ads

Tampilkan postingan dengan label Teenlite Series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teenlite Series. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Juli 2017

A Perfect Illusion

Judul : A Perfect Illusion
Penulis : Kazumi Nitta
Halaman : 126 Hal.
Penerbit : Elex Media Komputindo

"Lama kita tak jumpa, Dewi Akitsu."

"Ya."

Ryoken melihat sekeliling. Tampaklah Yoshiaki yang sedang duduk santai di atas batu karang. Wajahnya seperti orang mabuk. Dialah yang tadi menjawab sapaan Susano'o. Rupanya tubuh Yoshiaki dimasuki Dewi Akitsu.

"Kau tidak membutuhkan tubuh manusia, kan," tegur Susano'o.

"Kalau begitu untuk apa kau memanggilku ke sini?" ujar Dewi Akitsu dengan nada tidak suka.

"Maukah kau mengembalikan lelaki itu?" suara Susano'o menggema.

"Mengembalikan? Maksudmu dikirim ke akhirat?" Dewi itu mengangkat bahu Yoshiaki.

"Sudikah kau mengembalikannya ke dunia manusia?"

"Bicaramu aneh, deh!" Suara yang lembut itu tertawa.

"Desa di Pulau Amajima ini wilayah kekua-saanku. Aku memintamu menyerah!" kata Susano'o.

Zerrt! Tubuh Yoshiaki terangkat. Wajahnya marah. "Kau mau menutup satu desa? Apa untungnya? Orang yang meminta sesuatu kepadaku akan patuh, bahkan mau meminjamkan kekuatannya."

Susano'o terdiam. Setelah beberapa saat, dia menggumam, "Maukah kau berjanji?"

Janji? Ryoken bertanya-tanya. Apakah hadirnya sebuah desa di-Pulau Amajima yang tidak ada dalam dunia nyata, berhubungan dengan perjanjian para dewa?

"Pertanyaanmu sudah terjawab," ujar Dewi Akitsu. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Sekarang silakan pergi! Kami akan melupakanmu yang sudah mengacaukan perayaan ini."

"Tidak! Aku tidak akan pulang, kalau lelaki itu tidak dikembalikan."

Tidak bisa karena sudah menjadi milik kami. Orang yang tubuhnya sudah kami gunakan, jiwanya jadi pengikut kami!"

"Kau tetap menolak, ya?"

"Tidak perlu bertanya lagi."

"Jadi kau tidak mau mendengar permin-taanku?"


Sabtu, 01 Juli 2017

Protes! Protes! Protes!

Rumah itu masih terlihat besar, tapi tampak sederhana. Attar, si sulung yang berbadan tambun datang menjenguk ayah dan ibunya. Maklum, setelah punya rumah baru yang diperolehnya dengan cara mencicil, dan disibukkan pekerjaannya sebagai redaktur di Hari an Layar Perak, Attar jarang berkunjung ke rumah tempat dia dibesarkan itu.

Tapi sore itu tampak aneh. Baru saja Attar menginjak- kan kakinya di beranda depan, terlihat sosok yang unik. Sosok itu mirip dengan pahlawan film anak-an ak, Power Ranger atau Ultraman.

"Satu, dua, tiga, ciat! Satu, dua, tiga, ciat!"

Terdengar teriakan penuh semangat keluar dari bibir sosok aneh itu. Bagaimana tidak aneh, tampak seo- rang perempuan sepertinya memakai jilbab, tetapi ada helm besar di kepalanya. Helm itu berwarna hi- tam bertuliskan KAMMI lengkap dengan kaca di dep- annya. Bajunya juga unik seperti seragam silat. Tang- an dan kakinya bergerak-gerak layaknya sedang mem peragakan gerakan-gerakan silat aliran Partai Penge- mis dari Utara. Lengkap dengan Tongkat Penggebuk Anjing yang pernah dikuasai Oey Young, tokoh da- lam Sin Tiaw Eng Hiong alias Si Pendekar Pemanah Rajawali.

Tongkat itu dipakai, tampaknya untuk menghadang pukulan lawan, atau memukul bagian bawah sang musuh. Dengan penuh semangat sosok itu mempera- gakan gerakan bela diri dan menyerang secara ber- gantian.

Attar menatap sosok aneh itu dengan pandangan tak jub. Seolah tahu kalau dirinya ada yang mengamati, sosok ajaib tadi langsung menghentikan latihan silatnya.

Attar tiba-tiba sadar dan tergelak sendiri.

"Walah... walah... dikirain ada pendekar dari Pulau Bunga Persik. Ternyata adikku tersayang." ujarnya, sambil menahan tawa.

Ratna, sang adik, segera menghentikan latihannya dan mencibir, "Huuu...dasar Bocah Tua Nakal."

Mereka tertawa. Sudah lama keduanya tidak berceng kerama karena sibuk oleh kegiatan masing- masing.

"Lagi latihan apaan, sih? Teater ya?" Attar pura-pura tidak tahu.

"Ah, Abang. Ya, latihan buat demo besok dong! Gimana, sih! Apa gak lihat penampilanku yang udah heboh gini?" jelas Ratna, sambil memain-mainkan tongkatnya.

"Oooh..." mata Attar bersinar nakal.

"Udah, jangan ngeledek aku terus. Masuk dulu deh, ada Mama tuh."

"Ntar dulu, ah. Mau ngadem dulu di luar."

"Ya, udah."

Ratna membuka helmnya. Gadis itu lalu menaruh helm dan tongkatnya di garasi, tak jauh dari tempat sang Abang berdiri.

"Emangnya, kali ini apaan yang didemo?"

"Sekarang sih soal politikus busuk."

