ads

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Wanita Dirindu Surga

Diceritakan dari Ali, bahwa ketika Rasulullah menikahkannya dengan Fatimah, beliau mengirimkan pakaian dan bantal dari sabut serta dua piring makan dan dua kendi minum kepadanya. Pada suatu hari, Ali berkata kepada Fatimah, "Demi Allah, aku telah menimba air dari sumur sampai dadaku merasa sakit, sedangkan bapakmu memiliki banyak tawanan perang. Pergilah kepada bapakmu untuk minta seorang pembantu!"

Fatimah berkata, "Demi Allah, aku telah memasak makanan sampai kedua tanganku kasar dan membengkak."

Ia kemudian datang kepada Rasulullah.

Melihat putrinya datang, Rasulullah kemudian bertanya, "Ada apa engkau kemari, wahai Putriku?"

Fatimah menjawab, "Aku datang untuk mengucapkan salam kepadamu."

Fatimah merasa malu untuk mengutarakan maksudnya. Oleh karena itu, ia kemudian kembali ke rumahnya.

Melihat istrinya telah kembali, Ali langsung bertanya, "Apa yang telah engkau katakan pada ayahmu?

Fatimah hanya menjawab, “Aku merasa malu untuk meminta sesuatu kepada beliau."

Maka keduanya kemudian datang ke tempat Rasulullah secara bersama-sama. Ali kemudian berkata kepada Rasulullah, "Demi Allah, wahai Rasul! Aku telah begitu banyak menimba air dari sumur sampai dadaku terasa sakit."

Lalu Fatimah juga berkata, "Demi Allah, aku juga capai memasak sampai tanganku kasar dan membengkak, sementara Allah telah memberikan banyak tawanan dan kelapangan. Maka berikanlah seorang pembantu untuk kami."

Rasul kemudian berkata, "Demi Allah, aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian berdua, sementara aku membiarkan ahlus suffah (sekelompok sahabat yang miskin dan tinggal dipemondokkan dekat masjid nabi serta sibuk dalam ketekunan beribadah)perutnya kelapatan, dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk menafkahi mereka. Lebih baik aku menjual para tawanan dan hasilnya aku gunakan untuk menafkahi mereka.”

Akhirnya, mereka berdua kembali dengan tangan kosong.

Rasulullah kemudian mendatangi mereka berdua. Saat itu, mereka berdua sedang berada dalam selimut kecil (jika keduanya menutup kepalanya maka kedua kaki mereka akan terbuka dan jika keduanya menutupi kedua kaki mereka, kepala mereka terbuka). Keduanya kemudian bangkit dengan malu-malu.

Rasulullah kemudian berkata, "Tetaplah dalam posisi kalian berdua. Maukah kalian aku beri kabar tentang sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?"

Keduanya kemudian menjawab "Iya. Kami mau."

Rasul bersabda, Beberapa kalimat yang telah diajarkan Jibril kepadaku, kalian bisa membaca tasbih setiap selesai shalat sebanyak 10 kali, membaca tahmid 10 kali, dan membaca takbir 10 kali. Jika kalian hendak beranjak tidur, hendaknya kalian membaca tasbih sebanyak 33 kali, membaca hamdalah sebanyak 33 kali, serta membaca takbir sebanyak 34 kali."

Ali berkata, "Demi Allah aku tidak pernah meninggalkan amalan ini sejak Rasu mengajarkannya kepadaku." (HR Bukhari dan Muslim)

Kamis, 20 September 2018

Pinokio

Pada awalnya Pinokio berpura-pura tak peduli dan bertindak sebaik mungkin, tapi akhirnya karena kehilangan kesabaran dia menantang mereka yang paling keterlaluan mempermainkannya dan berkata pada mereka dengan sangat marah, "Urus diri kalian sendiri! Aku datang kemari bukan untuk menjadi bulan-bulanan kalian. Aku menghormati orang lain dan aku ingin dihormati."

"Hai si mulut besar! Kau telah bicara seperti buku!" teriak para bajingan muda yang kemudian dikuasai tawa dan salah satu dari mereka, yang lebih tidak sopan diantara yang lainnya, mengangkat tangannya bermaksud untuk memegang ujung hidung Pinokio. Tapi dia kalah cepat karena Pinokio mengayunkan kakinya dari bawah meja dan menendang tulang kering bocah itu.

"Aduh, kakinya keras sekali!" erang bocah itu sambil menggosok-gosok memar yang disebabkan oleh tendangan Pinokio.

"Sikutnya bahkan lebih keras dari kakinya!" teriak yang lain yang mendapatkan pukulan di perutnya karena mempermainkan Pinokio dengan kasar.

Tendangan dan pukulan itu membuat Pinokio mendapatkan simpati dan hormat dari seluruh bocah di sekolah. Mereka semua berkawan dengannya dan benar-benar menyukainya. Bahkan kepala sekolah memujinya karena dia sangat penuh perhatian, tekun belajar, dan pandai, selalu datang ke sekolah paling awal dan paling akhir meninggalkan sekolah. Tapi dia membuat satu kesalahan, dia memiliki terlalu banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak nakal yang terkenal malas belajar dan suka melakukan keburukan.

