulangan ke Antahpura mesti dipercepat. Dan merekapun memang kembali lebih awal. Namun kisah cinta tak berakhir di sini. Endang Kusumadewi bersikeras mengejar cintanya pada Mpu Janardana. Endang Kusumadewipun sering datang ke padepokan Antahpura hanya untuk dapat melihat pujaan hatinya, meskipun dilakukannya hanya dengan sembunyi-sembunyi saja. Namun kehadiran Rake Hambulu, cantrik padepokan Indrakila, yang kebetulan menaruh hati pada Endang Kusumadewi, cantik yang senantiasa ditugaskan oleh Sang Resi untuk mengawasi dan mencari gadis tersebut tiap kali menghilang, mengacaukan segalanya

Pada akhirnya pilihan memang mesti ditetapkan. Mpu Janardana secara tiba-tiba saja malah jatuh hati pada saudara tua Endang Kusumadewi yang bernama Endang Puspitasari. Hal ini terjadi berkaitan sebuah benang merah antara perkembangan fisik gadis remaja tersebut kepuncak kesempurnaan akibat ilmu Rikma Sidi atau Rembulan Dingin yang telah dikuasainya kemudian. Ilmu yang dapat meningkatkan segala aura keindahan seorang perempuan pada puncaknya, namun sekaligus ilmu yang membawa pemiliknya pada kematangan puncak kanuragan. Dengan beberapa kondisi akhirnya Mpu Janardana dapat memperistri Endang Puspitasari. Dan kondisi ini juga merupakan titik pijak pergerakan kisah yang masih terasa datar di awal, dari Bab1 sampai dengan Bab 17.

Setelah pernikahan Mpu Janardana dengan Endang Puspitasari, maka dua gadis yang sama-sama jatuh cinta pada Mpu Janardana memutuskan untuk meninggalkan masing-masing perguruannya untuk mengembara menghilangkan kepedihan hati….dan kisah semakin luas, semakin mendekati pada cakupan wilayah kerajaan Majapahit. Masing-masing, Woro Kembangsore dengan pilihan jalurnya dan Endang Kusumadewi juga dengan pilihan pengembaraannya, secara tidak sengaja bermuara di wilayah yang sama, Wilwatikta. Meskipun mereka tak pernah bertemu kemudian. Namun mereka sebenarnya ada dalam lingkungan kerajaan Majapahit.

Woro Kembangsore bertemu dengan Raden Bondan Kajawen (Lembu Peteng), putra Maharaja Majapahit yang lahir dari perempuan penyelamatnya, Putri Wandansari, ketika beliau sedang sakit. Dan Endang Kusumadewi bertemu dengan Raden Husein, saudara muda Raden Patah, putra dari Putri Campa di kadipaten Palembang, yang juga kebetulan sedang melakukan perjalanan ke Wilwat
ikta untuk mengabdi pada Maharaja Majapahit.

Kisah mulai bergerak cepat ketika Mpu Janardana melakukan perjalanan untuk mencari adik iparnya Endang Kusumadewi. Dalam perjalanannya inilah secara kebetulan bertemu dengan Raden Patah. Pertemuan yang membawa perubahan hidupnya. Pertemuan yang kemudian menggiring dia pada perpindahan keyakinannya, berpindah jadi penganut ajaran baru, Islam. Perjalanan hidup tiap orang memang tak pernah bisa diprediksikan.

Dari Bab 18 inilah kisah kemudian berkembang. Fokus pada pergerakan penyebaran agama baru, Islam di Nusantara yang diawali dari Ngampel Denta yang dipimpin oleh Sunan Ngampel kemudian bergerak ke wilayah Glagahwangi yang dilakukan oleh Raden Patah, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Sunan Ngundung, wilayah hutan rimba dan rawa yang juga dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit. Wilayah yang diduduki tanpa pemberitahuan pada kerajaan. Namun sang Maharaja tidak mempermasalahkannya karena Prabu Brawijaya sangat menghargai segala perbedaan keyakinan keagamaan dalam lingkungan rakyatnya.

