ads

Tampilkan postingan dengan label Novel Horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Horor. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Dewi Ular - Roh Pemburu Cinta

Pramuda segera bergegas dekati mobilnya. Mak Supi hanya sampai di pintu pagar, menunggu perintah selanjutnya. Karena menurut dugaannya, Kumala dan Pramuda akan pergi lagi. Jika benar begitu berarti ia harus membuka pintu pagar yang sudah ditutup sebagian saat mobil masuk tadi.

"Bagaimana?" tanya Pramuda dengan wajah tegang.

"Kita pergi dulu dari sini! Lekas bawa aku pergi ke mana saja!" kata Kumala dengan nada datar, wajahnya tampak tegang.

Pramuda pun segera masuk ke dalam mobil setelah memberi isyarat kepada Mak Supi agar membuka pintu pagar lebar-lebar.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Mala?" tanya Pramuda sambil sibuk memundurkan mobilnya.

"Tidak ada apa-apa. Nanti saja ceritanya." jawab Kumala masih datar.

Pramuda juga tak berani mendesak karena ia tahu keadaan Kumala sedang tegang sekali. Agaknya ada sesuatu yang telah terjadi pada dirinya, sehingga gadis yang mengaku sebagai bidadari Dewi Ular itu merasa harus cepat-cepat menjauhi bahaya yang ada di dalam rumah.

"Mak, kunci pintu dan kau tidur di rumah Pak RT dulu. Ceritakan kejadian ini pada beliau!"

"Baik, Tuan," jawab Mak Supi dengan gugup, lalu Pramuda melesat pergi bersama mobilnya. Padahal Mak Supi sebenarnya ingin ikut, karena ia sangat takut di rumah sendirian. Tapi begitu mendengar perintah untuk ke rumah Ketua RT, Mak Supi sedikit lega karena mendapat tempat aman di rumah Ketua RT nanti.

"Sudah sana, Mak... ke rumah Pak RT saja!"ujar Maryati. "Apa kataku tadi, lapor saja sama Pak RT, kan?"

"Tapi... tapi pintu garasi dan pintu ruang tamu belum kukunci tuh!" Mak Supi tampak bingung, karena ia merasa takut untuk mendekati teras.

"Tinggalkan saja dulu. Biar kuawasi dari sini!" ujar Kasmi. "Nanti kau minta bantuan petugas Hansip untuk mengunci pintu rumah. Sekarang pergilah ke Pak RT dulu."

Namun ketika Maryati ingin menimpali kata-kata Kasmi, tiba-tiba matanya terbelalak kaget, demikian pula Kasmi dan Mak Supi. Mereka memandang ke arah garasi yang masih dalam keadaan terbuka. Dari dalam garasi tampak ada orang yang melangkah setengah berlari keluar. Dan ternyata orang itu adalah Kumala Dewi yang wajahnya penuh keringat.

"Mak Supi... Kemana Tuan Pram dan mobilnya?" seru Kumala sambil melangkah mendekati Mak Supi yang masih di luar pagar. Maryati dan Kasmi lebih mendekat lagi, karena mereka ingin memperjelas penglihatannya, benarkah gadis itu adalah Kumala Dewi yang tadi tampak berada dalam mobil bersamaPramuda.

Ketiga pelayan itu akhirnya saling tertegun bengong memandangi Kumala yang terengah-engah Mak Supi sempat melirik ke bawah, ternyata kedua kaki Kumaia menapak di tanah.

Download

Selasa, 31 Juli 2018

Kolam Darah

“Waktumu sudah habis, Suharyadi. Dan aku paling benci berdebat. Maka, ambillah kerisku ini. Hukum dirimu sendiri karena telah menghujat arwah leluhurmu yang terhormat ini!”

Dengan memegang ujung keris di tangannya, sosok bangsawan di hadapan Suharyadi menyodorkan gagang keris berbentuk kepala ular itu ke arah Suharyadi. Yang seketika bergerak surut ke belakang. Ketakutan. Tetapi sesuatu menghalangi langkahnya. Yakni suara berdesis liar dari arah tungku. Lidah api yang menjilat-jilat hebat seakan berusaha meraih kaki Suharyadi. Mengelak terkejut, Suharyadi kemudian berlari panik menjauhi tungku dan menjauhi sang Juragan Besar.

Sambil menjerit panik, “Tidak. Jangan dekati aku! Jangan ganggu aku! Toloong...!”

Bersama jeritan minta tolongnya, Suharyadi terus berlari dan berlari. Disertai lolongan histerisnya, ”Tolong! Jangan bunuh aku. Tolonglah...! Sumpah mati. Aku tidak bermaksud mengutuk arwahmu! Tolong...! Tidak, aduh tidak! Tolong!”

Tenang dan dingin, sang Juragan Besar bergerak mengikuti.

Disertai senyumannya yang kian mengejek. Meninggalkan ruang tengah vila. Meninggalkan tungku pendiangan yang apinya kembali menyala normal. Dengan sebuah lukisan tua di atasnya. Lukisan sang Juragan Besar, yang kali ini seperti juga sudah seratus tahun waktu berlalu, tampak menatap lembut. Dengan senyuman tipisnya, yang juga lembut namun terkesan misterius. 

Hanya saja, ada yang berbeda.

Yakni sepasang mata lembut itu. Yang tadinya kering sebagaimana halnya lukisan, kini tampak seperti membasah.

Seakan menangisi sesuatu.

Akan tetapi sepasang mata itu dengan sangat cepat dan tiba-tiba langsung mengering sendiri, tidak lagi membasah manakala terdengar suara langkah kaki berlari-lari mendatangi. Disusul munculnya pelayan setia keluarga Suharyadi, yakni Sarijah yang tampak cemas serta suaminya Ardi yang setengah mengantuk karena dipaksa bangun dari tidur yang pulas oleh sang istri.

”Aku yakin suara jeritan itu berasal dari ruangan ini.” Sarijah berkata gugup seraya menyapukan pandang ke seputar ruang duduk yang mereka masuki.

Ikut menyapukan pandang, sang suami bertanya setengah mengantuk, “Lalu, di mana orangnya, Bu?”

“Entahlah.” jawab Sarijah bingung sendiri sebelum kemudian melihat ke lantai atas lalu berbicara yakin. “Mungkin Juragan ada di kamarnya. Dan dia sedang terancam marabahaya.”

“Bahaya apa?”

“Daripada Bapak terus ribut bertanya, lebih baik kita ke atas. Untuk memeriksa.” jawab Sarijah yang langsung bergegas menuju lalu menaiki tangga dengan wajah yang semakin kuatir.

Ardi semula akan membiarkan dan sudah memutuskan untuk kembali tidur saja lagi, ketika secara tak sengaja matanya beradu pandang dengan sepasang mata lainnya. Yang menatap dingin dari atas tungku pendiangan. Mata sang Juragan Besar Anggadireja. Dangan sosoknya yang tampak angker di mata Ardi. Karena sosok pada lukisan tua itu sudah berulangkah ia lihat berkeliaran di dalam kegelapan rumah di mana ia dan istrinya sudah mengabdi selama puluhan tahun. Bahkan pernah di suatu malam, ketika Ardi membuka pintu kamar tidurnya, sosok dalam lukisan itu tahu-tahu sudah tegak di hadapannya. Mengawasi Ardi dangan sorot matanya yang tajam tampak menyala, merah semerah darah. Dan langsung membuat Ardi jatuh pingsan saking terkejut.

Ingatan menakutkan itu seketika membunuh perasaan kantuk Ardi, yang dengan cepat berlari menuju tangga untuk menyusul istrinya. Naik ke lantai atas. Sebuah kelalaian atau kesalahan kecil yang tak seharusnya dilakukan oleh Ardi. Mestinya ia tidak menunggu, tidak pula latah naik ke lantai atas. Ardi mestinya mencari ke luar rumah. Setidak-tidaknya langsung pergi ke halaman.

Pada saat yang sama, di halaman majikan mereka terpeleset lalu jatuh tersungkur di tanah becek bekas hujan siang harinya. Dan begitu Suharyadi merayap bangkit dengan tangan menggapai-gapai untuk mencari kacamata minusnya yang ikut terlempar jatuh, terdengarlah suara berderak lunak di telinganya. Suara kaca pecah terinjak. Dan kaki yang menginjak kacamata minus Suharyadi itu adalah kaki yang setengah tertutup oleh jubah panjang, jubah bangsawan tempo dulu!
Terkesima.

