ads

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juli 2018

Muhammad Al-Fatih 1453

Berkata Abdullah bin Amru bin Ash: “Bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah untuk menulis, lalu Rasulullah ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Maka Rasulullah menjawab, ‘Kota Heraklius terlebih dahulu, yakni Konstantinopel” (HR. Ahmad)

Oleh karena itu, ekspedisi Sultan Mehmed II bukanlah ekspedisi yang biasa, ekspedisi yang dipimpinnya kali ini adalah ekspedisi kerinduan selama 825 tahun. Ekspedisi ini adalah puncak dari kekerasan niatnya atas Konstantinopel, nama yang telah memenuhi benaknya selama 23 tahun lamanya. Nama yang juga akan menghantarkannya menjadi panglima terbaik yang sempat diisyaratkan oleh Muhammad Rasulullah dari lisannya. 

“Sungguh Konstatinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya.” (HR. Ahmad)
Bagi kaum Muslim, nama Konstantinopel berarti kemuliaan yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam bisyarah mereka. Ramai dari kaum Muslim akan menyiapkan jiwa dan harta mereka untuk menjadi pasukan yang membebaskannya. Mental kaum Muslim pun telah dari awal dididik untuk menjadi seorang ksatria yang mempunyai tugas untuk mengelola dunia dan seisinya.

Pada awal pembentukan para sahabat, Rasulullah senantiasa mengarahkan visi mereka menjadi visi global, yaitu pembebasan seluruh dunia. Bagi kaum Muslim, Konstantinopel adalah penantian 825 tahun dan para syuhada telah menyirami tanah itu dengan darah suci mereka untuk menumbuhkan kemenangan di tanah itu maka tidak heran apabila janji Allah dan Rasul ini menjadi suatu sumber energi yang tidak terbatas, menyalakan api pengorbanan dan jihad fii sabilillah dalam setiap masa dan 5 setiap kepemimpinan.

Konstantinopel sendiri bukanlah sebuah kota yang lemah. Posisinya sebagai ibukota Byzantium, pewaris satu-satunya imperium Romawi menjadikannya memiliki semua teknologi perang dan kejayaan sistem militer Romawi yang sempat memimpin dunia, wilayah lautnya sangat luas dan armada lautnya menjadi yang terbaik pada masanya. Tembok Konstantinopel mempunyai prestasi selama 1.123 tahun menahan 23 serangan yang dialamatkan kepadanya. Hanya sekali saja tembok bagian lautnya pernah ditembus oleh 4 pasukan salib pada 1204, selain itu semua serangan sukses dinetralkan pasukan pertahanannya. Wajarlah penduduk dan pasukan Konstantinopel merasa berada di atas angin ketika Sultan Mehmed mengepung Konstantinopel. 

Mengapa momen ini terjadi, bagaimana kejadiannya dan apa yang terjadi setelahnya adalah sesuatu yang menjadi topik pembahasan dalam buku ini. Buku ini mengisahkan secara detail tentang pembebasan Konstantinopel dan menggambarkan sejelas-jelasnya kepribadian Mehmed II Al-Fatih dan keyakinannya pada janji Alllah dan Rasul-Nya. Tulisan ini bertujuan untuk mengupas apapun yang terjadi dalam momen pembebasan Konstantinopel dan bagaimana seharusnya mental seorang Muslim yang diberrtuk oleh Islam. Ini adalah sebuah cerita tentang keksatriaan Muslim dan keperkasaan pasukan kaum Muslimin. Ini adalah sebuah penuturan tentang masa lalu dan masa depan.

Kebanyakan kaum nasionalis fanatik memandang pengepungan dan pembebasan Konstantinopel pada 1453 sebagai permasalahan yang terjadi antara Turki yang diwakili oleh Utsmani dan Byzantium yang diwakili oleh Konstantinopel. Ini adalah reduksionisme salah kaprah. Turki sendiri adalah sebuah istilah yang baru dikenal setelah muncul Republik Turki setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah tahun 1924, sebelum itu kaum Turki tidak pernah menyebut diri mereka dengan Turki. Mereka menyebut diri mereka hanya Muslim. Maka sesungguhnya Utsmani sendiri adalah perwakilan dari kaum Muslim dan Byzantium adalah perwakilan dari dunia Kristen.