---> Download Disini <---


Smart Love : Rahasia Sukses Dalam Cinta

Bekal Cari Gebetan

Secara umum, supaya acara cari gebetan berlangsung Msukses, kamu perlu membekali diri dengan hal-hal berikut.

Perbaiki Penampilan

Meskipun kamu nggak ganteng atau cantik, tapi penampilan yang rapi akan membuat kamu enak dilihat. Apakah rambut perlu dipotong supaya kamu terlihat lebih keren? Apakah kuku tangan dan kaki kamu nggak dekil? Lihat penampilan kamu di kaca. Usahakan agar kamu sendiri senang melihat orang yang muncul di cermin itu. Kalau kamu sendiri nggak suka dengan penampilan kamu, gimana orang lain? Tapi perlu diingat, nobodys perfectl Jadi, kalau kulit kamu memang hitam  atau muka kamu penuh jerawat, mau diapain lagi? Yang penting kamu tampil rapi dan bersih.

Cari Tahu

Penting untuk mengetahui beberapa hal mendasar tentang si dia. Misalnya, sudah pernah punya pacar atau belum? Apakah dia jomblo seumur-umur? Apa kebiasaan dan hobinya? Kamu nggak perlu nanya langsung, bisa nanya ke temannya atau orang yang cukup kenal dengan dia.

Pendekatan yang dilakukan pasti berbeda kalau kamu sudah tau sedikit tentang si dia. Dan ini akan membuat kamu lebih lancar ngomong. Tapi, kalau totally blank alias nggak tau apa-apa karena baru pertama kali ketemu si dia, lakukan pembicaraan yang bersifat penjajakan. Misalnya kamu suka musik apa, suka jalan kemana, dan pertanyaan standar lainnya. Kalau omongan sudah nyambung baru nanya hal yang lebih privat. 

Siapkan Hal Penting

Mau jalan bareng? jangan lupa membawa beberapa barang penting seperti handphone, dompet, atau credit card. Apalagi buat para cowok. Handphone penting buat nyimpen nomer HP si dia atau nomer telepon rumahnya. Dompet berisi duit cash penting kalau tiba tiba pedekate kalian berlanjut ke acara makan bareng atau jalan bareng ke suatu tempat. Sementara credit card akan menjadi sangat penting kalau uang cash kamu kurang!

Tenangkan Diri

Sebagai umat beragama, nggak ada salahnya kamu berdoa dulu. Bisa juga kamu katakan kepada diri sendiri, "Tenang aja, aku pasti bisa tampil percaya diri di hadapannya dan bisa ngobrol dengan santai". Dengan melakukan sugesti, paling nggak kamu bisa lebih tenang dan pede. Atau hirup napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan supaya jantung nggak terlalu berdebar kencang atau nervous kala ketemu dia.


Minggu, 04 September 2016

Gokil

Tadi malam, di tengah banjirnya kota Jakarta, sekitar 30 bapak-bapak berkumpul di ruang tamu rumah saya. Ada apa gerangan? Ternyata si Papah didaulat menggelar acara malam silaturahmi antar warga kompleks. Pak RT pun datang berkunjung. Sedikit penasaran liat doi setelah si Papah mengirim surat keluhan abis-abisan gara- gara pembangunan sekolah di belakang rumah yang sa­ngat mengganggu itu. Ternyata dia baik-baik saja dan nampak sudah dimaafkan oleh bapak-bapak sekompleks. Malam pun berlalu dengan akrab dan kekeluargaan.

Or so I thought.

Sebelum bapak-bapak sekompleks lengkap berkumpul, sa­

ya dan si pacar permisi keluar untuk bermalam mingguan di Plaza Senayan. Melihat PS yang seperti kota mati itu, setelah menyantap semangkuk ramen di Sushi Tei saya dan si pacar pulang dengan buru-buru. Takut jalanan banjir lagi secara hujan kembali turun. Setibanya saya dirumah, si pacar langsung pulang setelah berpamitan de­ngan si mamah dan saya hinggap sejenak di meja makan. Si mamah dengan cekikikan berbisik-bisik melaporkan sesi 'nguping' gak sengaja yang berlangsung sejak kira-kira dua jam yang lalu

Mamah: "Kasian Pak Y" - maksudnya Pak RT.

Saya: "Kenapa?"

Mamah: "Dari tadi diserang terus sama warganya. Dibanding-bandingin sama RT yang dulu, who happens to be present"

Saya: "No kidding!"

Mamah: "Ember."

Saya: "Trus defense-nya apa?"

Mamah: "Ya boro-boro defense. Diem aja dari tadi"

Saya: "Aduh kasihannya... Trus?"

Mamah: "Yah gitu deh. Di sini aja kalo mau dengerin."

Saya: "Males ah. Aku mau main The Sims aja di kamar"

Saya pun naik ke atas lewat tangga garasi, sedikit teng- sin soalnya sama bapak-bapak karena kostum cewek gipsi dengan rok yang penuh untaian benang mungkin akan di­anggap aneh.

Siang ini saya makan sama si mamah dan si papah. Ter­nyata benar, semalam itu judulnya adalah "Pengadilan RT" oleh para warganya. Waduh. Tak urung diri ini merasa bersalah karena pernah memaki-maki RT walau lewat blog.

Saya: "Emang kenapa sih dia bisa turun banget performance-nya?"

Papah: "Ya iyalah. Dia itu kan masih kerja. Masih sibuk sama urusan lain. Belum siap jadi RT."

