ads

Tampilkan postingan dengan label Novel Silat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Silat. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 September 2018

Wiro Sableng (104) Peri Angsa Putih

"Sosok cebol, makhluk apa kau sebenarnya? Siapa dirimu? Apakah kau punya nama?"

Murid Eyang Sinto Gendeng menyeringai. "Kau boleh memanggil saya Si Cebol, Si Kontet atau Si Katai! Suka-sukamulah wahai Peri Angsa Putih...."

Peri cantik itu tertawa lebar mendengar kata-kata Pendekar 212.

"Mendengar tutur bicaramu jelas kau bukan penduduk Latanahsilam, walau kau bicara coba meniru logat orang sini. Pakai wahai segala! Aneh terdengarnya. Apa benar kau berasal dari dunia seribu dua ratus tahun lebih tua dari dunia kami?"

"Saya dan kawan-kawan memang berasal dari dunia lain. Kami kesasar datang ke sini...."

"Bagaimana bisa kesasar?"

"Itu yang masih kami selidiki. Tapi saat ini yang kami inginkan adalah kembali ke dunia kami. Jika tidak mungkin, jika nasib kami harus tetap mendekam di negeri ini maka kami ingin agar sosok kami bisa dibuat sebesar sosok orang-orang yang ada di sini. Kalau tidak bahaya akan selalu mengikuti kemana kami pergi."

"Katamu kau datang kesasar ke negeri ini. Berarti sulit mencari jalan pulang. Untuk memenuhi keinginanmu menjadi sebesar kami, siapa pula yang bisa melakukan nya?"

"Hanya ada satu orang. Hantu Tangan Empat." jawab Wiro.

"Mengapa kau begitu yakin kakek satu itu bisa menolongmu?" tanya Peri Angsa Putih.

"Kami pernah bertemu dengannya di Tanah Jawa...."

"Tanah Jawa? Di mana itu?" tanya Peri Angsa Putih.

Wiro garuk-garuk kepalanya. "Negeri asai kami. "Sulit bagaimana menerangkannya padamu. Waktu berada di Tanah Jawa, sosok Hantu Tangan Empat sama besarnya dengan sosok tubuh kami. Kalau dia berada di sini tentu sosoknya sama besar dengan orang-orang di sini. Berarti dia punya ilmu membesar dan mengecilkan tubuh...."

"Kau cerdik." kata Peri Angsa Putih seperti memuji.

"Tidak, itu jalan pikiran wajar-wajar saja," jawab Wiro polos. "Peri Angsa Putih, melihat kepada wajahmu yang cantik dan tutur bicaramu yang sopan, saya tahu kau seorang Peri baik hati. Tetapi mengapa kau tidak mau menolong diriku mempertemukan dengan Hantu Tangan Empat?"

"Soalnya aku tidak tahu di mana dia berada."

Wiro tersenyum. "Tadi saya dengar kau berkata tidak mau membawa saya pada kakek itu tanpa ijinnya. Bagi saya berarti kau tahu di mana Hantu Tangan Empat berada. Malah saya menduga kau punya hubungan dekat dengan orang tua itu.... Seingat saya Hantu Tangan Empat hidungnya mancung bagus. Hidungmu juga mancung bagus. Mungkin itu Embanmu atau...."

"Apa itu Emban?" tanya Peri Angsa Putih.

Wiro jadi garuk-garuk kepala lagi.

"Maksud saya mungkin dia kakekmu...."

Peri Angsa Putih kembali tertawa. "Kalau aku tidak mau menolongmu, apa yang akan kau lakukan?"

"Ya, bagaimana ya? Tapi saya tidak percaya suara mulutmu sama dengan suara hatimu        "

Peri Angsa Putih tersenyum. Makin banyak bicara dengan makhluk di atas telapak tangannya itu makin senang hatinya.

"Makhluk cebol yang tak mau memberitahu nama...."

"Nama saya Wiro. Wiro Sableng." ujar Wiro.

Peri Angsa Putih tertawa cekikikan.

"Ada yang lucu wahai Peri Angsa Putih?"

"Kau tahu apa arti sableng di negeri Latanahsilam ini?" tanya Peri Angsa Putih.
Wiro menggeleng.

"Di Latanahsilam sableng artinya kencing kuda! Hik... hik... hik." Sang Peri tertawa cekikikan.

Minggu, 02 September 2018

Pendekar Cinta II

Siang hari itu cukup terik, sudah beberapa lama hujan tidak turun mendinginkan bumi. Seorang dara muda dengan dandanan sederhana memasuki warung makan tersebut, langkah kakinya sangat anggun dan tenang. Wajahnya cantik sekali hingga membuat para pelanggan warung makan tersebut menghentikan kegiatan makan mereka. Hampir semuanya memandang ke arah gadis tersebut, mereka sangat kagum melihat kerupawa nan wajah si gadis. Ada yang memandang dengan terang-terangan, mengerling, atau melirik secara diam-diam. Berbagai macam pikiran timbul di kepala mereka, ada yang memiliki pikiran tak senonoh seolah-olah hendak menelanjangi si gadis dengan tatapan mata mereka, ada yang hanya mengagumi saja namun ada juga yang mengkhwatirkan si gadis.

