ads

Tampilkan postingan dengan label Bacaan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2018

Pinokio

Pada awalnya Pinokio berpura-pura tak peduli dan bertindak sebaik mungkin, tapi akhirnya karena kehilangan kesabaran dia menantang mereka yang paling keterlaluan mempermainkannya dan berkata pada mereka dengan sangat marah, "Urus diri kalian sendiri! Aku datang kemari bukan untuk menjadi bulan-bulanan kalian. Aku menghormati orang lain dan aku ingin dihormati."

"Hai si mulut besar! Kau telah bicara seperti buku!" teriak para bajingan muda yang kemudian dikuasai tawa dan salah satu dari mereka, yang lebih tidak sopan diantara yang lainnya, mengangkat tangannya bermaksud untuk memegang ujung hidung Pinokio. Tapi dia kalah cepat karena Pinokio mengayunkan kakinya dari bawah meja dan menendang tulang kering bocah itu.

"Aduh, kakinya keras sekali!" erang bocah itu sambil menggosok-gosok memar yang disebabkan oleh tendangan Pinokio.

"Sikutnya bahkan lebih keras dari kakinya!" teriak yang lain yang mendapatkan pukulan di perutnya karena mempermainkan Pinokio dengan kasar.

Tendangan dan pukulan itu membuat Pinokio mendapatkan simpati dan hormat dari seluruh bocah di sekolah. Mereka semua berkawan dengannya dan benar-benar menyukainya. Bahkan kepala sekolah memujinya karena dia sangat penuh perhatian, tekun belajar, dan pandai, selalu datang ke sekolah paling awal dan paling akhir meninggalkan sekolah. Tapi dia membuat satu kesalahan, dia memiliki terlalu banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak nakal yang terkenal malas belajar dan suka melakukan keburukan.

Kepala sekolah menegurnya setiap hari dan Sang Peri juga mengingatkannya berkali-kali, "Hati-hatilah, Pinokio! Teman sekolah yang nakal cepat atau lambat akan membuatmu malas belajar dan mungkin suatu saat membuatmu celaka."

"Tak perlu khawatir akan hal itu!" jawab Pinokio sambil mengangkat bahunya dan menyentuh dahinya seperti berkata, "Aku terlalu pintar untuk membiarkan itu terjadi!"

Pada suatu hari ketika dalam perjalanan ke sekolah, dia bertemu beberapa teman jahatnya yang bertanya, "Sudahkah kau mendengar datangnya berita luar biasa?"

"Belum."

"Di laut dekat sini telah muncul paus sebesar gunung."

"Benarkah? Apakah itu paus yang sama dengan yang muncul ketika Papaku tenggelam?"

"Kami akan pergi ke pantai untuk melihatnya Maukah kau bergabung?"

"Tidak. Aku akan pergi ke sekolah."

"Apa urusannya dengan sekolah? Kita akan pergi ke sekolah besok. Baik kita mendapatkan pelajaran atau tidak kita tetap keledai juga."

"Tapi apa yang akan dikatakan kepala sekolah?" 

"Kepala sekolah boleh berkata apa saja sesukanya. Dia dibayar untuk mengomel sepanjang hari."

"Dan mamaku?"

"Para mama tidak tahu apa-apa, "jawab bocah-bocah kecil nakal itu.

"Kalian tahu apa yang akan kulakukan?" kata Pinokio. "Aku memiliki alasan untuk melihat paus itu, tapi aku akan pergi melihatnya sepulang sekolah saja."

“Keledai malang!” seru salah satu bocah. “Kaupikir paus sebesar itu mau menunggumu? Begitu dia capek berada di sana, dia akan pindah ke tempat lain dan semuanya akan terlambat.”

download

Minggu, 13 Agustus 2017

Acep Pejuang Kecil

Buku ini menurut Mimin : Sangat bagus, apalagi dibaca pas bulan Agustus gini, biar kita sebagai generasi saat ini tau betapa berat perjuangan orang-orang terdahulu dalam memerdekakan negara ini dari penjajahan.

