ads

Tampilkan postingan dengan label Novel Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Oktober 2017

Tidak Hilang Sebuah Nama

Novel ini menurut Mimin : Awalnya mengalir sederhana, kemudian sadis dan diluar batas kewajaran. Penulisnya cukup pintar dengan mengambil setting di Australia, sebab kalau mengambil setting di Indonesia akan terkesan aneh hehe....

Keseluruhan ceritanya cukup menarik meski banyak janggalnya, tapi yah namanya juga cerita, kalo gak dibikin jangggal pasti gak seru. So, nikmatin aja!

Sedikit Nukilan

la sudah membaca belasan, bahkan hampir puluhan buku. Setengah yakin, namun ia juga terkadang tergelitik untuk mencari celah-celah kesalahannya. Tapi mengapa ajaran Islam sangat meyakinkan baginya? Hingga dadanya seperti dipukuli gada raksasa. Telinganya berdengung. Mungkin ini rasanya bila orang baru saja menemukan kebenaran.

"Aku ingin masuk Islam...," ucap Olive, sembari menggigit bibirnya.

Fateema tersenyum. "Alhamdulillah".

Olive sedikit menolak rengkuhan Fateema. "Tapi aku belum siap memakai kerudung. Bolehkah?"

Fateema diam sebentar.

"Tidak boleh, ya?"

"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu itu? Masuk agama Islam dan menjalankan segala syariatnya?"

"Tentu..., tapi...," Olive menggigit bibirnya lagi, "akankah aku memakai kerudung saat aku belum benar- benar siap? Dan ketakutanku adalah aku akan setengah hati melakukannya. Setengah hati, berarti aku tidak sepenuhnya rela. Dan tanpa kerelaan, apa pun yang kulakukan akan menjadi cepat hilang."

Fateema tahu apa inti dari perkataan Olive. Kemudian ia teringat banyak pula temannya yang memakai kerudung, tetapi tidak mematuhi syariat tata cara berkerudung yang sebenarnya. Dan jika ketakutan Olive seperti itu, bukankah itu berarti Olive mempunyai semacam kecemasan bila dirinya hanya melakukannya setengah-setengah? Dan ada kemauan secara sungguh- sungguh untuk menerapkan syariat Islam. Lagi pula bagi seorang mualaf seperti Olive, yang selama ini benar-benar jauh dari bimbingan Islam, rasanya perubahan yang bertahap sedikit demi sedikit adalah yang paling baik untuknya.

"Lalu sampai kapan kamu akan benar-benar menjadi seorang Muslimah sejati?"

"Sampai aku sudah mendapatkannya. Aku akan mencari."

Fateema mengangguk. Sebuah keputusan yang logis. la kenal betul siapa Olive. Seorang gadis dengan kemauan keras yang tak akan berhenti berusaha sampai apa yang diinginkannya tercapai.

Olive berkaca pada seorang Fateema, yang meskipun tidak berwajah cantik namun tetap disegani banyak orang. Mula-mula ia mengira ini dikarenakan kepandaian Fateema. Ternyata ia juga baik hati, ramah, dan santun dalam perbuatannya.

"Agama memberi suatu kesucian atas prinsip moralitas, seperti kejujuran, keadilan, persaudaraan...."

"Tapi bukankah kita bisa melakukan itu tanpa memeluk agama?" potong Olive.

Fateema tersenyum. "Benar! Namun tanpa keimanan agama yang kuat, konsepsi-konsepsi seperti itu akan kehilangan kesuciannya. Berbuat baik hanya akan menjadi suatu rekomendasi, bukan kewajiban. Dengan kata lain, kita bebas untuk berbuat baik atau sebaliknya. Tidak ada yang mengikat."
"Berarti agama akan mengekang kita dengan kewajiban seperti itu?"

"Benar. Apa kamu tidak merasa bahwa kita diciptakan untuk saling menghormati dan berbuat baik pada sesama? Aku kira, itu adalah suatu prinsip yang universal."

Olive diam Dalam hati ia mengakui kebenaran kata-kata Fateema. Makin mantaplah ia dalam memeluk Islam -sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya hingga beberapa bulan yang lalu.

Sayangnya, satu bulan kemudian Fateema mendadak harus kembali ke negaranya. Perpisahan yang mengharukan Padahal Fateema mengatakan, ia akan mengajarkan mengaji. Sebelum pulang, Fateema menghadiahkan sebuah kerudung mams berwarna merah muda.