1453 tidak hanya momen yang merekam konflik antara Byzantium dan Utsmani, tetapi sesungguhnya adalah momen yang menjadi wadah pembuktian kaum Muslim akan agama yang benar dan pembuktian janji Allah dan Rasul-Nya. 

1453 sesungguhnya adalah puncak benturan yang terjadi di antara Barat dan Timur, Kristen dan Islam yang telah mengakar semenjak masa Rasulullah Muhammad. 1453 adalah sebuah masa depan yang telah lalu, sebuah kemenangan yang telah terjadi semasa Rasulullah masih berada di tengah-tengah para sahabatnya. 1453 bukanlah kemenangan Turki sehingga bukan hanya Turki yang patut berbangga dengan pembebasan Konstantinopel. 1453 adalah sebuah momen yang harus menjadi inspirasi bagi setiap Muslim akan jati diri mereka. Sebuah janji Allah yang yang menjadi kenyataan.[]

Download

Jumat, 08 Desember 2017

Tentara Langit Di Karbala

Ketika Imam Ali terbaring sakit, mendekati ajal yang siap menjemputnya akibat pukulan telak dari pembunuh yang berlumuran dosa, sebagian sahabat memintanya agar dia bersedia menentukan pengganti dari putra-putra dan keluarganya seteleh dia wafat. Namun, Imam Ali menolak dan menganjurkan mereka untuk memilih sendiri seseorang yang mereka sukai dan ridhai.

Memang, Imam Ali tidak pernah berwasiat kepada salah satu pun anak-anaknya untuk menjadi khalifah, tetapi di sana ada wasiat lain yang menyibukkan jiwanya. Dia menyimpannya untuk anak-anaknya tersebut. Imam Ali memanggil Hasan dan Husain kepadanya, dan berkata,

“Aku berwasiat kepada kalian berdua untuk bertakwa kepada Allah. Janganlah kalian mencari dunia, meskipun ia mencari kalian Janganlah bersedih terhadap dunia yang hilang dan kalian. Berbuatlah kebaikan. Jadilah kalian musuh orang yang zalim dan penolong bagi orang yang dizalimi.”

Sungguh, kata-kata yang pantas bagi pemiliknya dan wasiat yang tepat bagi pemberinya.

***

Orang-orang berkumpul di sekelilingnya. Pandangan dan hati mereka tertuju kepada satu sosok yang didambakan untuk menjadi khalifah pengganti. Mereka pun menggelar sumpah untuk memberikan baiat kepadanya.

Dia adalah lelaki mulia, Hasan ibn Ali, putra tertua Imam Ali.

Hasan pun menerima baiat setelah prosesi acara shalat jenazah dan pemakaman ayahnya.
Hasan menerimanya dengan penuh keterpaksaan karena mereka tidak memberikan hak kepadanya untuk memilih, dan tidak menerima alasan apa pun untuk menolak. Dengan cepat, Qais ibn Sa’ad bin Ubadah, pahlawan Anshar dan Islam berdiri memberikan baiat untuk dirinya. Lalu diikuti oleh khalayak ramai dan golongan-golongan yang berdatangan.

Kondisi masih belum aman untuk Hasan dan kondisi pada saat itu sangat jauh dan ketenangan dan ketenteraman.

Kabut hitam yang menyelimuti, membuatnya harus menerima baiat. Kekhalifahan adalah pengorbanan besar diantara sekian pengorbanan yang dilakukannya. Namun, ada sesuatu yang disembunyikan, hingga buat Hasan merasa sangat berat untuk menerima kekhalifahan ini.