Sedikit ulasannya : Suatu sore, sehabis melayani serdadu-serdadu piket, seperti biasa Acep menganggur. Serdadu-serdadu itu tampak tenang-tenang saja, bahkan tampak sangat letih. Gerakannya lamban, senyum tawanya hilang, bahkan kegalakannya juga hilang. Kehadiran Acep di sana mulai tidak diganggu dan juga tidak dilarang. Hal ini sebenarnya merupakan kebebasan bagi Acep, tetapi Acep justru jadi menganggur.

Sebagai perintang waktu ia berdiri di depan markas dekat serdadu yang sedang jaga di rumah jaga. Ia memandang ke jalan yang sunyi. Tidak seorang pun yang lalu karena hari mulai gelap. Penduduk kota itu jarang yang berani lewat di depan markas.

Mula-mula Acep tidak sengaja memandangi deretan gedung-gedung di seberang itu. Matanya tertuju pada seorang yang sedang duduk di antara dua buah gedung. Orang itu seperti menatap dia. Orang itu tidak henti-hentinya memandang ke arah Acep, seolah-olah meminta agar Acep mendekat. Orang itu kelihatan sangat mengharapkan kedatangan Acep.

Seperti kena sihir Acep berjalan ke seberang mendekati orang itu.

"Selamat sore, Acep," kata orang itu menyapa.

Acep sangat terkejut. Dari mana orang itu mengetahui namanya?

"Yah, aku tahu namamu Acep. Serdadu-serdadu itu selalu memanggilmu demikian. Namamu sederhana tetapi mudah dikenal," katanya lagi.

"Selamat sore, Tuan siapa?" tanya Acep memberanikan diri.

"Sebut saja, Pak Namaku Kartono. Jadi, Pak Kartono atau Pak Ton."

"Sudah lama, bukan, kau tinggal di situ?" tanyanya lagi.

Acep tidak menjawab. Ia memandangi orang asing itu.

"Masuk gang itu lebih dulu. Aku akan menyusulmu nanti," permintaan orang asing itu.

Seperti tadi, seperti kena sihir Acep menurut saja perintah orang yang mengaku Pak Ton itu. Meskipun tidak tahu maksud orang itu, tetapi Acep terus saja menyusuri gang itu. Ia berjalan sambil berulang kali menoleh ke belakang. Ia sudah masuk kira-kira seratus meter, tetapi Pak Ton belum juga menampakkan diri. Tiba-tiba ketika timbul pikiran hendak kembali, orang itu menegur.

"Marilah ke tikungan itu."

Agaknya orang itu menyusul dari arah yang berlawa- nan.

"Bagaimana? Kau senang di sana?" tanyanya lagi.

"Sudah makan? Nasi beras tentu. Berlauk daging," tanyanya menyindir.

Acep diam saja. Bagaimana ia harus menjawab? Untuk apa pertanyaan itu dijawab? Memang demikianlah halnya.

"Kau kenal mereka?"

Acep menggelengkan kepala.

"Berapa orang biasanya yang jaga? Kapan biasa diganti?"

"Dua belas orang. Diganti tiap sore."

"Apa kerja mereka jika tidak berada di depan?"

"Paling main gaple atau catur. Malah pemimpinnya tiduran saja di kamar."

Setelah mengangguk tanda mengerti orang itu bertanya lagi "Kau tahu di mana tempat tinggal komandan yang dihormati oleh semua serdadu apabila ia lewat atau ketika sedang apel?"

"Tahu, di bagian tengah, di rumah yang menyendiri itu," Acep menjawab sambil menunjuk pada bangunan yang letaknya agak terpisah dari bangunan lain.

"Kau tahu di mana serdadu-serdadu itu mengambil senjata atau peluru?"

"Tahu. Di bangunan yang dilindungi dengan karung-karung pasir yang sangat tinggi itu "

"Kau tahu di mana mobil-mobil itu mengambil bensin?"

Orang itu masih terus bertanya seakan-akan ingin mengetahui liku-liku markas itu sampai pada hal yang paling kecil sekali pun.

"Oh, itu di pojok sana, dekat dapur umum, di belakang gudang senjata."

"Apakah ada meriam-meriam yang dipersiapkan yang terlindung oleh barikade-barikade atau karung-karung pasir yang tinggi itu?"

