ads

Tampilkan postingan dengan label Novel Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Islami. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2019

Pesantren Impian

Judul      :  Pesantren Impian. 
Penulis   :  Asma Nadia.
Penerbit :  Asma Nadia Publishing.
Tebal      :  300 halaman.

Pesantren Impian sebenarnya novel lama Asma Nadia, tapi baru sekarang di filmkan dan akan diputar serentak di bioskop seluruh tanah air tgl. 3 maret bulan depan. Mungkin saja teman -teman ada yang belum membaca, iseng saya meresensi PI.

Pesantren Impian didirikan oleh Teungku Budiman sebagai penebusan dosa masa lalu yang hitam nan kelam. Terletak di sebuah pulau terpencil, yang bahkan tak tercantum di peta Aceh.

Menyelenggarakan pendidikan gratis setara SD hingga SMA bagi warga sekitar.

Dalam pelaksananya, PI juga merupakan tempat rehabilitasi bagi pemuda dan pemudi yang bermasalah. Mereka diundang secara misterius untuk menetap selama satu tahun. Untuk belajar lebih mendalam tentang agama .Mereka juga datang dengan membawa masalah dari latar belakang yang berbeda.

Ada si gadis, yatim piatu yang bekerja apa saja untuk menampung dan membiayai hidup teman - teman yang senasib. Hingga suatu hari tanpa sengaja, untuk mempertahankan kehormatannya, telah mengakibatkan seseorang meninggal dunia.

Si gadis sedang diburu dan dicari - cari polisi sebagai pembunuh. Menerima undangan ke PI mungkin merupakan jalan untuk menghindar.

Rini, korban pemerkosaan yang hamil dan gagal bunuh diri, padahal kuliahnya sudah di semester akhir. Demi nama baik keluarga, orangtuanya menerima undangan PI untuk Rini menetap di sana.

Eni, polwan yang menyamar, kasus pembunuhan yang sedang diselidiki, di duga pelakunya adalah salah satu dari 15 pemuda dan pemudi yang saat itu datang sebagai undangan untuk merehabilitasi diri.

Ditengah -tengah penyelidikannya, bahkan satu titik terang pun belum diperoleh,  justru telah terjadi lagi pembunuhan secara aneh dan misterius.

Situasi di PI menjadi sangat mencekam, menakutkan dan menegangkan. Semua penghuni menyimpan tanya, menduga -duga, saling curiga, berteka -teki dalam pikiran semasing.

Siapa si gadis?

Siapa pemerkosa Rini?

Dan siapa Umar? Pengacara hebat yang mendampingi Teungku Budiman sebagai penyandang dana Pesantren Impian.

Anda penasaran?

Sila baca Novelnya


Kamis, 05 Juli 2018

Ayat-Ayat Cinta 2

Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang pria asal Indonesia. Pria itu bernama Fahri Abdullah. Ia adalah dosen di Universitas Edinburgh dan sekaligus pemilik minimarket Agnina dan AFO boutique.

Kisah ini bermula saat suatu malam, Fahri teringat kembali bayang-bayang istrinya, Aisha, yang hilang di Palestina dan istrinya yang telah lama meninggal, Maria. Fahri yang kini tinggal di edinburgh bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangganya yang berdarah Turki, masih sedih bahkan terkadang ia menangis saat mengingat dan menyesali kebodohannya membiarkan Aisha pergi bersama teman wartawannya ke Palestina.

Aisha dan teman wartawannya menghilang saat berkunjung ke Palestina. Teman wartawan Aisha ditemukan di pinggir jalan beberapa bulan setelah Aisha tak lagi dapat dihubungi. Berbagai upaya telah dilakukan Fahri agar dapat menemukan kembali Aisha, tapi tetap saja ia tidak dapat menemukan istrinya.

Kini, dua tahun sudah Aisha menghilang. Untuk menghilangkan kesedihannya, Ia mulai mengisi hari-harinya dengan menyibukkan diri sebagai dosen, menyibukkan dirinya untuk semakin dekat lagi dengan Pencipta-Nya dan sebagai pemilik minimarket dan butik yang dulu ia dirikan bersama dengan Aisha sekaligus memperbaiki citra Islam dan muslim di negeri pertama dunia itu. Ia berbuat baik kepada masyarakat di sekitarnya tanpa memandang bulu. Termasuk membantu tetangga Yahudi-nya yang diusir oleh anak tirinya dari rumahnya, membantu tetangganya yang dengan terang-terangan membenci Islam untuk bisa menggapai cita-citanya menjadi pemain Biola terkenal dan pemain sepak bola terkenal dan mengizinkan seorang pengemis muslimah untuk tinggal di rumahnya yang kemudian diketahui bahwa pengemis itu bernama Sabina.

Hingga pada suatu hari, Keluarga Aisha datang berkunjung ke Edinburgh dan menyarankan kepada Fahri untuk menikah lagi dengan Hulya sepupu Aisha. Perang batin dalam diri Fahri pun dimulai, dimana satu sisi ia di desak oleh orang sekitarnya untuk menikah lagi tapi disatu sisi ia juga merasa takut akan mendzalimi istri barunya apabila ia menikah karena ia takut tidak dapat mencintai istri barunya seperti ia mencintai Aisha. Berbagai cara dilakukan Fahri untuk mendapatkan jawaban atas kegundahan hatinya, termasuk shalat istikharah.

Hingga Fahri memutuskan untuk menikah dengan Hulya. Dari pernikahannya dengan Hulya, Fahri memiliki anak laki-laki yang bernama Umar Al Faruq. Hubungan Fahri dan Hulya pun semakin erat dengan adanya Umar. Sejak lahir, Hulya meminta kepada Sabina untuk menjadi ibu angkatnya Umar.
Selang beberapa tahun sejak kelahiran Umar, Hulya meninggal. Dan agar Umar dapat terus melihat wajah ibunya, Hulya berwasiat kepada Fahri agar wajah Sabina dioperasi menjadi wajah Hulya. Hulya juga berwasiat kepada Fahri untuk menikah lagi dan menjual semua barang Hulya yang masih bisa digunakan lalu uang hasil jualannya digunakan untuk membangun masjid dan tempat untuk belajar membaca Al-Qur’an dan apabila ada barang Hulya yang tidak layak dijual, maka barangnya diberikan saja kepada orang yang lebih membutuhkan.

Dalam kesedihan Fahri ditinggal Hulya, ia bertanya kepada semua gurunya besarnya di pesantren dan di Universitas Al-Azhar tentang wasiat Hulya yang ingin wajahnya dan sabina untuk di operasi. Ada berbagai macam pendapat yang diterima Fahri, ada yang mengatakan itu haram karena sama saja dengan menyakiti mayat, tetapi ada juga yang mengatakan itu bisa saja karena itu adalah wasiat dari Hulya sehingga harus dilaksanakan. Hingga akhirnya Sabina melakukan operasi untuk memperbaiki wajahnya dan agar Umar dapat terus melihat wajah ibunya.

Tak lama setelah operasi wajah Sabina, Fahri meminta dokter untuk melakukan operasi pita suara Sabina. Tujuan Fahri untuk mengoperasi pita suara Sabina selain untuk memperbaiki suara Sabina juga sebenarnya Fahri ingin membuat dirinya semakin yakin bahwa yang selama ini menjadi Sabina adalah Aisha, meskipun ia belum tahu alasan Aisha untuk menyamar menjadi Sabina.

Pada akhir cerita, Sabina akhirnya mengakui bahwa dirinya adalah Aisha. Wajah buruk itu ia dapat saat dipenjara di Palestina. Saat di Palestina, ia diberitahukan polisi wanita yang bertugas, bahwa sebentar lagi ia akan diinterogasi oleh pihak kepolisian di Palestina. Namun, teman satu sel Aisha memberitahukannya bahwa bila ia diinterogasi polisi itu sama saja dikatakan kalau ia akan di perkosa. Saat itu, ia dapat ide untuk merusak wajahnya, karena ia berfikiran bahwa seseorang tidak akan tertarik untuk memperkosanya apabila wajahnya menjadi buruk atau rusak. Aisha lebih memilih merusak wajahnya dibandingkan kehormatannya di sentuh oleh orang selain suaminya. Akhirnya, Aisha dan Fahri kembali hidup bersama.

Download

Jumat, 08 Desember 2017

Tentara Langit Di Karbala

Ketika Imam Ali terbaring sakit, mendekati ajal yang siap menjemputnya akibat pukulan telak dari pembunuh yang berlumuran dosa, sebagian sahabat memintanya agar dia bersedia menentukan pengganti dari putra-putra dan keluarganya seteleh dia wafat. Namun, Imam Ali menolak dan menganjurkan mereka untuk memilih sendiri seseorang yang mereka sukai dan ridhai.

Memang, Imam Ali tidak pernah berwasiat kepada salah satu pun anak-anaknya untuk menjadi khalifah, tetapi di sana ada wasiat lain yang menyibukkan jiwanya. Dia menyimpannya untuk anak-anaknya tersebut. Imam Ali memanggil Hasan dan Husain kepadanya, dan berkata,

“Aku berwasiat kepada kalian berdua untuk bertakwa kepada Allah. Janganlah kalian mencari dunia, meskipun ia mencari kalian Janganlah bersedih terhadap dunia yang hilang dan kalian. Berbuatlah kebaikan. Jadilah kalian musuh orang yang zalim dan penolong bagi orang yang dizalimi.”

Sungguh, kata-kata yang pantas bagi pemiliknya dan wasiat yang tepat bagi pemberinya.

***

Orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Pandangan dan hati mereka tertuju kepada satu sosok yang didambakan untuk menjadi khalifah pengganti. Mereka pun menggelar sumpah untuk memberikan baiat kepadanya.

Dia adalah lelaki mulia, Hasan ibn Ali, putra tertua Imam Ali.

Hasan pun menerima baiat setelah prosesi acara shalat jenazah dan pemakaman ayahnya.
Hasan menerimanya dengan penuh keterpaksaan karena mereka tidak memberikan hak kepadanya untuk memilih, dan tidak menerima alasan apa pun untuk menolak. Dengan cepat, Qais ibn Sa’ad bin Ubadah, pahlawan Anshar dan Islam berdiri memberikan baiat untuk dirinya. Lalu diikuti oleh khalayak ramai dan golongan-golongan yang berdatangan.

Kondisi masih belum aman untuk Hasan dan kondisi pada saat itu sangat jauh dan ketenangan dan ketenteraman.

Kabut hitam yang menyelimuti, membuatnya harus menerima baiat. Kekhalifahan adalah pengorbanan besar diantara sekian pengorbanan yang dilakukannya. Namun, ada sesuatu yang disembunyikan, hingga buat Hasan merasa sangat berat untuk menerima kekhalifahan ini.

