ads

Tampilkan postingan dengan label Novel Terjemahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Terjemahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2018

Pinokio

Pada awalnya Pinokio berpura-pura tak peduli dan bertindak sebaik mungkin, tapi akhirnya karena kehilangan kesabaran dia menantang mereka yang paling keterlaluan mempermainkannya dan berkata pada mereka dengan sangat marah, "Urus diri kalian sendiri! Aku datang kemari bukan untuk menjadi bulan-bulanan kalian. Aku menghormati orang lain dan aku ingin dihormati."

"Hai si mulut besar! Kau telah bicara seperti buku!" teriak para bajingan muda yang kemudian dikuasai tawa dan salah satu dari mereka, yang lebih tidak sopan diantara yang lainnya, mengangkat tangannya bermaksud untuk memegang ujung hidung Pinokio. Tapi dia kalah cepat karena Pinokio mengayunkan kakinya dari bawah meja dan menendang tulang kering bocah itu.

"Aduh, kakinya keras sekali!" erang bocah itu sambil menggosok-gosok memar yang disebabkan oleh tendangan Pinokio.

"Sikutnya bahkan lebih keras dari kakinya!" teriak yang lain yang mendapatkan pukulan di perutnya karena mempermainkan Pinokio dengan kasar.

Tendangan dan pukulan itu membuat Pinokio mendapatkan simpati dan hormat dari seluruh bocah di sekolah. Mereka semua berkawan dengannya dan benar-benar menyukainya. Bahkan kepala sekolah memujinya karena dia sangat penuh perhatian, tekun belajar, dan pandai, selalu datang ke sekolah paling awal dan paling akhir meninggalkan sekolah. Tapi dia membuat satu kesalahan, dia memiliki terlalu banyak teman dan beberapa dari mereka adalah anak-anak nakal yang terkenal malas belajar dan suka melakukan keburukan.

Kepala sekolah menegurnya setiap hari dan Sang Peri juga mengingatkannya berkali-kali, "Hati-hatilah, Pinokio! Teman sekolah yang nakal cepat atau lambat akan membuatmu malas belajar dan mungkin suatu saat membuatmu celaka."

"Tak perlu khawatir akan hal itu!" jawab Pinokio sambil mengangkat bahunya dan menyentuh dahinya seperti berkata, "Aku terlalu pintar untuk membiarkan itu terjadi!"

Pada suatu hari ketika dalam perjalanan ke sekolah, dia bertemu beberapa teman jahatnya yang bertanya, "Sudahkah kau mendengar datangnya berita luar biasa?"

"Belum."

"Di laut dekat sini telah muncul paus sebesar gunung."

"Benarkah? Apakah itu paus yang sama dengan yang muncul ketika Papaku tenggelam?"

"Kami akan pergi ke pantai untuk melihatnya Maukah kau bergabung?"

"Tidak. Aku akan pergi ke sekolah."

"Apa urusannya dengan sekolah? Kita akan pergi ke sekolah besok. Baik kita mendapatkan pelajaran atau tidak kita tetap keledai juga."

"Tapi apa yang akan dikatakan kepala sekolah?" 

"Kepala sekolah boleh berkata apa saja sesukanya. Dia dibayar untuk mengomel sepanjang hari."

"Dan mamaku?"

"Para mama tidak tahu apa-apa, "jawab bocah-bocah kecil nakal itu.

"Kalian tahu apa yang akan kulakukan?" kata Pinokio. "Aku memiliki alasan untuk melihat paus itu, tapi aku akan pergi melihatnya sepulang sekolah saja."

“Keledai malang!” seru salah satu bocah. “Kaupikir paus sebesar itu mau menunggumu? Begitu dia capek berada di sana, dia akan pindah ke tempat lain dan semuanya akan terlambat.”

download

Rabu, 05 September 2018

Never Trust A Dead Man

Penduduk desa berhenti, sekitar lima atau enam langkah darinya. Jauhnya kira-kira satu lemparan sekop.

"Melangkahlah ke sini, Nak," kata Linton, keponakan Miller. Selwyn belum tahu maksud perkataan itu.

"Tetap di situ," perintah ayah Selwyn seolah-olah Selwyn tidak mencurigai apa-apa.

"Kami hanya ingin berbicara dengannya," kata Thorne.

"Baik. Bicaralah," kata ayah Selwyn. "Pendengarannya cukup baik."

Thorne menatapnya selama beberapa saat. Lalu ia berkata, "Farold mati. Ia dibunuh di penggilingan tadi malam."

Farold adalah keponakan Derian, tukang penggiling, sepupu Linton. Selwyn terkejut bahwa seseorang telah dibunuh dalam komunitas mereka yang tenang, tapi tidak kaget kalau korbannya Farold. Ia bahkan lega karena Farold yang mati, bukan yang lain. Senang, kalau boleh dikatakan dengan jujur, bahwa jika itu memang harus terjadi pada seseorang, hal itu terjadi pada Farold. Namun dia tahu bahwa dia tidak boleh membiarkan hal semacam itu terlihat pada air mukanya. Ia mencoba memikirkan hal-hal yang baik saja.

Farold tidak seburuk itu sebenarnya, katanya pada diri sendiri. Farold lebih baik dari... Ah, lebih baik daripada duduk di atas paku. Ia juga lebih baik daripada mematahkan gigi karena biji keras persik.
Ayahnya bertanya, "Apa yang menyebabkan kalian berpikir bahwa Selwyn yang melakukannya?"

Ada banyak alasan. Sebenarnya dengan melihat penam pilan mereka, hanya itulah alasan mereka ke sini. Bagaimana mereka bisa berpikir bahwa Selwyn akan membunuh seseorang, bahkan orang yang menjengkelkan dan bertingkah seperti Farold? Tapi Thorne memandang tepat ke arahnya dan bertanya kepadanya, bukan kepada ayahnya, "Kamukah yang melakukannya?"

Selwyn perlu beberapa saat untuk mengeluarkan suara.

"Bukan," katanya. Ia heran karena Thorne yang sudah mengenal dirinya begitu lama dapat bertanya dengan mimik muka yang datar seperti itu.

"Baiklah kalau begini," kata Thorne.

"Hal ini tidak mungkin," pikir Selwyn. Mereka telah ber jalan jauh dari Penryth dan tidak mungkin langsung berbalik kembali hanya dengan keterangan bahwa dirinya tidak bersalah.

"Kami semua di sini kemarin," ayah Selwyn berkata ke- pada mereka. "Tadi malam katamu? Kami semua disini kami berempat, sepanjang malam. Aku, anak ini, ibunya, dan neneknya. Kami akan bersaksi untuknya."

Hal itu menyebabkan Selwyn menggigil tetapi hal itu ditutupinya dengan gerakan berpura-pura mengibaskan seekor lalat. Lalu ia melipat tangannya di dada dengan sikap agak menantang.

"Baiklah," kata Thorne. "Mari kembali ke desa, jelaskan semuanya kepada Bowden. Kita lihat apakah ada sesuatu yang kau ketahui dan mungkin dapat menolong kami untuk menetapkan siapa yang membunuhnya."

Orang-orang yang ada di belakang Thorne terlihat tidak percaya dan menganggap hal itu tidak rasional.

"Saya kan baru saja menjelaskan pada kalian," kata ayahnya. "Dan ingatlah, ada beberapa orang yang senang kalau Farold mati."

Setelah itu ia memandang tepat ke arah Linton, seperti meminta maaf karena berbicara buruk tentang seseorang yang telah mati di depan sanak saudaranya, atau seperti mengingatkan setiap orang bahwa Linton adalah orang yang diuntungkan dengan kematian Farold karena sekarang ia adalah sanak terdekat yang masih hidup dari penggiling tua yang kaya itu.

Linton meludah ke tanah, tampaknya meludahi mereka

Kata Thorne, "Begini Rowe, biarkan Selwyn ikut dengan kami untuk menerangkannya sendiri. Bowden adalah orang yang rasional. Tapi putrinya menangis terus- menerus..."

Bowden. Ia adalah ayah Anora dan Selwyn tahu kare- na Anoralah ia dituduh. Sepanjang musim panas, ia dan Farold berlomba menarik perhatian dan mendapat kan kasih sayang Anora dan akhirnya Anora memilih Farold.

Dua minggu yang lalu, kedua pemuda itu bertarung di jalan di hadapan semua orang. Atau lebih tepatnya, Selwyn mencoba untuk bertarung dan Farold—yang lebih besar, lebih tinggi, dan lebih kuat— berhasil menjatuhkannya secara kasar ke atas onggokan tanah seolah-olah Selwyn berusia kira-kira sepuluh tahun lebih tua, dan lebih seperti hiburan bagi penonton. Jadi sekarang, tampaknya setiap orang berpikir bahwa Selwyn telah memperpanjang pertarungan itu.

"Gadis itu menuduhnya?" tanya ayah Selwyn, karena dia tak pernah berpikir kalau Anora akan bersikap demikian. Selwyn terkejut dengan pikiran itu.

"Tidak," kata Thorne. "Aku sudah katakan, kejadiannya semalam: Tidak ada yang melihat. Derian juga tidak mendengar apa-apa, apalagi dengan suara ributnya kincir air dan keadaannya yang setengah tuli itu. Tampaknya pembunuh memanjat dan masuk lewat jendela. Bi arkan anak ini pergi dan bicara, Rowe. Biar urusannya beres. Kau pikir dengan berlaku seperti ini akan membantu masalah?"

Download

Kamis, 03 Agustus 2017

Harlequin - Marriage Of Sale

"Ah, lupakanlah,” kata Linc sambil membelai Rachel lembut. ”Itu tidak penting,”

Tapi Rachel tidak bisa berhenti berpikir. "Tunggu dulu. Apa yang tidak penting?” Rachel mendorong tangan Linc lalu duduk. Kedua tangannya menutupi pipinya yang memerah. "Ya ampun. Oh Linc. Aku tidak mau harus mengatakannya dengan cara ini. Seharusnya aku bilang sejak awal, tapi aku begitu terhanyut, aku betul-betul lupa. Seharusnya aku bilang waktu pertama kali aku dan Linda ke klinik, tapi aku malu dan tidak yakin pada Keputusanku—"

"Wow, Sayang. Pelan-pelan. Aku tidak mengali apa yang kaubicarakan."

"Aku bicara tentang apa yang ada di dalam bungkusan kecil itu," bisik Rachel.

"Itu alat KB."

"Kau tahu tentang alat KB?” sekarang Linc yang kaget.

"Ya. Aku dan Linda pergi ke klinik. Dia perlu diperiksa dan dia pikir aku juga perlu Dokter bertanya apa aku sudah menikah, dan saat aku bilang ya, dia menunjukkan macam-macam alat KB. Aku pilih pil.”

"Kau pilih pil?”

"Oh, sayang. Seharusnya aku berkonsultasi dulu denganmu."

"Jadi kau minum pil KB. begitu maksudmu?”

"Sudah lebih dari sebulan. Linda membawaku ke klinik minggu pertama aku di sini."

Linc mencium Rachel dan menggosok hidungnya dengan penuh kasih.