"Pakailah! Aku ingin melihatmu memakainya." Fateema tersenyum di antara matanya yang sembab. Olive memmang kain kerudung itu di tangannya.

Inikah saatnya? Olive bertanya dalam hati.

"Setidaknya sebelum pulang, aku ingin melihatmu untuk memakainya, biarpun hanya sekali. Meski setelah ini kaucopot kembali, dan meneruskan pencarianmu. Walaupun sejujurnya aku tidak mengharapkan itu."

Ah..., sesungguhnya aku pun telah lelah mencari. Biarlah setengah dari keraguan ini kukorbankan Dan dengan pengorbanan ini akan kucari setengah dari keraguan itu -dan berharap akan ketemu jalan keluarnya.

Olive mengangguk. Dibiarkan saja Fateema menyematkan kain itu di kepalanya.

"Cantik...," puji Fateema.

https://www.mediafire.com/file/99hqbq8g873d05d/Tidak%20Hilang%20Sebuah%20Nama.rar

Kamis, 20 Juli 2017

Twilight

Judul : Twilight
Pengarang : Stephanie Meyer
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : October 5, 2005
Jumlah halaman : 864
halaman Jenis buku : Novel Remaja
Tentang tiga hal yang aku yakini kebenarannya, pertama Edward adalah vampire. kedua, ada bagian dari dirinya –yang aku tidak tahu seberapa dominan bagian itu– haus akan darahku dan yang ketiga aku jatuh cinta padanya teramat dalam dan tanpa syarat”

Bella Swan, gadis cantik yang memiliki masalah dalam kepercayaan diri dan koordinasi tubuhnya sendiri, baru saja pindah dari Phoenix, Arizona yang mayoritas bercuaca panas ke Forks, Washington yang mayoritas cuacanya hujan untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie, setelah ibunya, Renée, menikah dan tinggal bersama suami barunya, Phil, seorang pemain bisbol. Setelah pindah ke Forks,Bella bertemu dengan anak angkat keluaga Cullen. Emmet, Rossalie, Jasper, Alice dan Edward. walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, namun mereka sangat mirip. empat saudara dengan ketampanan dan kecantikan yang luar biasa, berkulit pucat,memiliki keanggunan yang tidak tertandingi, dan kemisteriusan.

Dalam kelas biologi, Bella tidak memiliki pilihan kecuali harus duduk dengan Edward Cullen. respon Edward yang amat sangat tidak ramah, membuat Bella merasa kalau Edward membencinya. selain itu di hari pertama, Edward selalu menjaga jarak dengannya, menahan napas dan selalu memandangi Bella dengan tatapan aneh. seperti sesuatu yang tidak enak tercium dari diri Bella. Setelah itu Edward menghilang selama seminggu dan membuat Bella makin merasa kalau pria itu sangat membencinya tanpa alasan yang jelas.

Edward kembali muncul di kelas biologi. Bagai memiliki kepribadian ganda, dia begitu ramah dan sopan kepada Bella saat itu. gadis itu menyadari ada yang berubah pada diri Edward, yaitu warna matanya. pertama kali ia melihat Edward, pria tampan itu memiliki warna mata hitam kelam, dan sekarang warna matanya bagai emas cair dan berpendar.

Suatu pagi, saat salju turun, Bella hampir celaka karena salah satu van temannya –Tyler– hampir menggilas tubuh gadis itu, kalau Edward tidak segera menolongnya. sebelumnya ia melihat Edward berdiri tepat di samping mobilnya dan mengamatinya dari jarak yang cukup jauh. namun tiba-tiba saat insiden itu terjadi, Edward sudah menolongnya dalam gerakan yang amat cepat dan yang membuat Bella kaget, pada Van yang hampir menabraknya pun terdapat sebuah lekukan misterius, seakan van tersebut telah membentur benda yang sangat keras (bahu Edward). dan lengkukan aneh itu sangat pas pada bahu Edward. Bella amat bingung dan yakin bahwa ada sesuatu pada diri Edward yang menandakan bahwa mungkin dia bukan manusia biasa. seperti seorang pahlawan –superhero– yang mungkin menurut teorinya terkena radioaktif atau bahkan kryptonite. Bella yang selalu penasaran menanyakan hal itu pada Edward, namun Edward tidak mau menjelaskannya dan kembali bersikap kasar dan semakin menjaga jarak dengan Bella.