"Wah, saya kurang tahu."

Setelah berdiam sebentar orang itu bertanya lagi, "Nah, aku minta kamu memeriksa sekali lagi yang telah kutanyakan itu. Besok, waktunya seperti sekarang ini, kita berjumpa di sini. Aku menunggu laporanmu."

Acep agak lama terdiam. Mengapa orang ini bertanya terus dan soalnya macam-macam? Mengapa orang ini memerintah seperti seorang komandan tentara? Apa hubungannya dengan dia?
https://www.mediafire.com/file/kph87gjjkkr42mj/Acep%20Pejuang%20Kecil.rar

Minggu, 23 Juli 2017

Pahlawan Kebersihan

Judul : Pahlawan Kebersihan
Penulis : Tata Sugiharta & Yuslim M
Penerbit : CV. Indradjaya - Jakarta
Jumlah Halaman : 60hlm.
Tahun : 1991

Jujur aja, Mimin suka banget sama Novel seperti ini, sebab mengingatkan masa-masa Mimin waktu masih sekolah di SD dulu. Novel bernuansa kanak-kanak yang sarat dengan budi pekerti. Mimin gak tau apakah sekolah-sekolah SD sekarang masih punya buku kayak gini gak di perpustakaannya.

Oh ya, kalo ada sobat yang punya buku kayak gini... scan-in donk biar Mimin pajang disini, sekaligus Mimin baca Hehe... Dan kalo kebetulan ada yang satu selera dengan Mimin, komen donk di bawah... jangan cuma download doang terus ilang... apalagi pake mindahin materi download ke blog-nya tanpa menyebutkan sumbernya, Bikin E-Book file exe (Digibook) susah lho dibanding bikin PDF, CHM, DJVU, dll... oleh sebab itu Mimim pasword semua E-Book-Ebook upload-an terbaru biar gak semaunya nyatut materi tanpa menyebut sumber. :D

Ok.. ini sinopsisnya.

Di bawah pohon yang rindang di desa Sawah Panta siang hari itu beberapa anak yang dipimpin oleh Garagai sedang berbincang- bincang.

"Itulah kawan-kawan, kebersihan harus segera di tegakkan karena merupakan sumber kesehatan."

"Itukan urusan Bapak Kepala Desa," kata Lebe menjawab tegas.

"Kebersihan urusan kita bersama." balas Garagai.

"Benar Garagai", kata Uyuk mantap.

"Kamu ini ikut-ikut lagi, kata Lebe agak penasaran.

"Kebersihan ini urusan kita bersama, kepentingan kita bersama. Kita tidak boleh menyerahkan begitu saja kepada Bapak Kepala Desa. Jadi urusan masyarakat dan kepentingan masyarakat," kata Garagai dengan penuh semangat.

Itu tepat sekali," kata Jamaris yang sejak tadi diam saja. "Saya mendukung sepenuhnya usaha dari Garagai itu."

"Setuju!" seru yang lain serempak.

"Bagus sekali,"kata yang lain.

"Yang penting kapan kita mulai".

"Lebih baik mulai dari sekarang," usul Garagai.

"Lebih cepat lebih bagus." kata Jumaris dengan senyum.

"Baiklah kalau begitu."

"Jadi kita tidak akan membiarkan desa kita ini kotor."

"Kalau begitu kita siapkan peralatannya terlebih dahulu."

"Yang kita siapkan tempat sampah."

"Untuk itu kita perlu bergotong royong agar pekerjaan kita lebih cepat dan sempurna."

"Kita larang siapa saja membuang sampah sembarangan," kata jamaris."

"Ya... apalagi?" tanya Garagai dengan senang hati mendengar usul teman-temannya.

"Kita pakai spanduk besar dan kita tulis dengan kata "JAGALAH KEBERSIHAN"

"Ya tepat sekali," kata teman-teman Garagai serentak dan girang.

"Kita harus bersihkan selokan-selokan, karena selokan dan air yang-tidak mengalir adalah penyakit utama."

"Sebab penyakit ini akan datang sendiri bila kita tidak bersih."

"Kata Jumaris nih?" tanya Garagai.