Suharyadi mengangkat muka. Di bawah sinar rembulan, tampaklah sang juragan Besar sudah berdiri tegak mengawasi dirinya, disertai senyuman mengejek. Dan bisikannya yang tajam menusuk, “Darahmu, Suharyadi. Jangan biarkan aku menunggu...”

Lalu tangan sang bangsawan bergerak sangat cepat. Dan sebilah keris berlekuk dengan gagang kepala ular miliknya tahu-tahu sudah tertancap pada tanah di hadapan Suharyadi. Diikuti perintah yang tak ingin dibantah, ”Lakukanlah sekarang juga.”

”Apa...?” tanya Suharyadi, menggagap. ”Apa yang harus kulakukan, Abah?”

”Kau pasti tahu apa maksudku.”

Menatap tengadah ke wajah sang sosok di hadapannya, Suharyadi kemudian merasakan hawa sejuk dingin bagai merembes masuk ke sekujur pembuluh darahnya. Mengalir sampai ke urat-urat saraf dan terus merambat ke dalam sel-sel otaknya. Otak yang menuntut suatu kepatuhan. Untuk menebus dosa-dosanya. Dosa telah menyetubuhi Ningrum di depan tungku pendiangan. Di hadapan mata sang kakek.

Bagai terhipnotis, tangan Suharyadi terulur bergemetar ke depan untuk meraih lalu mencabut keris yang tertancap di tanah. Masih terhipnotis, Suharyadi kemudian berlutut pasrah. Siap menebus dosa.

Download

Sabtu, 09 Juni 2018

Dewi Ular - Dendam Dukun Jalang

SELASA Kliwon merupakan hari yang memiliki nuansa keramat seperti Jumat Kliwon. Dalam perhitungan kuno leluhur kita, malam Selasa Kliwon disebut juga malam Anggoro Kasih. Konon, jika ada orang yang mati di malam Selasa Kliwon, maka jenazah yang baru dikuburkan itu harus ditunggui oleh sanak keluarga, selama 40 hari 40 malam.

"Mengapa harus dijaga, Kek?"

"Karena kain kafan atau tali pembungkus jenazah yang mati pada malam Anggoro Kasih itu dapat dijadi kan jimat untuk mencari kekayaan secara gaib. Malahan, lidah mayat atau bagian lainnya juga bisa dijadikan jimat untuk keperluan yang sama. Maka, banyak orang nekat yang bosan hidup melarat akan mengincar jenazah yang dikuburkan malam Selasa Kliwon. Mereka akan mencurinya dengan cara menggali kuburan itu dan merusak kesakralan kondisi jenazah tersebut."

"Masa sih, Kek?" gumamnya pelan antara percaya dan tidak. Namun bulu kuduk Ohans tetap saja bergidik merinding. Kakeknya mengangguk pendek, penuh keseriusan.

"Apakah zaman sekarang tahayul seperti itu masih di-percaya oleh masyarakat yang sudah serba modem ini, Kek?"

"Sekelompok masyarakat masih mempercayainya. Terutama bagi yang tinggal di pedesaan atau perkampung an pinggiran kota. Tapi bagi masyarakat kota sendiri, kepercayaan seperti itu nyaris tidak tercatat lagi dalam hidup mereka yang serba sibuk ini. N'amun, biar bagai-manapun jenazah putrinya pak dokter itu nanti malam tetap akan dijaga oleh orang upahannya. Entah untuk berapa lama dan berapa orang jumlah penjaganya, yang jelas pak dokter kita itu tidak ingin mayat putrinya dirusak oleh pencuri pemburu jimat yang berani nekat itu." 

"Hestina?" gumam Ohans saat tertegun membayangkan wajah gadis anak seorang dokter yang meninggal kemarin sore.

"Soalnya, sebulan yang lalu katanya di daerah Kampung Duku ada makam yang digali orang, dan kain kafan mayat dicuri oleh orang tersebut. Makanya pak dokter pun jaga-jaga supaya makam anaknya tidak dibegitukan oleh siapa pun," tutur sang kakek sambil me-rapikan tanaman hiasnya. Ohans masih diam merenu-ngi kata-kata itu.

Kepercayaan terhadap mistik semacam itu ternyata memang masih ada. Tak peduli tua maupun muda, mi-nat untuk mencoba kekuatan mistik tersebut bisa tum-buh dalam benak mereka ketika hidup mereka digencet habis-habisan oleh kemiskinan. Dengan dalih ingin mendapatkan kekayaan secara mudah, seseorang memang berani nekat melakukan tindakan yang mengan-dung bahaya besar.

Tentu saja yang berani merencanakan mencuri sesuatu dari dalam kubur adalah orang-orang yang memiliki ke beranian cukup besar, seperti halnya Parwan, bekas teman sekerja Ohans yang sama-sama di-PHK setahun yang lalu. Pemuda berkulit hitam manis dengan ketam-panan sedang dan perawakannya tak terlalu besar itu sudah berkali-kali mendengar cerita mistik tentang kain kafan mayat yang bisa dijadikan jimat. Bahkan lebih dari itu yang pemah didengar Darwan dari mulut or ang-orang tua di sekitar pergaulannya.

"Cerita mistik itu cuma dongeng kuno tanpa bukti apa- apa. Kamu jangan terpengaruh oleh dongeng-dongeng masa lalu, Wan," bujuk Ohans menyadarkan rencana Darwan.

"Bukti itu sudah ada, Hans. Sudah kulihat sendiri!"

"Di mana? Siapa...?! Bagaimana bukti itu, ceritakan!" 

"Bang Andry."

"Siapa itu Bang Andry?"

"Tetangganya pamanku. Bang Andry semula hidup da lam kemiskinan, kayak aku begini. N'ganggur bertahun tahun, dihina oleh istrinya sampai sang istri akhirnya kabur bersama pria lain yang ekonominya cukup kuat. Akhirnya pula, Bang Andry mencuri benda dari mayat yang matinya malam Selasa Kliwon. Benda itu dijadikan jimat, dan sekarang Bang Andry hidup serba kecukupan, ia tidak bekerja, tapi ia selalu punya uang banyak. Rumahnya ada dua, mobilnya tiga, wah.... kaya deh!" 

"Benda apa yang dicurinya dari kuburan itu?"

"Lidah mayat."

"Apa...?! Lidahnya mayat?!" Ohans menyeringai merin ding.

"Jimat lidah mayat itu sangat ampuh, menurut pengakuan Bang Andry kepada kakak sepupuku."

" Ap... apa keistimewaan dari jimat lidah mayat itu?"

"Setiap orang yang dimintai uang oleh Bang Andry pasti akan memberikannya sekalipun harus menguras isi dompetnya. Bahkan orang itu bisa stress dan menjadi gila kalau tidak bisa memenuhi permintaan Bang Andry. Bila perlu, ia akan membongkar semua uang tabungannya, meski sebenarnya ia belum pernah kenal de-ngan Bang Andry." 

"Hebat."

Download

Tarian Iblis

Tarida membuka kelopak matanya perlahan-lahan karena tidak melihat apa-apa kecuali kegelapan yang menghitam pekat. Kelopak mata ia kerjap-kerjapkan. Lalu gerakan kelopak matanya ia hentikan. Ia memandang nyalang di sekitarnya. Sama saja gelap gulita. Tangannya lantas meraba-raba, lantas mengetahui bahwa ia rebah di tempat tidur besar dan empuk, hangat, pasti ia tidak sedang berbaring di kamar kostnya karena tempat tidurnya di sana adalah sebuah ranjang kecil dan sederhana. Juga bukan di kamar tidur yang ia tempati di rumah Maria karena tangannya sempat meraba kepala tempat tidur yang terbuat dari besi ukir, bukan kayu jati.

Tarida mengeliat bangun.

Sekujur tubuhnya terasa lemas, dan kepalanya sedikit pening. Ia terpakasa harus merebahkan diri kembali sambil berpikir-pikir dimana kiranya ia berada, mengapa suasana di sekitarnya selain gelap gulita juga hening. Teramat hening sebab yang terdengar oleh telinga Tarida hanyalah desahan nafasnya sendiri. Setelah mencubit pahanya keras-keras dan yakin ia tidak sedang bermimpi. Tarida berkonsentrasi untuk menyingkirkan pikiran yang kacau balau dan perasaan cemas yang diam-diam mulai mengerogoti.

Ia peras daya ingatannya, kemudian dirangkai dari awal.