Saya: "Emang ada kandidat lain yang mau jadi RT?" Mamah: "Wah itu sih banyak bener. Pak R itu napsu pengen jadi RT. Pak YS juga. Malah semalem dia urun saran bagaimana kalau jabatan RT itu dipegang secara bergantian. Padahal kalo mereka yang jadi RT belum tentu bisa lebih bener daripada yang sekarang"

Papah: "Sebenarnya inti dari kumpul-kumpul semalam itu kita ingin cari solusi biar bisa membantu Pak Y da­lam menjaga lingkungan sini. Tapi karena udah pada sebel, akhirnya jadi ajang salah-salahan."

Saya: "Terus yang menengahi siapa?"

Papah: "Ya kebetulan aku dan mantan RT yang dulu" Saya: "Kasihan juga. Tapi ya gimana ya...serba salah juga kalo jadi Pak Y"

Dan berkat obrolan siang ini saya jadi tahu kalau jaman si Papah bujangan dulu, RT yang menjabat waktu itu pernah punya inisiatif bikin kalender kompleks tiap tahun baru dari sisa uang iuran warga. Baru tahu juga kalau dulu pernah ada imbauan untuk menanam pohon perdu di tiap halaman dari mantan RT masa jabatan ke-sekian. Dan juga baru tahu kalau RT yang sekarang ini sebenarnya not so bad karena dari semua RT yang pernah menjabat, cuma dia satusatunya yang transparan banget soal penggunaan biaya iuran. Warganya jadi tau kalau Ibu M males bayar iuran sampah, jadi tau kalau Bapak B ogah bayar iuran keamanan dan jadi tau kalo Bapak G paling rajin bayar iu­ran sampai pernah dijuluki 'warga teladan'. Gokil.

Dari situ juga saya baru tau kalau jadi RT itu susah juga. Mesti proaktif sama warganya. Mesti bisa sok akrab nanya-nanya tentang lingkungan, ada keluhan apa eng­gak, kalo ada keluhan apa kira-kira ada solusi yang bisa dieksekusi segera. Terus mesti follow-up ke kelurahan... terus sampai tingkat Gubernur jika masalah tak tersele­saikan. Walah walaaaahhh... ribet.

Yang paling ajaib: semua keribetan menghadapi warga yang kian kritis ini harus dilakukan secara gratisan. Suka­rela. Amal. Itupun masih dinilai sama orang-orang. Kalo bagus gak ada yang muji, tapi kalo jelek dihina dina bah­kan diadili.

Ih, mending jadi Presiden kaleeee...paling enggak sering masuk tipi.

Anyway, poin tulisan ini adalah...betapa sekarang saya jadi makin 'ngeh' kalau kita sebagai manusia selalu dinilai sama orang lain. Atas dasar apapun. Orang pasti punya penilaian terhadap hal-hal yang kita lakukan dan mau itu baik atau jelek, kita harus terima. Nggak segampang itu ngelawan orang-orang yang menilai kita, karena mereka punya hak. Ketika kita berani tampil dan terlihat oleh umum, kita sudah dengan sengaja menceburkan diri kita ke laut. Kalau nyeburnya di laut cetek masih nggak ma­salah. Paling kena uburubur. Nyeri banget tapi diken- cingin juga ilang. Tapi kalo nyebur di laut dalem? Kalo di­makan paus sekalian ilang sih nggak masalah. Ketika kaki digigit hiu trus putus dan dalam kondisi sekarat? Itu yang jadi masalah.

Cuma keberanian yang diperlukan, sebenarnya. Saya ka­gum sama orang-orang yang berani tampil. Saya kagum sama orang-orang yang apapun penilaian masyarakat te­tap eksis di muka umum. Penyanyi ME, misalnya. Man, dari mana ya dia dapet attitude itu. Hebat banget bos. Di tengah perkara memalukan yang menurut sebagian besar masyarakat adalah 'bodoh', dia berani lho diundang ke berbagai talkshow...nyanyi pula. Soal otak saya nggak mau komentar lebih banyak. Tapi soal nyali, wah. Canggih lah.

Saya sedang berusaha mengumpulkan keberanian. Tapi nampak sulit aja gitu. Ibarat ikutan Indonesian Idol, saya baru sampe taraf lulus pre-casting. Belom masuk dinilai sama juri utama. Boro-boro ikut babak spektakuler. Seka­rang kesimpulannya cuma satu: Hidup ini audisi. Maka dari itu, tiap hari saya harus melakukan segala hal dengan se­baik-baiknya. Di Indonesian Idol, jurinya cuma 4. Di kehi­dupan, sedunia aja gitu yang menilai. Sinting bukan? Jadi inget kata-kata mantan bos saya dulu, ketika saya dan teman-teman sekantor nyela-nyela seorang penyanyi mu­da. "Paling enggak, dia udah berani muncul di depan umum. Kalian mana? Udah pernah nyoba belom? Jangan cuma bisa ngatain orang." Dulu sih saya cuma mencibir dikuliahin begitu. Plis deh, cuma ngeledek dikit aja pake ditegur.

Now it's different. I'm putting myself out there.

And if all else fails...

...at least I tried.
 
Download

Gue Anak SMA

"KAMU sekarang udah SMA. Udah gede!"Itulah kata-kata yang sering dilontarkan ortu ketika kita mulai menginjak bangku SMA. Ungkapan tersebut wajar saja, karena saat memasuki SMA, terjadi pula perubahan pada fisik kita yang makin kuat, serta mental yang makin tertata. Alhasil, tun­tutan orangtua terhadap kita pun makin bertambah. Mulai dari tanggung jawab, sampai kemandirian kita.

Pada kenyataannya, tuntutan ortu itu tidak mungkin kita penuhi sekaligus. Ada tahapan proses yang harus kita lalui. Dalam skala kecil, kita bisa menemukan tahapan proses menjadi insan yang bertanggung jawab dan mandiri itu ketika harus menghadapi Masa Orientasi Siswa (MOS)

Lho, kok, nyambung ke MOS?