"Garagailah yang hebat."

"Sekarang bukan soal hebat tapi rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan yang penting."kata Uyuk mantap.

"Semua itu bagus," kata Garagai.

"Bagus sekali dan mantap."

Ya. kata teman-teman Garagai serentak dan penuh semangat.

"Baiklah sampai disini dulu." kata Garagai. 


---> Download Disini <---

Selasa, 11 Juli 2017

Wizard At Work : Sang Penyihir Beraksi

SANG PENYIHIR sedang sibuk dengan urusannya sendiri—kurang lebih begitu ketika seorang penyihir wanita menjatuhkan sebuah kutukan padanya—atau mungkin juga tidak begitu.

Kejadiannya seperti ini: Sang penyihir adalah seorang pria muda yang dengan kekuatan sihir sering menjelma menjadi pria tua. Penampilan seperti itulah yang diharapkan khalayak ramai dan seorang penyihir. Ia mengelola sebuah sekolah untuk para penyihir muda dan selama satu tahun ajaran sekolah, ia berpenampil an seperti pria tua berjanggut. Alasannya, ia merasa kurang dihormati bila para murid tahu dirinya hanya sedikit lebih tua dari mereka. Jadi, begitu tahun ajaran sekolah berakhir, ia merasa lega karena bisa melepaskan penyamarannya dan bersantai—seperti ketika kita melepaskan sepatu yang sangat ketat dan pakaian indah yang kita khawatirkan akan terkait atau ketumpahan sesuatu.

Setelah melewati musim dingin yang benar-benar buruk dan musim semi yang tiba lebih telat dari biasanya, sang penyihir mengirim semua muridnya pulang. Hari ini adalah hari pertama liburan musim semi. Ia—dengan kekuatan sihirnya— mengirim dirinya sendiri ke Desa Saint Wayne the Stutterer. Saint Wayne bukanlah seorang tokoh suci yang penting dan desa itu sendiri berukuran kecil. Sang penyihir kenal sebagian besar penduduk desa itu dan sebagian besar dari mereka mengenal si penyihir dalam wujud aslinya. Ia perlu membeli persediaan untuk kebunnya, termasuk sebuah pacul baru. Ia sedang mengantri di toko pandai besi ketika seorang penyihir wanita—yang tak dikenalnya—tiba-tiba muncul bersa ma ke-tiga anaknya.

Muncul dengan kekuatan sihir.

Seperti begini: Detik ini, tidak ada— detik berikutnya, ada.

Mereka muncul tepat di depan sang penyihir kurang lebih lima detik sebelum si pandai besi selesai dengan pelanggan sebelumnya, mengangkat muka, dan berta nya, "Siapa berikutnya?"

"Aku," kata si penyihir wanita sambil menghampiri si pandai besi.

Sang penyihir tak ingin berburuk sang-ka. Ia percaya bahwa si penyihir wanita— dengan kekuatan sihir— telah mengirim dirinya ke mana pun yang diinginkan dan secara tidak sengaja telah memotong antrean di depannya. Ia bahkan bersedia membiarkan wanita itu dilayani terlebih dahulu karena ia sendiri tidak sedang terburu-buru. Ia ingin menghabiskan hari-hari nya dengan tenang, damai, dan penuh kehangatan.

Anak-anak penyihir wanita itu—dua laki-laki dan satu perempuan— sedang menyodok, menabrak, mengejek, dan menggoda satu sama lain. Anak laki-laki yang lebih tua sangat jahil. Anak yang lebih kecil sangat cengeng, sementara yang perempuan suka merengek. Ketiga anak itu tak henti-hentinya berteriak, "Bu!" dengan suara melengking dan menjengkelkan— seperti, "Bu, dia melakukannya lagi!" dan "Bu, dia yang mulai!" dan "Bu, sudah selesai atau belum?"

Si penyihir wanita mengabaikan tingkah anak-anak nya sambil menjelaskan kepada si pandai besi tentang gerendel pagar yang ingin ia perbaiki.
 