"Rachel, tiap hari kau membuatku makin kagum. Kau tahu itu?”
"Kau yang membuatku kagum, Linc.”
"Ah, lupakanlah,” kata Linc sambil membelai Rachel lembut. ”Itu tidak penting,”

Tapi Rachel tidak bisa berhenti berpikir. "Tunggu dulu. Apa yang tidak penting?” Rachel mendorong tangan Linc lalu duduk. Kedua tangannya menutupi pipinya yang memerah. "Ya ampun. Oh Linc. Aku tidak mau harus mengatakannya dengan cara ini. Seharusnya aku bilang sejak awal, tapi aku begitu terhanyut, aku betul-betul lupa. Seharusnya aku bilang waktu pertama kali aku dan Linda ke klinik, tapi aku malu dan tidak yakin pada Keputusanku—"

"Wow, Sayang. Pelan-pelan. Aku tidak mengali apa yang kaubicarakan."

"Aku bicara tentang apa yang ada di dalam bungkusan kecil itu," bisik Rachel.

"Itu alat KB."

"Kau tahu tentang alat KB?” sekarang Linc yang kaget.

"Ya. Aku dan Linda pergi ke klinik. Dia perlu diperiksa dan dia pikir aku juga perlu Dokter bertanya apa aku sudah menikah, dan saat aku bilang ya, dia menunjukkan macam-macam alat KB. Aku pilih pil.”

"Kau pilih pil?”

"Oh, sayang. Seharusnya aku berkonsultasi dulu denganmu."

"Jadi kau minum pil KB. begitu maksudmu?”

"Sudah lebih dari sebulan. Linda membawaku ke klinik minggu pertama aku di sini."

Linc mencium Rachel dan menggosok hidungnya dengan penuh kasih.

"Rachel, tiap hari kau membuatku makin kagum. Kau tahu itu?”

"Kau yang membuatku kagum, Linc.”

Aroma rumput segar mengingatkan Linc pada hari pertama mereka bertemu. Rasanya sudah begitu lama meski baru beberapa minggu. Linc ingat betapa gugupnya Rachel saat dia memegang tangannya dalam upacara pernikahan mereka yang seperti mimpi.

Hari ini adalah yang sesungguhnya.

Linc berguling ke samping dan berbaring telentang, menyandarkan kepala Rachel di bahunya. Rachel mendesah puas dan Linc juga hampir melakukannya, tapi ingatan tentang percakapan pertama mereka dan janji-janji pernikahan mengusik hati kecilnya. Dia pernah mengatakan pada Rachel bahwa pernikahan mereka pasti akan dibatalkan. Tapi dia juga sudah berjanji untuk melindungi dan menyayanginya seperti layaknya suami pada istrinya. Dialah yang membuat Rachel merasa seperti istrinya. Tidak heran Rachel berharap pernikahan ini akan berjalan terus. Parahnya lagi, Linc masih saja membuat janji-janji. Janji-janji yang diikat dengan ciuman dan percintaan yang dahsyat.

Download

Selasa, 01 Agustus 2017

Anugrah Bidadari

Buku ini menurut Mimin : 

Sangat menarik! Bintang 8 dari 10.

Pertama kali baca, Mimin langsung menikmatinya. Ceritanya runut dan bagus, tidak membuat pusing kepala karena menemukan hal yang tidak begitu penting dan tidak ada hubungannya dengan alur cerita. Meski mungkin novel ini cenderung jadul, ditulis pun entah oleh siapa sebab Mimin menemukan buku ini di internet beberapa tahun lalu, tapi seolah pembaca diberi imajinasi yang luas tentang sebuah kerajaan Eropa di masa-masa dulu. Buat yang penasaran, download aja, dan baca secara perlahan agar bisa menikmati keseruannya.

Sedikit nukilan :

Altamyra merasa tertipu. Mereka berhasil membujuknya dan kini ia menderita karenanya. Pinta mereka, “Kami mohon demi menyelamatkan…”

Altamyra mendengus kesal teringat kata menyelamatkan itu. Siapa pun yang akan diselamatkannya, ia tidak peduli lagi. Saat ini untuk menyelamatkan diri sendiri dari panas saja, ia tak mampu. Apalagi yang lain!?

Demi kata itu pula ia rela meninggalkan tempatnya yang hijau permai dan subur ke daerah yang panas seperti padang pasir ini. Di tempatnya, angin meniupkan daun-daun tetapi di sini debu saja yang terlihat.

Altamyra merasa sedikit beruntung mereka menggelung rambut pirangnya tinggi-tinggi. Kalau tidak, ia yakin sekarang ia sudah menjadi manusia setengah matang di tungku matahari ini.

Kereta tiba-tiba berhenti.

Altamyra baru saja menduga para prajurit menemukan tempat yang sejuk untuk berteduh, ketika suara gaduh itu terdengar di luar.

Suara pedang yang beradu itu membuat Altamyra cemas. Ia ingin meninggalkan kereta tapi pelayan di sampingnya mencegah.

“Jangan lakukan itu! Di luar terlalu bahaya”

Melalui jendela pintu kereta, Altamyra melihat pengawal-pengawalnya jatuh satu per satu. Mereka semua bersimbah darah.

Tiba-tiba seseorang muncul di jendela dan mengejutkan mereka. Mulut orang itu berdarah dan ia membelalak pada mereka. Perlahan-lahan orang itu jatuh ke bawah.

Pemandangan itu membuatnya tidak tahan lagi. Tanpa menghiraukan larangan, ia membuka pintu kereta lebar-lebar dan melompat keluar.

Apa yang dilihatnya ternyata lebih mengerikan dari perkiraannya. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Darah merah yang segar membanjiri tanah.

“Masuklah kembali” pelayan itu menariknya, “Di sini terlalu bahaya untuk…” Mereka dikejutkan seseorang yang rubuh di dekat mereka.

Prajurit itu menarik ujung gaun Altamyra dan seperti hendak mengucapkan sesuatu. Belum sempat ia mengatakannya, sebuah pedang telah menancap di punggungnya.

Ditatapnya dengan marah orang itu. “Beraninya engkau melakukan itu” geram Altamyra, “Dasar tidak punya belas kasihan!”

Pria itu tersenyum sinis.

Kemarahannya semakin memuncak. “Apakah menurutmu nyawa manusia itu sedemikian murahnya!? Apakah bagimu nyawa itu tidak ada harganya!? Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkannya!?”

Pria itu terkejut melihat air mata gadis itu.

“Apakah engkau tidak dapat berpikir!? Bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkannya? Apakah kau tidak dapat berpikir betapa sedihnya mereka kalau ia pulang hanya nama!?”

Dari atas kudanya, pria itu membungkuk. Tangannya terulur ke wajah Altamyra tapi ia menepisnya dengan penuh kemarahan. Pria itu tertawa sinis.

Sang pelayan memegang lengan Altamyra dengan ketakutan. “Sebaiknya kita tidak membuatnya marah” bisiknya.

“Siapa yang mengatakan aku tidak punya belas kasihan?” pria itu berkata tajam, “Kalian beruntung, aku tidak pernah membunuh anak-anak dan wanita”

“Bagus kalau engkau menyadarinya!” balas Altamyra sinis. Pria itu tersenyum simpul.

Altamyra terkejut tiba-tiba tubuhnya diangkat.

“Lepaskan aku!” serunya marah, “Aku tidak sudi kausentuh!”

Ia hanya tersenyum sinis menghadapi rontaan Altamyra. “Sekarang engkau tawananku”

”Aku tak sudi menjadi tawanan pembunuh sepertimu!”

“Kembalilah pada keluarga majikanmu dan katakan putri mereka kini menjadi tawananku” kata pria itu sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Altamyra.

“Mundur!” perintah pria itu lalu ia membawa kudanya berlari ke dalam hutan.

https://www.mediafire.com/file/rqprrpnfnibuojn/Anugrah%20Bidadari.rar

Kamis, 20 Juli 2017

Twilight

Judul : Twilight
Pengarang : Stephanie Meyer
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : October 5, 2005
Jumlah halaman : 864
halaman Jenis buku : Novel Remaja
Tentang tiga hal yang aku yakini kebenarannya, pertama Edward adalah vampire. kedua, ada bagian dari dirinya –yang aku tidak tahu seberapa dominan bagian itu– haus akan darahku dan yang ketiga aku jatuh cinta padanya teramat dalam dan tanpa syarat”

Bella Swan, gadis cantik yang memiliki masalah dalam kepercayaan diri dan koordinasi tubuhnya sendiri, baru saja pindah dari Phoenix, Arizona yang mayoritas bercuaca panas ke Forks, Washington yang mayoritas cuacanya hujan untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie, setelah ibunya, Renée, menikah dan tinggal bersama suami barunya, Phil, seorang pemain bisbol. Setelah pindah ke Forks,Bella bertemu dengan anak angkat keluaga Cullen. Emmet, Rossalie, Jasper, Alice dan Edward. walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, namun mereka sangat mirip. empat saudara dengan ketampanan dan kecantikan yang luar biasa, berkulit pucat,memiliki keanggunan yang tidak tertandingi, dan kemisteriusan.

Dalam kelas biologi, Bella tidak memiliki pilihan kecuali harus duduk dengan Edward Cullen. respon Edward yang amat sangat tidak ramah, membuat Bella merasa kalau Edward membencinya. selain itu di hari pertama, Edward selalu menjaga jarak dengannya, menahan napas dan selalu memandangi Bella dengan tatapan aneh. seperti sesuatu yang tidak enak tercium dari diri Bella. Setelah itu Edward menghilang selama seminggu dan membuat Bella makin merasa kalau pria itu sangat membencinya tanpa alasan yang jelas.

Edward kembali muncul di kelas biologi. Bagai memiliki kepribadian ganda, dia begitu ramah dan sopan kepada Bella saat itu. gadis itu menyadari ada yang berubah pada diri Edward, yaitu warna matanya. pertama kali ia melihat Edward, pria tampan itu memiliki warna mata hitam kelam, dan sekarang warna matanya bagai emas cair dan berpendar.

Suatu pagi, saat salju turun, Bella hampir celaka karena salah satu van temannya –Tyler– hampir menggilas tubuh gadis itu, kalau Edward tidak segera menolongnya. sebelumnya ia melihat Edward berdiri tepat di samping mobilnya dan mengamatinya dari jarak yang cukup jauh. namun tiba-tiba saat insiden itu terjadi, Edward sudah menolongnya dalam gerakan yang amat cepat dan yang membuat Bella kaget, pada Van yang hampir menabraknya pun terdapat sebuah lekukan misterius, seakan van tersebut telah membentur benda yang sangat keras (bahu Edward). dan lengkukan aneh itu sangat pas pada bahu Edward. Bella amat bingung dan yakin bahwa ada sesuatu pada diri Edward yang menandakan bahwa mungkin dia bukan manusia biasa. seperti seorang pahlawan –superhero– yang mungkin menurut teorinya terkena radioaktif atau bahkan kryptonite. Bella yang selalu penasaran menanyakan hal itu pada Edward, namun Edward tidak mau menjelaskannya dan kembali bersikap kasar dan semakin menjaga jarak dengan Bella.