Karena saat MOS inilah, mental dan fisik kita diuji. Seperti diuraikan Luna TR, Spica, dan Hafsya dalam buku ini. Betapa mental mereka ditempa be­gitu rupa, sampai ada istilah putus urat malu. Tidak sekadar mental, fisik pun diuji lewat MOS. Selain le­wat sanksi fisik seperti push-up, sit-up, dan lari, mereka tetap harus bekerja keras sampai malam hari untuk mencari barang-barang yang harus di­bawa besok.

Tidak sedikit orang yang ketakutan saat menghadapi MOS. Padahal, sesungguhnya MOS bertujuan positif, yakni mengenalkan kegiatan yang ada di sekolah ataupun kelebihan-kelebihan sekolah kepada siswa baru. MOS merupakan media sosiali­sasi company profile sekolah. Memang, cara me­nyampaikan informasi kepada siswa baru itu ber­macam-macam. Ada yang kreatif, ada juga yang semi militer. Apa pun cara menyampaikannya, kalau kita bisa mengelola rasa takut, kita akan bisa me­nikmati MOS. Caranya? Ikuti saja aturan senior. Anggap saja kita sedang berusaha menyenangkan para senior dengan mematuhi "kejahilan" mereka.

MOS hanyalah ujian mental dan fisik yang kecil saat memasuki bangku SMA. Ujian sesungguhnya akan dimulai saat kegiatan belajar mengajar dimulai, dan proses adaptasi pertemanan dimulai. Tak jarang kita menemukan kerikil-kerikil yang mengejutkan di SMA. Seperti dipaparkan Muharram R., mungkin kita akan menemukan apa yang disebut "gencetan se­nior", maupun guru-guru dengan karakter mengejut­kan sebagaimana yang ditulis Ary Yulistiana.

Kendala tersebut belum seberapa, ketika kita harus mengalami adaptasi yang lebih kompleks. Bu­kan sekadar dengan senior ataupun guru, tapi selu­ruh lingkungan, lantaran kita harus pindah ke kota lain saat masuk gerbang SMA. Pengalaman yang ditulis Doel Wahab yang berkendala dengan dialek bahasa-nya ketika pindah dari kota kecil ke kota besar, serta Teera yang tiba-tiba merasa jadi siswi terbodoh di SMAN 3 Bandung, bisa menimpa siapa pun.

Apa yang harus kita lakukan agar cepat ber­adaptasi di lingkungan SMA?

Pertama, masuki lingkungan baru kita melalui hobi. Tunjukkan minat dan kemampuan kita melalui hobi, entah itu olahraga ataupun seni. Bergabung­lah dengan wadah yang ada di sekolah, agar kita dikenal. Hal ini akan mempertebal rasa percaya diri kita dan menyingkirkan penyakit minder.

Kedua, perkenalkan diri kita kepada teman se­angkatan dan senior. Jangan sungkan menyapa dan mengenalkan diri, bila bertemu kakak kelas. Jika kita punya inisiatif bergerak lebih dulu, kemungkinan be­sar akan lebih dihargai orang lain. Daripada kita ha­nya menunggu disapa. Akhirnya, malah tidak ada yang mau kenal sama kita.

Ketiga, jangan over confident. Sifat takabur malah cenderung mengundang musuh. Kita malah akan dijauhi dan makin tersisih dari lingkungan baru kita. Atau malah nanti jadi sasaran gencetan senior. Keempat, tunjukkan sifat aktif dengan membuka ja­ringan dan komunitas. Misalnya, dengan memasuki ekskul. Kita juga bisa membuka jaringan dengan ca­ra menunjukkan sikap positif kita, seperti menolong sesama, rajin ataupun murah senyum.

Kelima, cobalah menjalin komunikasi dengan guru. Ingat ... bukan menjilat! Kebanyakan saat di bangku SMA, orang tidak begitu lagi memedulikan gurunya. Remaja hanya mengenal guru sebatas se­bagai pengajar. Cuma sedikit yang mengenal guru­nya sebagai motivator, pengarah, dan teladan. Bisa dibilang, saat ini kebanyakan remaja sekolah lebih mementingkan bertemu teman ketimbang guru.

Jika kelima hal di atas tidak kita lakukan, ber­siaplah kita menjadi siswa yang sulit beradaptasi dengan lingkungan SMA. Efeknya, kita akan menjadi siswa figuran yang mungkin hanya dikenal teman sebangku, atau yang lebih parah ... kita jadi de­presi! Nilai akademis merosot, merasa tidak betah duduk di kelas, atau malas berangkat ke sekolah. Kalau sudah sampai tahap ini, yang perlu dilakukan adalah:

1. Membangun keberanian untuk segera menyadari dan mengetahui adanya kondisi negatif di diri kita. Carilah secara mendetail kondisi negatif ki­ta, kemudian dipetakan satu per satu dan ditu­liskan. Cara ini merupakan diagnosa diri (self di­agnosis) yang dengan mudah bisa kita lakukan.

2. Berani mengonsultasikan masalah kita tersebut kepada teman yang bisa memotivasi. Kalau kita seorang teman dari orang yang bermasalah itu, maka kita harus memberi dukungan moral untuk membangkitkan semangatnya. Jika memang di­rasa perlu, konsultasikan pula ke guru BP.

3. Ubahlah cara pandang kita kepada hal-hal posi­tif. Bisa saja selama kita selalu memandang se­gala hal dari sisi negatifnya. Hingga yang me­nimpa kita pun selalu negatif.