Banyak konflik pergesekan antara penganut ajaran lama dengan para penganut ajaran baru terjadi. Pergesekan yang sebenarnya terjadi karena kesalahan kecil, kesalah pahaman, pemakasaan kehendak oleh para santri yang memaksa masuk ke wilayah kerajaan untuk menjemput Raden Patah yang sedang menjadi tamu undangan sang Maha Raja Wiwatikta Sri Maharaja Brawijaya yang juga merupakan ayah kandung Raden Patah.

Sejarah masuknya agama Islam ke Bumi Nusantara, Wilwatikta, bahkan kemudian penyerangan ke wilayah istana Kerajaan Majapahit, sampai kemudian menumbangkan dan menguasainya diceritakan cukup padat namun singkat.

--> Cooming Soon <--

Sabtu, 10 September 2016

Yakjuj & Makjuj : Ditemukannya Benteng Zulkarnain

Judul Buku : Yakjuj & Makjuj : Ditemukannya Benteng Zulkarnain
Penulis : Zack Zulkarnain
Penerjemah : Razhka Azzura
Penerbit : MM Cyber Book
Jumlah halaman : -

Hampir 1400 tahun lebih umat Islam telah mempertanyakan tentang Yakjuj dan Makjuj.

"Siapakah sebenarnya Yakjuj dan Makjuj itu?"

- Apakah Gog dan Magog seperti penjelasan beberapa ilmuwan Barat? Yaitu sebuah bangsa yang diturunkan oleh keturunan Nabi Nuh, dan saat ini mendiami daerah Moskow dan Tobolski, Rusia?

- Apakah bangsa Cina seperti yang disebutkan oleh beberapa ulama penafsir?

- Apakah Makhluk luar angkasa, seperti yang di jelaskan oleh beberapa situs lokal maupun luar negeri?

- Ataukah Zionis Israel seperti yang dijelaskan oleh seorang syaikh dari saudi Arabia beberapa waktu lalu?

Sebenarnya, pertanyaan "Siapakah sebenarnya Yakjuj dan Makjuj itu?" adalah pertanyaan yang kurang tepat, sebab seharusnya kita bertanya; "Apakah Yakjuj dan Makjuj itu? Makhluk atau kah sifat? Atau benda mati?"

Dalam buku ini, penulis (Ust. Zack Zulkarnain) akan membuktikan kepada kita semua bahwa Yakjuj dan Makjuj BUKANLAH dua jenis kaum yang suka membuat kerusakan di muka bumi. Buku ini akan menyanggah pandangan tradisional para peneliti Al-Qur'an yang selama ini mentafsirkan bahwa Yajuj dan Makjuj adalah 2 bangsa yang berbuat kerusakan. Dan tentu saja penulis akan menyertakan bukti-bukti dari Ayat Al-Qur'an dan beberapa fakta ilmiah lain yang mungkin saja akan membuat anda terperangah.

Yakjuj dan Makjuj itu jauh lebih menyeramkan daripada yang pernah anda bayangkan selama ini. Dan tidak ada satu kekuatan senjata pun buatan manusia diatas dunia ini yang mampu menewaskannya sebab Yakjuj dan Makjuj memiliki kekuatan yang sangat besar dan menakutkan.

Zulkarnain adalah hamba yang diberi anugrah kekuasaan untuk mencapai segala sesuatu oleh Allah, namun beliau tidak mampu memusnahkan Yakjuj dan Makjuj. Yang mampu dilakukan Zulkarnain hanyalah mengurungnya disebuah tembok yang ia bangun dari campuran besi dan tembaga. Tapi, meskipun Zulkarnain telah berhasil mengurung Yakjuj dan Makjuj, dia tetap memberi peringatan bahwa bangunan yang dibuatnya itu akan hancur pada suatu waktu nanti. Ya, Yakjuj dan Makjuj akan menghancurkan tembok besi itu. Dan saat ini, umat Islam sedang menunggu waktu, kapan ini semua akan terjadi.

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,” (Qs. AL-Kahfi : 84)

Tahukah anda... Kenapa penduduk yang menemui Zulkarnain tidak meminta untuk memerangi Yakjuj dan Makjuj, padahal mereka mengetahui bahwa Zulkarnain adalah raja yang hebat dalam menaklukkan bangsa manapun. Hal ini diceritakan dalam Al-Qur’an :

Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" (Qs. Al-Kahfi : 94)

Mari pikir, kenapa mereka meminta Zulkarnain membuat tembok pembatas ketimbang memerangi Yakjuj dan Makjuj dengan bala tentaranya yang hebat? Bukankah saat itu Zulkarnain memiliki kekuatan yang tak terhingga dalam menaklukkan musuh-musuhnya?