Setelah mendiamkan Bella selama beberepa hari,Edward kembali bersikap baik dan sopan. Ia meminta maaf dan mengatakan pada Bella bahwa sebaiknya mereka tidak usah berteman, karena dirinya bukan orang yang baik dan bella menyangkalnya. Bella yakin bahwa Edward berperilaku kasar padanya bukan karena ia jahat tapi karena ia menyembunyikan sesuatu –seperti Edward memakai topeng–. Bella mengajak Edward untuk ikut bersamanya dan teman-teman yang lain untuk pergi ke pantai reservasi suku Quilute, first beach, La Push, namun dengan sopan Edward menolaknya dengan alasan bahwa terlalu ramai.

Di First Beach, Bella bertemu Jacob Black. yang merupakan teman kecilnya yang 1 tahun beberapa bulan lebih muda, namun Bella sudah lupa. Lauren, salah satu teman bella yang tidak terlalu suka padanya mulai memprovokasikan tentang ‘mengapa Bella tidak mengajak Edward Cullen’. Hal tersebut memancing salah satu teman Jacob Black menyinggung tentang ‘Keluarga Cullen tidak datang kemari –reservasi suku Quileute–. Hal ini menarik kecurigaan Bella. Gadis cerdik itu berusaha mangajak Jacob jalan-jalan berdua dengannya lalu merayu Jacob agar mau menjelaskan maksud perkataan temannya tadi. karena Jacob menganggap cerita tentang sukunya adalah suatu khayalan yang konyol dan Bella pun berjanji tidak akan membocorkan ke siapa pun, maka ia pun menceritakannya yaitu tentang legenda sukunya. Suku Quileute adalah keturunan serigala dan mempunyai satu-satunya musuh yaitu vampir. Menurut kepercayaan mereka hal itu berhubungan erat dengan keluarga Cullen dimana keluarga Cullen adalah vampir-vampir yang membuat perjanjian dengan kakeknya Jacob –Efraim Black– untuk tidak pernah menginjakkan kakinya ke daerah sukunya.

Di rumah, Bella mencari -cari informasi tentang Vampir karena diapun belum percaya sepenuhnya, namun ia hanya menemukan kecocokan dengan apa yang diceritakan Jacob. hingga cerita seram itu menghantui mimpinya. Ia pun melihat Edward berkilauan, memiliki taring dan dengan sorot mata berbahaya sedang memanggilnya. namun Bella sama sekali tidak takut dan saat itulah Jacob muncul. secara tiba-tiba jacob berubah menjadi serigala kecoklatan yang sangat besar dan menerkam Edward. Saat terbangun dari mimpi buruk itu, Bella sadar, bahwa ia tidak bisa kehilangan Edward. dan apapun sebenarnya Edward itu tidaklah penting baginya. keesokan harinya, adalah pagi yang cerah bagi forks. matahari bersinar terang dan tanpa mendung, dan keluarga cullen menghilang. Saat itulah Bella menunggu di taman sekolah, tapi Angela pun memberitahukan padanya kalau setiap cuaca cerah, keluarga Cullen tidak akan muncul karena mereka –seluruh keluarga Cullen– pergi Hiking.

Bella sudah lama ingin membeli beberapa buku. Kebetulan Angela dan Jessica ingin pergi ke Port Angels, ia pun ikut serta. Pertama ia menemani Angela dan Jessica ke toko baju –Angela memintanya untuk memberi masukan terhadap apa yang akan mereka beli– , lalu setelah selesai memilih baju, sepatu dan pernak-pernik lainnya, Bella memisahkan diri dari mereka untuk pergi ke toko buku. Namun toko buku itu ternyata tidak seperti yang ia harapkan –terlalu misterius dan tidak mungkin menjual buku yang ia cari– maka ia pun beranjak dari toko itu untuk mencari-cari toko buku yang lain. Bukannya menemukan yang ia cari, malah ia tersesat dan bahaya pun mendatanginya. Ia diganggu oleh beberapa preman yang sedang mabuk. Mereka menjebaknya hingga sampai pada tempat dimana ia ttidak bisa melarikan diri lagi. Saat terjepit itulah Bella memikirkan strategi apa saja yang bisa menolong dia –seperti menendang tulang selangka atau meniju wajah para preman itu karena mau lari pun pasti ia jatuh sedangkan berteriak ia tak sanggup mengeluarkan suara karena tenggorokannya tercekat–. Saat itulah tiba-tiba Edward datang dengan Volvo silvernya, melaju kencang dan tiba-tiba berhenti di depan para preman itu. Pintu penumpangnmya dibuka dan Edward menyuruh Bella masuk. Demikianlah Edward menyelamatkan Bella lagi. Bella menatap wajah edward yang kelihatan sangat kalut berbahayadan mengancam, namun Edward meminta Bella untuk mengalihkan perhatiannya. Bella menyinggung tentang ia akan membunuh Tyler dengan menabrakkan mobilnya ke van Tyler karena ia selalu mengganggu Bella akibat rasa bersalahnya menabrak Bella tempo hari. Hal itu pun berhasil mengalihkan perhatian Edward. Mereka kembali ke toko Port Angels setelah Edward suasana hati Edward agak terkendali dan menemui kedua teman Bella. Berhubung Jessica dan Angela telah selesai makan direstoran, Edward pun meminta izin pada mereka untuk mengajak Bella makan malam karena ia khawatir akan Bella. Pada saat di restoran, para pelayan terkagum-kagum akan ketampanan Edward dan mulai merayunya. Edward pun tidak mengidahkan pelayan tersebut, matanya hanya terpaku pada Bella saja. Ia meminta tempat duduk yang bersifat privasi. Saat memesan makanan, Edward memesan dua Coke –yang kedua-duanya disodorkan kepada Bella juga–, Bella pun memesan Mashroom Raviolli dan memakannya sekalian meminta penjelasan yang masuk alak terhadap Edward tentang hal-hal mengejutkan yang selalu ia lakukan untuk menyelamatkan hidup Bella. Dengan desakan Bella, Edward menceritakan bagaimana caranya menemukan Bella yaitu dengan membaca pikiran dan mengikuti aromanya. Ia pun mengaku kalau ia tak bisa lagi menjauh dari Bella karena ia merasa tidak sanggup lagi untuk berpura-pura di depan Bella. Ia pun menjelaskan cara kerja bakat yang dimilikinya pada Bella dan meminta Bella memberitahu apa yang ada di benaknya –Edward tidak bisa membaca pikiran Bella–. Sebagai imbalannya ia meminta Bella menceritakan suatu teori baru tentangnya.

Dan Bella mengutarakan apa yang di ketahuinya dari Jacob tentang Legenda suku Quileute dan segala yang diberitahukan Jacob padanya. Edward menegang dan terpaksa mengakui kebenaran dari cerita itu. Edward adalah seorang Vampir, keluarganya adalah keluarga vampir.

“Aku adalah predator terbaik di seluruh dunia. Segala sesuatu tentang diriku menarik dirimu. suaraku, wajahku, bahkan aromaku. Seolah-olah aku perlu semua itu! Seperti kau bisa berlari lebih cepat daripada diriku saja!Seperti kau bisa melawanku saja” (edward cullen)


Kamis, 01 September 2016

Luka Cinta Andrea

Ini buku novel nonfiksi investigasi tentang kasus seorang wanita Amerika yang membunuh ke-5 anaknya dalam satu hari yang sama. Penulis merangkum dengan kemasan yang menarik sehingga membuat pembaca seolah-olah berada di situasi yang digambarkan. Banyak yang tidak percaya wanita ini melakukan kejahatan yang besar, tapi inilah kenyataan yang harus diterima.

Menurut penuturan psikiater, wanita ini mengalami depresi paska persalinan, yaitu dimulai saat dia melahirkan anak yang kedua. Perilaku wanita ini, dia sering melakukan tindakan bunuh diri. Dia sempat dievakuasi ke tempat yang aman dan terpisah dari suaminya. Dia diperlakukan layaknya orang-orang psikosis, yaitu dengan memakan bermacam-macam obat. Obat yang cukup berhasil menanggulangi perilaku psikosisnya, yaitu Haldol sering dikonsumsinya.

Perkenalannya dengan seorang mantan pemuka agama membuat dirinya bertambah kalut sehingga muncul pikiran,” Dia harus menyelamatkan anak-anaknya dari kejahatan yang ada di dunia sebelum bertambah parah.” Dia merasa gagal menjadi seorang ibu dan ingin mengantarkan anak-anaknya ke surga. Inilah yang selalu menghantui hari-harinya. Delusi rasa bersalah tentang hidup, ditambah lagi kondisi tempat tinggal (mereka membeli bus yang dibuat sebagai rumah) yang sering berpindah-pindah, ketidakdekatan dengan tetangga menjadikan dia tidak mempunyai tempat berbagi, dan semua dia tugas rumah dikerjakannya sendiri. Suaminya hanya tahu bekerja dan tidak memperhatikan kondisi istri.

Di saat terakhir dia hendak membunuh anak-anaknya, dia telah berdelusi. Sebelumnya dia berusaha mengatasi delusi-delusi itu, dia mencoba menghubungi pihak yang berwajib tapi tidak ada tanggapan, begitu pun dia hubungi suaminya. Delusi itu sebelumnya sering datang karena penghentian mengkonsumsi haldol sudah lama dilakukannya. Beberapa anak ditenggelamkan di bathtube dan 2 anak yang sudah besar dibunuh dengan cara yang berbeda. Setelah dia menenggelamkan satu anak, dia letakan anaknya di atas kasur lalu ditutupi selimut, berikut sama halnya dengan anak-anak yang lain. Kasur itu sudah penuh dengan mayat anak-anak ketika suaminya pulang ke rumah !

Novel ini sedikit menyeramkan, namun selalu ada pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di dalamnya :

1. Berbagi itu penting meski sekedar mengurangi beban jiwa dan juga tidak begitu banyak yang kita dapatkan dari sekedar menggungkapkan perasaan. Berbagilah dengan orang,  waktu, dan kondisi yang tepat.

2. Ada pendapat orang yang bisa kita terima dan kita kerjakan, tapi ada juga yang tidak. Memilah pendapat untuk dilaksanakan adalah yang terbaik. Gunakan logika dan jika memungkinkan, tanyakan pendapat orang lain tentang hal tersebut.

3. Pelajarilah ilmu agama dengan benar, jangan salah kaprah dan salah penafsiran. Terkadang, yang membuat orang terbebani adalah penafsiran yang salah tentang sesuatu padahal sebenarnya sesuatu itu sederhana sekali.

4. Anak adalah anugrah, jagalah dan rawatlah dengan baik. Mereka ada buka untuk dilukai. Mereka adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban-Nya kelak.

5. Penerimaan diri ‘Aku sudah jadi ibu sekarang’ akan lebih baik daripadah penyangkalan karena banyak kasus, termasuk kasus ini.

6. Adanya timbal balik dan tidak secara penuh menyerahkan tugas mengurus rumah tangga dan anak pada satu pihak (istri/ suami saja). Keduanya harus saling mengisi dan mencoba untuk saling memahami keadaan masing-masing sehingga keikhlasanlah yang ada. Berkeluarga adalah berjuang bersama.