Kepala sekolah menegurnya setiap hari dan Sang Peri juga mengingatkannya berkali-kali, "Hati-hatilah, Pinokio! Teman sekolah yang nakal cepat atau lambat akan membuatmu malas belajar dan mungkin suatu saat membuatmu celaka."

"Tak perlu khawatir akan hal itu!" jawab Pinokio sambil mengangkat bahunya dan menyentuh dahinya seperti berkata, "Aku terlalu pintar untuk membiarkan itu terjadi!"

Pada suatu hari ketika dalam perjalanan ke sekolah, dia bertemu beberapa teman jahatnya yang bertanya, "Sudahkah kau mendengar datangnya berita luar biasa?"

"Belum."

"Di laut dekat sini telah muncul paus sebesar gunung."

"Benarkah? Apakah itu paus yang sama dengan yang muncul ketika Papaku tenggelam?"

"Kami akan pergi ke pantai untuk melihatnya Maukah kau bergabung?"

"Tidak. Aku akan pergi ke sekolah."

"Apa urusannya dengan sekolah? Kita akan pergi ke sekolah besok. Baik kita mendapatkan pelajaran atau tidak kita tetap keledai juga."

"Tapi apa yang akan dikatakan kepala sekolah?" 

"Kepala sekolah boleh berkata apa saja sesukanya. Dia dibayar untuk mengomel sepanjang hari."

"Dan mamaku?"

"Para mama tidak tahu apa-apa, "jawab bocah-bocah kecil nakal itu.

"Kalian tahu apa yang akan kulakukan?" kata Pinokio. "Aku memiliki alasan untuk melihat paus itu, tapi aku akan pergi melihatnya sepulang sekolah saja."

“Keledai malang!” seru salah satu bocah. “Kaupikir paus sebesar itu mau menunggumu? Begitu dia capek berada di sana, dia akan pindah ke tempat lain dan semuanya akan terlambat.”

download

Kamis, 06 September 2018

Asap Itu Masih Mengepul

Rasa-rasanya dia jujur. Yang dituturkannya bukan cerita rekaan. Menurut data dia dilahirkan pada tahun 1959 sedangkan pemberontakan PKI terjadi tahun 1965, Jadi ceritanya masuk akal juga.

Bagaimanapun dia kuminta mengganti nama orangtua yang tertera dalam biodatanya.

Masalah yang menyangkut diri guru itu menjadi rumit dan berlarut-larut diawali dengan datangnya surat kaleng yang kuterima dari seseorang yang menamakan dirinya “wakil masyarakat desa Kalijambe. Dalam surat itu dipersoalkan mengapa seorang anak gembong PKI dapat diangkat menjadi pegawai negeri dan bahkan menjadi guru yang mengajar Pancasila. Andaikata surat kaleng tersebut tanpa disertai tembusan ke instansi lain, antara lain ke Kandep Dikbud, sebenarnya aku tidak perlu melayaninya. Akan tetapi, karena ada tembusan, aku terpaksa melapor ke kandep. Kebetulan waktu aku datang melapor di ruang kerja kakandep ada tamu pengawas. Kepada kedua pejabat itu aku menceritakan secara kronologis kejadian-kejadian yang menyangkut diri anak buahku itu. Ternyata kedua pejabat itu sependapat bahwa kehadiran guru anak tokoh PKI itu telah menimbulkan keresahan di masyarakat. Karenanya aku diminta membuat laporan tertulis kepada kakanwil, tembusannya dikirim ke kandep. Tentu saja permintaan itu kupenuhi.

Sehari kemudian pengawas datang ke sekolahku. Di buku pembinaan dia menulis catatan, “Sambil menunggu kebijaksanaan kakanwil, Saudara dibebaskan dari tugas mengajar, bisa membantu kegiatan perpustakaan,” Kepadaku Pak Pengawas bercerita bahwa pada masa Orla di kabupaten ini ada dua Ramli yang tergolong PKI kelas kakap. Satu Ramli BTI dan yang lain Ramli PGRI-NV, Ayah anak buahku adalah Ramli BTI.

Sejak kedatangan pengawas ke sekolahku, guru tersebut tidak kuberi jam mengajar. Dia tidak memprotes, patuh saja pada perintahku. Sebagai kepala sekolah aku merasa harus lapor kepada kepala bidang di kanwil. Aneh, atasanku di bidang teknis-edukatif itu tidak sependapat dengan pengawas.

“Yang berdosa terhadap Bangsa dan Negara adalah ayahnya, bukan dia. Mengapa dia harus menanggung dosa ayahnya? Tidak ada dosa keturunan!”