Hal itu adalah kecintaan Hasan yang sangat mendalam terhadap perdamaian, dan ramalan Rasulullah kepadanya ketika masih kecil. Yaitu pada suatu hari nanti Allah akan menghentikan penumpahan darah umat Islam dikarenakan oleh dirinya. Sahabat-sahabat Rasulullah masih teringat jelas hari itu, ketika Rasul menaiki mimbar ditemani Hasan, cucunya yang masih kecil, yang berjalan tertatih-tatih. Rasulullah menggendongnya dan mendudukkannya di sampingnya kemudian berkata,

“Cucuku ini adalah seorang kesatria. Dengan dirinya, mungkin Allah akan mendamaikan dua golongan umat Islam yang sedang berseteru.”

Sekarang, datanglah waktunya, waktu yang tepat untuk menunjukkan kebenaran ramalan ini.

Sekarang, marilah kita lihat Amirul Mukminin, Hasan ibn Ali, ketika menyikapi masalah dengan dua pertimbangan:

Tentara Langit

Jumat, 20 Oktober 2017

Ain Jalut (Novel Islam)

Novel Ini menurut Mimin : Bagus, Layak dibaca... apalagi buat orang-orang yang malas baca sejarah Islam tapi suka membaca novel. Meski bisa saja berisi beberapa cerita fiktif, tapi garis besarnya berdasarkan cerita nyata.

Sinopsis:
Saifuddin Quthuz adalah satu di antara tokoh besar dalam sejarah muslimin. Nama aslinya adalah Mahmud bin Mamdud.. Ia berasal dari keluarga muslim berdarah biru. Quthuz adalah putra saudari Jalaluddin Al-Khawarizmi, Raja Khawarizmi yang masyhur pernah melawan pasukan Tartar dan mengalahkan mereka, namun kemudian ia kalah dan lari ke India. Ketika ia sedang lari ke India, Tartar berhasil menangkap keluarganya. Tartar membunuh sebagian mereka dan memperbudak sebagian yang lain.

Mahmud bin Mamdud adalah salah satu dari mereka yang dijadikan budak. Tartar menjuluki si Mahmud dengan nama Mongol, yaitu Quthuz, yang berarti “Singa Yang Menyalak”. Tampaknya sedari kecil Quthuz memiliki karakter orang yang kuat dan gagah. Kemudian Tartar jual si Mahmud kecil di pasar budak Damaskus. Salah seorang bani Ayyub membelinya. Dan ia dibawa ke Mesir. Di sini, ia pindah dari satu tuan ke tuan yang lain, sampai akhirnya ia dibeli oleh Raja Al-Mu’izz Izzuddin Aibak dan kelak menjadi panglima besarnya.

Dalam kisah Quthuz ini, kita bisa mencatat dengan jelas bagaimana skenario ajaib Allah SWT. Tartar telah memperdaya muslimin dan memperbudak salah satu anak-anak muslimin dan mereka jual langsung di pasar budak Damaskus. Untuk kemudian ia diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lainnya, yang akhirnya sampai ke suatu negeri yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Boleh jadi karena usianya yang masih kecil ia tidak melihat negeri jauh ini. Namun, pada akhirnya ia menjadi raja di negeri asing itu dan sepak terjang Tartar yang membawanya dari ujung dunia Islam ke Mesir pun harus berakhir di tangannya!

Subhanallah yang telah mengatur dengan Maha Lembut dan memperdaya dengan Maha Bijak. Tiada sesuatupun di bumi dan langit yang samar bagi-Nya.

ومكروا مكرًا ومكرنا مكرًا وهم لا يشعرون

“Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (An-Naml [27]: 50)

Quthuz –sebagaimana mamalik (budak yang dididik militer) lainnya–tumbuh dengan pendidikan agama yang benar. Semangat Islam yang kuat bergelora di dalam hatinya. Sejak kecil, ia dilatih dengan seni menunggang kuda, metode pertempuran, seluk-beluk manajemen dan leadership. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda gagah berani, mencintai dan menjunjung tinggi agamanya. Ia juga seorang yang kuat, penyabar, dan perkasa. Selain itu semua, ia juga dilahirkan dari keluarga raja.

Masa kanak-kanak Quthuz layaknya para pangeran yang lain. Hal ini membuat dirinya begitu percaya diri. Ia tidak asing dengan masalah kepemimpinan, manajemen negara dan kekuasaan. Di atas itu semua, keluarganya hancur oleh Tartar. Hal ini–tentu saja–membuat dirinya paham betul dengan bencana Tartar. Sebab orang yang menyaksikan tidaklah seperti yang mendengar.

Semua faktor ini berpadu menjadikan Quthuz seorang yang memiliki karakter sangat unik. Ia merasa ringan dengan penderitaan, tidak takut dengan para musuh bagaimanapun banyak jumlahnya atau unggul kekuatan mereka.

Pendidikan Islam dan militer, juga pendidikan untuk berpegang teguh kepada Allah, agama dan percaya diri, semua itu mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan Quthuz –rahimahullah-.

Nama Quthuz mulai muncul ke permukaan setelah terbunuhnya Raja Al-Muizz Izzuddin Aibak dan istrinya Syajarah Ad-Dur dihukum mati. Kemudian kekuasaan beralih kepada “Sultan Bocah” Al-Manshur Nuruddin Ali bin Izzuddin Aibak. Quthuz-lah yang memegang perwalian atas sultan kecil tersebut.

Quthuz meskipun ia secara real menyetir roda pemerintahan di Mesir, namun pada kenyataannya yang duduk di kursi kekuasaan adalah seorang sultan bocah. Tentu hal ini melemahkan wibawa pemerintah di Mesir dan merongrong kepercayaan rakyat kepada rajanya serta menguatkan niat musuh-musuhnya karena mereka melihat raja adalah seorang bocah.

Dengan mempertimbangkan ancaman Tartar yang menakutkan, problema internal yang mencekik, kekacauan dan pemberontakan dari mamalik bahriyyah dan ambisi para emir Bani Ayyub di Syam, maka Quthuz melihat tiada makna keberadaan “Sultan Bocah” Nuruddin Ali di kursi negara terpenting di kawasan, yaitu Mesir, di mana tiada lagi harapan untuk membendung Tartar kecuali di pundaknya.

Dari situ, Quthuz mengambil keputusan berani, yaitu menurunkan Nuruddin Ali dan ia mengambil alih kekuasaan di Mesir. Keputusan itu bukanlah hal yang aneh. Sebab sebenarnya Quthuz adalah penguasa real di Mesir. Semua orang –termasuk “sultan bocah” itu sendiri–mengetahui hal itu. Seolah-olah ada boneka lucu di mana Quthuz-lah yang menggerakan boneka tersebut. Boneka itu adalah sultan yang bocah. Apa yang dilakukan Quthuz tiada lain hanya mengangkat boneka itu, untuk memperlihatkan seorang singa gagah yang di tangannyalah peta geografi dunia akan berubah, begitu pula lembaran-lembaran sejarah lainnya.

Penggantian ini terjadi pada tanggal 24 Dzul Qaidah 657 H, yaitu beberapa hari sebelum kedatangan Hulagu di Aleppo.

https://www.mediafire.com/file/24d7dg0ppi18tw6/Ain%20Jalut.rar

Sabtu, 14 Oktober 2017

Tidak Hilang Sebuah Nama

Novel ini menurut Mimin : Awalnya mengalir sederhana, kemudian sadis dan diluar batas kewajaran. Penulisnya cukup pintar dengan mengambil setting di Australia, sebab kalau mengambil setting di Indonesia akan terkesan aneh hehe....

Keseluruhan ceritanya cukup menarik meski banyak janggalnya, tapi yah namanya juga cerita, kalo gak dibikin jangggal pasti gak seru. So, nikmatin aja!

Sedikit Nukilan

la sudah membaca belasan, bahkan hampir puluhan buku. Setengah yakin, namun ia juga terkadang tergelitik untuk mencari celah-celah kesalahannya. Tapi mengapa ajaran Islam sangat meyakinkan baginya? Hingga dadanya seperti dipukuli gada raksasa. Telinganya berdengung. Mungkin ini rasanya bila orang baru saja menemukan kebenaran.

"Aku ingin masuk Islam...," ucap Olive, sembari menggigit bibirnya.

Fateema tersenyum. "Alhamdulillah".

Olive sedikit menolak rengkuhan Fateema. "Tapi aku belum siap memakai kerudung. Bolehkah?"

Fateema diam sebentar.

"Tidak boleh, ya?"

"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu itu? Masuk agama Islam dan menjalankan segala syariatnya?"

"Tentu..., tapi...," Olive menggigit bibirnya lagi, "akankah aku memakai kerudung saat aku belum benar- benar siap? Dan ketakutanku adalah aku akan setengah hati melakukannya. Setengah hati, berarti aku tidak sepenuhnya rela. Dan tanpa kerelaan, apa pun yang kulakukan akan menjadi cepat hilang."

Fateema tahu apa inti dari perkataan Olive. Kemudian ia teringat banyak pula temannya yang memakai kerudung, tetapi tidak mematuhi syariat tata cara berkerudung yang sebenarnya. Dan jika ketakutan Olive seperti itu, bukankah itu berarti Olive mempunyai semacam kecemasan bila dirinya hanya melakukannya setengah-setengah? Dan ada kemauan secara sungguh- sungguh untuk menerapkan syariat Islam. Lagi pula bagi seorang mualaf seperti Olive, yang selama ini benar-benar jauh dari bimbingan Islam, rasanya perubahan yang bertahap sedikit demi sedikit adalah yang paling baik untuknya.

"Lalu sampai kapan kamu akan benar-benar menjadi seorang Muslimah sejati?"

"Sampai aku sudah mendapatkannya. Aku akan mencari."

Fateema mengangguk. Sebuah keputusan yang logis. la kenal betul siapa Olive. Seorang gadis dengan kemauan keras yang tak akan berhenti berusaha sampai apa yang diinginkannya tercapai.

Olive berkaca pada seorang Fateema, yang meskipun tidak berwajah cantik namun tetap disegani banyak orang. Mula-mula ia mengira ini dikarenakan kepandaian Fateema. Ternyata ia juga baik hati, ramah, dan santun dalam perbuatannya.

"Agama memberi suatu kesucian atas prinsip moralitas, seperti kejujuran, keadilan, persaudaraan...."

"Tapi bukankah kita bisa melakukan itu tanpa memeluk agama?" potong Olive.

Fateema tersenyum. "Benar! Namun tanpa keimanan agama yang kuat, konsepsi-konsepsi seperti itu akan kehilangan kesuciannya. Berbuat baik hanya akan menjadi suatu rekomendasi, bukan kewajiban. Dengan kata lain, kita bebas untuk berbuat baik atau sebaliknya. Tidak ada yang mengikat."
"Berarti agama akan mengekang kita dengan kewajiban seperti itu?"