7. Setiap permasalahan selalu ada solusinya dan alternatif lain yang bisa kita lakukan. Jangan menggampangkan hingga tanpa pikiran mengorbankan sesuatu yang sangat berharga.

Menurut saya, buku ini layak ditelaah oleh para psikolog, psikiater, pekerja sosial, dan setiap pasangan yang sudah berumah tangga. Silahkan dibaca.

Download

Senin, 29 Agustus 2016

Rare Beast : Hewan Langka

Suatu hari menjelang berakhirnya musim panas, Ellen memperhatikan tamannya melalui jendela yang sangat kotor dan melihat bahwa tanamannya menjadi layu dalam udara yang panas dan lembab disiang hari. Sudah berminggu-minggu dia tidak menyirami tanaman-tanaman itu atau memberi pupuk pada anggrek taringnya, sehingga daun-daunnya terkulai seolah-olah hendak menyentuh tanah dan berusaha merayap untuk memperoleh makanan dan tempat berlindung. Ellen sama sekali tidak perlu keluar, sebagaimana yang sudah dia rencanakan, untuk memangkas pohon-pohon cemara. Jadi, ketika sebagian besar anak-anak muda di Nod's Limbs berenang di kolam renagn atau bermain-main di sungai, Edgar dan Ellen tinggal di dalam rumah mereka yang gelap untuk bermain petak-umpat.

Rumah mereka terdiri dari beberapa lantai termasuk sebuah ruang semi-bawah tanah, ruang bawah tanah, loteng dan loteng-di atas-loteng. Meskipun rumah itu sangat sempit sehingga masing- masing lantai hanya terdiri dari dua atau tiga ruangan, sebenarnya ada banyak sekali ruangan di rumah ini. Setiap ruang dipenuhi dengan lemari, sofa serta tirai, dan ruang-ruang kecil yang kotor yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian dalam permainan petak-umpat sepanjang musim panas.

Orang tua Edgar dan Ellen sudah lama pergi untuk melakukan perjalanan "keliling dunia" yang panjang. Paling tidak begitulah yang dikatakan dalam surat pendek yang mereka tinggalkan. Tanpa seorang pun yang membersihkan, rumah yang luas itu semakin dipenuhi sarang laba-laba dan gulungan debu, menjadikannya tempat yang sempurna bagi permainan mereka setelah ditambah dengan simpul- simpul yang unik buatan mereka berdua.

Dalam permainan petak-umpat biasa, permainan selesai begitu salah satu pemain menemukan temannya yang sedang bersembunyi. Nah, menurut cara Edgar dan Ellen, permainan tidak hanya berakhir setelah mereka menemukan teman yang bersembunyi. Permainan baru berakhir setelah teman yang sedang bersembunyi itu dapat ditaklukkan. Artinya, si pencari harus terlebih dahulu menemukan tempat persembunyian dan kemudian harus bergulat untuk menaklukkan teman yang bersembunyi itu. Usaha penaklukan ini bisa menjadi perjuangan yang suit karena kedua saudara kembar ini sudah saling mengetahui gerakan gulat masing-masing, dan biasanya permainan ini berakhir dengan mengikat tangan dan kaki si pencari atau teman yang bersembunyi dengan tali yang selalu mereka bawa.

Tentu saja, begitu salah satu dari si kembar ini terikat, maka berarti dia sudah kalah dan berada dalam kekuasaan pemenang. Biasanya pemenang hanya akan menunjukkan sedikit sekali belas kasihan sebelum dia mulai mencari tempat persembunyian yang baru dan membiarkan si kalah berjuang
sendiri untuk melepaskan ikatannya.

Ellen amat mahir dalam menggunakan gigi serta kukunya yang tajam untuk memotong ikatan, sementara Edgar telah mempraktekkan cara yang tenang yang digunakan oleh seniman terkenal dalam bidang meloloskan diri. Namun demikian, biasanya keduanya membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk melepaskan diri dari ikatan mereka. Dan satu jam adalah waktu yang cukup lama untuk menemukan tempat persembunyian lain yang baik.
Download



Komplikasi : Drama Di Ujung Pisau

Suatu kali, ketika aku sedang bertugas di unit trauma, seorang anak muda sekitar dua puluh tahun didorong masuk (di atas brankar), tertembak di bokongnya. Denyut nadi, tekanan darah, dan napasnya semua normal. Seorang perawat menggunting bajunya. Kupandangi pasien ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, mencoba mengamati secara sistematik walau cepat. Tampak luka masuk di belahan bokong kanannya, lubang ukuran sekitar satu sentimeter, merah dengan tepi rapi. Tak kutemukan luka keluar dan tak ada luka lainnya.

Ia tampak lebih takut dan was-was kepada kami ke-timbang kepada peluru di tubuhnya. "Saya baik-baik saja," katanya bersikeras. "Saya baik-baik saja." Tetapi, pada sarung tanganku, setelah mencolok duburnya, tam¬pak darah segar. Dan ketika kateter dipasang, tampak cairan merah terang mengalir dari kandung kemihnya.

Kesimpulannya jelas. Darah itu menunjukkan bahwa peluru masuk ke tubuhnya melalui rektum dan kandung kemih, begitu kataku padanya. Pembuluh darah utama, ginjal, dan bagian usus lainnya mungkin terluka juga. Ia harus dioperasi, dan itu harus dilakukan sekarang, kataku. Ia menangkap pandanganku, melihat para perawat mulai mempersiapkannya, dan hampir tanpa sadar ia mengangguk, tanda menyerahkan nasibnya pada kami. Tak 14 lama terdengar derit roda brankar, kantung infus tergan¬tung berayun-ayun, dan beberapa orang membukakan pintu untuk kami agar bisa lewat. Di ruang bedah, ahli anestesia segera membiusnya. Kami buat sayatan dalam dan tajam dengan cepat di garis tengah perutnya, mulai dari lengkung iga sampai ke tulang kemaluannya. Kami pasang retraktor dan membuka perutnya. Dan ... tak kami temukan apa pun.

Tak ada darah. Kandung kemih utuh. Rektum utuh. Tak ada peluru. Kami melirik sekilas ke tetesan urin yang keluar dari slang kateter. Sekarang tampak normal, kuning jernih. Bahkan tak ada lagi setitik darah pun. Kami bawa alat sinar-X ke ruang bedah dan kami ambil foto panggul, perut, dan dadanya. Tak ada peluru pada ketiga foto itu. Ini benar-benar ajaib. Akhirnya, setelah hampir satu jam mencari dengan sia-sia, kami putuskan menutup kembali luka bedah. Beberapa hari kemudian, kami lakukan kembali pemeriksaan sinar-X pada perut.

Kali ini tampak peluru bersarang di perempat kanan atas perut pemuda itu. Kami tak dapat menjelaskan apa pun tentang semua ini—bagaimana caranya peluru satu sentimeter yang masuk dari bokong bersarang di bagian atas perut tanpa melukai apa pun, mengapa peluru itu tak terlihat pada pemeriksaan sinar-X pertama, atau dari mana datangnya darah yang kami lihat sebelumnya. Namun, karena kami telah melakukan sesuatu yang sebenarnya lebih berbahaya daripada peluru itu sendiri, akhirnya kami putuskan untuk membiarkan peluru itu tetap di perutnya. Seminggu kemudian, ia pulang tanpa kurang suatu apa pun selain parut luka yang kami buat. 

Aku sadar, ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. Taruhannya begitu tinggi, kewenangan yang diambil begitu besar. Kami cekoki orang dengan obat, kami masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kami kutak-katik mereka secara fisik, biologis, dan kimiawi, kami buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya untuk dilihat semua orang. Kami lakukan semua itu dengan keyakinan yang mantap tentang keterampilam kami sebagai profesional. Tetapi, bila diamati lebih dekat—cukup dekat untuk dapat melihat kesulitan, keraguan dan salah langkah, kegagalan maupun keberhasilan—maka akan tampak betapa kacau, tak pasti, dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran itu.

Yang masih mengejutkan bagiku adalah betapa sangat manusiawinya upaya itu. Biasanya, bila kita ingat ilmu kedokteran dan manfaatnya yang menonjol, maka yang terbayang adalah ilmunya dan betapa ilmu itu telah mem¬bantu kita memerangi penyakit dan kesengsaraan: berba¬gai pemeriksaan, berbagai mesin sebagai alat bantu, obat, dan beragam tindak pengobatan. Tanpa ragu lagi, semua itu adalah inti dari hampir semua yang dicapai oleh dunia kedokteran. Sayangnya, jarang sekali kita mempertanyakan bagaimana semuanya itu bisa terjadi. Bila batuk Anda tak kunjung sembuh—apa yang Anda lakukan? Anda tidak mencari ilmunya, tetapi mencari dokter. Seorang dokter yang kadang bisa mujur dan kadang bisa sial. Seorang dokter dengan tawa yang aneh dan potongan rambut jelek. Seorang dokter yang selalu tergesa, dan tentu saja, dengan kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilannya ia tetap mencoba belajar.

Belum lama berselang, seorang anak lelaki diterbangkan dengan helikopter ke RS tempatku bekerja. Lee Tran.....

Download

Lolita

Judul : Lolita
Penulis : Vladimir Nabokov
Penerjemah : Anton Kurnia
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 529 hal

Novel Lolita adalah mahakarya Vladimir Nobakov (1899-1977), penulis kelahiran Rusia yang kemudian menetap di Amerika Serikat. Walau kini Lolita telah diakui sebagai salah satu karya sastra klasik dunia, novel ini sempat dilarang beredar dan ditolak oleh beberapa penerbit Amerika karena tema dan isinya dianggap tidak senonoh dan melanggar standar moral masyarakat pada zaman itu

Novel ini akhirnya diterbitkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Perancis oleh Olympia Perss, 15 Sept 1955, penerbit Perancis yang biasa menerbitkan buku-buku serius dan beberapa buku ‘dewasa’. Seketika itu pula novel ini menjadi best seller dan laris terjual 5000 kopi. Langsung saja novel ini menuai kontroversi, akibatnya pada Desember 1956 pemerintah Perancis melarang peredaran novel ini selama hampir dua tahun lamanya.

Selang dua tahun setelah edisi pertamanya terbit di Perancis, pada 1958 Lolita diterbitkan di Amerika oleh penerbit G.P. Putnam's Sons. Sama seperti di Perancis, novel ini langsung menjadi best seller dan terjual 100.000 kopi pada tingga minggu pertama setelah diterbitkan.

Apa sebenarnya yang ditulis oleh Nobakov dalam novelnya ini? Novel Lolita yang diyakini mengandung elemen-elemen autobiografis Nobakov ini merupakan memoar seorang profesor bernama Humbert Humbert yang menuliskan petualangan cintanya bersama Lolita. Dalam bab pendahulaun dikisiahkan pada saat memornya diterbitkan, Humbert tewas dalam tahanan akibat penyakit jantung pada 1952. Memoar yang diberi judul “Lolita, ATAU Pengakuan Seorang Duda” ini akhirnya sampai ke tangan seorang editor yang kemudian menerbitkannya dengan judul Lolita. Dari memoar inilah cerita dalam novel ini bergulir.