Terbayang di pelupuk matanya sosok seorang laki-laki berpenampilan rapi dan sopan yang datang bertamu dengan cerita mengejutkan tentang Maria. Tarida dan Asep terbujuk untuk meninggalkan rumah Maria bersama laki-laki yang mengaku dokter itu. Dan dengan cara yang lihai telah mengelabui Asep agar keluar dari mobil sehingga hanya tinggal Tarida soorang yang ada di dalam mobil bersama tamu tidak dikenal itu.

Teringat pula Tarida bagaimana ia dibuat terkejut oleh apa yang kemudian terjadi selagi Asep berlari-lari masuk kembali ke rumah untuk mengambil pakaian Maria. Telinga Tarida menangkap bunyi dengigan halus, lalu sesuatu tampak muncul dari sandaran tempat duduk depan mobil. Lembaran kaca yang naik dengan cepat ke lelangit mobil dan seketika memisahkan kabin depan dengan kabin belakang. Bersamaan dengan itu tercium bau tajam yang menyengat hidung di kabin belakang. Mobil pun dijalankan perlahan-lahan keluar dari pintu gerbang, membelok memasuki jalan raya.

Saat itulah Tarida baru menaruh curiga.

"Hei, apa...!"

Kecurigaan yang sanyangnya sudah terlambat. Ia tiba-tiba merasa pusing, perut mual, dan pandangan matanya mulai nanar. Sadar bahwa dirinya diculik, Tarida bergerak ke depan pintu mobil untuk membukanya dan melompat ke luar selagi mobil itu masih dalam kecepatan lambat. Tetapi pintu mobil di sebelah kirinya terkunci tak dapat ia buka. Begitu pula pintu sebelah kanan yang ketika ditinggalkan oleh Asep, ia yakin tidak dalam keadaan terkunci. Tarida pun panik setelah menyadari mobil kecil dan sederhana itu ternyata dilengkapi peralatan canggih yang serba elektris.

Usaha terakhir yang dapat dilakukan Tarida adalah memukuli kaca jendela di sampingnya sambil berteriak-teriak minta tolong. Malang, tangan bahkan sekujur tubuhnya sudah keburu lemas. Suara yang keluar dari mulut Tarida pun tidak lebih dari sebuah erangan lemah. Ia lantas tak sadarkan diri. Satu hal yang terpikirkan olehnya sebelum jatuh pingsan adalah bahwa ia telah dibius.

Agaknya Tarida pingsan dalam posisi duduk menyandar di jok belakang dengan kepala miring ke salah satu jendela belakang mobil. Karena sewaktu pengaruh obat bius itu mulai menghilang dan Tarida pelan-pelan membuka kelopak mata, samar-samar terlihat olehnya sebuah rumah besar dan megah. Mobil kecil itu membelok ke halaman yang luas di depan rumah mentereng tersebut, dan langsung menuju sebuah garasi pintunya menganga terbuka. Di garasi besar itu, terlihat adanya sebuah mobil mewah. Dengan kelopak mata sengaja ia buat setengah terpicing. Tarida mengawasi sosok tubuh seorang laki-laki perlente yang berdiri menunggu di samping mobil mewah itu. Tarida segera mengenali kepala botak yang khas dari laki-laki itu. Sumadi, si pengacara!

Tarida nyaris melonjak kegirangan, jika tidak keburu ingat bahwa ia telah diculik. Sumadi terlihat, dan bukan mustahil justru si pengacara itulah dalangnya. Ketika mobil kecil yang membawanya berhenti di samping mobil mewah di dalam garasi. Tarida berusaha menguasai perasaan pening untuk memikirkan jalan meloloskan diri. Dengan berpura-pura tetap pingsan, diam-diam ia mendengarkan saat mesin mobil yang membawanya dimatikan. Pintu bagian depan dibuka, dan penculiknya tentulah sedang melangkah ke luar tanpa adanya suara yang menandakan pintu itu telah ditutup kembali. Berarti, sistim elektris di mobil itu tidak lagi dioperasikan.

Tarida mendengar pembicaraan pelan dan samar-samar. Ia tidak tahu apa yang dibicarakan, dan ia pun tidak perduli. Inilah saatnya untuk kabur mumpung ada kesempatan. Diam-diam Tarida menaikkan tombol kunci pintu mobil di sampingnya, lalu membuka pintu itu dengan hati-hati. Sambil berdo’a semoga ia cukup kuat untuk berlari melintasi halaman yang luas tadi, paling sedikit ia akan berteriak-teriak minta tolong dan berharap ada yang melihat dan mendengar suaranya.

Tarida yang malang.

Ia kurang memperhitungkan pengaruh obat bius di tubuhnya sehingga ketika ia meloncat ke luar dari pintu mobil, ia sedemikian pening dan lemah. Tak pelak lagi ia malah jatuh terhuyung. Seseorang tahu-tahu sudah menangkap tubuhnya dan lamat-lamat ia mendengar suara Sumadi menggeramkan perintah, “Pindahkan ia ke mobilku. Cepat!"

Tarida berusaha meronta.

Rontaan lemah.

Ia pun coba menjerit tetapi mulutnya di sekap. Dan ketika ia sudah dipindahkan ke mobil satunya lagi, sesuatu yang lain agaknya telah pula disekapkan ke mulut dan hidungnya. Saputangan dengan bau sengit yang sama. Obat pembius. Tarida pun jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Dan di sinilah dia sekarang.

Di sebuah tempat yang asing baginya. Sebuah ruangan yang gelap gulita, sendirian, dengan kesunyian yang terasa begitu menekan.

Tarian Iblis

Senin, 16 Oktober 2017

Penghuni Hutan Parigi

Novel ini menurut Mimin : Bagus! Karena jujur aja, Mimin mah penyuka novel-novel horor gini. Bacanya agak merinding disco gimana gitu hehe....

Oh ya, karna cover aslinya gak ada yang bagus (internet udah diubek-ubek), jadi mimin pake cover bikinan mimin sendiri. jadi, ya gitu deh...

Sinopsis 

 Suara mendengus bercampur bunyi menggeram itu datang dari sebelah kiri jalan. Keping-keing rembulan yang bertemperasan dari sela-sela pepohonan menerangi secara samar-samar sesosok tubuh setinggi pinggangku. berkaki pendek dengan tangan-tangan yang panjang tergantung di kedua sisi tubuhnya. Aku yakin warna bulunya kelabu sedikit kehitaman, tetapi warna mata itu hijau kemerahan! Kera apa ini? Dan mengapa pemilik warung tadi menyuruhku berhati-hati terhadap binatang jenis yang sebenarnya tak patut saling bermusuhan dengan manusia ini?

Werrrr! Weeerrrrrr......

Aku menoleh ke kanan dengan cepat. Makhluk yang sama muncul dengan langkah-langkah berat dari arah yang berlawanan dengan binatang yang pertama tadi. Yang ini dua ekor dan tingginya hampir mencapai bahuku. Ketiga makhluk itu bergerak dari kiri kanan yang satu berpindah ke depan. Jalanku ditutup. Benar. Ditutup untuk maju.

Werrrr!.....

Keterkejutanku segera lenyap, diganti oleh naluri ingin membela diri.

Pelan-pelan sebelah tanganku menyentuh tali-tali ransel, bermaksud melepas ikatannya. Ransel berisi pakaian dan sedikit oleh-oleh itu cukup berat dan kalau diayunkan bisa berubah jadi gada bertenaga kuda. Tetapi aku segera sadar, gerakan itu terhalang oleh kotak korek api yang tergenggam di tangan yang sama. Korek api! Dan tangan kiriku yang menggenggam bambu berlampu damar. Alangkah bodohnya!

“Yeeeeeaaaaaa!” aku menghentak

Ketika makhluk itu tertegur.

“Yea! Mundur! Mundur! Mundur!” aku bergerak

Tiga pasang mata berwama hijau kemerahan, seperti saling pandang. Serentak. Serentak pula ketiganya maju seperti aku, disertai bunyi dengus bercampur geraman-geraman aneh itu. Bentakan saja ternyata tidak akan berguna. Secepat aku bisa, beberapa batang korek api sekaligus kuhidupkan, lantas kudekatkan ke arah damar. Makhluk yang paling kecil, menerjang ke depan. Aku mengelak dan korek api mati. Cepat kuhidupkan lagi sementara dua makhluk yang lain kini hanya berjarak tak sampai dua meter dari tubuhku. Si kecil tadi menggeram ganas dan siap untuk menerjang kembali mengulangi kegagalannya tadi. Tetapi Lampu damar telah menyala. Terang-benderang, dengan suara api bersiur-siur garang waktu kugoyangkan ke kiri dan ke kanan berulang-ulang.