Hal itu adalah kecintaan Hasan yang sangat mendalam terhadap perdamaian, dan ramalan Rasulullah kepadanya ketika masih kecil. Yaitu pada suatu hari nanti Allah akan menghentikan penumpahan darah umat Islam dikarenakan oleh dirinya. Sahabat-sahabat Rasulullah masih teringat jelas hari itu, ketika Rasul menaiki mimbar ditemani Hasan, cucunya yang masih kecil, yang berjalan tertatih-tatih. Rasulullah menggendongnya dan mendudukkannya di sampingnya kemudian berkata,

“Cucuku ini adalah seorang kesatria. Dengan dirinya, mungkin Allah akan mendamaikan dua golongan umat Islam yang sedang berseteru.”

Sekarang, datanglah waktunya, waktu yang tepat untuk menunjukkan kebenaran ramalan ini.

Sekarang, marilah kita lihat Amirul Mukminin, Hasan ibn Ali, ketika menyikapi masalah dengan dua pertimbangan:

Tentara Langit

Senin, 24 Juli 2017

Proses Pembentukan Negara Dalam Islam

Judul : Proses Pembentukan Negara Dalam Islam
Penulis : Syaikh Abul A'la Al-Maududi
Penerbit : Pustaka LSI
Tahun : 1990

Bersama ini kami sajikan kepada para pembaca sebuah buku berharga karya Syuikh Abui A’la Al-Maududi. Buku ini beliau tulis setahun sebelum diproklamasikannya negara Pakistan, sebuah negara yang dimaksudkan sebagai Laboratorium Umat Islam pada abad modern. Negara ini merupakan perwujudan ide Muhammad Iqbal yang disambut dengan antusias oleh Ali Jinnah, seorang pemimpin besar muslim di anak benua India pada dekade 30-an sampai 50-an.

Terhadap gagasan mulia di atas Abul A’la Al-Maududi menyampaikan berbagai kritik, karena ia meragukan masa depan negara Islam yang dibentuk tidak sesuai dengan proses yang dijalankan oleh Rasulullah dengan para sahabatnya. Di dalam memberikan kritiknya ini Abui A’la Al-Maududi menjelaskan seeara filosofis, historis, dan operasional lahirnya sebuah negara, baik negara itu Islam, kapitalis, sosialis, dan lain sebagainya.

Maka untuk dapat memahami dengan baik tulisan Abui A'la Al-Maududi ini, kami persilakan para pembaca mengkaji dengan cermat uraian-uraiannya. Buku ini merupakan terjemahan bebas dari karya beliau yang berjudul Manhaj Inqilabil Islam. Dan dalam judul bahasa Indonesianya Proses Pembentukan Negara Dalam Islam -Sebuah Analisa Sejarah Nabi.

Harapan kami buku ini anda baca dengan tenang dan bersikap kritis. Karena buku ini adalah merupakan sualu analisa dan dapat dianggap sebagai suatu ijtihad penulisnya mengenai proses pembentukan masyarakat Islam di dalam hidup bernegara. Karena itu boleh jadi ijtihad penulisnya benar dan boleh jadi keliru. Dan janganlah sekali-kali buku ini dinilai sebagai indoktrinasi, apalagi dianggap sebagai usaha menebarkan benih pemberontakan atau kegiatan subversif sebab Islam mempunyai sejarah panjang dan sumber ajaran yang otentik sebagaimana disampaikan dan dipraktekan oleh Rasulullah dan diteruskan oleh para khulafaur rasyidin. Karena itu Islam memiliki karakteristik yang jelas terbuka untuk dikaji setiap saat. Termasuk di dalam objek kajian ini adalah berdirinya negara Islam yang pernah didirikan oleh Rasulullah di Madinah dan kemudian meluas wiyahnya dibawah pimpinan para Khulafaur Rasyidin. Fakta yang semacam ini tentu tidak dapat kita hapuskan dari sejarah dunia walaupun banyak orang tidak menyukainya.