Senin, 29 Agustus 2016

Rare Beast : Hewan Langka

Suatu hari menjelang berakhirnya musim panas, Ellen memperhatikan tamannya melalui jendela yang sangat kotor dan melihat bahwa tanamannya menjadi layu dalam udara yang panas dan lembab disiang hari. Sudah berminggu-minggu dia tidak menyirami tanaman-tanaman itu atau memberi pupuk pada anggrek taringnya, sehingga daun-daunnya terkulai seolah-olah hendak menyentuh tanah dan berusaha merayap untuk memperoleh makanan dan tempat berlindung. Ellen sama sekali tidak perlu keluar, sebagaimana yang sudah dia rencanakan, untuk memangkas pohon-pohon cemara. Jadi, ketika sebagian besar anak-anak muda di Nod's Limbs berenang di kolam renagn atau bermain-main di sungai, Edgar dan Ellen tinggal di dalam rumah mereka yang gelap untuk bermain petak-umpat.

Rumah mereka terdiri dari beberapa lantai termasuk sebuah ruang semi-bawah tanah, ruang bawah tanah, loteng dan loteng-di atas-loteng. Meskipun rumah itu sangat sempit sehingga masing- masing lantai hanya terdiri dari dua atau tiga ruangan, sebenarnya ada banyak sekali ruangan di rumah ini. Setiap ruang dipenuhi dengan lemari, sofa serta tirai, dan ruang-ruang kecil yang kotor yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian dalam permainan petak-umpat sepanjang musim panas.

Orang tua Edgar dan Ellen sudah lama pergi untuk melakukan perjalanan "keliling dunia" yang panjang. Paling tidak begitulah yang dikatakan dalam surat pendek yang mereka tinggalkan. Tanpa seorang pun yang membersihkan, rumah yang luas itu semakin dipenuhi sarang laba-laba dan gulungan debu, menjadikannya tempat yang sempurna bagi permainan mereka setelah ditambah dengan simpul- simpul yang unik buatan mereka berdua.

Dalam permainan petak-umpat biasa, permainan selesai begitu salah satu pemain menemukan temannya yang sedang bersembunyi. Nah, menurut cara Edgar dan Ellen, permainan tidak hanya berakhir setelah mereka menemukan teman yang bersembunyi. Permainan baru berakhir setelah teman yang sedang bersembunyi itu dapat ditaklukkan. Artinya, si pencari harus terlebih dahulu menemukan tempat persembunyian dan kemudian harus bergulat untuk menaklukkan teman yang bersembunyi itu. Usaha penaklukan ini bisa menjadi perjuangan yang suit karena kedua saudara kembar ini sudah saling mengetahui gerakan gulat masing-masing, dan biasanya permainan ini berakhir dengan mengikat tangan dan kaki si pencari atau teman yang bersembunyi dengan tali yang selalu mereka bawa.

Tentu saja, begitu salah satu dari si kembar ini terikat, maka berarti dia sudah kalah dan berada dalam kekuasaan pemenang. Biasanya pemenang hanya akan menunjukkan sedikit sekali belas kasihan sebelum dia mulai mencari tempat persembunyian yang baru dan membiarkan si kalah berjuang
sendiri untuk melepaskan ikatannya.

Ellen amat mahir dalam menggunakan gigi serta kukunya yang tajam untuk memotong ikatan, sementara Edgar telah mempraktekkan cara yang tenang yang digunakan oleh seniman terkenal dalam bidang meloloskan diri. Namun demikian, biasanya keduanya membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk melepaskan diri dari ikatan mereka. Dan satu jam adalah waktu yang cukup lama untuk menemukan tempat persembunyian lain yang baik.
Download



Minggu, 28 Agustus 2016

I Love Cooking

Sekarang, sedang musim panas. Seluruh kelas 5 SD Takeda mengadakan wisata ke Laut Izu. Kami akan menginap di cottage yang ada di pinggir pantai.

Sebelumnya, kami berkumpul di sekolah pukul tujuh pagi. "Anak-Anak, ayo berkumpul!" seru Bu Ai- hara.Kami segera berkumpul."Kita akan menaiki bus. Kalian cari teman untuk du-duk bersebelahan.