Setelah mendiamkan Bella selama beberepa hari,Edward kembali bersikap baik dan sopan. Ia meminta maaf dan mengatakan pada Bella bahwa sebaiknya mereka tidak usah berteman, karena dirinya bukan orang yang baik dan bella menyangkalnya. Bella yakin bahwa Edward berperilaku kasar padanya bukan karena ia jahat tapi karena ia menyembunyikan sesuatu –seperti Edward memakai topeng–. Bella mengajak Edward untuk ikut bersamanya dan teman-teman yang lain untuk pergi ke pantai reservasi suku Quilute, first beach, La Push, namun dengan sopan Edward menolaknya dengan alasan bahwa terlalu ramai.

Di First Beach, Bella bertemu Jacob Black. yang merupakan teman kecilnya yang 1 tahun beberapa bulan lebih muda, namun Bella sudah lupa. Lauren, salah satu teman bella yang tidak terlalu suka padanya mulai memprovokasikan tentang ‘mengapa Bella tidak mengajak Edward Cullen’. Hal tersebut memancing salah satu teman Jacob Black menyinggung tentang ‘Keluarga Cullen tidak datang kemari –reservasi suku Quileute–. Hal ini menarik kecurigaan Bella. Gadis cerdik itu berusaha mangajak Jacob jalan-jalan berdua dengannya lalu merayu Jacob agar mau menjelaskan maksud perkataan temannya tadi. karena Jacob menganggap cerita tentang sukunya adalah suatu khayalan yang konyol dan Bella pun berjanji tidak akan membocorkan ke siapa pun, maka ia pun menceritakannya yaitu tentang legenda sukunya. Suku Quileute adalah keturunan serigala dan mempunyai satu-satunya musuh yaitu vampir. Menurut kepercayaan mereka hal itu berhubungan erat dengan keluarga Cullen dimana keluarga Cullen adalah vampir-vampir yang membuat perjanjian dengan kakeknya Jacob –Efraim Black– untuk tidak pernah menginjakkan kakinya ke daerah sukunya.

Di rumah, Bella mencari -cari informasi tentang Vampir karena diapun belum percaya sepenuhnya, namun ia hanya menemukan kecocokan dengan apa yang diceritakan Jacob. hingga cerita seram itu menghantui mimpinya. Ia pun melihat Edward berkilauan, memiliki taring dan dengan sorot mata berbahaya sedang memanggilnya. namun Bella sama sekali tidak takut dan saat itulah Jacob muncul. secara tiba-tiba jacob berubah menjadi serigala kecoklatan yang sangat besar dan menerkam Edward. Saat terbangun dari mimpi buruk itu, Bella sadar, bahwa ia tidak bisa kehilangan Edward. dan apapun sebenarnya Edward itu tidaklah penting baginya. keesokan harinya, adalah pagi yang cerah bagi forks. matahari bersinar terang dan tanpa mendung, dan keluarga cullen menghilang. Saat itulah Bella menunggu di taman sekolah, tapi Angela pun memberitahukan padanya kalau setiap cuaca cerah, keluarga Cullen tidak akan muncul karena mereka –seluruh keluarga Cullen– pergi Hiking.