Benar. Makhluk-makhluk itu adalah kera-kera berbulu kelabu kehitam-hitaman, bermata hijau kemerah-merahan yang segera mengeluarkan suara “ngggik, ngiiiiiik, ngiiiiiiiiikk “ berusaha menghindari sinar lampu dengan menutupkan lengan-lengan berbulu mereka ke depan muka.

“Mundur!” aku berteriak lagi, seraya menerjang ke depan. Lampu damar tertuju pada kera yang tengah dan yang terbesar. Ia menggeram setengah menjerit dengan suara aneh, kemudian berlari tunggang langgang menerobos rimbunan semak-semak. Dua ekor kera lainnya mengikuti gerakan kera yang pertama. Semak belukar bertemperasan menimbulkan suara berisik, kian lama kian menjauh, kemudian sepi mencengkam. Tinggal desah nafasku yang tersengal-sengal dan denyut jantungku yang berdentum-dentum.

Ketika itulah terdengar suara yang sayup-sayup sampai.

Lalu kelap-kelip cahaya yang timbul tenggelam.

Lampu damar kuacungkan. Tinggi di udara.

Dan aku bernafas lega. Ternyata aku berada tak jauh dari mulut desa. Jalan di depanku berakhir di sebuah lapangan yang dikelilingi rumah-rumah penduduk Cibeureum.

DENGAN obor di tangan tiga orang laki-laki berlari-lari mendatangi. Lampu damar kuacungkan tinggi-tinggi di udara dengan mata liar memandang ke kiri dan ke kanan. Namun sampai ketiga orang itu sudah merubungiku, makhluk-makhluk tadi tidak kelihatan lagi batang hidungnya. Semak belukar di pinggir jalan tampak tenang dan diam. Pepohonan yang besar-besar dan tinggi, berdiri kukuh tanpa kesan apapun. Seolah-olah tidak ingin dijadikan saksi atas kejadian yang membuat jantungku masih berdegup kencang itu

“Ada apa?” salah seorang yang mengenakan ikat kepala, bertaya seraya memandangi sekujur tubuhku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki lalu berhenti lama sekali di wajahku.

Aku menghela nafas. Lega. telah menemukan manusia lagi di sekitarku setelah perjalanan yan rasanya teramat panjang dan teramat menegangkan itu. Tiga ekor kera, dua di antaranya memang besar-besar, kukira bukan cerita yang bisa menarik simpati untuk disampaikan pada orang-orang itu. Oleh karenanya, seraya membetulkan letak tali ransel yang agak longgar tersabet kera yang kecil tadi, aku menyahut dengan suara ditenang-tenangkan.

“Ah... Engga apa-apa. Ini desa Cibeureum?”

“Ya Ada apa tadi? Saudara berteriak-teriak mengejutkan kami yang lagi piket jaga di pos”

“Oh... jadi kalian ronda malam. Maafkan atas kelancanganku. Tadi aku cuma kaget saja”

“Kaget?’

“Heem” dan aku cepat mencari sebab. “Aku terperosok. Lalu jatuh”

“Dan damar ini?” yang berikat kepala menuding bambu yang kupegang, berkibar-kibar kian kemari. Saudara menghindari sesuatu?”

Aku tertawa. Menjawab: “Tepatnya mencari sesuatu. Ransel ini lepas talinya. Dan, ah. Saya lelah sekali. Boleh aku meneruskan perjalanan?”

Orang itu menghindar dari depanku.

Aku menganggukkan kepala kemudian berjalan melampaui mereka. Yang seorang sempat kudengar berbisik:

“Dung, mungkin dia yang disebut-sebut Ningrum”

Aku cepat membalik. Menatap wajah pembicara itu. Seorang laki-laki muda, berusia sekitar dua puluh tahun, wajah kelimis, rambut tersisir rapih dan kain sarung dibelitkan pada pinggang. Ia agak terkesiap waktu kupandang dan kemudian menjadi biasa kembali setelah kulemparkan seulas senyum kepadanya.

“Aku memang mau ke rumahnya. Yang mana kira-kira ya?” kugerakkan dagu ke arah kampung.

“Mari kami antarkan” sambut lelaki berikat kepala.

Kami kemudian berjalan beriring-iringan masuk kampung. Yang tadi kukira rumah tempat ketiga laki-laki ini keluar, ternyata sebuah pos hansip berlantai tanah. Dari dalam asap putih bertemperasan keluar dari lubang hidungku mencium bau ubi bakar. Ketegangan di tubuh tiba-tiba berganti dengan perasaan lapar yang melilit perut. Ah, sabarlah. Ningrum toh telah menanti dengan santapan malam yang lezat di rumahnya. Kalau perlu akan kuminta ia menyediakan tempat perapian dimana aku jugs bisa memanggang ubi sambil berpelukan dikedinginan malam. Hehhh... terasa kudukku bergetar.

Setelah melewati beberapa buah rumah yang gelap, sepi dan diam dikeheningan malam dengan lampu damar yang berkelap-kelip tertiup angin pada mulut pagar, kami kemudian berhenti di depan sebuah rumah yang termasuk agak besar dibandingkan dengan yang telah kami lalui. Halamannya luas, penuh ditanami ketela, beberapa pohon buah-buahan, sebuah kebun bunga tampak berseri dalam taman rembulan empat belas hari di samping rumah, Ia! teras berlantai tegel warna kuning dan bentuk jendela kaca yang sedang populer di kota. Jadi, aku tak akan menyesal telah jatuh cinta pada seorang gadis yang berasal dari sebuah kampung terpencil dan untuk sampai ke rumahnya, harus melalui perjuangan yang tak kepalang. Diserang ketiga ekor kera itu misalnya. Tiba-tiba kudukku bergidik. Teringat warna mata yang hijau kemerah-merahan dalam jilatan rembulan!

“Nah, Oom” suara salah seorang pengiringku dengan nada yang agak janggal. “Kami tak diperlukan Lagi, bukan?”

Aku mengucapkan terimakasih, memperhatikan ketiganya berjalan keluar pagar. Disana, mereka berhenti, memutar tubuh memperhatikan. Aku mengangguk lagi dan mereka kemudian pergi. Tiga orang laki-laki dalam kesamaran malam di bawah jilatan rembulan, tampak kelabu kehitaman. Dan aku teringat lagi pada ketiga ekor kera yang menyerangku di mulut kampung. Selain babi hutan, kera merupakan binatang yang peru dijauhi menurut keterangan pemilik warung di pinggir jalan besar tadi. Aku telah mengalami kebenaran ucapannya, mensyukuri manfaat lampu damar yang tadinya kuremehkan, kemudian mengetuk pintu setelah lebih dulu meletakkan bambu berlampu damar di pojok teras.

Sepi di dalam.

https://www.mediafire.com/file/nu71a1s3ep2j2re/Penghuni%20Hutan%20Parigi.rar

Sabtu, 05 Agustus 2017

Misteri Gadis Tengah Malam

Buku ini menurut Mimin : Serem! Apalagi kalo bacanya sendirian tengah malem di pemakaman umum atau di kebun bambu He-he... Bintang 7 deh dari 10, cuma harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak sebab dibeberapa bagian mengandung unsur yang tidak kita inginkan bersama-sama Hehe...

Sekelumit ceritanya : "Normaaan...! Norrr...! Lupakah kauuu...? Lupakah kau padaku, Norman...!"

Norman segera melompat dari pembaringannya dan membuka jendela. Jantungnya berdetak-detak ketika wajahnya diterpa angin yang berhembus membawa udara dingin. Sekujur tubuhnya merinding. Matanya melebar, karena ia tidak menemukan siapa-siapa di luar jendela kamarnya. Padahal suara tadi jelas terde- ngar di depan jendela, seakan mulut perempuan itu ditempelkan pada celah jendela supaya suaranya didengar Norman. Tetapi, nyatanya keadaan di luar kamar sepi-sepi saja.

"Brengsek!" geram Norman. Ia menunggu beberapa saat, sengaja membuka jendelanya, sengaja membiarkan angin dingin menerpa masuk ke kamar. Suara perempuan yang penuh desah menggairahkan itu tidak terdengar lagi.

Norman mengeluh kesal sambil duduk di kursi belajar- nya. Ia menyalakan lampu belajar yang ada di meja kamar. Kamar menjadi terang. Cermin di depan meja belajar menampakkan wajahnya yang sayu.