Humbert Humbert adalah seorang terdidik yang lahir di Paris. Seperti umumnya pria remaja, gairah remajanya dilewatinya dengan menjalin cinta monyet dengan Annabel Leigh. Malangnya cintanya pada Annabel kandas karena kekasihnya meninggal akibat penyakit tipus. Menurut pengakuan Humbert kisah cintanya dengan Annabel inilah yang membuat dirinya mulai tertarik secara seksual kepada gadis-gadis kecil berusia 9 sampai 14 tahun yang disebutnya sebagai ‘peri asmara’ (nymphet).

Ketika beranjak dewasa gairahnya pada para peri asmara terus membuncah. Untuk menekan gairahnya ganjilnya ini Humbert akhirnya menikah dengan Vallerie gadis sepantarannya yang menurutnya memiliki gaya dan pesona seorang gadis kecil. Namun rumah tangganya ini tak berlangsung lama, Vallerie menghianatinya dan akhirnya merekapun bercerai.

Setelah bercerai, Humbert memutuskan berkelana ke Amerika. Jalan hidupnya menempatkan dirinya tinggal dalam sebuah pondokan di Ramsdale, New England. Di tempat inilah Humbert terkesiap melihat sosok Lolita, gadis berusia 12 tahun yang merupakan putri Charlote si pemilik pondokan. Humbert yang saat itu berusia tigapuluhan tak kuasa menahan gejolak asmara dan berahinya melihat Dolorez Haze atau Lolita, gadis kecil yang jelas merupakan ‘peri asmara’ baginya.

Demi mendapatkan cinta dan tubuh Lolita, Humbert rela menikahi Charlote, ibu gadis itu. Sempat terbesit niat jahatnya untuk membunuh Charlote. Namun keberuntungan seolah berpihak padanya. Charlote tewas dalam sebuah kecelakaan. Tanpa banyak menunggu, Lolita yang saat itu sedang mengikuti perkemahan bersama sekolahnya dijemput oleh Humbert dan dibawanya mengelilingi Amerika Serikat. Dan dimulailah petualangan cinta terlarang antara ayah dengan anak tirinya.

Novel ini menjadi menarik selain karena tema cinta terlarang antara ayah dan anak tirinya, Nabokov juga dengan deskriptif melukiskan nuansa psikologis tokoh-tokohnya dengan disertai penokohan yang kuat . Humbert yang berkepribadian rumit dan Lolita seorang pecinta kebebasan namun terkadang misterius. Dengan piawai Nabokov menggiring pembacanya untuk memahami kekuatan cinta seorang Humbert terhadap Lolita. Bagaimana keragu-raguannya ketika pertama kali berniat menyentuh tubuh anak tirinya, dan bagaimana Lolita melakukan tarik ulur dalam merespon cinta ayah tirinya.

Emosi pembaca akan dibawa pada rasa kasihan dan geram terhadap Humbert dan Lolita. Kasihan karena sesungguhnya Humbert adalah pribadi yang kesepian yang membutuhkan cinta. Geram karena gairahnya yang menggebu-gebu terhadap Lolita, kadang Humbert tak mempedulikan Lolita yang sedang sakit dengan tetap mencumbunya.

Bagi sebagian pembaca mungkin akan menganggap novel ini bukan novel yang cair dan mudah dimengerti karena Nabokov banyak mengeksplorasi kondisi kejiwaan dan lamunan-lamunan Humbert. Selain itu novel ini juga banyak menggunakan simbol-simbol yang baru akan dimengerti oleh pembacanya setelah melahap habis novel ini hingga lembar terakhir. Namun bagi sebagian pembaca lainnya justru hal-hal itulah yang membuat novel ini mengasyikan untuk dibaca hingga tuntas.

Meskipun bukan novel yang mudah dicerna, novel ini sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Agar dapat menikmati novel ini ada baiknya kita membacanya lebih ke pendekatan psikologis dibanding naratif sehingga kita bisa menikmati dan memahami gejolak jiwa Humbert yang sakit.

Menurut penerjemah novel ini, Anton Kurnia, yang dikenal sebagai cerpenis sekaligus penerjemah karya-karya sastra dunia. Nabokov memang menulis novelnya ini dengan menggunakan kalimat yang panjang-panjang dan sebagai besar berisi lamunan Humbert yang sakit jiwanya. Untuk itu Anton tak jarang harus memotong satu kalimat panjang dalam novel ini menjadi dua atau bahkan tiga kalimat agar lebih mudah dan tidak capek membacanya.

Hal itulah yang membuat Anton harus berjerih lelah untuk menghadirkan terjemahan yang baik. Menurut pengakuannya untuk menerjemahkan novel yang dalam edisi bahasa Inggrisnya setebal 300-an halaman ini, ia memerlukan waktu satu tahun hingga novel tersebut siap dicetak. “Ini terjemahan paling sulit dan paling lama yg saya tangani,: ini lebih berat dari les miserables (Victor Hugo)”, ungkap Anton. Namun walau sulit, Anton justru menikmati proses penerjemahannya ini, “Saya suka Lolita jadi saya ikuti terus liku-likunya”, imbuhnya.

Walau novel ini sempat menuai kontroversi tapi saya sendiri tak melihat ada sesuatu yang berlebihan dalam novel ini. Selain temanya yang tak lazim dalam standar moral masyarakat pada umumnya, rasanya tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Deskripsi pelampiasan gairah Humbert terhadap Lolita saya pikir masih dalam batas-batas keindahan sastrawi, masih kalah dengan beberapa novel-novel lokal yang terkesan lebih berani dalam mengurai adegan percintaan.

Yang pasti novel yang kini telah menjadi salah satu karya sastra klasik dunia, pada masanya pernah menjadi buku laris selama puluhan tahun. Karena kepopulerannya, Lolita sempat dua kali diangkat ke layer lebar (1962 & 1997). Berbagai pujian dianugerahkan kepada novel ini. BBC mendapuk Lolita sebagai novel terbaik sepanjang masa, Majalah Times menyatakan bahwa Lolita adalah salah satu diantara tiga novel paling berpengaruh di dunia.

Modern Library yang beranggotakan sejumlah pengarang, kritisi sastra dan itelektual ternama pada tahun 1998 melakukan pemilihan 100 novel terbaik abad ke dua puluh yang ditulis dalam bahasa Inggris. Pemilihan ini disusun berdasarkan peringkat. Lolita masuk dalam peringkat keempat dibawah Ullyses (James Joysce), The Great Gastsby (F.Scott Fizgerald), dan A Portrait Of The Artist As a Young Man (James Joyce).

Download

Empress Orchid

Benar kata pepatah zaman dahulu, bahwa seorang pria hanya takluk pada "3 ta", yaitu Tahta, Harta dan Wanita... Namun, runtuh dan bangkitnya suatu negara tidak lepas dari peranan seorang perempuan (wanita). Seperti halnya pada negara China dahulu saat masih diperintah oleh dinasti Qing (Manchuria). Ketika keadaan suatu kerajaan besar sedang morat-marit oleh serangan dari dalam dan luar negeri, muncul seorang Pahlawan yang juga dalam sejarah disebut sebagai tokoh antagonis penyebab kehancuran dari dinasti Qing itu sendiri. 

Di tengah gencarnya pemberontakan dalam negeri oleh etnis mayoritas, Han dan juga serangan dari luar negeri yang dipimpin oleh delapan negara barat, seorang perempuan bernama Anggrek mampu menguasai keadaan melalui tangan besinya. Anggrek yang merupakan putri dari gubernur Anhwei salah satu provinsi termiskin di wilayah China, terlahir dengan kondisi sedikit mengenaskan. Masa kecilnya penuh dengan kepahitan, saat berusia 17 tahun Anggrek harus menyaksikan kematian Ayahnya dengan mengenaskan. Tubuh mantan Gubernur yang dipecat secara paksa, terus dikerubuti oleh lalat karena bau membusuk. Sementara sanak keluarga dan pejabat kerajaan lainnya sama sekali tidak perduli dengan nasib sang gubernur yang sebenarnya sangat berjasa pada kerajaan. Tinggalah, Anggrek hanya dapat menatap sang Ayah yang terbujur kaku dalam seonggok peti mati nan berlubang. 

Dalam hatinya timbul suatu penyesalan mendalam yang akan menjadi sebuah dendam hingga ia dewasa nanti. "Ternyata begini nasib dari seorang mantan gubernur, ketika Ayah sehat selalu di elu-elukan rakyatnya. Tak lupa sang Putera Langit juga memandang derajatnya dengan tinggi. Namun saat sudah tiada, hanya hinaan yang Ayah dan kami sekeluarga dapatkan. Negara sungguh kejam, kelak aku akan memimpin negara ini dengan tanganku sendiri," sumpah Anggrek saat meratapi di depan peti mati Ayahnya. Sumpah yang tertanam di lubuk hati yang paling dalam dari seorang perempuan memang sangat berat, seberat langkah apapun yang menghadang pasti akan di laluinya... 

Jalan takdir manusia, tiada yang tahu begitu juga dengan kehidupan Kaisar yang di anggap sebagai putera langit. Saat Anggrek sudah mencapai dewasa, tidak dinyana sumpah yang ia ucapkan belasan tahun yang lalu terlaksana. Berawal dari keberuntungannya saat mengikuti sayembara untuk menjadi seorang selir Kaisar, lambat laun ia berubah melebihi permaisuri yang ada bahkan dalam puncaknya menjadi seorang Maharatu. 

Siapa nyana, Anggrek yang saat itu statusnya hanya seorang biasa berubah drastis dengan menjadi selir yang membawanya ke singgasana sang naga. Anggrek membuktikan bahwa sebagai perempuan, ia bisa memerintah kerajaan sebagaimana yang dilakukan oleh kaisar. Dari statusnya seorang selir, ia menjadi seorang putri bernama Yehonala yang berkat kepintarannya memikat hati sang Kaisar kemudian di anugerahi sebagai "Puteri kebajikan nan tak tertandingi!" 

Kisah cintanya dengan Kaisar semakin dekat saat Anggrek berhasil melahirkan seorang putera yang kelak diangkat menjadi putera mahkota, karena diantara ketujuh permaisuri dan selir lainnya tidak satupun yang dapat menghasilkan keturunan. Hingga saat Kaisar meninggal karena sakit, akhirnya Anggrek berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi penguasa kerajaan dengan gelar Maharani. Meski saat itu resminya yang memerintah adalah Tung Chih, puteranya bersama kaisar terdahulu, namun kenyataanya justru Anggrek yang memegang tampuk kekuasaan. Dalam memerintah kerajaan, Anggrek mempunyai peranan untuk mengatur segalanya, termasuk memerangi delapan negara asing yang menggerogoti dinasti Qing. 