Nah, jika kita mampu melewati masa-masa beradaptasi di lingkungan SMA dengan sukses, se­lanjutnya kita akan berhadapan dengan situasi yang sering disebut penulis lagu kita; masa-masa yang paling indah ....

Eits, tapi jangan lupa! Mentang-mentang kita banyak teman dan seabreg kegiatan ekskul, akhir­nya malah lupa belajar. Bukan apa-apa, setelah SMA akan ada lagi beban mental dan fisik yang ha­rus kita pikul. Jadi, persiapkanlah segalanya dengan baik selama di bangku SMA.
 
Download

Jumat, 02 September 2016

Pom Pom Boys

SATU minggu sudah, Ugun nggak nengokin rumah keduanya ini. Suasananya masih sama, sejuk, nyaman, tenang, dan damai pastinya. Istana Deon benar-benar menakjubkan, jauh ... uh ... uh ... uh kalo Ugun mesti ngebandingin sama ruang tamu di rumahnya yang udah mulai bocor disertai tembok yang gampang diserap air. Saking nganggap rumah sendiri, pembantu di rumah Deon pun akrab sama tuan besar satu ini.

Ugun menapaki satu per satu anak tangga. Baru empat anak tangga dia lewatin, keringet dingin dipadu napas terengah-engah seketika menyerang Ugun. Tapi, Tuhan Mahaadil. Nggak ada satu pun usaha manusia yang sia-sia. Dengan susah payah, Ugun sampai di titik aman kedua. Dia segera mengetuk pintu kamar yang ditempeli plat mobil D 30 NN.

Tok ... tok ... tok .../ Ugun mengetuk pintu kamar Deon yang ditutup rapat.
"Masuk aja, gue lagi nyari kacamata, nih!"

Ugun hanya mengikuti perintah dari tuan rumah. Kamar idaman itu, kini terlihat lewat mata U- gun yang berwarna cokelat tua. PS 3, komputer Pentium 4 dengan Internet yang bisa dibuka kapan pun, radio+MP3 didampingi sound system yang menggelegar. Kerennya lagi, home theatre yang nyelip di samping kamarnya.

Sumpah, gue pengin banget jadi anaknya Tante Monik!!! Bisa nggak, ya? tanya Ugun dalam hati.

"Woi, nyari apaan, Bos?!" Ugun yang baru datang, langsung heran sama polah Deon yang niruin binatang berkaki empat.

"Gun, gue nyari kacamata, nih!"

"Ampun deh, emangnya elo buta ya, kalo sehari aja kaca-mata itu ilang?" tanya Ugun.

Deon terus ngeraba-raba sekitarnya. "Kalo elo temen yang baik, cariin kacamata gue!"

"Yon ... Yon ..., gimana kalo besok di hari pertama sekolah elo kayak gini? Ugun De Caprio bisa malu berat! Semua wartawan bakal nyorot gue, nanya-nanya tentang temennya yang cinta mati sama kacamatanya and

"STOOOP ...!" teriakan Deon keluar.

Ugun langsung nyerupain patung Semar yang kelaparan. Sambil menyipitkan mata yang masih nggak jelas, Deon terus meraba-raba. Ugun yang tahu kalo kacamata itu ada di atas komputer, cepet-cepet menyodorkan ke pemiliknya. Secepat kilat, Dion memakainya.

"Ini baru Ugun sobat gue!"

"Emang, tadi elo ngeliat Ugun yang mana?"

"Pas kacamata gue ilang, badan elo jadi ramping gitu! Mana proporsional lagi. Gue jadi heran ngeliatnya."

"Ya udah, elo nggak usah pake kacamata aja!"

"ENAK aja! Gue cuman ngehibur elo, kok! Gara-gara sentakan gue yang tadi, hehehe

"Brengsek!" Ugun melempar guling. Deon me-lempar lemari ... eh, bantal.

Acara duel terjadi. Sang gajah menang melawan sang jerapah. Wah, bisa jadi judul cerita baru, tuh?!

NGGAK sia-sia juga Ugun jalan kaki dari rumahnya demi sesuap nasi. Perut buncit yang hampir meledak lantaran kemasukan angin, sekarang semakin buncit diisi ayam goreng, pepes ikan, rolade, tumis kangkung, sayur kacang, dan sebagai penutupnya sup buah-buahan kesukaannya. Di antara tiga orang itu, hanya Ugun yang terlihat bernafsu sewaktu makan. Semua masakan yang ada di meja, dia tumpahin ke piring gede yang sengaja Ugun pinta. Tante Monik terus ngelirik Ugun dengan tatapan heran.

"Mmm ..., yummi banget! Coba setiap hari gue bisa makan kayak gini ...."

"Pasti elo habisin semua sampai semua orang yang ada di rumah elo nggak kebagian, kan?!" kata Deon yang omongannya selalu nusuk hati setiap orang. "Emang, elo lagi kelaperan, ya?"

Ugun yang masih ngunyah apel, hanya ce-ngengesan sendiri. Itu berarti, Deon bisa membaca pikirannya yang penuh dengan segala macam makanan.

DUUU ... UUUT ... BROBOBOOOT ....

Bom si Ugun bau banget! Bom hasil racikan semua makanan yang dia telan. Tante Monik yang sempat menghirupnya, langsung hilang selera makan. Beliau langsung pergi dengan hidung yang terus dijepit jempol dan telunjuknya.

Sementara itu, masih ada satu lawan tangguh yang bertahan di meja makan. Siapa lagi kalo bukan Master Deon yang udah antisipasi bawa masker mulut.

"Bau banget! Makan apa, sih? Gue udah pake masker, bau-nya masih berasa banget!" ucap Deon yang nggak jelas kedengerannya.