Pintu kamarnya tiba-tiba ada yang mengetuknya deng an lembut. Pelan sekali, seakan pengetuknya sengaja hati-hati supaya suara ketukan tidak didengar penghuni pondokan yang lainnya. Norman melirik ke arah pintu. Membiarkan ketukan itu terulang beberapa kali. Lalu, ia mendengar suara perempuan di seberang pintunya.

"Nor... Normaaan...!"

"Siapa...?!" tanya Norman dengan nada kesal, karena ia tahu bahwa suara perempuan yang mengetuk pintu kamarnya itu sama persis dengan suara yang meng- ganggunya sejak tadi. Tapi, karena tidak ada jawaban dari pengetuk pintu, Norman berseru lagi, "Siapa sih?! Jawab dong!"

"Aku...!"

"Aku siapa?! Sebutkan!" Norman sudah berdiri walau belum mendekat ke pintu.

"Kismi..."

Mata Norman jadi membelalak. Kaget.

"Kismi...?!" desahnya dengan nada heran sekali. Ia mengenal pemilik nama itu, tapi ia sama sekali tidak menyangka kalau Kismi akan datang, apalagi lewat tengah malam begini. Norman pun akhirnya bergegas membukakan pintu setelah ia sadar, bahwa suara yang sejak tadi memanggilnya itu memang suara Kismi.

"Sebentar, Kis...!" kata Norman, yang kemudian segera membukakan pintu.

"Hah...!" Ia terperanjat dengan jantung berdetak-detak.

Di luar kamarnya, tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hanya hembusan angin yang dirasakannya begitu dingin dan membuat tubuhnya merinding lagi. Dalam keadaan bingung dan berdebar-debar itu, Norman masih me- nyempatkan diri berpaling ke kanan-kiri, mencari Kis- mi yang menurutnya bersembunyi. Tapi, tak terlihat bayangan atau sosok seseorang yang bersembunyi. Di kamar mandi? Tak mungkin. Kamar mandi terlalu jauh dari kamar Norman jika akan digunakan seseorang untuk berlari dan bersembunyi. Sebelum orang itu sem pat bersembunyi, pasti Norman sudah melihatnya lebih dahulu.

"Kismi...?!"

Norman mencoba memanggil perempuan yang dikenal nya kemarin malam itu, tetapi tidak ada jawaban. Makin merinding tubuh Norman. dan semakin resah hatinya di sela debaran-debaran mencekam.

Karena ditunggu beberapa menit Kismi tidak muncul lagi, bayangannya pun tak terlihat, maka Norman pun segera menutup pintu kamarnya dengan hati bertanya-tanya: "Ke mana dia?"
Mendadak gerakan penutup pintu itu terhenti. Mata Norman sempat menemukan sesuatu yang mencuriga- kan di lantai depan pintu. Aneh, namun membuatnya penasaran.

"Kapas?"

Hati semakin resah, kecurigaan kian mengacaukan be- naknya. Segumpal kapas jatuh di lantai depan pintu. Se dikit bergerak-gerak karena hembusan angin. Ada rasa ingin tahu yang menggoda hati Norman. Maka. dipung utnya kapas itu.

Ketika tubuh Norman membungkuk untuk mengambil kapas, tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang. Kapas itu bergerak, terbang. Masuk ke kamar. Gerakan kapas sempat membuat Norman yang tegang terperanjat sekejap.

Pintu ditutup dan kapas itu dipungutnya. Ia segera melangkah ke meja belajarnya, mencari tempat yang terang. Ia memperhatikan kapas itu di bawah penerangan lampu belajarnya.

"Apakah kapas ini milik Kismi?" pikirnya sambil meng amat-amati segumpal kapas yang kurang dari satu genggaman.

Ada aroma bau harum yang keluar dari kapas itu. Bau harum itu mengingatkan Norman pada jenis parfum yang baru sekali itu ia temukan. Parfum yang dikena- kan pada tubuh Kismi.

"Aneh?! Mengapa Kismi tidak muncul lagi?" pikirnya setelah setengah jam lewat tak terdengar suara Kismi maupun ketukan pintu. "Mengapa ia hanya meninggalkan kapas ini?

Lalu kapas untuk apa ini? Apakah Kismi sakit? Apakah ia hanya bermaksud mengingatkan kenangan sema- lam?"

Norman tertawa sendiri. Pelan. Ia kembali berbaring dengan jantung yang berdebar takut menjadi berdebar indah. Kapas itu diletakkan di samping bantalnya, sehingga bau harum yang lembut masih tercium oleh- nya. Pikiran Norman pun mulai menerawang pada satu kenangan manis yang ia peroleh kemarin malam. Kisah itu, sempat pula ia ceritakan kepada Hamsad, teman baiknya satu kampus dan Hamsad sempat tergiur oleh cerita tentang Kismi.

http://www.mediafire.com/file/80gokpv1zts01yf/Misteri_Gadis_Tengah_Malam.rar


Kamis, 20 Juli 2017

Twilight

Judul : Twilight
Pengarang : Stephanie Meyer
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : October 5, 2005
Jumlah halaman : 864
halaman Jenis buku : Novel Remaja
Tentang tiga hal yang aku yakini kebenarannya, pertama Edward adalah vampire. kedua, ada bagian dari dirinya –yang aku tidak tahu seberapa dominan bagian itu– haus akan darahku dan yang ketiga aku jatuh cinta padanya teramat dalam dan tanpa syarat”

Bella Swan, gadis cantik yang memiliki masalah dalam kepercayaan diri dan koordinasi tubuhnya sendiri, baru saja pindah dari Phoenix, Arizona yang mayoritas bercuaca panas ke Forks, Washington yang mayoritas cuacanya hujan untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie, setelah ibunya, Renée, menikah dan tinggal bersama suami barunya, Phil, seorang pemain bisbol. Setelah pindah ke Forks,Bella bertemu dengan anak angkat keluaga Cullen. Emmet, Rossalie, Jasper, Alice dan Edward. walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, namun mereka sangat mirip. empat saudara dengan ketampanan dan kecantikan yang luar biasa, berkulit pucat,memiliki keanggunan yang tidak tertandingi, dan kemisteriusan.

Dalam kelas biologi, Bella tidak memiliki pilihan kecuali harus duduk dengan Edward Cullen. respon Edward yang amat sangat tidak ramah, membuat Bella merasa kalau Edward membencinya. selain itu di hari pertama, Edward selalu menjaga jarak dengannya, menahan napas dan selalu memandangi Bella dengan tatapan aneh. seperti sesuatu yang tidak enak tercium dari diri Bella. Setelah itu Edward menghilang selama seminggu dan membuat Bella makin merasa kalau pria itu sangat membencinya tanpa alasan yang jelas.

Edward kembali muncul di kelas biologi. Bagai memiliki kepribadian ganda, dia begitu ramah dan sopan kepada Bella saat itu. gadis itu menyadari ada yang berubah pada diri Edward, yaitu warna matanya. pertama kali ia melihat Edward, pria tampan itu memiliki warna mata hitam kelam, dan sekarang warna matanya bagai emas cair dan berpendar.

Suatu pagi, saat salju turun, Bella hampir celaka karena salah satu van temannya –Tyler– hampir menggilas tubuh gadis itu, kalau Edward tidak segera menolongnya. sebelumnya ia melihat Edward berdiri tepat di samping mobilnya dan mengamatinya dari jarak yang cukup jauh. namun tiba-tiba saat insiden itu terjadi, Edward sudah menolongnya dalam gerakan yang amat cepat dan yang membuat Bella kaget, pada Van yang hampir menabraknya pun terdapat sebuah lekukan misterius, seakan van tersebut telah membentur benda yang sangat keras (bahu Edward). dan lengkukan aneh itu sangat pas pada bahu Edward. Bella amat bingung dan yakin bahwa ada sesuatu pada diri Edward yang menandakan bahwa mungkin dia bukan manusia biasa. seperti seorang pahlawan –superhero– yang mungkin menurut teorinya terkena radioaktif atau bahkan kryptonite. Bella yang selalu penasaran menanyakan hal itu pada Edward, namun Edward tidak mau menjelaskannya dan kembali bersikap kasar dan semakin menjaga jarak dengan Bella.