Titahnya yang sangat dominan dari balik tirai ruang kerajaan, membuat sang Kaisar mirip seperti seorang boneka. Namun setidaknya Anggrek telah melakukan apa yang harus dilakukan sebenarnya dari seorang perempuan demi menyelamatkan negaranya sendiri. Toh, negara dalam keadaan kacau di dalam istana yang disebut sebagai "Kota Terlarang" penuh dengan kasim-kasim busuk yang senantiasa mengambil untung sendiri. Sementara pejabat lainnya malah berpesta pora dan tidak memperdulikan rakyatnya sendiri. Tiada jalan lain untuk mempertahankan negara dari kehancuran sekaligus singgasana yang telah diraihnya dengan susah payah, kecuali memakai tangan besi! Dan, itulah yang dapat dilakukan oleh seorang perempuan demi menyelamatkan kembali sebuah dinasti yang hampir runtuh di akhir abad ke 20.

Membaca novel Empress Orchid, dwilogi pertama dari Anchee Min membuat kita semakin tahu sejarah kelam dari negara China yang berasal dari keterpurukan dinasti Qing. Meski berbeda jauh dengan sejarah asli yang berkembang selama ini, namun Anchee Min mengurutkannya dengan sangat detail melalui data dan fakta yang begitu nyata serta penelusurannya ke berbagai museum di China dan juga tempat-tempat tersembunyi nan rahasia dalam Istana Terlarang. Anchee Min dalam bukunya seolah menyiratkan kebenaran dari sebuah fakta, bahwa sejarah itu dibuat oleh sang pemenang....

Download

Dragon Keeper

Mangkuk bambu itu melayang ke arah kepala si gadis budak. Seketika ia menunduk. Dia sudah berpengalaman menghindari bendabenda yang dilemparkan ke arahnya, mulai dari batu tinta hingga tulang ayam.

Tuannya kembali mengempaskan diri ke tempat tidur, kehabisan tenaga karena berusaha melempar mangkuk tadi. "Beri makan binatang- binatang itu, anak sialan."

"Ya, Master Lan," sahut si gadis.

Lan merengut dan menatapnya dengan ekspresi muak, seakan dia melihat sesuatu yang menjijikkan. Lan hanya tersenyum kalau sedang menertawakan ketololan si gadis budak.

"Jangan lama-lama."

"Tidak, Master Lan."

Si gadis menyelinap ke luar rumah tepat ketika sebuah guci anggur kosong melayang ke arah pintu.

Hari itu udara terasa dingin menusuk tulang. Si gadis budak pun bergegas menuju kandang- kandang binatang. Kelihatannya tak lama lagi bakal turun hujan salju, karena langit tampak mendung.

Si gadis memakai celana panjang yang kepen-dekan, dan pada bagian lututnya penuh tambalan. Tuniknya pun sudah lusuh dan banyak tisikannya. Pakaiannya itu tidak dapat menghentikan angin dingin yang langsung menembus ke kulitnya.

Si gadis tidak mempunyai nama; dia pun tidak tahu berapa usianya. Rasanya sudah seumur hidup dia tinggal di Istana Huangling. Pernah pada musim panas tahun lalu, Lan mengatai bahwa dia terlalu bodoh untuk ukuran gadis berumur sepuluh tahun. Karena hanya bisa menghitung sampai sepuluh, dia tidak tahu sudah berapa usianya sekarang.

Gunung Huangling termasuk dalam serangkaian pebukitan gersang yang menandai perbatasan sebelah barat kekaisaran Han. Sepanjang musim dingin, wilayah tersebut terkubur salju hingga sepinggang, dan di terpa angin dingin membekukan. Sebaliknya pada musim panas hawanya begitu membakar sehingga rasanya seperti bernapas dalam kobaran api. Ayah sang Kaisar sengaja membangun istana di tempat terpencil ini untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekaisarannya. Tapi saking jauhnya lokasi istana ini dari mana- mana, hanya sedikit sekali orang yang pernah melihatnya.

Tempat kediaman Kaisar luasnya lebih dari tiga perempat keseluruhan lahan istana yang dikelilingi tembok tinggi. Kandang, gudang, dan pondok pelayan dibangun berdesakan di seperempat bagian tanah yang tersisa. Selama si gadis budak di Huangling, belum sekali pun Kaisar datang ke istana itu.

Para budak tidak diperkenankan masuk ke dalam istana. Master Lan mengancam akan memukul kalau si gadis budak berani masuk ke sana. Kadang- kadang Master Lan pergi ke istana itu, dan biasa¬nya dia pulang dalam keadaan marah. Dia terus menggerutu tentang ruangan yang terbuang sia-sia serta perabot yang hanya diselubungi kain, semen¬tara dia harus tidur di rumah yang berkamar satu dan beratap bocor.

Dibandingkan sudut kandang lembu, tempat si gadis budak tidur yang beralaskan jerami, rumah Master Lan tampak sangat mewah. Lantai tanahnya dilapisi karpet, dan ada lukisan naga di atas bentangan sutra biru di temboknya. Perapian terus dinyalakan sepanjang musim dingin, begitu juga sistem pipa yang dipasang untuk menghangatkan tempat tidurnya. Bahkan jika disamakan dengan tempat tinggal si gadis budak, kandang kambing tampak lebih bagus.

Tapi bukan kambing itu yang akan diberi makan oleh si gadis. Juga bukan lembu, babi atau ayam. Di sudut terjauh di istana itu, ada sebuah "kandang" lain. "Kandang" itu berupa lubang di dalam tanah, sumur batu karang Huangling yang dipahat dengan kasar. Satu-satunya jalan masuk ke lubang ini berupa pintu berjeruji, bukan terbuat dari bambu seperti kandang binatang lainnya, melainkan dari perunggu.

Ketika melongok ke dalam lubang, dia tak bisa.......

Download

Charlie : Si Jenius Dungu

Judul buku : Charlie Si Jenius Dungu
Penulis : Daniel Keyes
Penerbit : UFUK
Cetakan I : Maret 2009
Cetakan II : Mei 2009
Cetakan III : Agustus 2009
Tebal : 457 hal

Terlahir dengan IQ dibawah rata – rata bukanlah keinginan setiap orang. Dimana dengan IQ yang dibawah 100 membuat seseorang tidak dapat mengerti tentang sesuatu hal yang dilakukannya atau segala hal yang berada dilingkungan sekitarnya. Tingkah laku seseorang yang mengalami hal seperti ini cenderung bersikap seperti anak – anak yang belum mengerti apa – apa walaupun usianya sudah menginjak dewasa Ia akan tetap menjadi seorang yang polos yang tidak mengerti apapun.

Dalam buku novel yang berjudul Charlie Si Jenius Dungu ini menggambarkan suatu perjalanan hidup seorang anak laki – laki yang terlahir hanya dengan IQ 68. Dimana Ia mendapat perlakuan tidak adil dari orang tuanya yang merasa malu karena mempunyai anak seperti Charlie selain itu Ia juga harus selalu menjadi bahan olokan orang – orang atas kebodohannya. Namun penderitaan yang dialami Charlie tidak semata – mata membuat Ia putus asa, hingga akhirnya Ia berusaha bagaimana caranya Ia menjadi pandai seperti layaknya orang – orang normal lainnya.

Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup seorang pria bernama Charlie yang terlahir dengan IQ 68 yang terbuang dari keluarganya hingga akhirnya Ia di asuh oleh seorang yang mempunyai toko roti bernama Paman Doner dan memperkerjakannya disana. Hingga pada suatu hari seorang dokter dan proffesor yang pernah melakukan percobaan mengoperasi seekor tikus hingga menjadi tikus yang jenius menawarkan Charlie untuk melakukan operasi serupa hingga Ia bisa menjadi jenius seperti tikus yang diberi nama Algernoon. 

Akhirnya operasi pun berjalan lancar dan dengan keseriusan dan kerja kerasnya mempelajari segala hal, Charlie pun berubah dari Charlie si dungu menjadi Charli si jenius. Namun kejeniusan yang dimilikinya tidak kelak membuat Ia disukai oleh banyak orang seperti yang Ia harapkan selama ini yaitu diperlakukan layaknya manusia normal dan disenangi oleh banyak orang. Dan karena kejeniusan yang dimilikinya secara tiba – tiba pun Ia harus kehilangan pekerjaanya ditoko roti dan teman – temanya. Hingga akhirnya kejeniusan yang dimilikinya perlahan menghilang dan Charlie pun kembali menjadi Charlie yang dahulu sebelum dioperasi yaitu Charlie si pria dungu yang baik dan polos. Dengan kembalinya Charlie seperti yang dulu menyadarkan Charlie bahwa Ia lebih baik menjadi Charlie seperti ini dimana hidupnya terasa tenang serta Ia dapat kembali bekerja di toko roti Paman Donner dan kembali berkumpul dengan teman – temanya.

Dalam novel ini memberikan motivasi yang baik bagi orang – orang diluar sana yang mengalami nasib serupa seperti charlie dimana orang yang mempunyai IQ hanya 68 dapat menjadi pandai berkat usaha dan kerja keras serta keyakinan yang kuat. Dan bukan berarti dengan keterbelakangan seperti ini dapat membuat seseorang hidup sendiri tetapi masih ada yang ingin berteman dengannya. Selain itu banyak lagi pelajaran yang dapat kita petik dari cerita ini bahwa hidup apa adanya menjadi diri sendiri walaupun berkekurangan lebih baik dari pada hidup dengan berbagai kelebihan akan tetapi merubah diri menjadi orang lain dan sesuatu yang didapat dengan cara instant tidak akan mendapatkan hasil yang sempurna dan kekal.

Buku karya Daniel Keyes seorang penulis Bestseller The Minds of Billy Miligan ini terjual lebih dari 5 juta kopi dan meraih HUGO AWARD dan NEBULA AWARD. Buku ini diawal – awal cerita terdapat banyak kata – kata dengan penulisan yang salah, ini merupakan tulisan dari tokoh utama dalam novel ini yang berusia 32 tahun dengan IQ yang sangat rendah, yang awalnya tidak mampu menuliskan kata – kata dengan benar. Cerita dalam novel ini dituliskan berdasarkan bentuk Laporan kemajuan yang secara bertahap akan terlihat perubahan demi perubahan kecerdasan seorang Charlie yang dilihat dari Laporan kemajuan yang ditulis olehnya. 

Download

Nightmare Hour : Saat-Saat Seram

"Labu itu hidup!" teriakku bercanda. Tapi Liz dan Mike tidak tertawa.

"Seram juga di sini kalau malam," gumam Liz, bergidik.

Angin mengembus tudungku hingga terkulai di bahuku. Bunyi berderak membuatku terlonjak Padahal hanya bunyi orang-orangan yang miring di tiangnya.

"Sangat berkilauan dan ganjil," bisik Liz, tetap berada di dekatku.
"Seperti berjalan di bulan."

Mike mengeluarkan sesuatu dari tas plastik yang dibawanya.

"Apa itu?" tanyaku.

Ia mengacungkan sebuah kaleng. Cat semprot. Cat semprot hitam.

"Oh, tidak Kau mau ngapain dengan itu?" tanyaku.

Ia cengar-cengir. "Bersenang-senang."

"Mike, tunggu—"

Ia membungkuk di atas labu besar dan menyemprotkan gambar wajah tersenyum pada permukaannya. Lalu ia berlari di sepanjang deretan labu, menyemprotkan tanda silang hitam di atas masing-masing labu. Mike mengeluarkan lagi dua kaleng dari tasnya, lalu memberikan masing-masing satu pada Liz dan aku.