"Benar. Apa kamu tidak merasa bahwa kita diciptakan untuk saling menghormati dan berbuat baik pada sesama? Aku kira, itu adalah suatu prinsip yang universal."

Olive diam Dalam hati ia mengakui kebenaran kata-kata Fateema. Makin mantaplah ia dalam memeluk Islam -sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya hingga beberapa bulan yang lalu.

Sayangnya, satu bulan kemudian Fateema mendadak harus kembali ke negaranya. Perpisahan yang mengharukan Padahal Fateema mengatakan, ia akan mengajarkan mengaji. Sebelum pulang, Fateema menghadiahkan sebuah kerudung mams berwarna merah muda.

"Pakailah! Aku ingin melihatmu memakainya." Fateema tersenyum di antara matanya yang sembab. Olive memmang kain kerudung itu di tangannya.

Inikah saatnya? Olive bertanya dalam hati.

"Setidaknya sebelum pulang, aku ingin melihatmu untuk memakainya, biarpun hanya sekali. Meski setelah ini kaucopot kembali, dan meneruskan pencarianmu. Walaupun sejujurnya aku tidak mengharapkan itu."

Ah..., sesungguhnya aku pun telah lelah mencari. Biarlah setengah dari keraguan ini kukorbankan Dan dengan pengorbanan ini akan kucari setengah dari keraguan itu -dan berharap akan ketemu jalan keluarnya.

Olive mengangguk. Dibiarkan saja Fateema menyematkan kain itu di kepalanya.

"Cantik...," puji Fateema.

https://www.mediafire.com/file/99hqbq8g873d05d/Tidak%20Hilang%20Sebuah%20Nama.rar

Minggu, 16 Juli 2017

Dalam Mihrab Cinta

Novel ini bercerita tentang perjalanan kehidupan tokoh utama yaitu Syamsul Hadi. Seorang anak saudagar batik dari Pekalongan yang hidup berkecukupan. Syamsul tergolong anak pandai dan cerdas, ia siswa terbaik di sekolahnya. Terbukti selama SMA ia dikenal sebagai jagonya matematika dan memenangkan Olimpiade Matematika Tingkat SMA se-Jawa Tengah. Bahkan ada dua perguruan tinggi negeri terkemuka di Semarang menawarinya beasiswa setelah ia memenangkan lomba tersebut. Namun, ia justru memilih jalur yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh seluruh anggota keluarganya, yaitu memilih nyantri di sebuah pondok pesantren.

Ayahnya sangat murka dan kecewa dengan keputusan sang anak. Sejumlah dana sudah disiapkan jika saja ia mau kuliah mengambil jurusan matematika, akuntansi atau ekonomi. Namun Syamsul melihat matematika tidak lagi menjadi tantangan mengasyikkan bagi dirinya. Ia butuh sebuah tantangan baru. Hingga akhirnya ia memilih nyantri di pondok pesantren Al Furqan, Pagu, Kediri ketimbang menuruti kehendak sang ayah agar kuliah selepas SMA.

Di pesantren, prestasi Syamsul terbilang sangat cemerlang, ia bisa melompat kelas berkali-kali guna mengejar ketertinggalannya. Tetapi seperti kata pepatah, jika kehidupan ini ibarat sebuah roda. Kadang di atas dan kadang di bawah. Begitu pula dengan kehidupan Syamsul. Akibat fitnah pencurian dari teman sekamarnya, Burhan, dirinya harus babak belur dihajar seluruh penghuni pondok dan diusir dari pesantren tempatnya menimba ilmu. Ia merasa dizalimi dan tidak terima atas perlakuan tidak adil tersebut. Belum lagi hukuman tazir dari pesantren yang ia terima, rambutnya harus rela digunduli dihadapan seluruh penghuni pesantren. Hatinya sangat hancur, apalagi tekanan dan ketidakpercayaan dari pihak keluarganya. Berkali-ia ia mencoba meyakinkan keluarganya, berulang kali pula cibiran dan hinaan ia dapatkan. Hingga akhirnya ia pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Menurutnya apalah arti hidup ini jika keluarga sendiri sudah tidak mempercayainya.

Dengan gayanya yang khas, Kang Abik (panggilan akrab penulis) membius para pembaca dengan berbagai sisi kehidupan Syamsul. Mulai dari sisi kelamnya hingga sisi kebangkitan hidupnya dari seorang pencopet menjadi seorang guru ngaji, hingga akhirnya menjadi seorang dai muda kondang. Seperti novel-novel pembangun jiwanya yang lain, dengan sangat lugas dan sederhana penulis mampu memperkenalkan adab pergaulan secara islam kepada para pembaca setianya tanpa kesan menggurui. Ditambah lagi dengan hadirnya dua orang sosok wanita yang hadir di tengah-tengah pelaku utamanya. Zidna Ilma atau Zizi putri dari Kiai Baejuri, pengasuh pesantren Al Furqan, Pagu, Kediri dan Silvie, mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas indonesia, putri dari Bapak Heru, pengusaha travel dengan cabang hampir seluruh kota besar di Indonesia.

Membaca novel ini dapat kita ambil pelajaran sekaligus kesimpulan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh besar untuk membentuk pribadi seseorang. Pada mulanya tokoh utama yaitu Syamsul Hadi hanya difitnah maling oleh temannya yaitu Burhan, namun kemudian lingkungannya mengiyakan hal tersebut, bahkan keluarga yang ia andalkan pun ikut mempercayai fitnah itu. Tokoh utama merasa tidak tahan, dan akhirnya ia menjadi copet sungguhan sampai pernah mendekam di penjara. Namun, ketika lingkungan menganggap di adalah seorang ustad semenjak menjadi guru mengaji seorang anak kecil, maka jadilah ia seorang ustad, bahkan tenar sampai masuk pada program religi sebuah stasiun televisi. Jadi, lingkungan mempunyai peran penting dalam membentuk Pribadi seseorang.

Novel Dalam Mihrab Cinta ini sangat bagus dan layak untuk dibaca karena memberikan pelajaran kehidupan. Banyak hikmah serta manfaat yang dapat kita petik untuk dijadikan pedoman hidup kedepan.

Buku ini benar-benar layak untuk kita pelajari dan kita anut karena isinya mengajak para pembaca untuk selalu menuju jalan yang benar dan senantiasa bersabar.



Rabu, 05 Juli 2017

Bismillah : Ini Tentang Cinta

Komentar Mimin Tentang Novel ini : Bingung! Katanya "Novel Islami", tapi menjadikan anak-anak SMA sebagai tokoh yang cenderung sinetronisme... lebih banyak menceritakan cinta-cintaan ketimbang pelajaran sekolah atau masa depan cemerlang, terlalu jauh bila dibandingkan dengan novel Kang Abik yang menggunakan tokoh dewasa (kuliah).. lalu pemaksaan dialog dalam bahasa Inggris pun cukup mengganggu, sebab cenderung meniru novel Kang Abik yang setting-nya di luar negeri... Kalau memakai bahasa jawa, gak masalah sebab memang settinganya berada di Semarang.

Mimin sih cuma bisa berkomentara, Lumayan... nilai 7 dari 10 bintang.  Cuma terus terang aja, Mimin keburu bosen membaca novel ini karena imajinasi Mimin kayak nonton sinetron yang ada di TV-TV tentang anak sekolah SMP-SMA yang cenderung kurang mendidik penonton. Mungkin bedanya, dalam novel ini terselip nasehat-nasehat islami yang bisa diambil hikmahnya... Harusnya penulis tidak menjadikan tokoh SMA yang setiap bab nya memikirkan cinta.

Mungkin, kalau penulis memakai tokoh yang BUKAN ANAK SMS, ceritanya akan terkesan seru. Sekian review Mimin. Cmiwww...

Resensi Novelnya bisa kamu baca disini.

Novel ini bercerita tentang seorang murid SMA bernama Haydar beserta 2 orang gadis yang kemudian menjadi takdirnya, Salma dan Lexa. Sebuah cinta segitiga yang dialami anak-anak remaja namun berakhir dengan indah.

Jika kita membaca sekilas alur cerintanya, pasti kita akan berfikir bahwa novel ini mirip dengan novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy. Tapi tidak sepenuhnya. Karena ketika membacanya kita akan menemukan banyak hal yang berbeda. Kita tidak akan menemukan sosok seperti Fahri yang sangat sempurna dan sangat taat. Melainkan sosok Haydar Ali Said seorang anak SMA yang masih nakal, anak band, humoris namun tetap religius. Kemiripan akan kita temukan pada sosok pemeran wanita, Lexa dan Salma. Salma mirip denga sosok Aisha, dan Lexa mirip dengan Maria. Namun tetap saja ada hal yang berbeda, Misalnya latar belakang Lexa yang berasal dari keluarga yang berantakan. Perbedaan lain juga kita temukan pada setting cerita yang bertempat di Kota Semarang, berbeda dengan novel Ayat-ayat Cinta yang bernafaskan timur tengah.

Aku mendapatkan banyak sekali pelajaran dari novel ini, sampai aku lupa dan harus mengingat-ngingatnya dulu. Penulis menyisipkan banyak sekali pesan moral melalui alur cerita yang kadang kala lucu dan menyentuh, hingga pembacanya menitikkan air mata, termasuk aku.

Pertama, tentang kebaktian seorang anak kepada ibunya. Pada bab 19, halaman 253. Ketika sebuah puisi dalam jam pelajaran bahasa inggris menyadarkan Haydar akan arti seorang ibu. Bagaimana seorang anak sering lupa akan keberadaan ibunya dan lebih mementingkan teman-temannya, bahkan pacarnya daripada ibunya sendiri. Saat itu juga Haydar menyiapkan sebuah kado ulang tahun untuk ibunya, walaupun uang itu akan ia gunakan untuk mengganti handphonenya yang telah rusak. Sesuatu yang jarang seorang anak lakukan pada ibunya.

Kedua, tentang kerja keras. Sebenarnya Haydar bukan berasal dari keluarga yang miskin. Tapi hanya karena ia ingin belajar bekerja keras dan meringankan beban ibunya yang sudah menjanda, ia bekerja sebagai loper Koran sebelum ia berangkat sekolah. Begitu juga dengan hobinya menulis. Walaupun tulisan yang ia kirimkan selalu ditolak, ia tetap tidak menyerah walaupun ia sampai jatuh sakit. Ia hanya yakin akan sebuah kata bijak yang ia tempel di kamarnya, bahwa "Akan ada satu keberhasilan diantara seribu kegagalan". Walaupun akhirnya ia sempat merasa putus asa, saat itulah ia mendapatkan keberhasilan ketika novelnya dijadikan cerbung dalam sebuah Koran lokal. Sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak mudah menyerah untuk menggapai cita-cita dan terus berusaha.