Setelah mendiamkan Bella selama beberepa hari,Edward kembali bersikap baik dan sopan. Ia meminta maaf dan mengatakan pada Bella bahwa sebaiknya mereka tidak usah berteman, karena dirinya bukan orang yang baik dan bella menyangkalnya. Bella yakin bahwa Edward berperilaku kasar padanya bukan karena ia jahat tapi karena ia menyembunyikan sesuatu –seperti Edward memakai topeng–. Bella mengajak Edward untuk ikut bersamanya dan teman-teman yang lain untuk pergi ke pantai reservasi suku Quilute, first beach, La Push, namun dengan sopan Edward menolaknya dengan alasan bahwa terlalu ramai.

Di First Beach, Bella bertemu Jacob Black. yang merupakan teman kecilnya yang 1 tahun beberapa bulan lebih muda, namun Bella sudah lupa. Lauren, salah satu teman bella yang tidak terlalu suka padanya mulai memprovokasikan tentang ‘mengapa Bella tidak mengajak Edward Cullen’. Hal tersebut memancing salah satu teman Jacob Black menyinggung tentang ‘Keluarga Cullen tidak datang kemari –reservasi suku Quileute–. Hal ini menarik kecurigaan Bella. Gadis cerdik itu berusaha mangajak Jacob jalan-jalan berdua dengannya lalu merayu Jacob agar mau menjelaskan maksud perkataan temannya tadi. karena Jacob menganggap cerita tentang sukunya adalah suatu khayalan yang konyol dan Bella pun berjanji tidak akan membocorkan ke siapa pun, maka ia pun menceritakannya yaitu tentang legenda sukunya. Suku Quileute adalah keturunan serigala dan mempunyai satu-satunya musuh yaitu vampir. Menurut kepercayaan mereka hal itu berhubungan erat dengan keluarga Cullen dimana keluarga Cullen adalah vampir-vampir yang membuat perjanjian dengan kakeknya Jacob –Efraim Black– untuk tidak pernah menginjakkan kakinya ke daerah sukunya.

Di rumah, Bella mencari -cari informasi tentang Vampir karena diapun belum percaya sepenuhnya, namun ia hanya menemukan kecocokan dengan apa yang diceritakan Jacob. hingga cerita seram itu menghantui mimpinya. Ia pun melihat Edward berkilauan, memiliki taring dan dengan sorot mata berbahaya sedang memanggilnya. namun Bella sama sekali tidak takut dan saat itulah Jacob muncul. secara tiba-tiba jacob berubah menjadi serigala kecoklatan yang sangat besar dan menerkam Edward. Saat terbangun dari mimpi buruk itu, Bella sadar, bahwa ia tidak bisa kehilangan Edward. dan apapun sebenarnya Edward itu tidaklah penting baginya. keesokan harinya, adalah pagi yang cerah bagi forks. matahari bersinar terang dan tanpa mendung, dan keluarga cullen menghilang. Saat itulah Bella menunggu di taman sekolah, tapi Angela pun memberitahukan padanya kalau setiap cuaca cerah, keluarga Cullen tidak akan muncul karena mereka –seluruh keluarga Cullen– pergi Hiking.

Bella sudah lama ingin membeli beberapa buku. Kebetulan Angela dan Jessica ingin pergi ke Port Angels, ia pun ikut serta. Pertama ia menemani Angela dan Jessica ke toko baju –Angela memintanya untuk memberi masukan terhadap apa yang akan mereka beli– , lalu setelah selesai memilih baju, sepatu dan pernak-pernik lainnya, Bella memisahkan diri dari mereka untuk pergi ke toko buku. Namun toko buku itu ternyata tidak seperti yang ia harapkan –terlalu misterius dan tidak mungkin menjual buku yang ia cari– maka ia pun beranjak dari toko itu untuk mencari-cari toko buku yang lain. Bukannya menemukan yang ia cari, malah ia tersesat dan bahaya pun mendatanginya. Ia diganggu oleh beberapa preman yang sedang mabuk. Mereka menjebaknya hingga sampai pada tempat dimana ia ttidak bisa melarikan diri lagi. Saat terjepit itulah Bella memikirkan strategi apa saja yang bisa menolong dia –seperti menendang tulang selangka atau meniju wajah para preman itu karena mau lari pun pasti ia jatuh sedangkan berteriak ia tak sanggup mengeluarkan suara karena tenggorokannya tercekat–. Saat itulah tiba-tiba Edward datang dengan Volvo silvernya, melaju kencang dan tiba-tiba berhenti di depan para preman itu. Pintu penumpangnmya dibuka dan Edward menyuruh Bella masuk. Demikianlah Edward menyelamatkan Bella lagi. Bella menatap wajah edward yang kelihatan sangat kalut berbahayadan mengancam, namun Edward meminta Bella untuk mengalihkan perhatiannya. Bella menyinggung tentang ia akan membunuh Tyler dengan menabrakkan mobilnya ke van Tyler karena ia selalu mengganggu Bella akibat rasa bersalahnya menabrak Bella tempo hari. Hal itu pun berhasil mengalihkan perhatian Edward. Mereka kembali ke toko Port Angels setelah Edward suasana hati Edward agak terkendali dan menemui kedua teman Bella. Berhubung Jessica dan Angela telah selesai makan direstoran, Edward pun meminta izin pada mereka untuk mengajak Bella makan malam karena ia khawatir akan Bella. Pada saat di restoran, para pelayan terkagum-kagum akan ketampanan Edward dan mulai merayunya. Edward pun tidak mengidahkan pelayan tersebut, matanya hanya terpaku pada Bella saja. Ia meminta tempat duduk yang bersifat privasi. Saat memesan makanan, Edward memesan dua Coke –yang kedua-duanya disodorkan kepada Bella juga–, Bella pun memesan Mashroom Raviolli dan memakannya sekalian meminta penjelasan yang masuk alak terhadap Edward tentang hal-hal mengejutkan yang selalu ia lakukan untuk menyelamatkan hidup Bella. Dengan desakan Bella, Edward menceritakan bagaimana caranya menemukan Bella yaitu dengan membaca pikiran dan mengikuti aromanya. Ia pun mengaku kalau ia tak bisa lagi menjauh dari Bella karena ia merasa tidak sanggup lagi untuk berpura-pura di depan Bella. Ia pun menjelaskan cara kerja bakat yang dimilikinya pada Bella dan meminta Bella memberitahu apa yang ada di benaknya –Edward tidak bisa membaca pikiran Bella–. Sebagai imbalannya ia meminta Bella menceritakan suatu teori baru tentangnya.

Dan Bella mengutarakan apa yang di ketahuinya dari Jacob tentang Legenda suku Quileute dan segala yang diberitahukan Jacob padanya. Edward menegang dan terpaksa mengakui kebenaran dari cerita itu. Edward adalah seorang Vampir, keluarganya adalah keluarga vampir.

“Aku adalah predator terbaik di seluruh dunia. Segala sesuatu tentang diriku menarik dirimu. suaraku, wajahku, bahkan aromaku. Seolah-olah aku perlu semua itu! Seperti kau bisa berlari lebih cepat daripada diriku saja!Seperti kau bisa melawanku saja” (edward cullen)


Jumat, 07 Juli 2017

A Perfect Illusion

Judul : A Perfect Illusion
Penulis : Kazumi Nitta
Halaman : 126 Hal.
Penerbit : Elex Media Komputindo

"Lama kita tak jumpa, Dewi Akitsu."

"Ya."

Ryoken melihat sekeliling. Tampaklah Yoshiaki yang sedang duduk santai di atas batu karang. Wajahnya seperti orang mabuk. Dialah yang tadi menjawab sapaan Susano'o. Rupanya tubuh Yoshiaki dimasuki Dewi Akitsu.

"Kau tidak membutuhkan tubuh manusia, kan," tegur Susano'o.

"Kalau begitu untuk apa kau memanggilku ke sini?" ujar Dewi Akitsu dengan nada tidak suka.

"Maukah kau mengembalikan lelaki itu?" suara Susano'o menggema.

"Mengembalikan? Maksudmu dikirim ke akhirat?" Dewi itu mengangkat bahu Yoshiaki.

"Sudikah kau mengembalikannya ke dunia manusia?"

"Bicaramu aneh, deh!" Suara yang lembut itu tertawa.

"Desa di Pulau Amajima ini wilayah kekua-saanku. Aku memintamu menyerah!" kata Susano'o.

Zerrt! Tubuh Yoshiaki terangkat. Wajahnya marah. "Kau mau menutup satu desa? Apa untungnya? Orang yang meminta sesuatu kepadaku akan patuh, bahkan mau meminjamkan kekuatannya."