Urgensi kami mengetengahkan pembahasan yang disajikan di dalam buku ini adalah untuk meluruskan pikiran-pikiran yang salah terhadap Islam oleh umat Islam sendiri. Karena melakukan introspeksi adalah suatu pekerjaan yang berat dan membutuhkan kejujuran, di samping keluasan ilmu. Sebab kita menyaksikan bahwa Islam saat ini terlihat kumuh akibat kebodohan umatnya sendiri. Untuk menghilangkan salah faham umat Islam terhadap ajaran Islam ini, khususnya mengenai negara, maka buku ini kami terbitkan.

Rasanya perlu umat Islam belajar berlapang dada untuk menerima kritik dari dalam. Karena kritik semacam ini lebih bernilai nasehat dan menggugat ketidakjujuran diri kita sendiri di dalam mempraktekkan ajaran Islam. Sehingga kita perlu melakukan perenungan sejenak untuk menilai, apakah pengakuan kita sebagai muslim sudah benar atau justru kita ini merupakan musuh Islam dalam selimut? Untuk menguak semua ini, tulisan Syaikh Abul A’la Al-Maududi ini ada gunanya untuk kita renungkan.


 

Sabtu, 01 Juli 2017

Adam 31 Meter

Pada mulanya saya tidak percaya Nabi Adam tingginya 30-an meter. Namun, berkat KH Ahmad Syahid (Mbah Syahid) Kemadu almarhum, saya percaya seratus persen, one hundred percent, (mi’ah fî al-mi’ah)! Sebelumnya tanpa saya beritahu, Mbah Syahid sudah tahu bahwa saya: tidak percaya!
Mbah Syahid berkata:

“Hadits bahwa Bapak Adam tingginya 30-an meter itu benar adanya dan benar-benar dari Kanjeng Nabi Muhammad. Kitab-kitab kunthet (kecil) yang memuat keterangan demikian pun benar adanya. Sampeyan harus percaya, bahwa beliau dan Ibu Hawa memang betul-betul amat tinggi. Kalau tidak, waktu hendak duduk berdampingan di atas Jabal Rahmat yang tingginya belasan meter tentu beliau berdua harus lebih dulu mencari tangga. Tapi tidak, beliau berdua ya langsung duduk begitu saja, sebab mereka memang betul-betul amat tinggi. Sunan Kalijaga mengenang hal ini dengan mengajarkan tradisi pengantin laki-laki dan perempuan agar duduk di kursi yang tinggi (orang Jawa menyebutnya “padhi-padhi”)!”

“Meskipun para ahli zaman sekarang, belum menemukan bukti adanya manusia yang tingginya puluhan meter, tapi soal ini sungguh ilmiah. Bapak Adam turun di Gunung Himalaya, Ibu Hawa di Makah! Makam Ibu Hawa di Jeddah. Ibu Hawa tingginya 28 meter. Sampeyan harus percaya!”

Seperti itulah kejadiannya, Mbah Syahid dengan persis membaca pikiran saya soal “keanehan”/musykilah hadits tentang tinggi badan Bapak Adam. Alhamdulillah, saya seka- rang tidak minder lagi membaca Teori Evolusi dengan segala kontroversinya.

Saya justru menjadi penggemar berat kajian tentang “manusia” purba. Karena tampak bagi saya, sebenarnya amat jelas dunung (proporsi dan porsi masing-masing) soal “manusia” purba dan manusia keturunan Adam! Keduanya berbeda nasab/lineage atau diskrit/terpisah secara genetik. Bagi saya, konyol kalau orang percaya bahwa “manusia” purba itu kemudian berevolusi menjadi manusia modern, seperti Darwin! Konyol juga kalau orang menolak fakta bahwa “manusia” purba pernah ada, seperti Harun Yahya!

Saya tidak akan malu membagi pengalaman tentang Mbah Syahid itu dan mengakui beliau adalah seorang jenius- keramat yang memulai dan membimbing wacana penting soal “manusia purba”, evolusi, dan manusia keturunan Adam ini.

Kepada pembaca, saya ingin berbagi “kenikmatan” memahami evolusi dan menemukan bukti-bukti formalnya dalam Al-Qur’an tanpa harus terjebak dalm arus pemikiran Darwinisme.