"Hehehe .... Sebelum ke rumah elo kan, gue habisin satu toples kerupuk jengkol. Terus pas perjalanan ke rumah elo, gue beli dua puluh telor puyuh! Itung-itung ngemil, hehehe ...." Ugun tersenyum manis tanpa dosa.

"Yeaaak!" Deon langsung lari ke WC yang nggak jauh dari ruang makan. Untungnya, mamanya udah keluar dengan lega meskipun penuh cucuran air mata. Di sana, Deon muntahin semua makanan dari perutnya, padahal dia baru makan sedikit.

Lima menit udah cukup buat Deon ngebuang semuanya. Sambil jalan ke arah Ugun yang masih "makan" dengan tenang, Deon tutup kembali hidung dan mulutnya dengan masker yang sejak tadi tergantung di lehernya.

"Tenang, tadi udah gue semprot ama pengharum ruangan, kok!"

Perlahan-lahan, Deon membuka masker yang baru aja dipakainya. "Setidaknya, percampuran dua zat ini lebih baik dibandingin tadi!"

Sejenak, suasana hening menyerupai kuburan. Deon terus mainin PDA baru yang dibeliin mamanya kemarin sore.

"Gue sampe lupa, Bos! Kata kakak gue, besok ada promosi ekskul!"

"Wah, asyik tuh, Gun! Udah lama kan, kita kagak looking-looking mojang Bandung yang cantik-cantik!"

"Yah, enak jadi elo. Udah tajir, lumayan ganteng meskipun nggak pinter. Nah gue?"

"Cup-cup-cup ... baby huii Masih banyak cewek yang seporsi ama elo di sana!" Deon mainin matanya yang disekat kacamata itu. Dengan menirukan gaya salah satu ustaz kondang, Deon menghibur hati sahabatnya yang terkoyak-koyak karena cinta.

Sampai detik ini, Ugun belum nemuin cinta sejatinya yang udah lima belas tahun dicari.

"HAHAHA ... OHOK-OHOK ...." Deon tersedak karena tertawa ngakak.

"Makanya, jangan seenaknya elo ngatain gue! Gitu deh, rasanya."

Lagi-lagi, Ugun nyomot paha ayam yang masih bersisa satu. Padahal niatnya, buah jeruk tadi udah jadi makanan terakhirnya.

Ugun sama Deon akrab banget. Istilahnya, di mana ada gajah, pasti ada si jerapah. Mereka berdua udah sobatan sejak SD. Parahnya, persaha....
 
Download


Minggu, 28 Agustus 2016

Love In Sunkist

Menyatakan cinta dengan bunga atau cokelat itu sudah biasa tetapi kalau menyatakan cinta dengan buah sunkist ini baru luar biasa. Novel ini menceritakan kisah seorang gadis yang tengah jatuh cinta yang bernama Kimberly Andrea alias Kimmy berusia 21 tahun yang tidak menyangka saat dia belanja di Supermarkat 365 Days menjadi sebuah cerita cinta yang sungguh melelahkan. Cewek imut yang mandiri dan mempunyai toko buku di seberang supermarket ini terjerat cinta dengan cowok wangi yang mempunyai badan proporsional yang membeli buah sunkist di supermarket ketika ia sedang berbelanja.

Cowok itu sanggup membuat Kimmy blingsatan tidak karuan, sering memikirkannya hingga ia tidak bisa tidur karena membayangkan kegantengannya. Kimmy sering datang ke supermarket agar bisa bertemu dengan cowok tersebut. Dewi Fortuna saat itu berpihak pada Kimmy sehingga dia bisa bertemu dengan cowok itu dan berkenalan. Cowok itu bernama Nikolas Kevin alias Niko yang tinggal di apartemen Grand Cemara Blok 7. Kimmy sempat mengajak Niko bermain ke toko bukunya dan disitu keduanya saling mengakrabkan diri.

Hubungan keduanya berjalan dengan mulus tetapi keduanya saling menganggap diri sebagai seorang sahabat. Padahal Kimmy berharap lebih dari seorang sahabat. Ia hanya menjadi sahabat yang baik hati tanpa mengutarakan maksud hatinya. Hal itu membuat sakit hati Kimmy karena ia tahu bahwa Niko mencintai seseorang yang bernama Nisye. Nisye adalah teman semasa kecil dan Niko pernah mengutarakan cintanya tetapi ditolaknya. Sehingga Kimmy diminta tolong untuk membantu Niko agar bisa menyatakan cintanya kepada Nisye. Kimmy merasa tersakiti karena cowok yang ingin dijadikan pacar mempunyai pilihan cewek lain.

Kimmy merasa takut untuk mengutarakan isi hatinya kepada Niko karena ia takut kehilangan Niko untuk selamanya. Saat Kimmy dan temannya makan di restoran Jepang, ia bertemu dengan Niko dan Nisye berjalan berdua dan menghampirinya. Saat itu Kimmy merasa dirinya tidak berguna di depan Niko, hatinya sakit teriris melihat mereka berjalan berdua.

Suatu malam, Kimmy mendapatkan telepon dari mamanya yang menyatakan bahwa kimmy mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Taiwan. Ini kesempatan emas untuk Kimmy, selain untuk meraih mimpinya, ia juga bisa pergi dari hadapan Niko dan melupakannya untuk selama-lamanya.

Kepergian Kimmy ke Taiwan disambut isak tangis sahabatnya. Niko merasa sedih ditinggalkan Kimmy, sebenarnya ingin sekali Niko mencegah Kimmy pergi karena ternyata Niko juga mencintai Kimmy. Perasaan cinta mereka yang terdalam seperti terbungkus seribu macam keraguan. Titik perpisahan semakin dekat saat Kimmy melepaskan diri dari pelukan Niko. Kimmy berjalan meninggalkan orang yang dicintainya, kemudian Niko memanggil Kimmy dan memberikan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado berwarna biru muda. Kimmy pun beranjak meninggalkan Niko. Sesaat setelah Kimmy pergi, Niko mendapatkan sepucuk surat dari Kimmy.