Ketiga, tentang arti sebuah persahabatan. Penulis menyajikan sebuah cerita persahabatan yang konyol dan menyentuh. Sebuah cerita persahabatan yang indah kala SMA. Novel ini mengajarkan kita bagaimana mengikat tali persahabatan sesama teman. Misalnya dengan saling memberi kado saat ulang tahun, dan surprise-surprise lainnya. Ketika Haydar terluka dan ingin balas dendam, teman-temannya tidak sungkan membantunya, bahkan ketika mereka harus masuk bui bersama, mereka tidak saling menyalahkan tapi saling berpelukan dan memberi semangat. Disinilah kita belajar ikhlas, saling menerima, dan setia kawan. That’s a beautiful friendship….

https://www.mediafire.com/?xbqa6dj63b23kk1

Sabtu, 01 Juli 2017

Protes! Protes! Protes!

Rumah itu masih terlihat besar, tapi tampak sederhana. Attar, si sulung yang berbadan tambun datang menjenguk ayah dan ibunya. Maklum, setelah punya rumah baru yang diperolehnya dengan cara mencicil, dan disibukkan pekerjaannya sebagai redaktur di Hari an Layar Perak, Attar jarang berkunjung ke rumah tempat dia dibesarkan itu.

Tapi sore itu tampak aneh. Baru saja Attar menginjak- kan kakinya di beranda depan, terlihat sosok yang unik. Sosok itu mirip dengan pahlawan film anak-an ak, Power Ranger atau Ultraman.

"Satu, dua, tiga, ciat! Satu, dua, tiga, ciat!"

Terdengar teriakan penuh semangat keluar dari bibir sosok aneh itu. Bagaimana tidak aneh, tampak seo- rang perempuan sepertinya memakai jilbab, tetapi ada helm besar di kepalanya. Helm itu berwarna hi- tam bertuliskan KAMMI lengkap dengan kaca di dep- annya. Bajunya juga unik seperti seragam silat. Tang- an dan kakinya bergerak-gerak layaknya sedang mem peragakan gerakan-gerakan silat aliran Partai Penge- mis dari Utara. Lengkap dengan Tongkat Penggebuk Anjing yang pernah dikuasai Oey Young, tokoh da- lam Sin Tiaw Eng Hiong alias Si Pendekar Pemanah Rajawali.

Tongkat itu dipakai, tampaknya untuk menghadang pukulan lawan, atau memukul bagian bawah sang musuh. Dengan penuh semangat sosok itu mempera- gakan gerakan bela diri dan menyerang secara ber- gantian.

Attar menatap sosok aneh itu dengan pandangan tak jub. Seolah tahu kalau dirinya ada yang mengamati, sosok ajaib tadi langsung menghentikan latihan silatnya.

Attar tiba-tiba sadar dan tergelak sendiri.

"Walah... walah... dikirain ada pendekar dari Pulau Bunga Persik. Ternyata adikku tersayang." ujarnya, sambil menahan tawa.

Ratna, sang adik, segera menghentikan latihannya dan mencibir, "Huuu...dasar Bocah Tua Nakal."

Mereka tertawa. Sudah lama keduanya tidak berceng kerama karena sibuk oleh kegiatan masing- masing.

"Lagi latihan apaan, sih? Teater ya?" Attar pura-pura tidak tahu.

"Ah, Abang. Ya, latihan buat demo besok dong! Gimana, sih! Apa gak lihat penampilanku yang udah heboh gini?" jelas Ratna, sambil memain-mainkan tongkatnya.

"Oooh..." mata Attar bersinar nakal.

"Udah, jangan ngeledek aku terus. Masuk dulu deh, ada Mama tuh."

"Ntar dulu, ah. Mau ngadem dulu di luar."

"Ya, udah."

Ratna membuka helmnya. Gadis itu lalu menaruh helm dan tongkatnya di garasi, tak jauh dari tempat sang Abang berdiri.

"Emangnya, kali ini apaan yang didemo?"

"Sekarang sih soal politikus busuk."

---> Download Disini <---


Minggu, 25 Juni 2017

Khadijah : Tersingkapnya Rahasia Mim

Setelah Ibrahim dan Hajar meninggalkan Al-Quds, keduanya harus menempuh perjalanan panjang meng- arungi padang pasir. Di belakang mereka hanya ada satu teman perjalanan. Ia adalah "angin sakinah" yang berembus tidak terlalu kencang. Tiupan angin ini begitu sepoi, lembut membelai, seolah hendak mengungkapkan dukungannya kepada keluarga yang tunduk berserah diri itu. Setiap langkah yang diayunkan merupakan satu tataran terangkatnya derajat mereka karena mampu melewati ujian yang akan membuat keduanya dikenang sebagai hamba yang agung dalam sejarah.

Selama berhari-hari, tanpa bicara, mereka terus berjalan. Sang ayah berada di depan, sementara sang ibu berada persis di belakangnya dengan seorang bayi mungil dalam pelukan. Sementara itu, "angin sakinah" menyelimuti mereka dalam tiupan lembut membelai dan terus mengiringi mereka berjalan... terus berjalan.

Mereka kemudian berhenti di suatu bukit kecil yang banyak sisa reruntuhan. Tempat ini dinamakan Bait al-Atik, tempat yang dulu pernah ditinggali Adam, rumah paling tua di dunia yang saat itu dalam keadaan rusak dan reyot, dengan dinding hampir roboh karena hempasan angin dan berada sendirian di antara ham- paran samudra padang pasir yang mengelilinginya.

Hajar lalu bertanya kepada suami dan juga nabi yang diimaninya.

"Akankah Kanda meninggalkan kami berdua di sini?" Tak ada jawaban, tak pernah ada jawaban…

Sampai akhirnya sebuah pertanyaan yang terucap, "Ataukah semua ini adalah sebuah ujian yang diperin- tahkan Allah?"

Ayahanda kita, Ibrahim, dengan wajah menanggung pedih namun berserah diri kepada takdir yang menim panya berkata, "Iya, Dinda akan ditinggal di sini seba- gai perintah dan ujian dari Allah."

Ibrahim pun melangkahkan kaki untuk meninggalkan nya.

Ibunda Hajar hanya seorang diri di tengah-tengah pa- dang pasir dengan bayinya. Ibrahim meninggalkan me reka di Baitul Atik yang tinggal puing-puing bertim- bun pasir. Perintah Allah telah menghendaki yang demikian sebagai ujian sehingga Ibunda Hajar pun men- jadi "Hajar" yang sesungguhnya.

Hajar berarti batu
Ia berarti pula ruangan
buaian
dan juga: mata

Setelah sejenak memandangi hamparan padang pasir di panas terik tanpa ada tempat berteduh, tebersit perasaan papa dalam hati Hajar yang masih muda belia. Memang telah disampaikan jauh sebelumnya bahwa semua ini adalah sebatas ujian baginya. Namun, tetap saja hatinya tersayat dan semakin tersayat oleh lang- kah kaki sang suami yang semakin menjauh mening- galkannya.

Inilah saat awal dimulainya rangkaian ujian. Ibrahim Khalilullah adalah satu-satunya tempat berteduh, seo- rang nabi yang diimani, seorang suami yang dicintai, tempat berbagi dan segalanya baginya.

Kini, ibunda kita hanya seorang diri, sunyi di tengah- tengah hamparan samudra padang pasir dalam usia- nya yang masih muda.

Akankah hanya terus duduk dan menunggu? Ah… setidaknya Ismail masih ada di sisinya.

Ismail adalah buaiannya. Tidaklah mungkin ia tahan terhadap terik padang pasir, haus yang melanda, dan panas mentari tanpa dipayungi yang dapat menghenti kan detak jantungnya. Panik bercampur gelisah hati Hajar. Ia pun bersimpuh di hadapan buah hatinya, memerhatikan dengan penuh iba wajah bayinya yang pucat pasi karena berhari-hari dalam perjalanan. Wa- jah mungil itu lalu diusapnya dan kemudian ditutupi.

"Duhai Allah, janganlah Engkau perlihatkan kematian nya kepadaku," pintanya dalam pilu.

Setelah bersimpuh merintih dalam tangisan, kembali- lah sang ibunda kita dalam kesadaran. Ya, suaminya yang juga seorang nabi telah berpesan bahwa semua ini adalah serangkaian ujian. Untuk itu, ia tidak ingin melewati serangkaian ujian ini hanya dengan duduk menanti. Mungkin saja, seandainya hanya sendiri, akan ia kuatkan ujian ini dengan hanya menanti. Na- mun, sebagaimana jiwa seorang ibu, Hajar menyadari kalau kehidupannya tidak akan mungkin berlalu se- orang diri.

Ia pun kembali bangkit untuk sang buah hati. Demi anaknya, ia basuh wajahnya dari linangan air mata. Ibunda kita itu bangkit untuknya.

Dengan cepat, ia berlari ke bukit Safa. Semakin jauh berlari, dalam pandangannya, bukit itu terlihat penuh dengan rerimbunan pepohonan. Hatinya penuh harap saat berlari ke sana.

Benarkah yang ia lihat hanya mimpi? Ataukah itu hanya sebuah ilusi?

Sesaat Hajar tertegun, tebersit merenungi tabir mimpi itu. Tabir mimpi itu mengentakkan jiwanya untuk ber- lari. Ia kumpulkan kembali tenaga untuk berlari; pela- rian untuk mengejar iradah, harapan, dan kedekatan. Sesuatu yang penuh dengan jiwa yang terbakar, lesatan seorang ibunda ke dalam kobaran unggun perapian.

Sesampai di Safa, matanya menyapu sekeliling bukit. Ia menerawang mencari kailah yang berlalu atau sumber air yang ada di kejauhan. Ia mencari dan terus mencari. Namun, semua itu tiada. Tidak ada sama sekali yang tersapu oleh pandangannya, baik jejak kaki maupun gerakan yang memberikan harapan.

Kemudian, ia kembali berlari dengan cepat menuruni bukit. Ia terus menatap bukit yang lain dalam lesatan kaki berlari. Nama bukit itu adalah Marwa. Kali ini, hatinya penuh harap. Mungkin ia akan mendapati apa yang dicari dengan mendaki puncaknya.

Demikian seterusnya hingga genap tujuh kali ibunda kita naik turun di antara bentangan dua kaki bukit Safa dan Marwa dengan terus berlari. Berlari dan terus berlari sembari hatinya penuh dengan tangis, mendoa, dan merintih dengan kelembutan air susu ibu kepada Ilahi Rabbi. Ia bakar dirinya dengan api tazar- ru' yang membara, seolah dirinya telah menjadi lilin yang berpijar nyala apinya.

Dan Allah telah mengujinya dengan kesendirian. Per- juangannya telah menjadi mahkota ujian suci ini, yang pada akhirnya dijawab dengan air Zamzam yang terkumpul untuknya.

Zamzam adalah air cinta, perjuangan, dan kemaksum an seorang ibu.