“Akan tetapi, Bapak Kakandep dan Pengawas menilai kehadirannya di sekolah saya tidak diterima oleh masyarakat, menimbulkan keresahan dan kerawanan,”

“Kehendak masyarakat tidak selamanya harus kita turuti,” kata kepala bidang lagi, “Api keributan sudah lama padam. Asapnya sempat melambung tinggi, tetapi asap itu jangan dibiarkan mengepul terus.”

“Kalau begitu saya mohon Bapak sudi membantu saya.”

“Membantu bagaimana?”

“Buatlah sekadar memo yang menyatakan Bapak mengizinkan dia mengajar kembali,” kataku.

Atasanku itu diam. Sesudah berpikir sejenak dia berkata, “Coba temui Bapak Kabag Kepegawaian, Beliau adalah ketua tim skrining,”

Kembali terjadi kejutan. Ketua tim skrining itu ternyata terheran-heran mendengar laporanku. Dia merasa kebobolan, ada anak tokoh PKI bisa diangkat menjadi guru mata pelajaran Pancasila.

“Jelas tidak boleh. Coba Saudara bayangkan, bagaimana dia bisa berbicara tentang pemberontakan G30S. Lidahnya mesti kaku. Kelu. Karena itu, orang semacam itu harus dikantorkan.” kata pejabat itu, “Pulang sajalah, Saudara. Tunggu sampai kami mengambil ke putusan. Untuk sementara dia tidak boleh mengajar.”

Dengan demikian, kepergianku ke Semarang tidak mengubah nasibnya. Anak buahku itu tampak sangat kecewa, Soalnya dia sudah sangat tidak betah jadi petugas perpustakaan.

“Anak-anak sinis terhadap saya, Pak,” katanya pada suatu kesempatan, “Malah sebagian di antara mereka ada yang terang-terangan mengejek saya. Martabat saya di perpustakaan lebih rendah daripada pesuruh. Omongan saya sama sekali tidak mereka hargai.”

Pada kesempatan lain dia menuturkan ketidak enakannya sebagai guru yang dilarang mengajar. “Yang dirugikan bukan cuma saya pribadi,” katanya, “Adik perempuan saya ikut merasakan getahnya. Beberapa waktu yang lalu sudah ada pemuda yang mendekatinya, mau resmi melamar. Begitu mendengar saya dinonaktifkan sebagai guru, pemuda itu mundur. Luka lama kambuh kembali. Masalah ayah sedikit demi sedikit mulai dilupakan orang, tetapi begitu saya terkena hukuman, orang pun kembali membicarakan masa lalu ayah. Saya mohon Bapak bisa merasakan penderitaan kami.”
Aku tidak bisa banyak bicara. Paling-paling menasihatinya agar bersabar dan jangan mudah berputus asa.

Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa kerjanya sebagai petugas perpustakaan makin hari makin jelek. Aku prihatin sekali sebab pada dasarnya dia memiliki rasa tanggung jawab besar. Kembali aku melapor kepada kepala bidang di Semarang, “Beri dia tugas mengajar, selain Pancasila.” begitu bunyi memo yang kubawa pulang. Keputusan itu membuat hatinya agak lega. Dia kuberi tugas mengajar Tatanegara, mata pelajaran yang juga dikuasainya.
 
Download

Kamis, 27 Juli 2017

Menjadi Wanita Paling Bahagia

Rasulullah saw. bersabda, "Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita salehah."

Wanita memang memiliki banyak kelebihan dalam setiap sisi kehidupannya. Di antara sisi yang unik dari kelebihannya itu adalah kebahagiaan wanita sangat berpengaruh kepada kebahagiaan orang yang terdekat di sekitarnya. Dengan kebahagiaan, hidup seorang wanita menjadi lebih berarti di mata siapa pun. Apakah itu di mata suaminya, anaknya, keluarganya, sahabatnya, atau orang lain.

Namun sayang, sebagian dari mereka tak mumpuni dalam mengelola kebahagiaan ini, dan menganggap kebahagiaan itu ibarat api lilin yang mudah padam. Maklumlah, wanita diciptakan dengan tingkat kepekaan (baca: perasaan) lebih tinggi dibanding kaum pria. Sedikit saja mereka terusik, maka kebahagiaannya akan goyah dan berkurang, atau akan terlepas—padam—begitu saja.

Nah, di sinilah letak persoalannya. Kebahagiaan mereka sulit sekali dipertahankan. Mudah datang dan mudah pergi. Bahkan, mudah sekali mereka terjebak dalam kondisi dan sikap yang dapat menghancurkan kebahagiaan ini. Atau sering juga mereka tak menyadari kebahagiaan seperti apa yang mereka rasakan, apakah kebahagiaan yang diridhai Allah atau kebahagiaan yang sebaliknya.

Buku ini akan menjawab sebahagian kebutuhan wanita akan kebahagiaan. Sehingga mereka akan benar-benar merasakan kebahagiaan sesuai dengan ketentuan Allah dan Nabi-Nya. Inilah pesan utama yang ingin disampaikan oleh penulis.