Kado yang diberikan Niko berisi sebuah sunkist yang ada tulisan I love you dengan tinta berwarna biru yang di dalamnya ada sepucuk surat cinta yang menyatakan bahwa Niko telah jatuh cinta kepada Kimmy saat pertama kali bertemu di supermarket. Setelah membuka kado itu Kimmy tidak bisa menghentikan air matanya.

Di sisi lain, Niko juga membuka surat yang diberikan Kimmy kepadanya. Selesai membaca surat tersebut jantung Niko berdegup kencang. Ingin sekali ia mengejar Kimmy, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaan Niko kini gelisah karena harus merelakan kepergian Kimmy namun ia lega rahasia cinta keduanya terkuak juga.

Tiga tahun kemudian, Kimmy menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Supermarket 365 Days tetapi ia tidak menemukan sesosok yang pernah mengisi hatinya. Ia memutuskan untuk pulang namun di luar gerimis. Kimmy terus berjalan sambil menutup kepalanya. Tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya lalu mendadak berhenti ketika ia mencium sesuatu. Keharuman yang ia kenal. Wangi yang tiba-tiba tercium di hidungnya kalau ia ingat seseorang. Wangi yang selalu membuatnya ingin terbang…

Kimmy memalingkan wajahnya pelan-pelan. Sangat pelan, seperti adegan film dalam gerak lambat. Begitu ia melihat sesosok wajah di belakangnya ia tersenyum.
 
Download

Why Men Dont Listen Women

Pria dan wanita memang berbeda. Bukannya lebih

baik atau lebih buruk - hanya berbeda. Satu-satunya persamaan mereka adalah: mereka berasal dari jenis yang sama, yaitu manusia. Namun mereka hidup di dunia yang berbeda, dengan nilai-nilai yang berbeda dan mematuhi seperangkat peraturan yang sangat berbeda pula. Semua orang tahu ini, tetapi hanya sedikit orang, terutama pria yang mau mengakuinya. Hal ini terlihat sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Lihat saja bukti-bukti yang ada! Di negara-negara Barat, sekitar 50% dari pernikahan berakhir dengan perceraian, sedangkan hubungan serius tiba-tiba berhenti sebelum menjadi hubungan yang berumur panjang. Sebuah kenyataan lagi bahwa: Pria dan wanita dari berbagai budaya, kepercayaan dan bangsa terus-menerus berdebat tentang kebiasaan, sikap dan kepercayaan pasangan mereka.

Kenyataan yang ada

Ketika seorang pria pergi ke kamar kecil, ia biasanya memang pergi hanya untuk satu alasan. Namun, wanita menggunakan kamar kecil sebagai tempat pertemuan sosial dan ruang terapi. Para wanita yang semula tidak saling mengenal, jika mereka pergi ke kamar kecil, maka bisa saja mereka keluar dari kamar kecil itu sebagai dua orang sahabat abadi yang akur sepanjang umur. Tetapi semua orang akan segera pasang wajah curiga jika ada seorang pria berseru, "Hex, Frank, Aku mau ke kamar kecil. Kau mau ikut?"

Pria suka mendominasi remote control TV dan mengganti ganti saluran; sedangkan wanita tidak keberatan menonton tayangan iklan. Jika sedang tertekan, pria minum minuman keras dan pergi ke luar negeri; sementara wanita, lebih senang makan cokelat dan berbelanja.

Wanita mengkritik para pria karena ketidakpekaan mereka, ketidakperdulian, sikap mereka yang tidak pernah menyimak, tidak hangat, tidak penuh kasih sayang, tidak berbicara, tidak memberikan cukup kasih sayang, tidak bertanggung jawab terhadap hubungan, lebih menginginkan persetubuhan daripada bercinta, menyetel AC hingga dingin sekali dan membiarkan tutup toilet terbuka ke atas.

Pria mengkritik para wanita tentang kemampuan mengemudi mereka, tidak mampu membaca marka jalan, menjungkirbalikkan peta, kurang peka dengan arah jalan, terlalu banyak bicara tanpa ada intinya, jarang berinisiatif dalam bercinta, suka menaikkan suhu, dan membiarkan tutup toilet di bawah.

Walau pria tidak pernah mampu menemukan se-pasang kaus kaki tetapi kumpulan CD mereka teratur sesuai abjad. Sedangkan, wanita selalu bisa menemukan seikat kunci mobil, meski jarang bisa menemukan jalan yang langsung ketujuannya. Pria menganggap wanita sebagai makhluk yang paling berpikiran sehat; dan wanita tahu memang begitulah mereka.

Berapa orang pria yang dibuthkan untuk mengganti segulung kertas toilet?

Tidak diketahui jawabannya. Karena hal itu tidak akan pernah terjadi.

Pria mengagumi kemampuan wanita yang ketika memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan orang, maka wanita dapat segera memberikan komentar tentang masing-masing orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Namun wanita merasa heran betapa pria tidak mau ambil peduli dengan semua itu. Para pria terheran-heran karena wanita tidak dapat melihat sinar merah menyala dari lampu penanda persediaan oli di dashboardnamun dapat menemukan kaus kaki kotor yang tersembunyi di sudut gelap berjarak 50 meter. Sedangkan, wanita bingung karena pria selalu mampu memarkir pararel mobilnya walau tempatnya sangat sempit hanya dengan menggunakan kaca spion, tetapi tidak pernah mampu menemukan G-spot mereka.