"Nggak usah," kataku, kaleng itu kukembalikan padanya.

"Ayolah, Andrew," desak Liz. "Ini Halloween. Jangan jadi penakut." Ia condong ke depan dan menyemprot- kan gambar hati hitam besar pada sebuah labu.

Mike menyemprotkan inisialnya, MG—pada setumpuk labu, sambil tertawa cekikikan. "Mr. Palmer takkan pernah bisa menjualnya!"

Liz cepat-cepat berjalan di sepanjang deretan labu, menyemprotkan gambar-gambar hati. Aku menyem- protkan I WUZ HERE pada beberapa labu yang benar- benar besar.

Aku berhenti saat mendengar Liz menjerit. Ia jatuh dan terbanting ke tanah dengan keras. Cat kaleng terpental dari tangannya. Aku lari menghampirinya.

"Aku terserimpet sulur," erangnya. "Aduh. Pergelangan kakiku"

Ketika aku menolongnya berdiri, ia menatap ke bela- kangku dan memekik "Dia ada di sini! Mr. Palmer!"

Jantungku berdegup kencang. Aku menoleh dengan ketakutan. Tidak. Tak ada Mr. Palmer.

Orang-orangan. Hanya orang-orangan yang tinggi. Topi oranye bertengger di atas kepala jeraminya.

"Rasanya aku sudah cukup bersenang-senang. Di sini terlalu seram," kata Liz, sambil mengusap-usap perge- langan kakinya. "Ayo pulang."

"Hei, Mike," panggilku. "Ayo keluar dari sini."

Mike? Di mana dia?

Aku berbalik... dan tersentak. Ia sedang memanjat pagar hijau itu.

"Tidak." jerit Liz.

"Mike... jangan! Mike!" seruku. Ia menjatuhkan diri ke sisi lain. Ke tempat koleksi labu pribadi Me Palmer. Kengerian merambat menuruni punggungku. Mike keterlaluan, pikirku. Mr. Palmer punya alasan untuk mengunci labu-Iabu itu. Dia menyebut labu-labu itu kesayangan.

Jantungku berdegup kencang, aku berlari ke pagar itu. Liz mengikuti dengan terpincang-pincang karena pergelangannya terkilir.
"Hei, Mike!" panggilku. "Keluar dari sana sekarang!"

Tak ada jawaban.

Lalu aku mendengar jeritan seram. "Tolong! Ohhh, tolong!"

Aku memaksa diri berlari lebih cepat. Aku mendengar jeritan lagi.

"Ohhh...."

Jeritan itu terputus tiba-tiba.

Aku sampai di pagar itu. Lebih tinggi beberapa kaki daripada aku. Aku meloncat dan meraih puncaknya. Ketika menghela tubuhku ke atas, aku merasa melihat sulur-sulur panjang keperakan bergerak, berdiri seperti ular, meloncat, menggeliat, dan berpilin-pilin mening- galkan tanah.

Tidak. Tak mungkin. Itu gila, kataku dalam hati.

Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, aku meng- angkat tubuhku ke atas, dan menyeberang ke sisi lain. Aku mendarat keras dengan kedua kakiku dan cepat-cepat memandang berkeliling.

"Mike?"

"Andrew, apa yang terjadi?" Dengan hati-hati Liz membungkuk di atas pagar.

"Mike?" panggilku lagi. Lalu aku melihatnya, berdiri di ujung deretan pertama. Aku mengenali jaket penerbang nya, jinsnya, sobek di bagian lutut, sneakers-nya. Tapi di atas bahunya... di atas bahunya... Sebuah labu bulat oranye bertengger di atas bahunya.

"Mike... bagaimana caramu memasang labu itu di kepalamu?" Aku berlari mendatanginya, berteriak- teriak dengan tersengal-sengal. "Lepaskan labu itu! Kita harus pergi! Ayo! Kenapa kau pakai benda itu?"

Aku tak menunggu dia menjawab. Kupegang labu itu dengan kedua tanganku, dan kutarik lepas dari bahunya.

Liz menjerit lebih dulu. Jerit ketakutan yang meleng- king. Aku membuka mulut untuk menjerit tapi tak ada suara yang keluar Aku masih memegang labu itu. Kutatap bahu Mike.
Tak ada kepala. Tak ada kepala di atas bahunya.

Dan lalu perutku tiba-tiba bergolak, kengerian demi kengerian mengakibatkan sekujur tubuhku gemetar, aku harus menyingkir.

Labu itu terlepas dari tanganku. Dan menggelinding. Menggelinding ke atas sulur panjang kurus. Aku memandangi sulur itu. Menelusurinya hingga ke ujungnya. Dan melihat kepala adikku. Kepala Mike tumbuh dari ujung sulur itu. Matanya  yang hitam  menatapku. Mulutnya membuka-menutup seolah men- coba bicara. Kepalanya bergetar, lalu tersentak keras seakan mencoba melepaskan diri. Tapi kepala itu menempel tumbuh dari sulur itu!

"Ohhhhh." Erangan ngeri keluar dari tenggorokanku. Aku tak bisa bicara atau bernapas atau bergerak Adikku... adikku yang malang...

Lalu aku melihat yang lain-lainnya. Kepala-kepala manusia, anak-anak laki-laki dan perempuan kepala- kepala yang menatapku dari tanah... mulut-mulut yang membuka menutup memohon pertolongan tanpa suara, berlusin-lusin kepala manusia, semuanya tumbuh dari sulur-sulur.

Download

Minggu, 28 Agustus 2016

The Interpretation Of Murder

Interpretation of Murder (selanjutnya disebut dengan Interpretation) termasuk dalam jenis fiksi sejarah (historical fiction) yang kembali ngetrend pasca kontroversi yang diciptakan Da Vinci Code. The Dante Club (Matthew Pearl), The Historian (Elizabeth Kostova), dan Nefertiti – The Book of Dead (Nick Drake), adalah beberapa contoh lain fiksi sejarah yang juga hadir belakangan ini. Fiksi sejarah pada umumnya memiliki kelebihan dalam menampilkan data dan atmosfer sejarah yang kuat sebagai basis tulisannya. Cerita-cerita yang dapat dikategorikan sebagai fiksi sejarah biasanya menggunakan tokoh-tokoh sejarah yang nyata sebagai pelaku sebuah peristiwa fiksi, meskipun tak jarang pula hanya sekedar menggunakan alur waktu sejarah tertentu sebagai latar belakang.

Interpretation mencoba menggapai keseimbangan antara yang fakta dan yang fiksi: tokoh utama dalam novel ini adalah Stratham Younger, seorang psikoanalis fiktif dari Amerika yang merupakan pengagum berat Freud dan menjadi ‘tuan rumah’ rombongan Freud selama seminggu kunjungan mereka ke New York. Pada awal kunjungan mereka itulah sebuah pembunuhan, dan sebuah percobaan pembunuhan, terjadi. Modus operandinya serupa: seorang wanita ditemukan tewas dengan tubuh dicambuki, disayati, leher yang dijerat, dan nyaris tanpa pakaian. Pada percobaan yang kedua, sang pelaku terpaksa kabur sebelum sempat mencabut nyawa korbannya. Korban kedua ini, seorang gadis muda, tiba-tiba kehilangan suara dan tidak mampu mengingat apapun dari kejadian itu. Maka Younger pun harus mengerahkan segenap kemampuan psikoanalisisnya untuk mengangkat peristiwa itu dari alam bawah sadar si gadis, kunci utama untuk dapat menangkap si pelaku pembunuhan berantai itu sebelum ia beraksi lagi.

Meskipun peristiwa dan tokoh utamanya fiktif, ini bukan berarti tokoh-tokoh sejarah kita sekedar menjadi tempelan dan pemanis cerita. Freud ikut aktif terlibat membimbing Younger yang kurang percaya diri dalam melakukan terapinya pada Nora Acton, sang korban. Selain itu, Freud dan teman-temannya juga mendapat porsi besar dalam cerita-cerita paralel yang tak kalah menarik. Plot lain yang juga ada dalam Interpretation berkisar pada sebuah kelompok misterius yang tidak menyukai ajaran baru yang dibawa Freud. Segala cara, termasuk sabotase, teror, dan fitnah, digunakan untuk menggagalkan terbitnya buku terjemahan Freud dalam bahasa Inggris, juga ceramahnya di Universitas Clark. Dalam plot ini juga terungkap konflik yang dialami Freud dengan ’putra mahkota’nya sendiri, Jung, yang berujung pada perpisahan mereka sebagai sahabat dan kolega. Plot-plot sekunder ini bertaut sangat baik dengan plot utama Interpretation dari awal hingga akhirnya tanpa berat sebelah atau terasa terlalu panjang.

Jika ada hal lain yang bisa dikatakan mengenai pengembangan cerita dalam Interpretation, maka itu adalah ritmenya yang cepat, hampir-hampir seperti film (saya tidak heran jika dalam beberapa bulan ke depan hak adaptasi film dari novel ini dibeli oleh Hollywood). Peralihan dari satu adegan ke adegan lain yang tidak lama; berpindah-pindahnya lokasi cerita dari satu tempat eksotis ke tempat lain yang tak kalah uniknya; pengembangan cerita yang banyak dibangun dari dialog dan aksi tokoh-tokohnya; kesemua itu membantu pembaca untuk memvisualisasikan Interpretation dalam kepala mereka. Belum lagi banyaknya plot twist dan cliffhanger membuat pembaca akan terus terdorong untuk beralih ke halaman selanjutnya untuk mengetahui nasib tokoh cerita. Hanya saja, ada yang menjadi korban dari ritme yang cepat ini. Salah satunya adalah Detektif Littlemore, polisi New York yang bertugas menyelidiki kasus pembunuhan yang terjadi. Tidak jelas apakah pengarang mencoba menempatkannya sebagai pendamping tokoh utama atau hanya tokoh sekunder. Ia banyak melakukan aksi-aksi yang menggerakkan jalan cerita Interpretation, namun karakterisasinya terkesan kurang digarap dengan matang dan dan plot-plot minor mengenai dirinya terlalu cepat diakhiri.

Satu hal lagi yang layak diperhatikan dari usaha pertama pengarang dalam menulis fiksi sejarah ini adalah kepatutan dan pertanggungjawabannya. Ia tidak berusaha menciptakan sesuatu yang ”memukau nalar dan mengguncang iman.” Biarpun fiktif, segala sesuatu yang seharusnya ’nyata’ dalam buku ini mengalir dengan cukup wajar. Dinamika terapi yang dilakukan Younger, misalnya, memang merupakan sesuatu yang lumrah terjadi dalam sesi-sesi psikoanalisis (kasus Nora Acton sendiri diadaptasi dari kasus Ida Bauer yang nyata dihadapi Freud). Dialog-dialog Freud, Jung, dan Ferenczi, juga banyak diambil dari karya-karya maupun biografi mereka sendiri. Tak lupa di akhir novelnya, pengarang memberikan keterangan yang sangat informatif mengenai bagian mana dari Interpretation yang sungguh-sungguh nyata, diadaptasi atau didramatisasi, dan sepenuhnya fiksi. Di tengah maraknya penulis ala Dan Brown yang mengumbar klaim kebenaran palsu, pertanggungjawaban Jed Rubenfeld harus dipuji.