Air telah menjadikan kehidupan baru bagi Hajar dan buah hatinya. Pun sebagai hadiah sebuah kota baru bagi umat manusia. Lesatan ibunda Hajar di antara bentangan dua bukit Safa dan Marwa bukan hanya bagi buah hatinya, melainkan juga bagi kota Mekah yang akan dibangun kemudian.

Para penduduk Mekah selalu mengenang perjuangan ini dengan menaruh ke dalam keyakinan penghormat- an atas dua bukit yang telah Allah jadikan sebagai is- yarat. Hajar berupaya mengumpulkan air yang mer- embes dari dalam tanah dengan terus berkata "tung- gu!" seraya membendungi sekitarnya dengan tanah, dengan perasaan khawatir akan lenyap.

"Tunggu… tunggu…."

"Zamzam…."

Lewat dirinyalah air bersejarah itu hingga kini memi- liki nama.

Tatkala tempat di sekitar sumur mulai hijau merim- bun, saat burung-burung mulai beterbangan hinggap di sana, dengan menukik dari ketinggian terbangnya, hal itu menjadikan tanda adanya sumber air bagi para musair yang memandanginya dari kejauhan. Mereka pun mengikuti arah terbang burung-burung itu. Se- sampainya di sana, di saat mereka dapati sebuah su- mur dengan seorang ibu dan putranya, segeralah me- reka berucap salam.

Demikianlah, dengan persyaratan menjunjung hak Hajar dan putranya, para pengembara yang melewati nya satu persatu ditawari menetap di sana. Mereka pun dengan senang hati memutuskan menetap di tem- pat itu. Kabilah Jurhum telah memenuhi janji untuk menjunjung hak Ibunda Hajar dan putranya. Mereka menetap di sana untuk menjadi saksi terbangunnya kota nan indah yang baru: "Bekah".

Para pengembara kaum badui sering melafalkan huruf B berdekatan dengan huruf M sehingga kaum Jurhum kemudian lebih terbiasa menyebut Bekah dengan Mekah. Lalu, tibalah masa putra Ibunda Hajar, Ismail, yang juga seorang nabi seperti ayahandanya, Ibrahim, menikah dengan salah satu putri penduduk Mekah dari al-Quds.

Setelah berabad-abad kemudian, generasi yang berasal dari garis keturunan Jurhum, yaitu Qusay, yang juga menjadi pemimpin bagi kota Mekah, menjadikan garis keturunan nabi terakhir terhubung dari Nabi Ismail, Ibunda Hajar, hingga Nabiyullah Ibrahim.

Buku ini tertulis dengan niat menjelaskan sosok ibun- da mulia Khadijah al-Kubra, yang juga merupakan istri sang utusan terakhir, Muhammad, dan cucu dari Ibunda Hajar yang terlahir berabad-abad kemudian.

Semoga Allah berkenan mencurahkan rida dan rid wan-Nya kepada mereka dan semoga kita yang mewarisinya mampu meneladani kehidupannya dalam guyuran limpahan safaatnya.




Sabtu, 10 September 2016

Bumi Cinta

Muhammad Ayyas atau yang kerap dipanggil Ayyas ini adalah seorang mahasiswa dari Indonesia yang juga merupakan seorang santri salaf . Ia harus melakukan sebuah penelitian di negeri yang paling menjungjung tinggi seks bebas “free sex” yakni Rusia . Ia harus berjuang mempertahankan keimanan , keyakinan , dan akidahnya .

Saat itu Moskwa sedang dalam keadaan musim dingin .  Salju berterbangan dan melayang turun perlahan tidak menghalangi arus lalu lalang orang -orang di bandara Sheremetyevo . Ia dijemput oleh Devid , sahabat SMP dulu . Mereka sudah hampir sembilan tahun tidak bertemu . Setelah beberapa saat bercengkrama satu sama lain , mereka kemudian bergegas menuju apartemen yang disewakan Devid untuk Ayyas selama melakukan penelitian di Rusia beberapa bulan kedepan .

Tanpa Ayyas duga , ia dikejutkan dengan sebuah kenyataan bahwa dirinya harus satu apartemen dengan nonik-nonik Rusia yang berparas sangat cantik . Mereka adalah Yelena dan Linor . Padahal sejak kecil ia tidak biasa dengan hal seperti itu , ia lemah terhadap perempuan cantik . Ia takut imannya akan runtuh jika harus tinggal bersama mereka . Namun menurut Devid , itulah yang terbaik untuk Ayyas . Devid menjelaskan secara detail alasan mengapa Devid memilih apartemen tersebut . Setelah mendengar penjelasan Devid , Ayyas pun mengerti dan mengikuti apa kata Devid .

Sejak saat itulah perjalanan hidup Ayyas dipenuhi dengan banyak godaan . Dari mulai cara berpakaian mereka , sikap , sampai perkataan Linor yang sering sekali mengejek agama Islam . Belum lagi asisten professor yang sangat cantik , menawan dan cerdas . Bayangan wajahnya selalu ada dalam pikiran Ayyas , ia bernama Dr. Anastasia Palazzo . Ayyas merasa cobaan ini sangat berat baginya .

Setelah cukup lama Ayyas tinggal satu apartemen bersama dua orang nonik Rusia itu , Ayyas sangat terkejut karena ternyata mereka itu bukanlah orang baik-baik . Suatu hari , Ayyas memergoki Linor sedang melakukan perzinaan di ruang tamu apartemen mereka bersama seorang anggota mafia Rusia . Bahkan mafia itu sendiri terang-terangan mengajak Ayyas untuk berzina bersama mereka . Namun Ayyas meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya tanpa menghiraukan mereka . Kemudian Ayyas menyalakan laptopnya dan memutar lantunan ayat suci Al Qur’an dengan keras . Karena merasa terganggu , lelaki itu memaki Ayyas sampai timbul perkelahian antara keduanya . Tidak lama setelah itu , ia mengetahui bahwa Yelena adalah seorang pelacur kelas kakap dan merupakan seseorang yang tidak percaya akan adanya Tuhan ( atheisme ) .

Linor semakin membenci Ayyas , banyak sekali cara yang ia lakukan untuk menhancurkan keimanan seorang Ayyas . Berbagai cara ia lakukan untuk menjebak Ayyas .  Mulai dari berpakaian yang tidak wajar di depan Ayyas , masuk kamar kamar Ayyas secara diam-diam , sampai menjebak Ayyas agar menjadi tersangka peledakan bom di sebuah hotel di Rusia . Namun dari sekian banyaknya cara , tidak ada satupun cara yang berhasil meruntuhkan benteng keimanan Ayyas .

Suatu ketika , Yelena mengalami suatu kejadian yang sangat tidak manusiawi . Ia disiksa dan dibuang begitu saja oleh pelanggannya dari sebuah mobil di jalanan . Saat itu salju turum begitu lebatnya . Badan Yelena terasa hancur dan sama sekali tidak ada yang bisa ia gerakan . Saat itu Yelena sedang berada di ujung kematian . Tak ada seorang pun yang menolongnya . Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan , dan pada siapa ia harus minta tolong . Tanpa ia sadari ia mengingat Tuhan . Dalam hatinya ia memanggil nama Tuhan , ia meminta pertolongan kepada Tuhan dengan meneteskan air mata . Tubuh Yelena semakin tertimbun oleh salju . Tiba-tiba ada seorang ibu yang melihatnya , ibu-ibu itu meminta bantuan kepada orang-orang untuk menolong Yelena namun tak ada seorang pun yang mau membantunya . Tak lama kemudian ada seorang pemuda yang mau membantunya yang tak lain adalah Muhammad Ayyas yang kebetulan lewat disana . Akhirnya Yelena pun dilarikan ke rumah sakit terdekat . Dokter mengatakan jika terlambat sedikit saja , nyawa Yelena tidak akan tertolong . Yelena sangat berterimakasih kepada Ayyas karena berkat Ayyas ia dapat selamat . Namun Ayyas menegaskan pada Yelena bahwa yang menolongnya itu bukan Ayyas, tapi itu adalah keajaiban Tuhan . Sejak itulah Yelena mulai percaya akan adanya Tuhan .

Tak lama kemudian Linor harus dikejutkan dengan sebuah kenyataan tentang siapa dirinya sebenarnya . Ia adalah keturunan Palestina , bukan keturunan Yahudi asli . Ia juga hanya seorang anak angkat . Ia mengetahui semua hal itu dari Madame Ekaterina yang selama ini ia anggap sebagai ibu kandunya sendiri . Linor sangat terpukul mendengar hal itu dan seolah tak percaya . Ibunya meninggal pada saat terjadi pembantaian di Sabra dan Sathila , Palestina. Linor menyesal atas semua perbuatannya selama ini sebagai agen Zionis ia merasa sama saja ia  yang membunuh ibu kandungnya sendiri . Tak hanya itu , ternyata orang tuanya adalah pemeluk agama yang selama ini ia sebut sebagai agama primitif yakni Islam . Setelah kejadian itu Linor pun mulai mendalami dan mengkaji Islam .

Devid yang selama ini hidup bebas , ia merasakan hidupnya semakin kacau tanpa arah dan tujuan . Ia meminta Ayyas untuk menuntunnya kembali ke Jalan yang benar . Devid pun kembali mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya . Ia bercerita kepada Ayyas , ia selama ini sudah terlalu bebas hidup dengan perempuan mana saja . Ia sangat tidak kuat jika tidak hidup bersama perempuan . Ayyas pun memberikan solusi agar Devid segera menikah . Ia sempat akan dinikahkan dengan adik seorang Ustad , namun ia merasa tidak pantas menikah dengan adik seorang Ustad yang begitu menjaga kesuciannya . Devid meminta agar Ayyas mencarikannya calon istri . Ayyas menyarankannya dengan Yelena . Tak menunggu lama , Devid pun melamar Yelena dan ternyata lamarannya pun diterima . Akhirnya Yelena mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam , ksemudian melaksanakan pernikahan dengan Devid .

Setelah banyak mencari informasi tentang Islam dan mendalaminya , Linor pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam . Suatu ketika Linor bermimpi bertemu dengan ibu kandungnya . Dalam mimpinya itu , ibu kandungnya berpesan agar Linor menikah dengan seseorang yang memiliki sifat seperti Nabi Yusuf a.s. . Linor terbangun dari tidurnya . Linor bertanya-tanya mengapa ibunya berpesan seperti itu . Ia pun mencari informasi tentang Nabi Yusuf a.s. Setelah mencari cerita tentang Nabi Yusuf a.s. ia pun lansung teringat kepada sosok Muhammad Ayyas yang memiliki sifat persis seperti Nabi Yusuf a.s. . Ia pun beranggapan bahwa orang yang dimaksud oleh ibunya itu adalah Ayyas . Ia pun mencari Ayyas dengan maksud menanyakan apakah Ayyas mau menjadikannya istri . Linor berangkat menemui Ayyas dengan berpakaian muslimah . Ayyas pun sampai tidak mengenalnya . Setelah ia menerangkan bahwa ia adalah Linor , Ayyas terkejut dan sangat bersyukur karena Linor telah bertaubat . Linor pun menyampaikan maksud kedatangannya , namun Ayyas tidak langsung menjawabnya saat itu .