Dan Coba pikir, Berapa lama Zulkarnain membangun tembok besi setinggi gunung itu.. tapi kenapa Yakjuj dan Makjuj tidak menyerang Zulkarnain dan para pekerja yang sedang berusaha mengurung diri mereka, jika Yakjuj dan makjuj itu adalah makhluk yang lebih hebat dari Zulkarnain?

Lalu dimanakah Zulkarnain mengurung Yakjuj dan Makjuj?

Siapakah sebenarnya Zulkarnain?

Bangsa apakah yang meminta kepada Zulkarnain untuk mengurung Yakjuj dan Makjuj?

Apa arti Yakjuj dan Makjuj secara bahasa? Dan Berasal dari bahasa apakah Yakjuj dan Makjuj itu?

Makhluk atau sifatkah Yakjuj dan Makjuj itu?

Semua pertanyaan ini sudah dijawab dengan ilmiah oleh buku ini. Bahkan Penulis (Zack Zulkarnain) meng-klaim sudah menemukan posisi tembok besi yang dibangun oleh Raja Zulkarnain tersebut melalui GPS, lengkap dengan titik koordinatnya. Dan ternyata, tembok itu masih kokoh saat ini, kemungkinan ia akan hancur disaat para peneliti telah ramai-ramai memberitakannya lewat media sehingga diketahui banyak orang.

Menurut saya, ini buku bagus dan harus diketahui banyak orang, bukan karena ilmiahnya saja.. tapi menurut saya, paparan dalam buku ini begitu logis dengan bukti-bukti ilmiahnya. Meski belum mencapai tahaf pembuktian yang 100%, namun 90% dari penelitian ini sudah cukup membuat kita terperangah. Buku ini sungguh berbeda dengan buku-buku lain meski judulnya sama.

Saya beri bocoran satu, tentang siapa sosok Zulkarnain menurut penulis buku ini. Dia adalah raja dari kekaisaran Persia (Sassaniyah). Sebab dari sekian banyak kekaisaran yang pernah ada di muka bumi ini, hanya Raja Kisra-lah yang memiliki mahkota berbentuk aneh, mirip seperti 2 buah tanduk. Kita bisa lihat dari gambar-gambar berikut:

Lho apa hubungannya Zulkarnain dengan mahkota aneh seperti 2 tanduk tersebut?

Hubungannya adalah, Zulkarnain itu bahasa arab yang artinya, "Sang Pemilik dua tanduk" atau "Dia memiliki dua tanduk". Klik Disini

Meski kata "Dua tanduk" ada yang menafsirkan "Dia memiliki dua kerajaan besar", namun kita juga tidak bisa menafikan jika diartikan "Dia memiliki mahkota seperti 2 tanduk di kepalanya". Allahu 'Alam

Jika kamu penasaran, silakan baca selengkapnya dalam buku digital ini.

Rabu, 07 September 2016

Song From The Heaven

Novel ini adalah karya saya pribadi. Selain untuk menguji kemampuan saya mengumpulkan berbagai informasi dari berbagai literatur yang pernah saya baca, juga menguji kemampuan saya untuk membuat sebuah karya di masa muda agar kelak karya ini bisa saya banggakan kepada anak cucu saya nanti.

Novel ini terdiri dari 2 buku, dan baru buku satu yang selesai mengalami pengeditan. Dan insya Allah, kalau punya duit mau saya cetak biar terlihat lebih keren hehe...

Saya tidak pandai membuat resensi, jadi silakan download aja ebook-nya. Setelah membacanya, jangan lupa mampir lagi kesini dan beri penilaian sejujurnya. Tulis juga berbagai kekurangannya, agar nanti saya perbaiki. Kalau ada kelebihannya juga, silakan dikomentari.