Aku memutuskan duduk bersama Lee ka-rena sepertinya Hikaru akan duduk bersama Shiro. Terlihat di sana, Shiro sedang dikerubungi gadis-gadis yang ingin duduk bersamanya. Tetapi, Shiro berjalan ke arah Hikaru dan mengajaknya duduk di sebelahnya. Mereka itu sudah menjadi teman dari kecil. Kaide duduk bersama Izumi. sebenarnya Izumi tidak ingin, tetapi tidak ada yang tersisa selain Kaide.

Lalu, semuanya masuk ke bus. Kami pun berangkat ke Laut Izu!

Di perjalanan, aku membaca komik Doraemon sambil memakan apel dan persik, juga sambil men-dengarkan musik dari Walkman milikku. Senangnya, aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku.

Lee membaca komik Detective Conan yang kubawa. Dia juga makan okosama lunch yang dibawanya sambil mendengarkan lagu dari Walkman sepertiku. Hampir satu kelasku me-miliki Walkman yang didapatkan dari bingkisan ulang tahun Izumi tahun lalu.

Tak terasa, kami sudah sampai di Laut Izu. Di sana, sedang sepi.Bu Aihara dan Pak Yasuharu, guru kelas 5-1 memang sengaja mencari hari saat Laut Izu sedang sepi.

"Anak-Anak, kita akan menginap di cottage ini. Kita akan menginap di sini selama tiga hari," Bu Aihara menunjuk cottage yang akan kami tempati.Wow! Cottage-nya bagus. Walaupun sederhana, terlihat bersih.Cottage-cottagenya terbuat dari kayu.

"Nah, Anak-Anak, sekarang cari teman enam- enam untuk menginap bersama di salah satu cottage !" seru Bu Aihara. Aku membuat kelompok bersama kelima temanku itu lalu memasuki salah satu cottage.

Sewaktu masuk, kami sangat terkagum-kagum. Selain luas, cottage itu juga bernuansa alam. Aku, Hikaru, dan Izumi pergi ke salah satu kamar, lalu menaruh baju kami di dalam lemari. Lee, Shiro, dan Kaide juga begitu. Setelah itu, kami makan buah-bu ahan dan meminum fruit punch yang sudah disediakan di meja, di ruang santai.

TOK ... TOK ... TOK!

Tiba-tiba pintu cottage kami diketuk. Itu Bu Aihara!

"Anak-Anak, nanti malam, kita punya program Seafood Party, yaitu program memasak seafood," kata Bu Aihara.

"Asyiiik ...!" sorakku dan yang lainnya gembira.

"Sekarang, anak laki-laki memancing ikan dan seafood-seafood lainnya. Sementara anak perempuan mencari buah-buahan untuk dibuat dessert dan minumannya. Anak laki-laki harus menangkap i- kan, kepiting, udang, lobster, kerang, dan hasil laut lainnya dalam dua jam. Jika ada yang kurang, mintalah ke ibu. Untuk anak laki-laki, ini pancingannya. Segera kalian temui Pak Yasuharu!" Bu Aihara memberi Lee, Shiro, dan Kaide pancingan beserta umpannya.

Kami segera pergi ke luar. Kami berpencar. Aku, Hikaru, dan Izumi pergi mencari buah-buahan. Katanya, di ujung pantai ada kebun buah. Lee, Shiro, dan Kaide pergi menemui Pak Yasuharu.

Aku, Hikaru, dan Izumi mencari kebun buah yang katanya ada di ujung pantai. Ternyata, memang ada! Di sana, ada berbagai macam buah-buah an: apel, semangka, kelapa (jelaslah, namanya juga pantai), nanas, anggur, melon. Wah, semua buah ada! Kami bertemu Yuka, Hitomi, dan Miyako. Mereka juga mencari buah-buahan seperti kami.

"Hai!" sapa Yuka.

"Hai! Kalian mencari buah juga?" tanya Hikaru.

"Ya! Sementara Kagami, Hyogo, dan Saguru sudah memancing. Oh, ya! Kalian sekelompok dengan Lee, Shiro, dan Kaide. Apa benar?" Miyako balas....