Ayyas tidak kunjung memberikan jawaban , Linor pun pamit dan berharap Ayyas memberikan kepastian keesokan harinya . Ketika Linor sudah keluar , Ayyas berubah pikiran. Ia menerima dan menyanggupinya untuk menjadi suami Linor . Namun Linor sudah terlalu jauh . Ayyas langsung bergegas ke jendela untuk meneriakkan bahwa ia sanggup , tapi Linor semakin jauh dan tak mungkin mendengar suaranya . Dibelakang Linor terlihat sebuah mobil hitam yang melaju ke arahnya . Ayyas melihat orang yang ada di dalam mobil itu membawa senjata api . Ayyas berteriak memperingatkan Linor . Namun terlambat , Doooorrr… tubuh Linor pun langsung jatuh saat itu juga . Ternyata orang tersebut menembak Linor . Ayyas langsung terkulai lemas tak berdaya melihat Linor yang telah jatuh berlumuran darah . Ia pun mengumpulkan segenap tenaga dan berlari menuju Linor yang sudah terkapar . Ia mengangkat Linor ke pangkuannya dan meminta bantuan untuk membawa Linor ke rumah sakit .

Tak lama kemudian ada seorang ibu yang mengendarai mobil di dekat sana , Ayyas pun meminta tolong kepada ibu tersebut untuk membawanya ke rumah sakit terdekat . Ayyas sangat menyesal mengapa ia tidak langsung menjawab permintaan Linor tadi . Dengan penuh penyesalan , Ayyas pun menangis . Isak tangis yang kalau siapa saja yang melihat dan mendengarnya pasti akan tersayat hatinya . Isakan seorang pecinta sejati , yang mencintai karena Allah dan kehilangan pun karena Allah pula .

Download
http://cur.lv/ie53p

Kamis, 01 September 2016

Luka Semalam

Memang sulit untukku gambarkan perasaan ini. Kecewa sedih dan pilu bercampur baur sehingga aku tidak dapat berkata apa-apa saat ini. Bibirku seakan terkunci, Lidahku kelu untuk berkata-kata. Aku merasa ingin selalu menangis dan menjerit sekuatnya agar semua orang tahu perasaanku saat ini. Aku ingin memuntahkan semua kelukakaan yang telah lama membara dihidupku ini. Apakah aku sedang bermimpi? Atau hanya ilusi semata? Namun, aku tau semua ini adalah kenyataan. Sebuah kenyataan yang amat pahit untuk ku telan.

Keputusan umi untuk menerima lelaki itu kembali ke pangkuan kami sangat sukar untuk aku terima. Kenapa Ummi sanggup menerimanya kembali? Sedangkan lelaki itu sudah cukup mengecewakannya. Aku tidak mengerti, namun aku tahu Ummi terlalu menyayangi lelaki itu. Aku tidak ingin Ummi berkorban lagi karena sudah terlalu banyak berkorban untuk lelaki itu dan Ummi selalu terluka pada akhirnya. Kenapa ayah kembali lagi pada saat kami mulai melupakannya?

Kenapa? Apa yang keluargaku lalui selama ini telah banyak memberikan pelajaran kepadaku. Sesungguh- nya hanya Engkaulah yang mengetahui segala apa yang bersarang di dalam hati ini, tentang kepahitan, ketakutan, kepedihan, kesengsaraan, kerisauan, kebaha gian dan tentang tawa ria. Tuhanku, apakah aku terla- lu belajar dari kesalahan atau aku terlalu berhati-hati dengan hidup ini sehingga aku merasa takut sekali untuk menghadapinya lagi? Aku takut ini akan teru- lang lagi. Ya Allah, Berikanlah petunjuk-Mu.

Aku masih ingat kata-kata yang keluar dari mulut Ummi siang tadi. Aku tidak tahu apakah itu berita gembira atau sebaliknya?

"Ayah akan kembali kepangkuan kita, Tina. ?

Wanita yang selama ini sudah cukup banyak berkorban untuk anak-anaknya itu dengan tenang menyampaikan berita itu. Aku tersentak dan tertegun. Aku merasa tidak percaya mendengar kata-kata tersebut. Apakah kata-kata itu hanya sebuah gurauan? Namun raut wajah Ummi tidak menggambarkan sedang bergurau. Aku mencoba waspada dari kelukaan yang mungkin akan datang lagi secara tiba-tiba. Aku tidak mengerti kenapa berita itu yang harus aku terima pada pagi ini. Apakah tidak ada berita lain yang lebih bisa membahagiakan aku sekarang ini?

"Bagaimana dengan Ummi?" Aku bertanya dengan sesekali mendengus perlahan.

Ummi terdiam. Mungkin mengerti dengan apa yang bersarang di dalam hatiku atau menyadari bahwa berita itu tidaklah bermakna bagiku.

Aku mencoba menyembunyikan perasaanku sebab aku tidak mau umi tersingggung dengan sikapku ini. Aku menghampiri umi dan duduk disebelahnya. Suasana di ruang tamu menjadi sunyi seketika.

"Apa pendapat Tina?"

Umi memandangku dengan penuh tanda tanya. Aku ti- dak mampu untuk membalas pandangannya dan Aku pun tidak mampu untuk menjawab pertanyaan yang menurutku sangat sulit ku jawab. Hatiku sangat kecewa
"Ayah sudah banyak berubah Tina. Dia ingin menebus kesalahannya selama ini. Lagipula ayah sudah bercerai dengan wanita itu. Ayah tak bahagia dengan perkawi- nannya itu. Semua itu adalah kesalahan besar bagi ayah, meninggalkan kita dan menikah dengan wanita itu. Ayah ingin kembali ke pangkuan kita Tina" jelas umi

"Jadi, Ummi mau balikan lagi?" Tanyaku.

"Ummi hanya memikirkan anak-anak Ummi. Ummi tahu anak-anak Ummi menginginkan sebuah keluarga yang sempurna dan bahagia seperti orang lain. Ummi tidak ingi anak-anak Ummi hidup tanpa seorang ayah di sisinya. Umi tidak ingin kalian kehilangan kasih sa- yang seorang ayah. Ummi ingin anak-anak Ummi bahagia seperti orang lain. Umi." Ummi tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Ahh aku tahu apa yang Ummi mau katakan. Ummi pasti mau menerima ayah kembali. Mataku mula berkaca-kaca. Hatiku amat pedih sekali seperti diiris dengan pisau.

Ingin menebus kesalahan dulu. Kasih sayang seorang ayah?aku lebih bahagia tanpanya. Jerit hati kecilku.

"Tapi Ummi, sanggupkah Ummi menerima lelaki yang telah banyak mengecewakan kita selama ini? Apakah umi telah lupa semua itu? Anak-anak umi lebih bahagia tanpanya sekarang. Kita dapat hidup tanpanya selama ini. Malah hidup kita sekeluarga lebih baik jika dibandingkan dengan dulu. Kenapa kita menggadaikan semua ini hanya untuk menerima ayah kembali? Kenapa umi?" Bergetar suaraku tidak dapat menahan kesedihan yang selama ini aku coba lupakan.

"Kenapa dia kembali lagi setelah dia tumbuhkan benih-benih kebencian dalam diri Tina, umi. Tina ngak bisa.." Suaraku tersendat karena tidak dapat menahan kesedihan. Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku lagi. Air mataku mengalir dengan deras. Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi sekarang ini. Aku tidak mau umi terluka mendengar setiap butir bicaraku. Kulihat Ummi turut menangis.

"Ummi faham perasaan Tina. Umi tau Tina nggak bisa memaafkan ayah tapi sampai kapan Tina mau terus begini, menyimpan dendam yang tak menguntungkan siapapun?? Malah Tina sendiri yang akan terseksa." bujuk Ummi sambil menyeka air mataku.

Download


Senin, 29 Agustus 2016

Satu Tiket Ke Syurga

~Seorang wanita laksana bunga yang indah dan harum di dalam bejana. Maka hidulah dia dengan lembut, jangan mengasahnya. ~Peribahasa Arab

Saat itu hari Minggu pagi dan ayahku baru saja menerima telepon dari adik perempuanku. Adikku akan melahirkan. Jadi, sudah tentu, kami semua bergegas ke rumah sakit untuk menemuinya di sana.

Beberapa jam kemudian adikku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik, Masyaallah. Rasanya baru kemarin adikku itu, dia sendiri, sih seorang bayi-adik bayiku.

Aku ingat hari pertama dia masuk sekolah. Dengan tas kotak kecil dan wajah lugu, seragam yang lucu, dan rambut diekor kuda, dia melangkahkan kaki ke sekolah untuk pertama kalinya. Rasanya seperti baru dua kedipan mata dan, tiba-tiba saja, dia sudah dewasa! Masyaallah! Aku masih ingat hari-hari dan malam-malam yang kami lewatkan bersama. Dua gadis kecil yang baik dan patuh sekaligus nakal dan bandel, yang kadang membuat ibu kami kesal.

Karena waktu itu kelakuan kami seperti gadis remaja umumnya (perhatikan frasa 'waktu itu'!), kami bisa meng-habiskan waktu berjam-jam untuk memper-bincangkan, merintang waktu dengan cerita-cerita yang sebenarnya tidak banyak bermanfaat bagi kami. Seperti kelompok paduan suara, kami biasa mengenakan baju yang persis sama, saling menggoda dan menghibur dan yang paling asyik adalah bahwa waktu itu adikku selalu meniru apa pun yang kulakukan. Yah, pada masa itu kakaknya adalah idolanya. Lagi pula, apa ada orang yang tidak memuja dan meniru apa saja yang dilakukan saudara-saudaranya yang lebih tua?

Tetapi, seperti kata Cinderella, itu "Dahulu kala." Sekarang, adik bayiku itu sudah jadi ibu dengan bayinya sendiri.

Ini bukan lagi permainan pura-pura yang biasa kami mainkan. Ini sungguhan.

Sebelum adikku melahirkan, aku suka sekali mende-ngarkan cerita-ceritanya tentang bayinya yang akan segera lahir itu. Dia menuturkan perasaannya yang bahagia sebab ada makhluk lain yang sedang tumbuh di dalam dirinya, yang menendang-nendang dan bergerak-gerak. Kadang dia bahkan bisa melihat jari mungil, atau mungkin siku, menyodok dari dalam perutnya.

Sejak awal kehamilan, cinta adikku pada bayinya yang masih dalam kandungan itu begitu jelas dan nyata. Dia memperhatikan makanan dan minumannya, menjaga gerak-geriknya, dan mencemaskan banyak hal lain yang sebelumnya tidak pernah dia pedulikan.