Sudah menjadi kelebihan bagi Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni dalam menyajikan karyanya dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, namun tetap berbobot dan berpengaruh. Pada setiap awal halaman nanti, al-Qarni seakan 'menegur' Anda dengan bait-bait syair yang menggugah. Saat itu, seolah-olah Anda sedang berada di hadapannya. Bahkan, Anda tak punya waktu untuk beranjak sesaatpun darinya. Syair-syair dan isi buku ini terus mengalir, membasahi relung hati dan pikiran, serta menenangkan dan membangkitkan jiwa Anda.

Kami berharap agar buku ini menjadi teman di waktu luang Anda. Ada pepatah Arab mengatakan, "Sebaik-baik teman duduk sepanjang waktu adalah buku." Dan tidak mustahil bila buku ini adalah salah satunya. Terlebih lagi karya ini memang dibuat spesial untuk Anda, wanita-wanita muslimah yang mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Buku ini adalah rujukan tepat bagi Anda yang masih gadis atau yang sudah berumah tangga. Karena di dalamnya, penulis banyak memaparkan seluk beluk kehidupan wanita yang menarik. Baik dari sisi pribadi, keluarga, dan kehidupannya bermasyarakat yang dilatarbelakangi oleh agama, sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Di dalam buku yang dikhususkan untuk wanita ini, kami mencoba menyajikan halaman demi halaman dengan citarasa feminin. Tujuannya tidak lain agar Anda terhibur sebelum membacanya. Bagi kami, ini adalah sebuah sensasi untuk menarik selera kaum wanita dalam menikmati buku ini.

Dan kami yakin, kebahagiaan yang Anda rasakan tentunya akan semakin bermanfaat bila Anda menghadiahkan buku ini kepada orang yang Anda cintai. Isi dan penampilannya memang sengaja kami buat semenarik mungkin, sehingga sangat cocok untuk dijadikan bingkisan. Dengan memberikannya sebagai hadiah, Anda telah memberi orang lain jalan keluar untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan bersama Anda.

Sekarang, sudah siapkah Anda untuk menjadi wanita paling bahagia? Insya Allah, siapa pun Anda, semoga Allah selalu merahmati Anda dengan kemuliaan dan ketakwaan. Sehingga dengan begitu, Anda akan terpilih menjadi WANITA PALING BAHAGIA DI DUNIA.

Download

Sejak Memilih, Meminang Dan Menikahi

Bila suami isteri mengetahui dan menjalankan masing-masing hak serta kewajibannya dengan baik, niscaya kelanggengan rumah tangga yang diidam-idamkan akan tercapai, dijauhkan dari segala kemelutnya. Walaupun ada maka akan segera diselesaikan dengan bijak dan baik, sehingga permasalahan itu menjadi pendewasa sepasang suami isteri, penambah kesabaran mereka, dan menjadi bumbu penyedap kehidupan rumah tangga. Semboyan “Rumahku Surgaku” pun akan terwujud. Alangkah indahnya pernikahan yang digambarkan dalam al-Quran:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu menyatu dan merasa tenteram kepadanya. Dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. ” (QS. Ar-Rum: 21)

Berikut ini akan disebutkan hak-hak suami atas isterinya dan hak-hak seorang isteri atas suaminya.

Hak seorang suami atas isterinya sangat besar.

Rasulullah bersabda: “Seandainya aku (boleh) memerintah seseorang untuk bersujud kepada seseorang (yang lain), maka aku akan memerintahkan isteri untuk bersujud kepada suaminya.”

Di antara hak-hak suami atas isterinya, berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah adalah:

1. Mentaati perintahnya.

Diriwayatkan bahwa Nabi pernah ditanya tentang wanita yang paling baik, beliau menjawab: “Yang taat ketika suami memerintah, yang menyenangkan ketika ia melihatnya, dan yang menjaga (suami)nya dengan menjaga dirinya dan harta (suamijnya.”[HR. Tirmidzi]

Jika suaminya memerintahkan kemaksiatan, maka tidak boleh mentaatinya, karena Nabi bersabda: “Tidak ada ketaatan pada kemaksiatan kepada Allah. Ketaatan itu hanya dilakukan pada sesuatu yang ma’ruf.”[HR. Bukhari]

2. Tetap di rumah, tidak keluar kecuali ada izin suami.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. ” (QS. Al- Ahzab: 33)

3. Tidak menolak ketika suami mengajak-nya berhubungan intim.

4. Tidak mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan izin suaminya.

5. Tidak puasa sunnah ketika suaminya ada di rumah, kecuali dengan seizinnya

6. Tidak menginfakkan harta suaminya kecuali dengan seizinnya.

7. Melayani suami dan anak-anaknya.

Fathimah, puteri Rasulullah melayani suaminya sehingga ia mengadu kepada Rasulullah 5e§ karena sakit pada tangannya akibat penggilingan.

Akan tetapi hendaklah suami memperhatikan keadaan isterinya, tidak menyulitkan atau memberi beban yang tidak sanggup ia lakukan.