Bella sudah lama ingin membeli beberapa buku. Kebetulan Angela dan Jessica ingin pergi ke Port Angels, ia pun ikut serta. Pertama ia menemani Angela dan Jessica ke toko baju –Angela memintanya untuk memberi masukan terhadap apa yang akan mereka beli– , lalu setelah selesai memilih baju, sepatu dan pernak-pernik lainnya, Bella memisahkan diri dari mereka untuk pergi ke toko buku. Namun toko buku itu ternyata tidak seperti yang ia harapkan –terlalu misterius dan tidak mungkin menjual buku yang ia cari– maka ia pun beranjak dari toko itu untuk mencari-cari toko buku yang lain. Bukannya menemukan yang ia cari, malah ia tersesat dan bahaya pun mendatanginya. Ia diganggu oleh beberapa preman yang sedang mabuk. Mereka menjebaknya hingga sampai pada tempat dimana ia ttidak bisa melarikan diri lagi. Saat terjepit itulah Bella memikirkan strategi apa saja yang bisa menolong dia –seperti menendang tulang selangka atau meniju wajah para preman itu karena mau lari pun pasti ia jatuh sedangkan berteriak ia tak sanggup mengeluarkan suara karena tenggorokannya tercekat–. Saat itulah tiba-tiba Edward datang dengan Volvo silvernya, melaju kencang dan tiba-tiba berhenti di depan para preman itu. Pintu penumpangnmya dibuka dan Edward menyuruh Bella masuk. Demikianlah Edward menyelamatkan Bella lagi. Bella menatap wajah edward yang kelihatan sangat kalut berbahayadan mengancam, namun Edward meminta Bella untuk mengalihkan perhatiannya. Bella menyinggung tentang ia akan membunuh Tyler dengan menabrakkan mobilnya ke van Tyler karena ia selalu mengganggu Bella akibat rasa bersalahnya menabrak Bella tempo hari. Hal itu pun berhasil mengalihkan perhatian Edward. Mereka kembali ke toko Port Angels setelah Edward suasana hati Edward agak terkendali dan menemui kedua teman Bella. Berhubung Jessica dan Angela telah selesai makan direstoran, Edward pun meminta izin pada mereka untuk mengajak Bella makan malam karena ia khawatir akan Bella. Pada saat di restoran, para pelayan terkagum-kagum akan ketampanan Edward dan mulai merayunya. Edward pun tidak mengidahkan pelayan tersebut, matanya hanya terpaku pada Bella saja. Ia meminta tempat duduk yang bersifat privasi. Saat memesan makanan, Edward memesan dua Coke –yang kedua-duanya disodorkan kepada Bella juga–, Bella pun memesan Mashroom Raviolli dan memakannya sekalian meminta penjelasan yang masuk alak terhadap Edward tentang hal-hal mengejutkan yang selalu ia lakukan untuk menyelamatkan hidup Bella. Dengan desakan Bella, Edward menceritakan bagaimana caranya menemukan Bella yaitu dengan membaca pikiran dan mengikuti aromanya. Ia pun mengaku kalau ia tak bisa lagi menjauh dari Bella karena ia merasa tidak sanggup lagi untuk berpura-pura di depan Bella. Ia pun menjelaskan cara kerja bakat yang dimilikinya pada Bella dan meminta Bella memberitahu apa yang ada di benaknya –Edward tidak bisa membaca pikiran Bella–. Sebagai imbalannya ia meminta Bella menceritakan suatu teori baru tentangnya.

Dan Bella mengutarakan apa yang di ketahuinya dari Jacob tentang Legenda suku Quileute dan segala yang diberitahukan Jacob padanya. Edward menegang dan terpaksa mengakui kebenaran dari cerita itu. Edward adalah seorang Vampir, keluarganya adalah keluarga vampir.

“Aku adalah predator terbaik di seluruh dunia. Segala sesuatu tentang diriku menarik dirimu. suaraku, wajahku, bahkan aromaku. Seolah-olah aku perlu semua itu! Seperti kau bisa berlari lebih cepat daripada diriku saja!Seperti kau bisa melawanku saja” (edward cullen)


Selasa, 11 Juli 2017

Wizard At Work : Sang Penyihir Beraksi

SANG PENYIHIR sedang sibuk dengan urusannya sendiri—kurang lebih begitu ketika seorang penyihir wanita menjatuhkan sebuah kutukan padanya—atau mungkin juga tidak begitu.

Kejadiannya seperti ini: Sang penyihir adalah seorang pria muda yang dengan kekuatan sihir sering menjelma menjadi pria tua. Penampilan seperti itulah yang diharapkan khalayak ramai dan seorang penyihir. Ia mengelola sebuah sekolah untuk para penyihir muda dan selama satu tahun ajaran sekolah, ia berpenampil an seperti pria tua berjanggut. Alasannya, ia merasa kurang dihormati bila para murid tahu dirinya hanya sedikit lebih tua dari mereka. Jadi, begitu tahun ajaran sekolah berakhir, ia merasa lega karena bisa melepaskan penyamarannya dan bersantai—seperti ketika kita melepaskan sepatu yang sangat ketat dan pakaian indah yang kita khawatirkan akan terkait atau ketumpahan sesuatu.

Setelah melewati musim dingin yang benar-benar buruk dan musim semi yang tiba lebih telat dari biasanya, sang penyihir mengirim semua muridnya pulang. Hari ini adalah hari pertama liburan musim semi. Ia—dengan kekuatan sihirnya— mengirim dirinya sendiri ke Desa Saint Wayne the Stutterer. Saint Wayne bukanlah seorang tokoh suci yang penting dan desa itu sendiri berukuran kecil. Sang penyihir kenal sebagian besar penduduk desa itu dan sebagian besar dari mereka mengenal si penyihir dalam wujud aslinya. Ia perlu membeli persediaan untuk kebunnya, termasuk sebuah pacul baru. Ia sedang mengantri di toko pandai besi ketika seorang penyihir wanita—yang tak dikenalnya—tiba-tiba muncul bersa ma ke-tiga anaknya.