Beberapa komentar, akan saya masukkan ke dalam menu "KATA MEREKA" buku ini,

SEDIKIT SINOPSIS

"Aww..!!" Jerit gue panik sambil buru-buru bangun dan memasang kuda-kuda silat, dengan posisi siap menyerang lawan. Lalu tangan gue turun memijit- mijit betis kaki kiri yang cenat-cenutnya nggak ketulungan. Sakit banget.

Gimana gue nggak panik dan siap menyerang, coba? Orang lagi enak-enaknya ngimpi pagi sambil bergelimang iler (maklum semalem kebagian jatah ronda), tiba-tiba pintu rumah kontrakan gue didobrak dan ditutup cepat seseorang. Udah gitu, kaki gue yang selonjoran deket pintu diinjeknya tanpa ampun.

"Tolong sembunyiin Sheilla ya kak? Please… Please..." Ngiang sebuah suara serak tersenggal masuk ke kuping gue yang belum begitu menguasai keadaan.

Kontan gue yang tadi cuma panik sederhana, sekarang jadi panik tingkat dewa ketika mata sepet merah ngantuk ini menangkap sesosok gadis manis nggak dikenal, berambut lurus hitam sepunggung yang lagi nyembah-nyembah persis di depan muka gue dengan wajah memelas kayak anak kecil minta duit buat jajan sama Emaknya.

"Please, ya Kak?" dia menghiba lagi.

Perlahan gue teliti gadis itu mulai dari ujung rambut, bentuk muka, bentuk hidung, bentuk bibir, kaosnya yang hitam bergambar  tengkorak ala anime Jepang "Onepiece", Celana Jeans hitam ketat dengan beberapa sobekan dibagian paha, hingga ujung sepatu kets-nya yang gue rasa merek Batu atau Adadeh, berwarna hitam juga. Hasilnya? Asli, nggak kenal dan nggak pernah liat sebelumnya. Tapi, Masya Allah nich cewek imutnya luar biasa, cakep banget kayak bintang iklan shampoo di TV-TV. Cewek darimana ya kok bisa nongol di sini?

"Ya kak? Please…!!" Rajuknya lagi sambil meraih tangan gue dengan wajah gelisah.

Sadar belum kenal, lantas gue beringsut mundur ke belakang. Tapi ups!! Kepanikan gue bertambah heboh ketika sadar kalo sarung yang gue pake gulungannya terurai dan nyaris terlepas dari pinggang. Segera gue benahi sebelum semuanya terlambat, sementara gadis bernama Sheilla itu gue liat mesem- mesem dengan wajah tertunduk merah ke lantai. Entah malu, atau mungkin yang lainnya.

Ugh... Emang sejak mondok di Pondok Pesantren Miftahul Huda-nya Kang Endin (Begitu santri-santri biasa memanggilnya) gue jadi kebawa-bawa istiadat para santri disana, termasuk kebiasaan shalat memakai sarung tanpa pakaian dalam (daleman) masih gue pake sampe sekarang. Abis ribet juga sih kalo tiap mau shalat gue musti nyari-nyari dulu kolor, celana panjang atau pasang jubah kayak para tim pemburu hantu yang sering nongol di TV-TV swasta sambil bawa tasbeh dan botol beling atau kendi dari tanah liat buat wadah setannya kalo ketangkep nanti (busyeh.. Setan kok dibotolin!). Kalo pake sarung kan enak, tinggal gulung langsung Takbiratul Ihram.

Pernah sekali waktu Kang Endin ngasih penjelasan mengenai batas aurat pria dan wanita menurut kitab "Safinatun Najah" karya Syaikh Salim Bin Abdullah Bin Sa'd. Dalam kitab tersebut djelaskan bahwa yang namanya aurat laki-laki itu terletak diantara pusar hingga lutut, sedangkan aurat wanita adalah selu- ruh tubuh kecuali telapak tangan dan mukanya, sehi ngga ada pendapat yang mengatakan bahwa shalat terlihat aurat maka hukumnya nggak sah kecuali dalam keadaan tertentu yang sifatnya darurat. Lalu iseng-iseng gue nanya, "Bagaimana dengan shalatnya seseorang yang pakai sarung tapi nggak pakai daleman, Kang? Masalahnya kalo lagi sujud, dengkul sama paha suka keliatan dari belakang."

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...