Jika seorang wanita mengemudikan mobil dan ter-sesat, dia akan berhenti untuk menanyakan arah. Tapi, bagi seorang pria, itu merupakan tanda tanda kelemahan. la lebih memilih terus mengemudi berputar putar selama berjam jam, sambil menggumamkan 'Aku sudah menemukan jalan baru untuk tiba dl sin? atau 'Aku berada di tempat umum' dan 'Hei, aku pernah lihat pompa bensin itu?

Pekerjaan yang Berbeda

Pria dan wanita telah berubah secara perlahan lahan dengan cara yang berbeda, karena memang harus begitu. Pria berburu, sementara wanita mengumpulkan. Pria melindungi, wanita mengasuh. Sebagai akibat dari pembagian pekerjaan itu, tubuh dan otak mereka berkembang dengan cara yang berbeda sama sekali.

Ketika bentuk tubuh mereka berubah untuk menyesuaikan dengan tugas mereka, benak mereka pun juga berubah. 

http://downloads.ziddu.com/downloadffile/17095154/WhyMenDontListen.rar.html

Cinderela Jakarta

ELLIZA gemar melukis, terutama melukis wajah cowok yang ditaksirnya. Bila Elliza melihat cowok yang disukai di sekolah maupun di jalan maka ia simpan sketsa wajah cowok itu di benaknya. Setibanya di rumah, barulah ia tuangkan ke kanvas.

Seperti malam itu. Elliza baru saja melukis wajah seorang cowok yang ia lihat di sebuah taman. Cowok itu Elliza temukan di sebuah kursi taman saat ia pulang sekolah. Ketika melintasi taman itu, wajahnya sempat beradu pandang dengan wajah si cowok.Sekilas senyum si cowok mengembang, hingga membekas dalam ingatan Elliza. Senyum cowok itu begitu manis, semanis susu rasa stroberi yang sering disediakan mama di rumah.

Sayangnya,cowok di taman itu duduk berdua dengan seorang cewek. Entah siapa cewek yang duduk bersanding dengan cowok itu. Mungkin adiknya, sodaranya, teman sekolahnya, atau ...?

Ah,Elliza enggan berpikir yang nggak-nggak! Ia nggak mau termakan perasaan. Melenyapkan rasa cemburu yang tiba-tiba menghampiri jiwanya. Ke-mudian,Elliza mengandaikan cowok di bangku taman itu masih sendirian, dan senyumnya itu memberikan tanda bahwa si cowok sangat mengharapkan kenal dengan Elliza.

Elliza pernah punya pengalaman tentang seorang cowok yang duduk berduaan dengan seorang cewek. Kala itu, cowok yang Elliza lihat duduk berdua dengan seorang cewek, kemudian cowok itu mendekati Elliza untuk berkenalan.Tetapi, Elliza menolaknya. Elliza takut melukai perasaan cewek yang duduk di sebelah sang cowok. Elliza memutuskan pergi meninggalkan cowok itu, dan melupakannya.

Namun, belakangan Elliza baru tahu. Ternyata, cewek yang duduk di sebelah si cowok itu bukan pacarnya, tetapi hanya teman biasa. Elliza tahu karena di kemudian hari, melihat cewek itu jalan dengan cowok lain. Dan si cowok itu tetap sendirian. Tentu saja, Elliza menyesal. Apalagi ketika Elliza ingin mengenal lebih dekat dengan cowok itu, sang cowok keburu akrab dengan cewek lain! Pupuslah harapannya.

Oleh sebab itulah, Elliza nggak mau berpikir macam-macam terhadap cewek yang duduk di sebelah cowok di bangku taman itu, cowok yang wajahnya ia lukis di sebuah kanvas berbingkai indah. Dan Elliza hanya mau mengingat-ingat cowok itu. Senyum manis cowok itu ia letakkan di sebuah dinding, berjejer dengan lukisan lain yang pernah ia lukis, menambah koleksi lukisannya.

"ELLIZA, berhentilah melukis wajah cowok! Lukislah momen lain.Bukankah masih banyak hal yang bisa kamu lukis, selain wajah cowok-cowok itu?"

"Elliza nggak bisa, Ma.Elliza hanya bisa melukis wajah cowok. Siapa tahu, cowok yang Elliza lukis mau jadi teman dekat Elliza?"

"Mendapatkan seorang cowok nggak harus melukisnya lebih dulu, Sayang!"

"Mengapa, Ma? Bukankah Mama dulu pernah melukis wajah papa, waktu Mama ingin mengenal papa? Mama memberikan lukisan wajah papa itu ke papa, hingga akhirnya papa suka sama Mama?"

"Iya, Sayang, kamu benar. Tapi, Mama hanya melukis wajah papa, bukan pria lain."

"Elliza belum bisa mendapatkan wajah cowok yang mau sama Elliza, Ma?"

"Lalu, apa kamu harus terus melukis wajah- wajah itu?"

"Iya, M a."

"Sampai kapan?"

"Sampai Elliza mendapatkan dia dan menjadikan cowok itu teman spesial Elliza!"

Mamanya geleng-geleng, tetapi tentunya sangat mengerti. Putri tersayangnya yang saat ini duduk di kelas tiga SMA, memang belum pernah terdengar dekat sama cowok. Setiap kali Elliza cerita, yang ia dengar adalah keluhan mengapa Elliza sulit mendapatkan teman cowok yang ia inginkan. Keputusan melukis wajah-wajah cowok yang ia suka akhirnya menjadi pilihan. Sebelum Elliza benar-benar mendapatkan cowok yang dilukisnya itu.
 
Download


INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...