Susano'o terdiam. Setelah beberapa saat, dia menggumam, "Maukah kau berjanji?"

Janji? Ryoken bertanya-tanya. Apakah hadirnya sebuah desa di-Pulau Amajima yang tidak ada dalam dunia nyata, berhubungan dengan perjanjian para dewa?

"Pertanyaanmu sudah terjawab," ujar Dewi Akitsu. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Sekarang silakan pergi! Kami akan melupakanmu yang sudah mengacaukan perayaan ini."

"Tidak! Aku tidak akan pulang, kalau lelaki itu tidak dikembalikan."

Tidak bisa karena sudah menjadi milik kami. Orang yang tubuhnya sudah kami gunakan, jiwanya jadi pengikut kami!"

"Kau tetap menolak, ya?"

"Tidak perlu bertanya lagi."

"Jadi kau tidak mau mendengar permin-taanku?"


Senin, 29 Agustus 2016

Rare Beast : Hewan Langka

Suatu hari menjelang berakhirnya musim panas, Ellen memperhatikan tamannya melalui jendela yang sangat kotor dan melihat bahwa tanamannya menjadi layu dalam udara yang panas dan lembab disiang hari. Sudah berminggu-minggu dia tidak menyirami tanaman-tanaman itu atau memberi pupuk pada anggrek taringnya, sehingga daun-daunnya terkulai seolah-olah hendak menyentuh tanah dan berusaha merayap untuk memperoleh makanan dan tempat berlindung. Ellen sama sekali tidak perlu keluar, sebagaimana yang sudah dia rencanakan, untuk memangkas pohon-pohon cemara. Jadi, ketika sebagian besar anak-anak muda di Nod's Limbs berenang di kolam renagn atau bermain-main di sungai, Edgar dan Ellen tinggal di dalam rumah mereka yang gelap untuk bermain petak-umpat.

Rumah mereka terdiri dari beberapa lantai termasuk sebuah ruang semi-bawah tanah, ruang bawah tanah, loteng dan loteng-di atas-loteng. Meskipun rumah itu sangat sempit sehingga masing- masing lantai hanya terdiri dari dua atau tiga ruangan, sebenarnya ada banyak sekali ruangan di rumah ini. Setiap ruang dipenuhi dengan lemari, sofa serta tirai, dan ruang-ruang kecil yang kotor yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian dalam permainan petak-umpat sepanjang musim panas.

Orang tua Edgar dan Ellen sudah lama pergi untuk melakukan perjalanan "keliling dunia" yang panjang. Paling tidak begitulah yang dikatakan dalam surat pendek yang mereka tinggalkan. Tanpa seorang pun yang membersihkan, rumah yang luas itu semakin dipenuhi sarang laba-laba dan gulungan debu, menjadikannya tempat yang sempurna bagi permainan mereka setelah ditambah dengan simpul- simpul yang unik buatan mereka berdua.

Dalam permainan petak-umpat biasa, permainan selesai begitu salah satu pemain menemukan temannya yang sedang bersembunyi. Nah, menurut cara Edgar dan Ellen, permainan tidak hanya berakhir setelah mereka menemukan teman yang bersembunyi. Permainan baru berakhir setelah teman yang sedang bersembunyi itu dapat ditaklukkan. Artinya, si pencari harus terlebih dahulu menemukan tempat persembunyian dan kemudian harus bergulat untuk menaklukkan teman yang bersembunyi itu. Usaha penaklukan ini bisa menjadi perjuangan yang suit karena kedua saudara kembar ini sudah saling mengetahui gerakan gulat masing-masing, dan biasanya permainan ini berakhir dengan mengikat tangan dan kaki si pencari atau teman yang bersembunyi dengan tali yang selalu mereka bawa.

Tentu saja, begitu salah satu dari si kembar ini terikat, maka berarti dia sudah kalah dan berada dalam kekuasaan pemenang. Biasanya pemenang hanya akan menunjukkan sedikit sekali belas kasihan sebelum dia mulai mencari tempat persembunyian yang baru dan membiarkan si kalah berjuang
sendiri untuk melepaskan ikatannya.

Ellen amat mahir dalam menggunakan gigi serta kukunya yang tajam untuk memotong ikatan, sementara Edgar telah mempraktekkan cara yang tenang yang digunakan oleh seniman terkenal dalam bidang meloloskan diri. Namun demikian, biasanya keduanya membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk melepaskan diri dari ikatan mereka. Dan satu jam adalah waktu yang cukup lama untuk menemukan tempat persembunyian lain yang baik.
Download



Nightmare Hour : Saat-Saat Seram

"Labu itu hidup!" teriakku bercanda. Tapi Liz dan Mike tidak tertawa.

"Seram juga di sini kalau malam," gumam Liz, bergidik.

Angin mengembus tudungku hingga terkulai di bahuku. Bunyi berderak membuatku terlonjak Padahal hanya bunyi orang-orangan yang miring di tiangnya.

"Sangat berkilauan dan ganjil," bisik Liz, tetap berada di dekatku.
"Seperti berjalan di bulan."

Mike mengeluarkan sesuatu dari tas plastik yang dibawanya.

"Apa itu?" tanyaku.

Ia mengacungkan sebuah kaleng. Cat semprot. Cat semprot hitam.

"Oh, tidak Kau mau ngapain dengan itu?" tanyaku.

Ia cengar-cengir. "Bersenang-senang."

"Mike, tunggu—"

Ia membungkuk di atas labu besar dan menyemprotkan gambar wajah tersenyum pada permukaannya. Lalu ia berlari di sepanjang deretan labu, menyemprotkan tanda silang hitam di atas masing-masing labu. Mike mengeluarkan lagi dua kaleng dari tasnya, lalu memberikan masing-masing satu pada Liz dan aku.

"Nggak usah," kataku, kaleng itu kukembalikan padanya.

"Ayolah, Andrew," desak Liz. "Ini Halloween. Jangan jadi penakut." Ia condong ke depan dan menyemprot- kan gambar hati hitam besar pada sebuah labu.

Mike menyemprotkan inisialnya, MG—pada setumpuk labu, sambil tertawa cekikikan. "Mr. Palmer takkan pernah bisa menjualnya!"

Liz cepat-cepat berjalan di sepanjang deretan labu, menyemprotkan gambar-gambar hati. Aku menyem- protkan I WUZ HERE pada beberapa labu yang benar- benar besar.

Aku berhenti saat mendengar Liz menjerit. Ia jatuh dan terbanting ke tanah dengan keras. Cat kaleng terpental dari tangannya. Aku lari menghampirinya.

"Aku terserimpet sulur," erangnya. "Aduh. Pergelangan kakiku"

Ketika aku menolongnya berdiri, ia menatap ke bela- kangku dan memekik "Dia ada di sini! Mr. Palmer!"

Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dengan ketakutan. Tidak. Tak ada Mr. Palmer.

Orang-orangan. Hanya orang-orangan yang tinggi. Topi oranye bertengger di atas kepala jeraminya.

"Rasanya aku sudah cukup bersenang-senang. Di sini terlalu seram," kata Liz, sambil mengusap-usap perge- langan kakinya. "Ayo pulang."

"Hei, Mike," panggilku. "Ayo keluar dari sini."

Mike? Di mana dia?

Aku berbalik... dan tersentak. Ia sedang memanjat pagar hijau itu.

"Tidak." jerit Liz.

"Mike... jangan! Mike!" seruku. Ia menjatuhkan diri ke sisi lain. Ke tempat koleksi labu pribadi Me Palmer. Kengerian merambat menuruni punggungku. Mike keterlaluan, pikirku. Mr. Palmer punya alasan untuk mengunci labu-Iabu itu. Dia menyebut labu-labu itu kesayangan.

Jantungku berdegup kencang, aku berlari ke pagar itu. Liz mengikuti dengan terpincang-pincang karena pergelangannya terkilir.
"Hei, Mike!" panggilku. "Keluar dari sana sekarang!"

Tak ada jawaban.

Lalu aku mendengar jeritan seram. "Tolong! Ohhh, tolong!"

Aku memaksa diri berlari lebih cepat. Aku mendengar jeritan lagi.

"Ohhh...."

Jeritan itu terputus tiba-tiba.

Aku sampai di pagar itu. Lebih tinggi beberapa kaki daripada aku. Aku meloncat dan meraih puncaknya. Ketika menghela tubuhku ke atas, aku merasa melihat sulur-sulur panjang keperakan bergerak, berdiri seperti ular, meloncat, menggeliat, dan berpilin-pilin mening- galkan tanah.