Muncul dengan kekuatan sihir.

Seperti begini: Detik ini, tidak ada— detik berikutnya, ada.

Mereka muncul tepat di depan sang penyihir kurang lebih lima detik sebelum si pandai besi selesai dengan pelanggan sebelumnya, mengangkat muka, dan berta nya, "Siapa berikutnya?"

"Aku," kata si penyihir wanita sambil menghampiri si pandai besi.

Sang penyihir tak ingin berburuk sang-ka. Ia percaya bahwa si penyihir wanita— dengan kekuatan sihir— telah mengirim dirinya ke mana pun yang diinginkan dan secara tidak sengaja telah memotong antrean di depannya. Ia bahkan bersedia membiarkan wanita itu dilayani terlebih dahulu karena ia sendiri tidak sedang terburu-buru. Ia ingin menghabiskan hari-hari nya dengan tenang, damai, dan penuh kehangatan.

Anak-anak penyihir wanita itu—dua laki-laki dan satu perempuan— sedang menyodok, menabrak, mengejek, dan menggoda satu sama lain. Anak laki-laki yang lebih tua sangat jahil. Anak yang lebih kecil sangat cengeng, sementara yang perempuan suka merengek. Ketiga anak itu tak henti-hentinya berteriak, "Bu!" dengan suara melengking dan menjengkelkan— seperti, "Bu, dia melakukannya lagi!" dan "Bu, dia yang mulai!" dan "Bu, sudah selesai atau belum?"

Si penyihir wanita mengabaikan tingkah anak-anak nya sambil menjelaskan kepada si pandai besi tentang gerendel pagar yang ingin ia perbaiki.
 


Senin, 29 Agustus 2016

Rare Beast : Hewan Langka

Suatu hari menjelang berakhirnya musim panas, Ellen memperhatikan tamannya melalui jendela yang sangat kotor dan melihat bahwa tanamannya menjadi layu dalam udara yang panas dan lembab disiang hari. Sudah berminggu-minggu dia tidak menyirami tanaman-tanaman itu atau memberi pupuk pada anggrek taringnya, sehingga daun-daunnya terkulai seolah-olah hendak menyentuh tanah dan berusaha merayap untuk memperoleh makanan dan tempat berlindung. Ellen sama sekali tidak perlu keluar, sebagaimana yang sudah dia rencanakan, untuk memangkas pohon-pohon cemara. Jadi, ketika sebagian besar anak-anak muda di Nod's Limbs berenang di kolam renagn atau bermain-main di sungai, Edgar dan Ellen tinggal di dalam rumah mereka yang gelap untuk bermain petak-umpat.

Rumah mereka terdiri dari beberapa lantai termasuk sebuah ruang semi-bawah tanah, ruang bawah tanah, loteng dan loteng-di atas-loteng. Meskipun rumah itu sangat sempit sehingga masing- masing lantai hanya terdiri dari dua atau tiga ruangan, sebenarnya ada banyak sekali ruangan di rumah ini. Setiap ruang dipenuhi dengan lemari, sofa serta tirai, dan ruang-ruang kecil yang kotor yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian dalam permainan petak-umpat sepanjang musim panas.

Orang tua Edgar dan Ellen sudah lama pergi untuk melakukan perjalanan "keliling dunia" yang panjang. Paling tidak begitulah yang dikatakan dalam surat pendek yang mereka tinggalkan. Tanpa seorang pun yang membersihkan, rumah yang luas itu semakin dipenuhi sarang laba-laba dan gulungan debu, menjadikannya tempat yang sempurna bagi permainan mereka setelah ditambah dengan simpul- simpul yang unik buatan mereka berdua.