---> Download Disini <---


Sabtu, 17 Juni 2017

Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah

GARIS keturunan Bani Utsmani bersambung pada kabilah Turkmaniyah yang mendiami Kurdistan, pada awal abad ke-7 H (abad ke-13 M). Mereka berprofesi sebagai penggembala. Akibat serangan orang-orang Mongolia di bawah pimpinan Jengis Khan ke Irak dan wilayah-wilayah Asia Kecil; Sulaiman, kakek dari Utsman melakukan hijrah tahun 617 H/1220 M untuk menyelamatkan diri. Bersama kabilahnya, dia meninggalkan Kurdistan menuju Anatolia dan menetap di Kota Akhlath. Sulaiman sendiri meninggal tahun 628 H/1230 M. Dia digantikan salah seorang puteranya bernama Urthughril yang terus bergerak sampai mencapai Barat Laut Anatolia. Bersamanya terdapat sekitar 100 kepala keluarga yang dikawal lebih dari 400 penunggang kuda. 

Tatkala Urthughril, ayah Utsman, melarikan diri bersama keluarganya yang berjumlah sekitar 100 keluarga menghindari serangan orang-orang Mongolia, tiba-tiba dia melihat dengan jelas sebuah keributan. Tatkala mendekati lokasi keributan itu, disana dia mendapati satu pertempuran sengit antara kaum muslimin dan orang-orang Nasrani. Ketika itu, pendulum kemenangan berada di pihak orang-orang Byzantium. Melihat kenyataan tersebut, hati Urtughril terdorong untuk menolong saudara-saudaranya kaum muslimin. Bantuan ini ternyata menyebabkan kemenangan di pihak kaum muslimin atas orang-orang Nasrani. 

Seusai pertempuran, komandan pasukan Saljuk memberi penghargaan atas sikap dan bantuan Urtughril bersama rombongan. Dia memberikan sebidang tanah di perbatasan Barat Anatolia, di dekat perbatasan Romawi. Selain itu, dia diberikan wewenang menaklukkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Dengan demikian, pemerintahan Saljuk telah berhasil membentuk sekutu baru dalam berjihad melawan orang-orang Romawi. Persekutuan antara Saljuk dan negeri baru itu terjalin kuat, adanya satu musuh bersama (common enemy).

Aliansi itu terus terjalin kuat selama masa hidup Urtughril. Urtughril sendiri meninggal tahun 699 H/1299 M. Setelah meninggal dia digantikan oleh anaknya yang bernama Utsman. Dalam menjalankan roda pemerintahan, dia mengikuti kebijakan ayahnya dalam memperluas wilayah di negeri-negeri Romawi.

Pada tahun 656 H/1267 M, Utsman anak Urtughril lahir. Utsman inilah yang kemudian menjadi nisbat (ikon) kekuasaan Khilafiah Utsmaniyah. Tahun kelahirannya bersamaan dengan serbuan pasukan Mongolia di bawah pimpinan Hulaku yang menyerbu ibukota Khilafah Abbasiyah, Baghdad. Penyerbuan ini merupakan tragedi paling mengenaskan dalam sejarah kaum Muslimin.

Tentang kejamnya serbuan Hulaku itu, Ibnu Katsir menjelaskan, "Mereka datang menyerbu Baghdad, membunuh siapa saja yang bisa mereka bunuh baik laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, orang jumpo, maupun remaja. Saking ketakutan, banyak orang yang bersembunyi beberapa hari di dalam sumur, di tempat-tempat binatang buas, tempat-tempat kotor, atau sama sekali tidak berani keluar rumah. Ada sebagian orang yang berusaha bersembunyi di dalam toko-toko, lalu mereka menutupkan pintu. Namun pasukan Mongol membuka pintu dengan paksa, baik dengan cara mendobrak atau membakar. Kemudian mereka memasuki toko-toko itu dan menyeret orang-orang di dalamnya ke atas atap-atap rumah, lalu dibunuh disana sehingga darah mengalir demikian derasnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Demikian pula orang-orang yang sembunyi di dalam mesjid, tempat-tempat pertemuan, semuanya dibunuh. Tak ada yang selamat kecuali mereka yang berasal dari kalangan Ahli Dzimmah, yaitu Yahudi orang-orang Nasrani dan orang-orang yang meminta perlindungan pada mereka.”