Pantas saja Sophia Loren pernah berkata, "Seorang ibu selalu harus berpikir dua kali, sekali untuk dirinya sendiri dan sekali untuk anaknya."

Itu benar-benar berlaku pada adikku, dan aku yakin juga berlaku pada banyak perempuan lain yang membawa " keajaiban hidup" dalam rahim mereka.

Memang, bayi adalah keajaiban yang demikian menak-jubkan dalam hidup, Masyaallah. Allah telah mengingatkan kita bagaimana kita diciptakan oleh-Nya dalam rahim ibu Ia ciptakan kamu dari satu orang saja, kemudian Ia jadikan darinya istrinya; dan Ia turunkan delapan pasang hewan ternak untukmu. Ia ciptakan kamu dalam perut ibumu, kejadian demi kejadian, dalam tiga selubung kegelapan. Itulah Allah, Tuhanmu, Kepunya- an-Nyalah kerajaan. Tiada Tuhan selain Ia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan? (Az-Zumar 39: 6)

Hari itu para dokter membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit untuk mengeluarkan makhluk mungil pembawa kebahagiaan ini ke dunia. Perawat lalu membawa bayi adikku ke ruang tunggu agar ipar laki- lakiku bisa membisikkan azan dan ikamah ke telinga bayinya yang baru lahir.

Begitulah, aku mendapat kehormatan menjadi salah seorang yang pertama melihat anggota baru keluarga kami. Aku memotretnya untuk kenang-kenangan. Dia tampak begitu murni dan suci. Matanya terpejam, tetapi tangan dan kaki mungilnya bergerak perlahan di bawah selimut yang membungkusnya.

Kukecup dia dengan lembut dan kupejamkan mata sewaktu menghirup keharuman dari Surga itu. Kalian tahulah, bau bayi. Parfum paling harum di seantero dunia! Belum ada perusahaan kosmetik yang sanggup men- ciptakan keharuman yang begitu memesona, mendekati saja tidak. Dan, ketika bibirku menyentuh pipinya yang halus dan lembut, aku sudah jatuh cinta padanya... Itulah mukjizat lain dari Allah-perasaan cinta, Masyaallah.

Beberapa menit kemudian para perawat mendorong adikku keluar dari ruang operasi. Dia masih terbaring di tempat tidur dorong. Dia kelihatan lelah, tetapi wajahnya berseri. Adikku menanyakan bayinya. "Dia cantik dan manis," kataku dan kuberi adikku itu ciuman di pipi. "Selamat, ya." Adikku tersenyum lemah.

Betapa beruntungnya adikku karena sekarang dia sudah diangkat oleh Allah ke kedudukan yang sangat tinggi dalam hidup. Ya, itu betul. Dia sekarang seorang ibu. Ibu adalah status istimewa yang Allah limpahkan kepada perempuan-perempuan pilihan sejak penciptaan manusia pertama kalinya sampai hari ini. Menjadi ibu adalah sesuatu yang diimpikan sebagian besar wanita, namun tidak semua dari kita mendapat kehormatan itu.

Kedudukan yang terhormat ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad (saw) ketika beliau menasihati seorang sahabat agar memperlakukan sang ibu dengan baik.

Mu'wiyah Ibn Jahimah (ra) menuturkan bahwa dia pernah menemui Nabi (saw) dan berkata, "Wahai, Rasulullah! Aku berniat pergi berjihad. Aku datang menemuimu untuk meminta nasihatmu." Nabi bertanya kepadanya, "Apakah ibumu masih hidup?" "Ya," jawab Jahimah. Kemudian Nabi berkata, Teguhlah berbakti kepadanya karena Surga terletak di bawah telapak kakinya." (An-Nasa'i)

Surga! Masyaallah. Coba bayangkan status yang diberikan Allah kepada perempuan-perempuan istimewa yang disebut ibu ini.

Apakah kita sudah benar-benar memahami pentingnya hadis ini? Mampukah kita untuk sekedar mulai memahami dan menghargai kemuliaan dan tingginya status ibu kita? Sanggupkah kita mengerti bagaimana status seorang wanita dinaikkan begitu dia melahirkan seorang anak? Para wanita yang sudah jadi ibu itu pastilah makhluk- makhluk yang sangat istimewa hingga diberi kedudukan yang demikian hebat oleh Allah, bukan begitu?

Suatu kali, Nabi Muhammad (saw) membahas bagaimana kita semua harus menghormati dan mendampingi ibu kita.

Abu Hurairah (ra) berkata: "Seorang laki-laki menemui Rasulullah (saw) dan berkata, Ya Rasulullah, siapakah....
Download

Minggu, 28 Agustus 2016

Kimya Sang Putri Rumi

Kimya adalah perempuan lugu dengan kecerdasan emosional yang mengagumkan. Ia dilahirkan di lereng pegunungan Taurus, Kimya menghabiskan masa kecilnya dalam keterasingan yang membahagiakan. Kedua orang tua Kimya sangat menyayangi Kimya karena mereka merasa Kimya memiliki suatu Keistimewaan dari anak mereka yang lain. Kimya mempunyai dua orang kakak yang sangat menyayanginya Tahir dan Aishel. 

Saat Edvokia mengandung Kimya ia sempat bertemu dengan seorang pengelana saat musim dingin malam itu Edvokia dan suaminya mempersilahkan orang tua itu masuk ke rumah mereka. Mahsoud begitu orang itu memperkenalkan dirinya. Lalu lelaki itu memberitahu pada Edvokia bahwa nama anak yang sedang dikandungnya Harus diberi nama Kimya dan ia juga sempat berkata “ Masa depan gemilang menantinya”. Setelah Edvokia melahirkan ia pun memberi nama anaknya Kimya. Kimya banyak menghabiskan waktunya dengan hanyut dalam dunia ekstasenya. Gadis yang selalu ingin tahu dan dia selalu mencoba untuk mencari setiap jawaban yang belum terjawab.

Kimya pernah bertemu dengan seseorang dalam mimpinya yang kemudian membuat ibunya Edvokia takut akan berpisah dengan anaknya. Kimya banyak belajar menulis dari Pater Chrisostom dan Ahmed seorang pemuda yang datang dari Konya, Ahmed berkelana setelah mendengar kata-kata dari Maulana. Dari Ahmed, Kimya banyak mendengar tentang Konya dan belajar menulis. Setelah Pater Chrisostom meninggal Kimya mendapat sebuah surat wasiat dari Pater Chrisostom yang berisi Kimya harus sekolah di Konya. 

Edvokia yang tahu suaminya Farouk menyetujui Kimya untuk pergi ke Konya sangat sedih karena ia akan kehilangan putri yang sangat ia Sayangi. Sebelum Kimya berangkat Farouk sakit, sehingga Kimya menunda untuk pergi ke Konya. Setelah Farouk sembuh dia sendiri yang mengantar Kimya ke Konya, tapi begitu sampai di Biara yang diminta Pater Chrisostom ternayata Suster Andrea yang ia cari tidak ada.

Kimya dan Farouk Bertemu dengan Maulana Jalaluddin Rumi yang kemudian mengangkatnya sebagai murid sekaligus anak. Kerra adalah istri Maulana yang sangat baik kepadanya dan sudah Kimya anggap seperti ibunya sendiri. Kimya selama tinggal bersama keluarga Maulana tidak pernah sama sekali pulang ke kempat orang tuanya. Di Konya Kimya mempunyai dua orang sahabat Hatija dan Nuran. Alauddin sering menggangu dan menggoda Kimya. Alauddin adalah anak Maulana yang nomor dua, yang mempunyai sifat sangat implusif dan pemarah. 

Suatu hari Maulana bertemu dengan seorang pengelana berasal dari Tabriz dan pengelana itupun akhirnya menjadi sahabat tercintanya. Syams adalah sahabat Maulana yang sangat di benci oleh murid-murid Maulana bahkan Alauddin putra Maulana yang tak rela Ayahnya menghabiskan waktu dengan Syamsuddin yang di anggap mereka adalah Iblis yang membuat Maulana tak mau mengajar mereka lagi di Madarasah. Kimya akhirnya di minta oleh Maulana untuk menikah dengan Syams, sahabat tercinta Rumi setelah Syams kembali dari Damaskus. 

Selama menikah Kimya merasa hidupnya berbeda di bingung apakah dia bahagia atau sedih. Banyak orang yang mengatakan bahwa pernikahan Kimya dengan Syams tidak bahagia, walaupun Kimya sempat merasakan tidak bahagia, tapi ternyata ia mulai merasakan kebahagian dan mengerti kenapa Syams bertingkah seperti itu, disaat kesehatannya semakin menurun Kimya mulai merindukan orang tuanya. Setelah kematian Kimya, Syams kembali menghilang untuk selamanya. Banyak asumsi yang mengatakan kalau Syams dibunuh dan ada juga yang mengatakan kalau Syams dibunuh oleh persekongkolan yang di rancang oleh Alauddin. 

Beberapa sejarah mengatakan Syams kembali ke Tabriz, sementara sebuah sumber menyebutkan, Syams menuju kota Khuy, sebuah kota tempat Syams meninggal saat hendak melanjutkan perjalanan menuju Tabriz. Satu hal yang pasti bahwa, pada suatu malam yang dingin di bulan Desember 1247 di Konya, Syams menghilang dan tidak pernah terlihat kembali.

Bisa jadi kematian Kimya merupakan salah satu faktor yang memicu kepergian Syams. Tetapi, bagaimanapun, hatinya hancur karena kematian Kimya orang yang di kasihinya. Mungkin saja ini penyebab utamanya. Bisa di katakan bahwa kematian Kimya adalah sebuah tanda, sebuah isyarat berakhirnya sebuah hubungan lainnya, seperti halnya hubungan Syams dan Maulana yang di barat lebih dikenal sebagai Jalaluddin Rumi.

Transformasi yang dialami Kimya memang sudah pada tempatnya; tugasnya di dunia ini telah usai. Dengan cara yang hampir sama, transformasi Rumi pun demikian adanya, tapi tugasnya baru saja akan di mulai. Supaya Rumi menjalankan tugas itu dengan baik, Syams harus pergi sebab kebersamaannya hanya akan merintangi Rumi. Hidupnya adalah Perjalanan mengungkap takdir.

Download


Hafalan Shalat Delisa

Novel ini menceritakan seorang anak perempuan berumur enam tahun yang bernama Delisa. Delisa adalah seorang anak yang lugu, polos, dan suka bertanya. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dalam keluarganya, kakak-kakaknya bernama Cut Fatimah, Cut Zahra, dan Cut Aisyah. Mereka berdomisili di Aceh, tepatnya di Lhok Nga. Abinya bernama Usman dan uminya bernama Salamah.