8. Menjaga kehormatan suami, anak-anak dan harta suaminya.

9. Banyak berterima kasih, tidak mem-bangkang dan selalu menggaulinya dengan baik.

10. Berhias dan tampil cantik untuk suami.

11. Tidak mengungkit-ungkit harta yang pernah diberikan kepada suami maupun anak-anaknya

12. Rela dan puas dengan yang sedikit, tidak memberatkan suami dengan sesuatu di atas kemampuannya

13. Tidak melakukan sesuatu yang melukai perasaan suami dan menjadikannya marah

14. Wajib berbuat baik kepada kedua orang tua suami dan karib kerabatnya

15. Bersungguh-sungguh hidup selamanya dengannya, tidak minta cerai kecuali dengan alasan yang dibolehkan syara’

16. Berkabung (ihdaad) selama empat bulan sepuluh hari ketika suaminya meninggal.
#

Senin, 29 Agustus 2016

Satu Tiket Ke Syurga

~Seorang wanita laksana bunga yang indah dan harum di dalam bejana. Maka hidulah dia dengan lembut, jangan mengasahnya. ~Peribahasa Arab

Saat itu hari Minggu pagi dan ayahku baru saja menerima telepon dari adik perempuanku. Adikku akan melahirkan. Jadi, sudah tentu, kami semua bergegas ke rumah sakit untuk menemuinya di sana.

Beberapa jam kemudian adikku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik, Masyaallah. Rasanya baru kemarin adikku itu, dia sendiri, sih seorang bayi-adik bayiku.

Aku ingat hari pertama dia masuk sekolah. Dengan tas kotak kecil dan wajah lugu, seragam yang lucu, dan rambut diekor kuda, dia melangkahkan kaki ke sekolah untuk pertama kalinya. Rasanya seperti baru dua kedipan mata dan, tiba-tiba saja, dia sudah dewasa! Masyaallah! Aku masih ingat hari-hari dan malam-malam yang kami lewatkan bersama. Dua gadis kecil yang baik dan patuh sekaligus nakal dan bandel, yang kadang membuat ibu kami kesal.

Karena waktu itu kelakuan kami seperti gadis remaja umumnya (perhatikan frasa 'waktu itu'!), kami bisa meng-habiskan waktu berjam-jam untuk memper-bincangkan, merintang waktu dengan cerita-cerita yang sebenarnya tidak banyak bermanfaat bagi kami. Seperti kelompok paduan suara, kami biasa mengenakan baju yang persis sama, saling menggoda dan menghibur dan yang paling asyik adalah bahwa waktu itu adikku selalu meniru apa pun yang kulakukan. Yah, pada masa itu kakaknya adalah idolanya. Lagi pula, apa ada orang yang tidak memuja dan meniru apa saja yang dilakukan saudara-saudaranya yang lebih tua?

Tetapi, seperti kata Cinderella, itu "Dahulu kala." Sekarang, adik bayiku itu sudah jadi ibu dengan bayinya sendiri.

Ini bukan lagi permainan pura-pura yang biasa kami mainkan. Ini sungguhan.

Sebelum adikku melahirkan, aku suka sekali mende-ngarkan cerita-ceritanya tentang bayinya yang akan segera lahir itu. Dia menuturkan perasaannya yang bahagia sebab ada makhluk lain yang sedang tumbuh di dalam dirinya, yang menendang-nendang dan bergerak-gerak. Kadang dia bahkan bisa melihat jari mungil, atau mungkin siku, menyodok dari dalam perutnya.

Sejak awal kehamilan, cinta adikku pada bayinya yang masih dalam kandungan itu begitu jelas dan nyata. Dia memperhatikan makanan dan minumannya, menjaga gerak-geriknya, dan mencemaskan banyak hal lain yang sebelumnya tidak pernah dia pedulikan.

Pantas saja Sophia Loren pernah berkata, "Seorang ibu selalu harus berpikir dua kali, sekali untuk dirinya sendiri dan sekali untuk anaknya."

Itu benar-benar berlaku pada adikku, dan aku yakin juga berlaku pada banyak perempuan lain yang membawa " keajaiban hidup" dalam rahim mereka.

Memang, bayi adalah keajaiban yang demikian menak-jubkan dalam hidup, Masyaallah. Allah telah mengingatkan kita bagaimana kita diciptakan oleh-Nya dalam rahim ibu Ia ciptakan kamu dari satu orang saja, kemudian Ia jadikan darinya istrinya; dan Ia turunkan delapan pasang hewan ternak untukmu. Ia ciptakan kamu dalam perut ibumu, kejadian demi kejadian, dalam tiga selubung kegelapan. Itulah Allah, Tuhanmu, Kepunya- an-Nyalah kerajaan. Tiada Tuhan selain Ia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (Az-Zumar 39: 6)

Hari itu para dokter membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit untuk mengeluarkan makhluk mungil pembawa kebahagiaan ini ke dunia. Perawat lalu membawa bayi adikku ke ruang tunggu agar ipar laki- lakiku bisa membisikkan azan dan ikamah ke telinga bayinya yang baru lahir.