Tidak. Tak mungkin. Itu gila, kataku dalam hati.

Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, aku meng- angkat tubuhku ke atas, dan menyeberang ke sisi lain. Aku mendarat keras dengan kedua kakiku dan cepat-cepat memandang berkeliling.

"Mike?"

"Andrew, apa yang terjadi?" Dengan hati-hati Liz membungkuk di atas pagar.

"Mike?" panggilku lagi. Lalu aku melihatnya, berdiri di ujung deretan pertama. Aku mengenali jaket penerbang nya, jinsnya, sobek di bagian lutut, sneakers-nya. Tapi di atas bahunya... di atas bahunya... Sebuah labu bulat oranye bertengger di atas bahunya.

"Mike... bagaimana caramu memasang labu itu di kepalamu?" Aku berlari mendatanginya, berteriak- teriak dengan tersengal-sengal. "Lepaskan labu itu! Kita harus pergi! Ayo! Kenapa kau pakai benda itu?"

Aku tak menunggu dia menjawab. Kupegang labu itu dengan kedua tanganku, dan kutarik lepas dari bahunya.

Liz menjerit lebih dulu. Jerit ketakutan yang meleng- king. Aku membuka mulut untuk menjerit tapi tak ada suara yang keluar Aku masih memegang labu itu. Kutatap bahu Mike.
Tak ada kepala. Tak ada kepala di atas bahunya.

Dan lalu perutku tiba-tiba bergolak, kengerian demi kengerian mengakibatkan sekujur tubuhku gemetar, aku harus menyingkir.

Labu itu terlepas dari tanganku. Dan menggelinding. Menggelinding ke atas sulur panjang kurus. Aku memandangi sulur itu. Menelusurinya hingga ke ujungnya. Dan melihat kepala adikku. Kepala Mike tumbuh dari ujung sulur itu. Matanya  yang hitam  menatapku. Mulutnya membuka-menutup seolah men- coba bicara. Kepalanya bergetar, lalu tersentak keras seakan mencoba melepaskan diri. Tapi kepala itu menempel tumbuh dari sulur itu!

"Ohhhhh." Erangan ngeri keluar dari tenggorokanku. Aku tak bisa bicara atau bernapas atau bergerak Adikku... adikku yang malang...

Lalu aku melihat yang lain-lainnya. Kepala-kepala manusia, anak-anak laki-laki dan perempuan kepala- kepala yang menatapku dari tanah... mulut-mulut yang membuka menutup memohon pertolongan tanpa suara, berlusin-lusin kepala manusia, semuanya tumbuh dari sulur-sulur.

Download

Misteri Anak-Anak Iblis

Sekitar pukul dua dinihari, Dokter Anwar menutupkan pelan pintu kamar tidur dibelakangnya. Seketika ia didatangi serempak oleh tiga sosok tubuh. Sumirah, pelayan bertubuh montok, sehat. ".... dengan majikannya yang begitu lemah dan bertambah kurus akhir-akhir ini!" Dokter Anwar membathin, selagi ia mengawasi wajah Sumirah yang sedang menyembunyikan kegugupan. Sementara wajah Asep suami Sumirah, tampak jelas memperlihatkan kebingungan. Tetapi sikap supir pribadi yang merangkap pengurus rumah itu, masih tetap waspada.

Perhatian Anwar lebih tertarik pada wajah orang ketiga. Bukan hanya karena wajah itu memperlihatkan intelektualitas tinggi pemiliknya, melainkan terutama karena wajah dengan lekuk mata yang khas itu memancarkan kekuatiran.

Kearah wajah itulah Dokter Anwar menggumamkan kata: "Tak ada yang perlu dicemaskan. la hanya shock.....!"

Sumirah mendesaihkan sesuatu yang tak jelas. Asep menarik nafas lega. Sementara si pemilik mata yang khas tadi, tetap saja dengan reaksi yang sama: kuatir.

Anwar tersenyum lembut padanya. "Punya aktu untuk ngobrol barang semenit dua, Farida?"

"Dengan senang hati," gadis itu menjawab dengan suara mengambang. Tanpa menunggu, ia langsung melangkahkan kakinya kearah sebuah kursi di ruang tengah yang luas dan megah dengan perabotannya yang serba wah. Dokter Anwar bermaksud mengikuti, tetapi keburu teringat sesuatu. la mengawasi kedua orang lainnya yang sudah akan beranjak ke koridor yang menuju bagian belakang rumah.

"Sebentar!" Anwar menahan mereka. Suami isteri itu berdiri menunggu. "Kuharap aku hanya salah dengar saja." Dokter itu mendesah lembut. "Tadi, salah seorang dari kalian meributkan sebilah pisau..."

"Pencacah daging!" Sumirah berujar cepat. Wajahnya memerah karena semangat tinggi. "Bayangkan, Tuan Dokter. Pisau pencacah daging! Sungguh mengerikan jika sampai terjadi."

Asep, suaminya tampak tak senang.

Anwar segera menembak: "Apa yang kau perkirakan akan terjadi. Mirah? Nyonyamu bermaksud... bunuh diri?"

"Bunuh diri? Astaga, Tuan Dokter. Jika saja Tuan tahu....."

Deheman Asep menghentikan ucapan Sumirah yang semakin bersemangat itu. "Tuan Dokter pasti haus. Pergilah ambil minuman, Mirah!"

"Tetapi...." Sumirah mencoba bertahan.

"Kopi atau teh, Tuan Dokter?" suaminya menyambar, seraya melempar seulas senyum sopan pada tamu mereka.

"Teh saja."

"Nah, Mirah. Tunggu apa lagi?" Asep mendeliki isterinya.

Kecewa dan sakit hari, Sumirah berlalu dari ruangan itu. Baru setelah menghilang di ujung koridor Asep berpaling lagi ke Anwar, memandang dengan tatap mata segan dan setengah menyesal. "Maafkan isteri saya, Tuan Dokter..." ujarnya dengan suara direndahkan. "la begitu keranjingan film horor. Sehingga ketika menemukan pisau pemotong daging di kamar Tuan Muda, ia lantas berpikir yang bukan-bukan..."

Anwar mengangguk penuh pengertian. "Kau bermaksud mengatakan, bukan Nyonyamu yang membawa pisau itu ke kamar Babby?"

Asep memerlukan tempo dua tiga detik untuk berpikir, sebelum kemudian ia menjawab hati-hati: "Tuan pasti tahu banyak mengenai Tuan Muda...."

"Aku dokter keluarga, bukan?" Anwar mengingatkan dengan senyuman manis.

"Nah. Jadi Tuan tentunya sependapat bahwa Tuan Muda suka berlaku nakal. Terkadang, Tuan Muda malah...." Asep berhenti. Bimbang.

Anwar lantas membantu: "Agak liar. Begitu?"

Asep tampak lega. Namun masih tetap bimbang.

Sekali lagi Anwar menolongnya: "Pernah selagi aku berkonsultasi dengan ibunya di tempat atau praktek, Bobby diam-diam mengambil gunting bedah. la mempergunakannya untuk memotong kuku....."

Mendengar itu, barulah Asep bisa tersenyum. Bicaranya pun lantas lebih lancar. "Begitulah Tuan Muda, Tuan. Jika sifat badungnya bangkit, apa saja diambil. Apa saja dibongkar. Beberapa kali, ketika saya tengah memperbaiki mesin mobil, saya dibuat kalang kabut. Dan...."

Anwar memotong tak sabar, namun tetap dengan nada lembut: "Anak seusia Bobby terkandang memang suka menjengkelkan. Tetapi, bagaimana dengan pisau yang tadi diributkan istrimu?"

"Itulah, Tuan. Menurut saya, tentulah Tuan Muda yang mengambilnya dari dapur. Pernah, isteri saya meributkan setumpuk sendok dan garpu, yang baru dua hari kemudian kami temukan berserakan di kolong ranjang Tuan Muda. Di situ juga ada beberapa buah kaleng bekas. Tuan Muda hilang, ia mau minta band. Di lain ketika..."

Anwar mengerling kearah lain. "Ah. Minumanku sudah datang!"

Sumirah memang sudah muncul lagi. Menating baki dengan cangkir teh diatasnya, lengkap dengan poci-poci kecil yang tentunya berisi gula dan susu.

Anwar menyambar cangkir itu dengan cepat. "Cukup teh saja Mirah. Terima kasih."

Download


INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...