Download

Harriet The Spy : Pesan Misterius

Pesan itu muncul di mana-mana. Semua orang membicarakannya. Pada suatu hari di bulan Juli, untuk pertama kalinya Harriet dan Beth Ellen melihat seseorang mendapatkan satu pesan. Saat itu, mereka sedang berada di supermarket di Water Mill. Mereka berdiri di lorong dekat kasir, mengantre untuk membayar kue-kue mereka. Kasir wanita galak yang selalu mencurigai anak-anak sedang bersiap untuk menghitung belanjaan mereka. Tiba-tiba, dia menarik tangannya dari belakang mesin hitung seolah-olah baru saja digigit ular.

"Ya ampun, apa ...?" dia menjerit, dan perut Harriet hampir terbelah dua karena dia menjulurkan badannya melewati meja kasir untuk melihat. Wanita itu memegang sebuah potongan kertas besar berisi tulisan yang kaku dan ditulis dengan krayon merah:

TUHAN MEMBENCIMU

"Apa sih, ini? Apa maksudnya? Kenapa ada orang yang ingin melakukan hal ini? Apa yang bisa mereka dapatkan dengan ini? Kenapa mereka ingin mengatakan hal ini padaku? Kepadaku... kepadaku?" Wanita itu berteriak terus dan terus. Seorang pegawai lari mendekat. Manajer toko lari mendekat. Harriet berdiri dengan mata menyipit sambil memerhatikan. Beth Ellen melongo. Semua orang mulai bicara secara bersamaan.

"Jake dari toko makanan ternak pun dapat satu."

"Pesan-pesan itu ada di semua tempat di kota. Setiap orang di Water Mill sudah dapat satu."
"Kenapa nggak ada yang berbuat sesuatu? Apa sih ini?"

"Mereka sudah berbuat sesuatu. Tuan Jackson sudah melapor ke polisi."

"Apa yang terjadi?"

"Yah, mereka sedang menyelidiki. Mereka bisa apa? Mereka nggak bisa menemukan pelakunya."

"Mungkin mereka melindungi seseorang."

"Ya. Ini tidak ada waktu musim dingin. Mungkin salah satu dari turis-turis musim panas itu jadi gila."

Karena satu dan lain hal, semua orang menoleh dan memandang Harriet dan Beth Ellen. Harriet terlalu sibuk menulis semua hal di buku catatan yang selalu dia bawa sehingga dia tidak sadar, tapi Beth Ellen mulai berjalan ke pintu.

"Ini saja semuanya, Anak-Anak?" Kasir wanita itu tiba-tiba menjadi sangat judes dan resmi.

"Ya," kata Harriet, berharap kedengaran tak acuh.

Beth Ellen sudah berada di luar, di jalan. Harriet melihatnya bergegas menuju sebuah mobil hitam yang panjang.

"Yah, kamu perlu tahu," kata kasir wanita itu sambil memasukkan kue-kue ke dalam kantong, "ada orang-orang yang amat-sangat aneh selama musim panas ini."

Harriet berdiri sesaat dengan kantong plastik di tangannya, berharap wanita itu akan mengatakan lebih banyak, tapi dia hanya menatap Harriet seperti mengharapkan sesuatu. Merasa bodoh, Harriet berbalik mendadak dan meninggalkan toko itu.

Di luar, dia berjalan lambat menuju mobil. Udara pagi terasa nyaman, agak lembap, seperti memeluknya dengan hangat. Dia merasakan kebahagiaan yang dia rasakan setiap tahun. Kenangan setiap musim panas dalam hidupnya membuat udara seperti bertambah nyaman dan hangat. Semuanya begitu indah dan akrab: deretan pendek toko-toko sepanjang Jalan Raya Montauk, bendera di depan kantor pos kecil, papan bertuliskan ANDA MEMASUKI WATER MILL, NEW YORK. PERLAMBAT KENDARAAN DAN SELAMAT BERSENANG-SENANG, yang sekarang dicat putih bersih dengan tulisan hitam. Tetapi, pada akhir musim panas biasanya papan itu sudah dicorat-coret dengan tulisan-tulisan sinting.

Bahkan, Beth Ellen yang sedang duduk menunggu di kursi belakang mobil besar yang dikemudikan Harry, supir keluarga Hansen, terasa.....

Download

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...