Begitulah, aku mendapat kehormatan menjadi salah seorang yang pertama melihat anggota baru keluarga kami. Aku memotretnya untuk kenang-kenangan. Dia tampak begitu murni dan suci. Matanya terpejam, tetapi tangan dan kaki mungilnya bergerak perlahan di bawah selimut yang membungkusnya.

Kukecup dia dengan lembut dan kupejamkan mata sewaktu menghirup keharuman dari Surga itu. Kalian tahulah, bau bayi. Parfum paling harum di seantero dunia! Belum ada perusahaan kosmetik yang sanggup men- ciptakan keharuman yang begitu memesona, mendekati saja tidak. Dan, ketika bibirku menyentuh pipinya yang halus dan lembut, aku sudah jatuh cinta padanya... Itulah mukjizat lain dari Allah-perasaan cinta, Masyaallah.

Beberapa menit kemudian para perawat mendorong adikku keluar dari ruang operasi. Dia masih terbaring di tempat tidur dorong. Dia kelihatan lelah, tetapi wajahnya berseri. Adikku menanyakan bayinya. "Dia cantik dan manis," kataku dan kuberi adikku itu ciuman di pipi. "Selamat, ya." Adikku tersenyum lemah.

Betapa beruntungnya adikku karena sekarang dia sudah diangkat oleh Allah ke kedudukan yang sangat tinggi dalam hidup. Ya, itu betul. Dia sekarang seorang ibu. Ibu adalah status istimewa yang Allah limpahkan kepada perempuan-perempuan pilihan sejak penciptaan manusia pertama kalinya sampai hari ini. Menjadi ibu adalah sesuatu yang diimpikan sebagian besar wanita, namun tidak semua dari kita mendapat kehormatan itu.

Kedudukan yang terhormat ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad (saw) ketika beliau menasihati seorang sahabat agar memperlakukan sang ibu dengan baik.

Mu'wiyah Ibn Jahimah (ra) menuturkan bahwa dia pernah menemui Nabi (saw) dan berkata, "Wahai, Rasulullah! Aku berniat pergi berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihatmu." Nabi bertanya kepadanya, "Apakah ibumu masih hidup?" "Ya," jawab Jahimah. Kemudian Nabi berkata, Teguhlah berbakti kepadanya karena Surga terletak di bawah telapak kakinya." (An-Nasa'i)

Surga! Masyaallah. Coba bayangkan status yang diberikan Allah kepada perempuan-perempuan istimewa yang disebut ibu ini.

Apakah kita sudah benar-benar memahami pentingnya hadis ini? Mampukah kita untuk sekedar mulai memahami dan menghargai kemuliaan dan tingginya status ibu kita? Sanggupkah kita mengerti bagaimana status seorang wanita dinaikkan begitu dia melahirkan seorang anak? Para wanita yang sudah jadi ibu itu pastilah makhluk- makhluk yang sangat istimewa hingga diberi kedudukan yang demikian hebat oleh Allah, bukan begitu?

Suatu kali, Nabi Muhammad (saw) membahas bagaimana kita semua harus menghormati dan mendampingi ibu kita.

Abu Hurairah (ra) berkata: "Seorang laki-laki menemui Rasulullah (saw) dan berkata, Ya Rasulullah, siapakah....
Download

Minggu, 28 Agustus 2016

Virus Membaca

Buku karya Paul Jennings ini sengaja dijuduli demikian Agar Anak Anda Tertular "Virus" Membaca karena ingin menarik perhatian Anda. Secara bahasa, virus berarti "mikro organisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron, yang menyebabkan dan menularkan penyakit seperti penyakit cacar, influenza, dan rabies". Jadi, virus itu adalah makh-luk yang sangat kecil dan dapat menularkan penyakit.

Virus yang arti harfiahnya seperti itu, dalam judul buku ini kemudian diberi tanda kutip-' virus". Makna virus yang asli ingin diubah menjadi 'virus" yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan seorang anak. Akhirnya, muncullah kata "'virus' membaca" yang berarti "makhluk yang amat kecil yang dapat ditularkan lewat keteladanan sehingga seorang yang tertular akan men-jadi keranjingan atau gemar sekali membaca". Sekali lagi, "'virus' membaca" ini hanya dapat ditularkan kepada anak-anak lewat keteladanan.