Senin, 29 Agustus 2016

Tuhan, Alam, Manusia


Dipandang secara keseluruhan, sains modern merupakan penemuan yang unik. Meskipun merupakan produk peradaban Barat, dewasa ini sains modern dan turunannya, teknologi, dieksplorasi dengan penuh gairah oleh semua budaya dan masyarakat di seluruh dunia. Dalam langkah majunya yang penuh kemenangan, sains modern mampu menghapuskan semua cara yang lain dalam mengeksplorasi alam, setidak-tidaknya dalam pengertian praktis. Kita tak perlu melakukan penelitian bertahun-tahun untuk membuktikan aspek ke- semestaan sains modern ini: dari Islamabad hingga Jeddah dan dari Beijing hingga Niamey, penelitian ilmiah kontemporer didasarkan pada landasan dan metode yang sama seperti yang ditemukan di universitas atau laboratorium penelitian Barat yang mana pun. Jelas bahwa semata-mata kehadiran sebuah spektometer NMR di Makkah tidaklah menjadikannya islami, sebagaimana keberadaan ribuan ilmuwan Muslim di laboratorium- laboratorium Eropa dan Amerika Utara tidaklah menjadikan penelitian mereka islami.

Kesemestaan luar biasa sains modern ini men-jadikannya sebuah fenomena yang unik dan tanpa preseden sebelumnya. Keluasan jangkauannya dan kemampuannya dalam mewarnai budaya-budaya yang demikian beragam seperti budaya Islam dan Hindu, Cina dan budaya-budaya penduduk asli Amerika Utara, tidak ada taranya dalam sejarah umat manusia. Cara sains dalam melenyapkan semua cara lain dalam mengkaji alam dan daya tariknya yang memesonakan benar-benar unik dalam era modern ini, yang mula-mula muncul di suatu bagian kecil dari Benua Eropa abad ke-17 dan yang sejak saat itu mampu mewarnai seluruh penjuru dunia.

Akan tetapi, yang lebih menakjubkan lagi barangkali adalah kenyataan bahwa di suatu bagian kecil dari planet Bumi yang kecil ini, yang beredar mengelilingi Matahari—sebuah bintang yang berada di pinggiran Galaksi Bimasakti yang terdiri dari semiliar bintang, yang merupakan satu dari jutaan galaksi yang ada-muncul suatu sains yang mampu mewarnai beragam budaya dalam jangka waktu yang singkat, yakni tiga abad, dan mengubah cara manusia dalam menjalani hidup dan mati, berkomunikasi, kawin dan melahirkan anak, memproduksi makanan, pakaian, dan perumahan, serta menjalankan pelbagai kegiatan rutin sehari-hari dalam kehidupan. Fakta bahwa elektron, atom, dan molekul—demikian juga roda gigi, tuas, dan listrik—telah menjadi kata- kata yang diterima secara uni-versal, dan digunakan oleh kaum awam dari berbagai negeri dalam berkomunikasi dan menjalankan urusan sehari-hari mereka, menunjukkan luasnya jangkauan penemuan saintifik ini. Aspek kesemestaan sains modern ini adalah suatu yang tak terelakkan, baik kita suka atau tidak.

Jika sejarah bisa kita jadikan pedoman, tam-paknya orang tidak mungkin kembali kepada konsep materi-pada gilirannya juga kon-sep tentang seluruh alam semesta—yang dibangun berdasarkan gagasan-gagasan yang ada sebelum abad ke-17 tentang materi, ruang, dan waktu. Apa pun penilaian yang hendak kita berikan kepada sains modern, kita tidak bisa melepaskan diri darinya. Bahkan di ranah pengobatan bukan-Barat, di mana hasil-hasil dari filosofi alternatif tentang tubuh manusia dan penyakit- penyakit serta pengobatannya telah didemonstrasikan secara efektif selama berabad-abad, praktik pengobatan Barat dengan cepat menggantikan (baca juga: memusnahkan) praktik tradisional, suatu kepunahan yang tak tergantikan bagi umat manusia.