Dalam permainan petak-umpat biasa, permainan selesai begitu salah satu pemain menemukan temannya yang sedang bersembunyi. Nah, menurut cara Edgar dan Ellen, permainan tidak hanya berakhir setelah mereka menemukan teman yang bersembunyi. Permainan baru berakhir setelah teman yang sedang bersembunyi itu dapat ditaklukkan. Artinya, si pencari harus terlebih dahulu menemukan tempat persembunyian dan kemudian harus bergulat untuk menaklukkan teman yang bersembunyi itu. Usaha penaklukan ini bisa menjadi perjuangan yang suit karena kedua saudara kembar ini sudah saling mengetahui gerakan gulat masing-masing, dan biasanya permainan ini berakhir dengan mengikat tangan dan kaki si pencari atau teman yang bersembunyi dengan tali yang selalu mereka bawa.

Tentu saja, begitu salah satu dari si kembar ini terikat, maka berarti dia sudah kalah dan berada dalam kekuasaan pemenang. Biasanya pemenang hanya akan menunjukkan sedikit sekali belas kasihan sebelum dia mulai mencari tempat persembunyian yang baru dan membiarkan si kalah berjuang
sendiri untuk melepaskan ikatannya.

Ellen amat mahir dalam menggunakan gigi serta kukunya yang tajam untuk memotong ikatan, sementara Edgar telah mempraktekkan cara yang tenang yang digunakan oleh seniman terkenal dalam bidang meloloskan diri. Namun demikian, biasanya keduanya membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk melepaskan diri dari ikatan mereka. Dan satu jam adalah waktu yang cukup lama untuk menemukan tempat persembunyian lain yang baik.
Download



Empress Orchid

Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada "3 ta", yaitu Tahta, Harta dan Wanita... Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria). Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri. 

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya. Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan. Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. 

Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti. "Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri," sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya. Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya... 

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit. Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu. 

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar. Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai "Puteri kebajikan nan tak tertandingi!" 

Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan. Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani. Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing. 

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka. Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai "Kota Terlarang" penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri. Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi! Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang. Anchee Min dalam bukunya seolah menyiratkan kebenaran dari sebuah fakta, bahwa sejarah itu dibuat oleh sang pemenang....

Download

Charlie : Si Jenius Dungu

Judul buku : Charlie Si Jenius Dungu
Penulis : Daniel Keyes
Penerbit : UFUK
Cetakan I : Maret 2009
Cetakan II : Mei 2009
Cetakan III : Agustus 2009
Tebal : 457 hal

Terlahir dengan IQ dibawah rata – rata bukanlah keinginan setiap orang. Dimana dengan IQ yang dibawah 100 membuat seseorang tidak dapat mengerti tentang sesuatu hal yang dilakukannya atau segala hal yang berada dilingkungan sekitarnya. Tingkah laku seseorang yang mengalami hal seperti ini cenderung bersikap seperti anak – anak yang belum mengerti apa – apa walaupun usianya sudah menginjak dewasa Ia akan tetap menjadi seorang yang polos yang tidak mengerti apapun.

Dalam buku novel yang berjudul Charlie Si Jenius Dungu ini menggambarkan suatu perjalanan hidup seorang anak laki – laki yang terlahir hanya dengan IQ 68. Dimana Ia mendapat perlakuan tidak adil dari orang tuanya yang merasa malu karena mempunyai anak seperti Charlie selain itu Ia juga harus selalu menjadi bahan olokan orang – orang atas kebodohannya. Namun penderitaan yang dialami Charlie tidak semata – mata membuat Ia putus asa, hingga akhirnya Ia berusaha bagaimana caranya Ia menjadi pandai seperti layaknya orang – orang normal lainnya.

Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang pria bernama Charlie yang terlahir dengan IQ 68 yang terbuang dari keluarganya hingga akhirnya Ia di asuh oleh seorang yang mempunyai toko roti bernama Paman Doner dan memperkerjakannya disana. Hingga pada suatu hari seorang dokter dan proffesor yang pernah melakukan percobaan mengoperasi seekor tikus hingga menjadi tikus yang jenius menawarkan Charlie untuk melakukan operasi serupa hingga Ia bisa menjadi jenius seperti tikus yang diberi nama Algernoon. 

Akhirnya operasi pun berjalan lancar dan dengan keseriusan dan kerja kerasnya mempelajari segala hal, Charlie pun berubah dari Charlie si dungu menjadi Charli si jenius. Namun kejeniusan yang dimilikinya tidak kelak membuat Ia disukai oleh banyak orang seperti yang Ia harapkan selama ini yaitu diperlakukan layaknya manusia normal dan disenangi oleh banyak orang. Dan karena kejeniusan yang dimilikinya secara tiba – tiba pun Ia harus kehilangan pekerjaanya ditoko roti dan teman – temanya. Hingga akhirnya kejeniusan yang dimilikinya perlahan menghilang dan Charlie pun kembali menjadi Charlie yang dahulu sebelum dioperasi yaitu Charlie si pria dungu yang baik dan polos. Dengan kembalinya Charlie seperti yang dulu menyadarkan Charlie bahwa Ia lebih baik menjadi Charlie seperti ini dimana hidupnya terasa tenang serta Ia dapat kembali bekerja di toko roti Paman Donner dan kembali berkumpul dengan teman – temanya.