Delisa mendapatkan tugas dari Ibu Guru Nur, yakni tugas menghafal bacaan sholat yang akan disetorkan pada hari minggu tanggal 26 Desember 2004. Motivasi dari Ummi yang berjanji akan memberikan hadiah jika ia berhasil menghafalkan bacaan sholat membuat semangat Delisa untuk menghafal. Ummi telah menyiapkan hadiah kalung emas dua gram berliontin D untuk Delisa, sedangkan Abi akan membelikan sepeda untuk hafalan sholatnya jikalau lulus. 

Pagi itu hari minggu tanggal 24 Desember 2004, Delisa mempraktikkan hafalan sholatnya di depan kelas. Tiba-tiba Gempa bumi berkekuatan 8,9 SR yang disertai tsunami melanda bumi Aceh. Seketika keadaan berubah. Ketakutan dan kecemasan menerpa setiap jiwa saat itu. Namun, Delisa tetap melanjutkan hafalan sholatnya. Ketika hendak sujud yang pertama, air itu telah menghanyutkan semua yang ada, menghempaskan Delisa. Shalat Delisa belum sempurna. Delisa kehilangan Ummi dan kakak-kakaknya. Enam hari Delisa tergolek antara sadar dan tidak. Ketika tubuhnya ditemukan oleh prajurit Smith yang kemudian menjadi mu’alaf dan berganti nama menjadi prajurit Salam. Bahkan pancaran cahaya Delisa telah mampu memberikan hidayah pada Smith untuk bermu’alaf.

Beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. Sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat Delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. Kaki Delisa harus diamputasi. Delisa menerima tanpa mengeluh. Luka jahitan dan lebam disekujur tubuhnya tidak membuatnya berputus asa. Bahkan kondisi ini telah membawa ke pertemuan dengan Abinya. Pertemuan yang mengharukan. Abi tidak menyangka Delisa lebih kuat menerima semuanya. Menerima takdir yang telah digariskan oleh Allah.

Beberapa bulan setelah kejadian tsunami yang melanda Lhok Nga, Delisa sudah bisa menerima keadaan itu. Ia memulai kembali kehidupan dari awal bersama abinya. Hidup di barak pengungsian yang didirikan sukarelawan lokal maupun asing. Hidup dengan orang-orang yang senasib, mereka korban tsunami yang kehilangan keluarga, sahabat, teman dan orang-orang terdekat. Beberapa bulan kemudian, Delisa mulai masuk sekolah kembali. Sekolah yang dibuka oleh tenaga sukarelawan. Delisa ingin menghafal bacaan sholatnya. Akan tetapi susah, tampak lebih rumit dari sebelumnya. Delisa benar-benar lupa, tidak bisa mengingatnya. Lupa juga akan kalung berliontin D untuk delisa, lupa akan sepeda yang di janjikan abi. Delisa hanya ingin menghafal bacaan sholatnya.

Akhir dari novel ini, Delisa mendapatkan kembali hafalan sholatnya. Sebelumnya malam itu Delisa bermimpi bertemu dengan umminya, yang menunjukkan kalung itu dan permintaan untuk menyelesaikan tugas menghafal bacaan sholatnya. Kekuatan itu telah membawa Delisa pada kemudahan menghafalnya. Delisa mampu melakukan Sholat Asharnya dengan sempurna untuk pertama kalinya, tanpa ada yang terlupa dan terbalik. 

Hafalan sholat karena Allah, bukan karena sebatang coklat, sebuah kalung, ataupun sepeda. Suatu ketika, Delisa sedang mencuci tangan di tepian sungai, Delisa melihat ada pantulan cahaya matahari sore dari sebuah benda, cahaya itu menarik perhatian Delisa untuk mendekat. Delisa menemukan kalung D untuk Delisa dalam genggaman tangan manusia yang sudah tinggal tulang. Tangan manusia yang sudah tinggal tulang itu tidak lain adalah milik Ummi Delisa. Delisa sangat terkejut.

https://www.mediafire.com/?41q0sk4mtyn7p1x
https://www.dropbox.com/s/okttyrl9pkdcamz/Hafalan%20Shalat%20Delisa.apk?dl=0

My Name Is Red

Judul : My Name is Red (Namaku Merah Kirmizi)
Penulis : Orhan Pamuk
Penerjemah : Atta Verin
Penyunting : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Desember 2006
Tebal : 725 hlm

Sejarah mencatat, Sultan Ustmaniyah Murat III (1571-1595) dikenal sebagai sultan yang paling tertarik pada buku dan seni miniatur. Di masa kekuasaannya ia memerintahkan para miniaturis (pembuat ilustrasi buku) kenamaan di negerinya untuk membuat Kitab Keterampilan, Kitab Segala Pesta dan Kitab Kemenangan yang dikerjakan di Istanbul. Para miniaturis Ustmaniyah yang paling menonjol, termasuk Osman sang Miniaturis dan murid-muridnya, ikut andil dalam pengerjaan buku ini.

Penggalan sejarah inilah yang oleh Orhan Pamuk (54 thn) - peraih nobel sastra 2006 asal Turki - dijadikan sebagai ide utama novel My Name is Red . Dikisahkan saat itu Sultan menugaskan Enisthe Effendi salah seorang miniaturis (pembuat ilustrasi buku) terkenal untuk membuat sebuah buku rahasia yang dihiasi ilustrasi-ilustrasi indah untuk merayakan kejayaannya. Tindakan sultan ini memotong jalur resmi dimana biasanyaTuan Osman selaku Iluminator Kepala Istana yang diberi wewenang untuk mengerjakan buku-buku Sultan. Dalam mewujudkan proyek sultan ini Enisthe dibantu oleh empat miniaturis lainnya yang masing-masing dikenal dengan julukan ; Elok, Zaitun, Bangau, dan Kupu-kupu.

Novel ini diawali dengan terbunuhnya Elok , salah satu dari keempat miniaturis yang bekerja dibawah pimpinan Enisthe Effendi. Pembunuhan ini menimbulkan keresahan diantara para miniaturis lainnya karena mereka mennganggap hal ini ada kaitannya dengan proyek pengerjaan buku Sultan yang dibuat dengan gaya Eropa yang pada masa itu dianggap sebagai penistaan terhadap ajaran Islam.

Lalu dikisahkan Hitam, salah satu murid dan keponakan Enisthe kembali ke rumah pamannya sepulang dari pengelanannya ke berbagai tempat selama dua belas tahun. Sejak lama Hitam telah menaruh hati pada Shekure, putri “Enisthe”-nya. Sepulang dari pengelanaannya pun ia masih menyimpan cintanya pada Shekure. Sayangnya Shekure telah menikah dan mempunyai dua orang anak. Namun belum pulangnya suami Shekure selama bertahun-tahun dari peperangan membuka peluang bagi Hitam untuk merebut Shekure ke pelukannya.

Di tengah usaha Hitam merebut cinta Shekure dan belum terungkapnya siapa pembunuh Elok, Enisthe terbunuh secara mengenaskan. Namun hal ini tak menghalangi niat Hitam untuk menikahi Shekure. Dengan siasat liciknya akhirnya Hitam berhasil menikahi Shekure, namun Shekure belum mengijinkan Hitam untuk tidur seranjang dengan dirinya hingga Hitam berhasil menemukan siapa pembunuh ayahnya.

Ketika kematian Elok dan Enisthe sampai ke telinga Sultan. Ia memerintahkan Hitam selaku murid Ernisthe dan Tuan Osman selaku kepala bengkel miniaturis Istana mengungkap siapa pembunuhnya. Mereka diberi waktu 3 hari untuk menemukan pembunuhnya, jika gagal nyawa mereka dan para miniaturis lainnya akan jadi gantinya.

Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pembunuhnya adalah gambar seekor kuda dengan hidung yang terpotong. Hal ini menyeret ketiga miniaturis lainnya (Bangau, Zaitun, Kupu-kupu) menjadi tersangka utama. termasuk Untuk memperkaya penyelidikannya Hitam dan Tuan Osman diizinkan untuk masuk kedalam jantung Istana dimana terdapat ruang penyimpanan harta yang berisi buku-buku berilustrasi indah Kitab Para Raja yang berisi lukisan-lukisan menakjubkan, yang diimpikan bisa dilihat sekali saja oleh para miniaturis selama seumur hidupnya.

Novel My Name is Red ini bisa dikatakan novel yang kaya akan perspektif. Novel ini bisa dibaca sebagai novel sejarah peradaban islam, misteri, intrik sosial, dan teka-teki filosofis. Pamuk mengemas kisah dalam novel ini dengan sangat menarik. Narator dalam novel ini berganti-ganti dalam setiap babnya, masing-masing diberi judul sesuai dengan naratornya seperti : Aku Adalah Sesosok Mayat, Aku Akan Disebut Seorang Pembunuh, Aku Dinamai Hitam, bahkan benda-benda matipun menjadi narator dalam novel ini seperti : Aku adalah Sekeping Uang Emas, Aku Adalah Merah. dll. Masing-masing narator bertutur, bercerita dan berargumen mengenai peristiwa pembunuhan dan keadaan di sekelilingnya menurut sudut pandangnya masing-masing. Ada yang realis ada pula yang surealis. Uniknya walau si pembunuh turut menjadi narator, identitas si pembunuh tetap tak terduga hingga bab-bab terakhir.

Di halaman-halaman awal pembaca seolah diajak mengambil kesimpulan bahwa novel ini adalah novel misteri karena Pamuk membukanya dengan bab “Aku Adalah Sesosok Mayat”. Kalimat permbuka novel inipun memikat dan mengundang penasaran pembacanya karena dinarasikan oleh tokoh yang telah meninggal.

Kini aku hanyalah sesosok mayat, sesosok tubuh di dasar sebuah sumur. Walau sudah lama sekali aku menghembuskan napas terakhirku dan jantungku telah berhenti berdetak, tak seorang pun tahu apa yang terjadi padaku, selain pembunuh keji itu. (hal 17)

Namun Pamuk tak hanya mengajak pembacanya untuk larut dalam cerita misteri pembunuhan, di bagian berikutnya pembaca diajak beralih ke kisah percintaan yang membara antara Hitam dan Shekure, lalu pembaca juga akan disuguhkan debat filosofis yang menarik akibat benturan budaya Timur dan Barat khususnya dalam hal gaya melukis dimana di jaman itu melukis dengan gaya kaum Frank (Eropa) yang menggunakan metode perspektif tiga dimensi dimana benda digambar sebagaimana terlihat oleh mata telanjang dianggap penistaan terhadap agama islam yang hanya boleh membuat gambar/lukisan dengan teknik dua dimensi saja.

Namun yang mengejutkan dari semua itu – sebuah akibat yang wajar dalam memperkenalkan pemahaman Frank dalam lukisan kita – adalah menggambarkan potret sultan kita dengan ukuran sesungguhnya, dan wajahnya dilukiskan dengan semua detailnya! Tepat seperti yang dilakukan para pemuja berhala. (hal 684)

Download

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...