Akhir kata, Interpretation pantas disimak oleh dua segmen pembaca: Orang-orang yang berkecimpung di bidang psikologi, atau setidaknya yang mempunyai minat besar pada ilmu psikologi, kemungkinan besar akan tertarik membaca lebih jauh untuk mengetahui bagaimana sebuah karya fiksi menampilkan tokoh-tokoh yang sudah terlebih dahulu anda kenal lewat karya-karya nonfiksi. Namun untuk anda yang tidak mengenal mereka ataupun buta sama sekali mengenai psikologi, jangan kuatir; Interpretation tetap sama mengasyikkannya dibaca sebagai sebuah thriller, dan anda sekaligus juga dapat sedikit mengetahui sejarah, prinsip, dan metode yang digunakan dalam psikoanalisis.

Download

The Girls Of Riyadh

Judul: The Girls of Riyadh
Penulis: Raja Alsanea
Penerjemah: Syahid Widi Nugroho
Penyunting: Mehdy Zidane
Penerbit: Ufuk Press
Hlm: 408
Tahun: 2008
ISBN: 9791238564
 
Setelah sempat membaca memoar Debbie dalam bukunya Kabul Beauty School dan kisah pengalaman Vabyo di Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI saya mendapatkan gambaran sikap "brutal" kaum lelaki terhadap kaum perempuan di arab sana. Namun karena keduanya diceritakan dari sudut pandang foreigner saya masih sangat skeptis dan berpikir masa iya sih? di negara islam tempat lahirnya Nabi Muhammad SAW para laki-lakinya justru merendahkan para perempuan begitu.

Terlepas dari betapa menariknya kisah "menggemparkan" itu saya masih nggak sreg sama terjemahannya yang mirip terjemahan hadist dan al-quran. Gaya bahasa terjemahan macam ini sungguh boros kata dan sukses membuat saya naik darah saking mbuletnya. Kisah yang seharusnya memikat jadi tidak bisa saya nikmati. Bahkan puisi-puisi yang seharusnya bisa terdengar romantis jadi memuakkan dan terkesan gombal. Jujur saya tersiksa membacanya. Untungnya, setelah 60% halaman terlewati, kisahnya mulai menarik dan saya menahan diri untuk tidak membanting buku karena bahasanya yang 'aduhai' sekali akhirnya mampu bertahan membaca hingga akhir. Rewel banget ya hehe..

Tapi setelah membaca The Girls of Riyadh ini yang katanya "kisah nyata" saya jadi bias dalam memandang budaya timur tengah. Email-email yang menceritakan pengalaman cinta empat sahabat ini benar-benar membuat saya shock. Terutama karena diungkapkan oleh penduduk aslinya dan bukan orang luar. Saya nggak menyangka bahwa di balik segala kekayaan dan majunya perkembangan Saudi masih ada saja budaya patriarkhi kental dalam sistem sosial mereka yang secara garis besar mengungkung para perempuan dalam berbagai aspek yang diatasnamakan agama.

Satu pesan moral yang saya dapatkan dari buku ini diantaranya adalah bersyukur saya terlahir di Indonesia yang sekarang sudah sangat ramah akan kesetaraan gender meski tentunya masih ada budaya-budaya yang belum sepenuhnya mampu disetarakan oleh masyarakat. Tapi setidaknya sudah jauuuuuuuuuh lebih baik dan lebih bebas dibandingkan nasib perempuan Saudi.

Hasil pinjem dari PinjamBuku lagi yang berhasil saya timbun diantara pinjeman lainnya.  Review ini saya tulis tahun 2011 lalu di Goodreads dan saya post kemari juga setelah saya baca Memoir Bordir karya Marjane Satrapi. I think I should read a lot more about this kind of book..

Download

Sang Penebus

Wally Lamb melakukannya lagi untuk kita. Sebelumnya, tahun 1992, dengan novel yang berjudul She’s Come Undone, Wally Lamb memenangkan hati pembacanya dengan kisahnya yang sangat menyentuh dan emosional. Narasi yang kuat, karakter tokoh yang memukau dan menyentuh hati setiap pembaca, novel She’s Come Undone dinobatkan sebagai Book of the Year tahun 1992 oleh beberapa media massa di Amerika.

Bagi yang pernah membaca novel tersebut pasti tak pernah melupakan tokoh Dolores Price yang sedang duduk di depan televisi sambil makan kentang goreng. Dia bukan pecandu makanan. Dia putus asa dengan dirinya, dia bingung menghadapai hidupnya yang penuh masalah. Dia telah membuat suatu kesalahan. Kadang, dia belajar dari kesalahan itu, terkadang dia melupakannya sama sekali. Tapi kita selalu simpati atas usaha-usaha yang dilakukannya. Sungguh menakjubkan, Wally Lamb yang merupakan seorang laki-laki mampu menulis dengan sangat detail dan menyentuh tentang apa yang ada dalam hati dan kepala seorang perempuan. Lamb mampu melakukannya dengan sangat baik.

Ya, Wally Lamb mempersembahkan hadiah lagi kepada pembaca. Novel “Sang Penebus” yang berjudul Asli I Know This Much is True ini bukan sekedar novel, melainkan juga pengalaman dan pelajaran hidup. Inilah karakter yang membuat kita terdiam begitu selesai membaca novelnya. Wally Lamb merupakan di antara beberapa penulis yang mampu membuat narasi di atas 900 halaman tanpa membuat jenuh pembacanya. Bahkan setelah 900 halaman, pembaca tetap tidak ingin meninggalkan dunia yang telah diciptakannya untuk kita atau oleh tokoh-tokoh rekaan yang hidup disana.

Novel Sang Penebus ini berat. Ya, berat memulainya dan sangat berat pula melepaskannya. Layaknya emosi-emosi James Patterson yang selalu menarik terus pembacanya tanpa mau melepaskannya.

Novelis besar berleher merah dan pemenang nobel sastra tahun 1949 dari Mississippi, William Faulkner, pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah benar-benar menulis cerita, dia hanya mengikuti karakter-karakter tokohnya dalam menulis novel. Hasilnya, setiap cerita berkembang sangat memikat, tak terduga, dan menggetarkan. Wally Lamb melakukan hal yang sama terhadap novelnya. Karakter menjadi kendaraannya dalam bercerita, bukan plot ataupun alur. Dan terbukti, karakter tokoh Lamb begitu hidup dan dekat, kadang membuat kita tertawa, menangis, marah, simpati, merasa kehilangan, dan terharu.

Lamb membuka kisahnya dengan tindakan Thomas yang mengerikan, yakni memotong tangan kanannya dan mengumumkannya sebagai pengorbanan atas nama Tuhan. Sebuah sikap pengorbanan dan kekecewaan atas ketimpangan hidup yang terlalu kompleks. Thomas adalah saudara kembar dari Dominick Birdsey. Thomas dan Dominick adalah saudara kembar yang lahir di tahun yang berbeda. Yang satu di menit-menit akhir tahun 1949, dan satunya lagi di menit-menit awal tahun 1950. Yang satu tampak kuat, melindungi, sekaligus menakutkan, yaitu Dominick. Dan satu lagi tampak lemah, manis, namun mulia, yaitu Thomas.

Hidup bersama ibu kandung dan ayah tirinya, Dominick selalu kuat dalam menghadapi hidup termasuk kekejaman sang ayah tiri. Dominick menghadapi banyak rintangan untuk mendapatkan kebahagiaan. Dia tak pernah tahu siapa ayahnya yang sebenarnya, keluarganya tak berfungsi dengan baik, perkawinannya dengan perempuan cantik yang selalu dicintainya bernama Dessa menjadi kacau dan hancur. Bagaimanapun, penderitaan itu semakin lengkap dengan sebuah kenyataan bahwa saudara kembarnya, Thomas, menderita Schizophrenia.

Lingkungan Amerika yang serba modern, cepat, sekaligus kejam menjadi setting yang sempurna dalam kisah ini. Novel ini menunjukkan dengan sangat tajam apa yang telah dialami masyarakat Amerika pada pertengahan kedua abad ke-20. Tema novel pun berkembang sangat beragam, dari kisah cinta, psikologi, penyakit mental, disfungsi keluarga, AIDS, pembunuhan, politik, hingga persoalan agama. Semua teramu dengan apik, begitu kuat, memilukan, dan sangat memikat dari halaman ke halaman.

Untuk menyeimbangkan hidup diri, saudara kembar, dan keluarganya yang masih tersisa, Dominick tidak hanya harus bergulat menghadapi beratnya hidup dan menghadapi masa lalunya yang kelam, namun juga harus menghadapi sebuah rahasia tentang diri dan masa lalu keluarganya. Dia pun melakukan perjalanan yang mengagetkan untuk menemukan misteri siapa sebenarnya ayah dan nenek moyangnya. Perjalanan inilah yang akan membawa dirinya ke titik balik kehidupan dalam dirinya. Sebuah perjalanan psikologis dan spiritual yang membawanya kepada penemuan buku catatan harian kakeknya yang berjudul The History of Domenico Onofrio Tempesta, a Great Man from Humble Beginnings. Buku inilah yang membuka semuanya.

Dengan kompleksitas makna dan tema yang dikandungnya, novel ini mengalir dengan sangat realistis seolah-olah kita menghadapinya. Sebuah novel yang seolah-olah merupakan derivasi atas karya Pat Conroy yang berjudul The Prince of Tides dan film Dominick and Eugene.

Wally Lamb dengan tokoh protagonisnya, Dominick, tidak hanya menyuguhkan sebuah novel melainkan juga sebuah saga, dongeng, yang terus menerus melahirkan makna. Sebuah kisah yang menguras simpati, empati, tawa dan air mata. Di tahun 1970-an, psikolog anak Bruno Bettelheim menulis “The Uses of Enchantment”, yang berpendapat bahwa sebuah dongeng seharusnya mengandung sebuah emosi yang mendidik bagi anak-anak, mengajari mereka tentang kehidupan, dan mengajari bagaimana menghadapi konflik di luar dan di dalam dirinya sendiri. Maka, novel Sang Penebus karya Wally Lamb ini sangat cukup untuk menjadi novel sekaligus dongeng.

Akhirnya, sebuah buku terkadang hadir dengan fantasi luar biasa, cerita kepahlawanan yang apik, dan penuh visi besar, yang kesemuanya menantang keberanian kita untuk melihat dunia di luar diri kita. Sedangkan buku yang lainnya datang lebih halus, lebih bijaksana, mengajak pembacanya berpikir dari dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menanyakan hidup, kepercayaan, Tuhan, tindakan-tindakan sexual, cinta, politik, atau apapun yang mungkin ada dalam pikiran pembacanya. Novel Sang Penebus ini merupakan wakil dari keduanya. Sebuah novel yang berani, halus, menyentuh, dan menggugah baik secara emosi maupun secara moral.[]

Download

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...