Dalam novel ini memberikan motivasi yang baik bagi orang – orang diluar sana yang mengalami nasib serupa seperti charlie dimana orang yang mempunyai IQ hanya 68 dapat menjadi pandai berkat usaha dan kerja keras serta keyakinan yang kuat. Dan bukan berarti dengan keterbelakangan seperti ini dapat membuat seseorang hidup sendiri tetapi masih ada yang ingin berteman dengannya. Selain itu banyak lagi pelajaran yang dapat kita petik dari cerita ini bahwa hidup apa adanya menjadi diri sendiri walaupun berkekurangan lebih baik dari pada hidup dengan berbagai kelebihan akan tetapi merubah diri menjadi orang lain dan sesuatu yang didapat dengan cara instant tidak akan mendapatkan hasil yang sempurna dan kekal.

Buku karya Daniel Keyes seorang penulis Bestseller The Minds of Billy Miligan ini terjual lebih dari 5 juta kopi dan meraih HUGO AWARD dan NEBULA AWARD. Buku ini diawal – awal cerita terdapat banyak kata – kata dengan penulisan yang salah, ini merupakan tulisan dari tokoh utama dalam novel ini yang berusia 32 tahun dengan IQ yang sangat rendah, yang awalnya tidak mampu menuliskan kata – kata dengan benar. Cerita dalam novel ini dituliskan berdasarkan bentuk Laporan kemajuan yang secara bertahap akan terlihat perubahan demi perubahan kecerdasan seorang Charlie yang dilihat dari Laporan kemajuan yang ditulis olehnya. 

Download

Minggu, 28 Agustus 2016

The Interpretation Of Murder

Interpretation of Murder (selanjutnya disebut dengan Interpretation) termasuk dalam jenis fiksi sejarah (historical fiction) yang kembali ngetrend pasca kontroversi yang diciptakan Da Vinci Code. The Dante Club (Matthew Pearl), The Historian (Elizabeth Kostova), dan Nefertiti – The Book of Dead (Nick Drake), adalah beberapa contoh lain fiksi sejarah yang juga hadir belakangan ini. Fiksi sejarah pada umumnya memiliki kelebihan dalam menampilkan data dan atmosfer sejarah yang kuat sebagai basis tulisannya. Cerita-cerita yang dapat dikategorikan sebagai fiksi sejarah biasanya menggunakan tokoh-tokoh sejarah yang nyata sebagai pelaku sebuah peristiwa fiksi, meskipun tak jarang pula hanya sekedar menggunakan alur waktu sejarah tertentu sebagai latar belakang.

Interpretation mencoba menggapai keseimbangan antara yang fakta dan yang fiksi: tokoh utama dalam novel ini adalah Stratham Younger, seorang psikoanalis fiktif dari Amerika yang merupakan pengagum berat Freud dan menjadi ‘tuan rumah’ rombongan Freud selama seminggu kunjungan mereka ke New York. Pada awal kunjungan mereka itulah sebuah pembunuhan, dan sebuah percobaan pembunuhan, terjadi. Modus operandinya serupa: seorang wanita ditemukan tewas dengan tubuh dicambuki, disayati, leher yang dijerat, dan nyaris tanpa pakaian. Pada percobaan yang kedua, sang pelaku terpaksa kabur sebelum sempat mencabut nyawa korbannya. Korban kedua ini, seorang gadis muda, tiba-tiba kehilangan suara dan tidak mampu mengingat apapun dari kejadian itu. Maka Younger pun harus mengerahkan segenap kemampuan psikoanalisisnya untuk mengangkat peristiwa itu dari alam bawah sadar si gadis, kunci utama untuk dapat menangkap si pelaku pembunuhan berantai itu sebelum ia beraksi lagi.