Semestinya judul buku ini mengikuti judul bu¬ku aslinya, The Reading Bug...and How You Can Help Your Child to Catch It menggunakan frasa "kutu buku". Na-mun, frasa ini terkesan "dingin" dan kadang ditafsirkan sebagai sesuatu yang berkacamata sangat tebal, kepala-nya botak, atau "tidak gaul". Tentu, anggapan seperti itu tidak-lah tepat. Kenyataannya khususnya untuk ling-kup masyarakat Indonesia kurang-lebih ya begitulah. Oleh karena itu, pengubahan "kutu buku" menjadi "Virus membaca" diharapkan selain menarik perhatian juga dapat membangkitkan keinginan seseorang baik itu seorang guru atau seorang ayah/ibu atau siapa saja untuk habis-habisan menularkan sang "virus" yang berwujud kecintaan, keasyikan, dan kegairahan membaca buku kepada
anak-anak sejak sangat dini.

Apakah permainan kata soal virus itu benar- benar ada maknanya? Apabila para pembaca mencermati uraian penulis buku ini tentang bagaimana menularkan "'virus' membaca" kepada anak-anak, tentulah makna itu akan para pembaca dapatkan. Dalam bahasa Jen-nings, "virus" itu adalah sesuatu yang membuat seorang anak sangat asyik membaca. Jennings secara sangat tegas membedakan antara bisa dan gemar (asyik) mem¬baca.

Mungkin Anda dan anak Anda sudah bisa membaca. Namun, belum tentu Anda dan anak Anda gemar mem-baca. Di dalam kata gemar, tersimpan rasa cinta. Inilah yang ingin dikobarkan di dalam diri Anda dan anak Anda kecintaan membaca buku-oleh buku ini. Dan, secara sangat piawai tegas, tetapi penuh canda-Jennings membawa para pembacanya ke suatu wilayah pengalaman membaca yang luar biasa.

Sebelum beranjak ke yang lain, saya ingin kembali sebentar ke soal pentingnya keteladanan. Menurut Jennings, "virus" membaca ini hanya bisa ditularkan ke-pada anak-anak apabila orangtua bersedia menjadi pendongeng, pemberi contoh bagaimana membaca buku itu membuka cakrawala pemikiran, dan betapa pentingnya buku untuk meningkatkan kualitas kehidupan.

Download

The Baby Book

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya memulai praktik sebagai dokter anak, saya, yang telah dilatih di dua rumah sakit dokter anak terbaik di dunia, berpikir bahwa saya telah mengetahui segalanya tentang dunia bayi. Sebenarnya, teman-teman kami selalu mengatakan kepada Martha betapa berun tungnya ia karena menikahi seorang dokter anak. Martha selalu menjawabnya dengan, "Suami saya hanya dapat mengobati bayi-bayi yang sakit".

Pada minggu-minggu pertama saya melakukan praktik, saya merasa sangat terkejut. Para ibu selalu mengajukan pertanyaan nonmedis: "Perlukah saya membiarkan bayi menangis?" atau "Apakah kami akan membuat bayi kami manja bila sering menggendongnya?" atau "Apakah kami membuat pilihan yang tepat bila kami tidur dengan bayi kami?"

Saya tidak mengetahui jawaban per tanyaan ini, tetapi para orangtua mengandalkan saya karena saya seorang dokter spesialis anak.

Semua ini bukanlah pertanyaan medis, melainkan pertanyaan mengenai cara mengasuh anak. Saya mengetahui hal yang harus kami kerjakan dengan dua bayi kami, tetapi saya tidak berpikir bahwa hal ini dengan serta-merta membuat saya menjadi seorang ahli. Maka, saya membaca buku-buku mengenai bayi, persis seperti yang sedang Anda kerjakan sekarang. Buku-buku yang telah ada sangat mem-bingungkan karena terlihat seperti pendapat si penulis dan bukan berdasarkan hasil penelitian. Kebanyakan penulis kekurangan akal sehat, tidak memiliki pendirian, atau hanya mengajarkan hal yang sedang populer, baik efektif maupun tidak.

Saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli yang sesungguhnya, yakni orangtua yang berpengalaman dalam praktik saya yang tampaknya dapat menangani masalah pengasuhan. Mereka adalah orangtua yang tampak selaras dengan anak-anak mereka, yang bisa membaca isyarat bayi mereka, dan yang menjawab secara intuitif serta sewajarnya; orangtua yang menikmati perannya sebagai orangtua, dan anak-anaknya tampak berhasil dengan baik.

Orangtua ini dan anak-anak mereka menjadi guru saya, dan saya menjadi pendengar yang baik dan pengamat bayi yang penuh minat. Saya membuat catatan dengan saksama tentang gaya pengasuhan yang mereka laksanakan. Saya me-ngumpulkannya dalam daftar "hal-hal yang berhasil", dan Martha bekerja dengan saya sepanjang masa-masa awal (sampai anak keempat kami lahir, Hayden) praktik saya itu, dan dia masih aktif sebagai penasihat orangtua serta konsultan tentang penyusuan. Praktik yang kami lakukan adalah penelitian lapangan, dan kami mempunyai "laboratorium" kami sendiri di rumah.