Barat dan Sains Modern

Dalam langkah majunya, struktur pengetahuan saintifik telah melalui banyak revolusi dalam berbagai cabang dan juga filsafat dasarnya. Sebagai contoh, dalam rentang satu abad, Revolusi Copernicus mampu meneguhkan sistem heliosentris (Matahari sebagai pusat, sedangkan Bumi hanyalah sebagai salah satu planetnya), dan ini sudah cukup untuk mengguncang fondasi pandangan-dunia geosentris sebelumnya. Namun, ini baru gebrakan awal. Bersama Galileo, sains modern tidak saja menemukan alat kecil yang menakjubkan, yaitu teleskop, tetapi juga memasuki revolusi struktural dalam epistemologinya. Sejak itu, kajian tentang alam harus didasarkan pada eksperimen dengan cara yang sangat berbeda dengan metode filsafat kealaman sebelumnya. 
Di sini kita tidak akan mengurai bagaimana penemuan itu dilakukan. Pada akhirnya, tidaklah menjadi soal apakah Galileo benar-benar menaiki Menara Pisa untuk melakukan percobaannya pada 1580-an. Yang jelas, apa yang ditemukan oleh Galileo adalah sebuah prinsip yang benar dan kukuh. Dan Galileo memang punya alat, yakni teleskop kecilnya, yang memampukan dia melihat apa yang belum pernah dilihat sebelumnya oleh manusia: satelit-satelit Yupiter. Galileo juga menemukan bahwa percepatan (akselerasi) menciptakan gaya (force) dan bahwa massa suatu benda, yang diukur dengan berat benda tersebut di Bumi, harus sama dengan massa yang diperoleh dari peristiwa tumbukan benda itu dengan benda-benda lain di mana pun di alam semesta, atau manakala ia mengalami percepatan oleh suatu gaya. Prinsip ini dikenal sebagai prinsip ekuivalensi, yang pada gilirannya menjadi salah satu landasan teori relativitas adalah salah satu rumusan mendasar sains modern yang telah mengubah cara manusia memandang "benda- benda".

Sama halnya, percobaan-percobaan William Harvey (1578-1657) dan penjelasan René Descartes (1596-1650) yang bersifat filosofis tentang alam merupakan dasar pemahaman tentang alam yang berkembang pada abad ke-17 dan yang kemudian memengaruhi abad-abad selanjutnya. Begitu pula, fisika Newtonian yang meletakkan agenda bagi sains modern untuk dua abad selanjutnya, bukanlah sekadar perkembangan yang terpencil dan bersifat internal dalam ilmu fisika; ia ketika itu hingga sekarang pun masih merupakan perenungan mendalam tentang hakikat alam, Tuhan, kehidupan, dan keterkaitan di antara ketiganya.

Kemampuan sains modern untuk melakukan perubahan mencapai kekuatan penuhnya pada abad ke-18 ketika sains berfokus pada masalah kelistrikan dan kemagnetan di satu pihak, dan penemuan alat-alat di pihak lain. Abad ini adalah abad ketika inovasi-inovasi teknologi mulai mengubah cara hidup manusia dalam skala yang belum pernah disaksikan sebelumnya: mesin uap, teleskop yang baru dan kuat, mesin pembangkit muatan listrik secara mekanis, kondensor untuk mengumpulkan dan menyimpan muatan listrik, elektroskop dan elektrometer untuk mendeteksi listrik dan mengukurnya. Pada abad ke-18 juga sains menangani masalah kuantifikasi,! standardisas! alat-alat (misalnya perbaikan kualitas barometer dan termometer) dan penemuan-penemuan alat-alat seperti higrometer dan pengukur kecepatan angin.
Download


INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...