Meskipun peristiwa dan tokoh utamanya fiktif, ini bukan berarti tokoh-tokoh sejarah kita sekedar menjadi tempelan dan pemanis cerita. Freud ikut aktif terlibat membimbing Younger yang kurang percaya diri dalam melakukan terapinya pada Nora Acton, sang korban. Selain itu, Freud dan teman-temannya juga mendapat porsi besar dalam cerita-cerita paralel yang tak kalah menarik. Plot lain yang juga ada dalam Interpretation berkisar pada sebuah kelompok misterius yang tidak menyukai ajaran baru yang dibawa Freud. Segala cara, termasuk sabotase, teror, dan fitnah, digunakan untuk menggagalkan terbitnya buku terjemahan Freud dalam bahasa Inggris, juga ceramahnya di Universitas Clark. Dalam plot ini juga terungkap konflik yang dialami Freud dengan ’putra mahkota’nya sendiri, Jung, yang berujung pada perpisahan mereka sebagai sahabat dan kolega. Plot-plot sekunder ini bertaut sangat baik dengan plot utama Interpretation dari awal hingga akhirnya tanpa berat sebelah atau terasa terlalu panjang.

Jika ada hal lain yang bisa dikatakan mengenai pengembangan cerita dalam Interpretation, maka itu adalah ritmenya yang cepat, hampir-hampir seperti film (saya tidak heran jika dalam beberapa bulan ke depan hak adaptasi film dari novel ini dibeli oleh Hollywood). Peralihan dari satu adegan ke adegan lain yang tidak lama; berpindah-pindahnya lokasi cerita dari satu tempat eksotis ke tempat lain yang tak kalah uniknya; pengembangan cerita yang banyak dibangun dari dialog dan aksi tokoh-tokohnya; kesemua itu membantu pembaca untuk memvisualisasikan Interpretation dalam kepala mereka. Belum lagi banyaknya plot twist dan cliffhanger membuat pembaca akan terus terdorong untuk beralih ke halaman selanjutnya untuk mengetahui nasib tokoh cerita. Hanya saja, ada yang menjadi korban dari ritme yang cepat ini. Salah satunya adalah Detektif Littlemore, polisi New York yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi. Tidak jelas apakah pengarang mencoba menempatkannya sebagai pendamping tokoh utama atau hanya tokoh sekunder. Ia banyak melakukan aksi-aksi yang menggerakkan jalan cerita Interpretation, namun karakterisasinya terkesan kurang digarap dengan matang dan dan plot-plot minor mengenai dirinya terlalu cepat diakhiri.

Satu hal lagi yang layak diperhatikan dari usaha pertama pengarang dalam menulis fiksi sejarah ini adalah kepatutan dan pertanggungjawabannya. Ia tidak berusaha menciptakan sesuatu yang ”memukau nalar dan mengguncang iman.” Biarpun fiktif, segala sesuatu yang seharusnya ’nyata’ dalam buku ini mengalir dengan cukup wajar. Dinamika terapi yang dilakukan Younger, misalnya, memang merupakan sesuatu yang lumrah terjadi dalam sesi-sesi psikoanalisis (kasus Nora Acton sendiri diadaptasi dari kasus Ida Bauer yang nyata dihadapi Freud). Dialog-dialog Freud, Jung, dan Ferenczi, juga banyak diambil dari karya-karya maupun biografi mereka sendiri. Tak lupa di akhir novelnya, pengarang memberikan keterangan yang sangat informatif mengenai bagian mana dari Interpretation yang sungguh-sungguh nyata, diadaptasi atau didramatisasi, dan sepenuhnya fiksi. Di tengah maraknya penulis ala Dan Brown yang mengumbar klaim kebenaran palsu, pertanggungjawaban Jed Rubenfeld harus dipuji.

Akhir kata, Interpretation pantas disimak oleh dua segmen pembaca: Orang-orang yang berkecimpung di bidang psikologi, atau setidaknya yang mempunyai minat besar pada ilmu psikologi, kemungkinan besar akan tertarik membaca lebih jauh untuk mengetahui bagaimana sebuah karya fiksi menampilkan tokoh-tokoh yang sudah terlebih dahulu anda kenal lewat karya-karya nonfiksi. Namun untuk anda yang tidak mengenal mereka ataupun buta sama sekali mengenai psikologi, jangan kuatir; Interpretation tetap sama mengasyikkannya dibaca sebagai sebuah thriller, dan anda sekaligus juga dapat sedikit mengetahui sejarah, prinsip, dan metode yang digunakan dalam psikoanalisis.

Download

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...