Setelah sembilan tahun mendengarkan dan mempelajari ketiga anak kami, kami mulai menarik beberapa kesimpulan tentang cara mengasuh anak. Dari daftar gaya pengasuhan para orangtua, kami memilih gaya yang berhasil dilakukan oleh banyak orangtua, dari waktu ke waktu. Kami mengajarkan konsep ini kepada orangtua lainnya dalam praktik sebagai dokter anak, dan kami menggunakannya dalam keluarga kami sendiri saat menjadi orangtua bagi kedelapan anak kami. Dari tahun ke tahun, Martha dan saya telah memodifikasi model pendekatan kami untuk menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup dan memenuhi kebutuhan dari setiap anak (dan kami masih terus belajar). Dalam bab yang singkat ini, Anda dapat menemukan esensi dari praktik saya sebagai dokter anak selama 30 tahun, menjadi orangtua bagi kedelapan anak kami, dan menjadi konsultan bagi ribuan pasang orangtua.

Jangan harap Anda dapat mempelajari semuanya dengan sekejap. Pengasuhan anak adalah pekerjaan sepanjang hayat dan membutuhkan pengalaman secara langsung. Saran kami hanyalah kiat awal. Dari dasar-dasar ini, Anda dapat mengembangkan dan membangun gaya sendiri, gaya yang terbaik bagi temperamen bayi Anda dan kepribadian Anda. Selain itu, tidak ada cara terbaik yang dapat Anda putuskan bila Anda belum memiliki bayi. Anda tidak memiliki ide tentang hal yang dapat diperbuat seorang bayi bagi kehidupan Anda, dan cara seorang bayi dapat mengubah pandangan Anda. Dibutuhkan praktik secara langsung agar Anda bisa memutuskan seberapa sering Anda menggendong bayi, hal yang akan dilakukan bila bayi Anda bangun jam 3 pagi, dan waktu yang diperlukan untuk menyusui bayi Anda. Simpan ke- putusan-keputusan ini hingga Andamengetahui karakter bayi Anda. Namun, ada beberapa gaya pengasuhan yang harus disadari sebelum pekerjaan yang se-sungguhnya dimulai.

Sebelum kita masuk ke beragam gaya pengasuhan, mari buat kesepakatan. Pada awalnya, beberapa gagasan yang akan kami bagi dengan Anda mungkin asing dan berbeda bila dibandingkan dengan nasihat yang sudah Anda dengar di tempat lain. Namun, tolong jangan tutup pikiran Anda. Masuki dunia karier Anda sebagai orangtua dengan pikiran terbuka, atau Anda ber siap untuk frustrasi. Bayi yang mudah ditangani, seperti yang Anda harapkan, mungkin bukan bayi Anda. Tetap terbuka dengan ide-ide baru, dan pilihlah hal terbaik yang sesuai dengan keluarga Anda. Sebagai imbalannya, yakinlah bahwa semua hal yang kami paparkan dalam buku ini telah melalui penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Download


Senin, 18 Juli 2016

Rahasia Sukses Mengatur Keuangan Keluarga



Masalah utama sebuah keluarga yang selalu ada biasanya seputar keuangan. Bisa karena kekurangan uang, kelebihan uang :) atau karena bingung bagaimana mengatur uang yang penghasilannya pas-pasan sedangkan kebutuhan selalu melebihi pemasukan.

Namun muara dari itu semua kata kuncinya adalah bagaimana mengatur keuangan keluarga atau pribadi dengan cerdas, cermat dan sebaik-baiknya. Karena masalah

Kamis, 21 April 2016

Ibu Rumah Tangga: Profesi dengan Gaji Tertinggi




Surveys prove: housewife salary = Rp. 1 Billion More
Survei membuktikan: gaji ibu rumah tangga = Rp. 1 Milyar lebih

If you have a girl or a sister who was growing up, and enter a period of marriage, try to ask them whether they would choose the option that after they got married, became a woman (wife) working career or becoming a housewives?
Bila Anda memiliki seorang anak gadis atau saudara

Minggu, 21 April 2013

Kumpulan Tips Mengatur Keuangan dan Belanja



TIPS PENGATURAN KEUANGAN

Tentukan tujuan keuangan yang ingin Anda capai.

Catat semua kebutuhan (rutin dan non rutin). Hitung berapa kebutuhan untuk tujuan keuangan Anda dan berapa yang harus disisihkan setiap bulan.

Disiplin pada saat menerima penghasilan. Sisihkan dana untuk menabung dan berinvestasi baru pengeluaran lainnya.

Cek dimana pengeluaran bocor halus Anda setiap bulannya.

Senin, 15 Oktober 2012

Sumur, Dapur & Kasur...

Ditulis oleh Budi Ashari

Hari ini, kalimat ini sangat dihindari oleh banyak wanita. Setiap disebut tiga kata ini, kesannya sangat rendah. Para istri yang hanya bisa mengurus sumur, dapur dan kasur benar-benar hanya pelengkap penderita. Bukan wanita peradaban. Tidak modern. Tidak maju. Begitulah opini tersebar atau mungkin sengaja disebarkan zaman ini.

Efek dari opini tersebut, para orangtua

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...