Dengan tenang Cin-Cin (gadis muda itu) berjalan menuju ke sebuah meja kosong yang terletak di sisi jalan dan memesan beberapa macam sayur dan sepoci teh hangat. Ia sudah terbiasa melihat pandangan pria-pria tadi, sejak turun gunung sudah ratusan kali ia menghadapi tatapan seperti ini. Pada awalnya ia merasa risih dan malu, namun lama kelamaan terbiasa bahkan ia merasa bangga akan kecantikannya. Entah sudah beberapa kali ia menghajar pemuda-pemuda iseng yang berusaha merayu dan menghinanya.

Sambil menunggu pesanannya datang, Cin-Cin meman dang ke arah jalanan. Suasana jalanan itu sangat ramai dengan lalu lalang orang, di sepanjang jalan nampak pedagang-pedagang kecil berjualan di sisi jalan menawarkan bermacam-macam barang dagangan, mulai dari bakmi, buah-buahan, permen, dan lain-lain. Dimana ada keramaian biasanya pengemis pun hadir mengais rezeki. Beberapa pengemis muda tampak berlalu-lalang, mereka mengenakan pakaian pengemis pada umumnya, tapi bagi kaum kang-ouw mereka mengetahui para pengemis tersebut merupakan anggota perkumpulan pengemis terbesar Kay Pang. Pada jaman itu Kay Pang sedang dalam masa puncak keemasannya, anggota Kay Pang sudah mencapai jutaan orang dan tersebar kemana-mana. Tak pelak lagi Kay-Pang adalah perkumpulan terbesar di dunia persilatan.

Saat itu Kay Pang di pimpin oleh Sun-Lokai yang merupakan ketua Kay Pang terlama dalam sejarah perkumpulan Kay Pang. Dalam masa kepemimpinannya pamor Kay Pang meningkat pesat dari perkumpulan yang miskin menjadi perkumpulan yang makmur. Dialah orang yang berhasil menyatukan Kay Pang menjadi satu kesatuan perkumpulan pengemis, tiada yang lain. Kalau dahulu penghasilan utama Kay Pang berasal dari hasil setoran para pengemis yang menjadi anggotanya namun sekarang penghasilan utama Kay Pang berasal dari pungutan-pungutan terhadap toko-toko, warung-warung, penginapan, pedagang-pedagang, hartawan, perusahaan piauw kiok. Pungutan-pungutan tersebut diberikan secara sukarela sebagai imbalan dalam menjaga keamanan usaha mereka. Sejak turut sertanya Kay Pang menjaga keamanan, dunia bawah tanah menjadi teratur, tidak semrawut seperti dahulu, dimana masing-masing pihak menjadi raja kecil dan menguasai sepetak wilayah sebagai sumber rejeki mereka. Tidak jarang timbul bentrokan-bentrokan berdarah memperebutkan wilayah-wilayah makmur dan memusingkan pihak kerajaan. Tapi sejak Kay Pang menguasai dan mengatur dunia bawah tanah, keributan-keributan mereda. Pengatu ran pembagian rejeki dilakukan secara terbuka, masing-masing pihak merasa berterima kasih akan kehadiran Kay Pang dan sebagai wujud terima kasih, mereka mem berikan setoran rutin kepada Kay Pang.

Di samping itu bila kaum kangouw mempunyai sengketa atau membutuhkan informasi tertentu, mereka terlebih dahulu mencari Kay Pang karena mereka tahu anggota Kay-Pang memiliki pengetahuan yang luas dan dapat di percaya. Berita apapun yang hendak di cari, Kay Pang dapat menyediakannya. Tidak heran banyak kaum kangouw yang berlomba-lomba mendekati Kay Pang dan membuat Kay Pang makin makmur. Sedang- kan bagi partai-partai besar lainnya, kalau tidak terpaksa mereka enggan bermusuhan dengan Kay Pang. Semua perselisihan yang timbul yang melibatkan anggota mereka, mereka selesaikan secara damai.

Saat ini pucuk pimpinan Kay Pang dipegang oleh wakil pangcu Kay Pang yaitu Kam-Lokai berusia enam puluh tahunan, sejak dua puluh tahun terakhir pangcu Kay Pang Sun-Lokai menghilang tak ketentuan rimbanya. Sudah belasan tahun semua anggota Kay-pang tidak melihat kehadiran Sun-Lokai hingga praktis pimpinan tertinggi Kay Pang saat ini di pegang oleh Kam-Lokai sebagai wakil pangcu, dibantu oleh beberapa orang tiang-lo dan murid-murid utama mereka.

Seperti yang kita ketahui Kam-Lokai hanya memiliki seorang murid saja yaitu Tiauw-Ki, dia adalah angkatan muda Kay Pang yang paling lihai. Dalam usia semuda ini Tiauw-ki telah di beri kepercayaan memimpin divisi intelijen Kay Pang, suatu divisi yang memiliki tugas menyerapi kabar-kabar terbaru dunia kangouw dan dampaknya terhadap dunia persilatan pada umumnya dan Kay Pang pada khususnya.

Dari divisi inilah kabar bangkitnya kembali Mo Kauw berhasil mereka bongkar dan menyiarkannya ke dunia kang-ouw.

Setiap tahun Kay Pang selalu melakukan pertemuan tahunan di markas besar Kay Pang di Peking yang dihadiri oleh pucuk pimpinan Kay Pang dan para kepala cabang Kay-Pang di seluruh Tiong Goan.

Selain melaporkan situasi dan perkembangan masing- masing wilayah yang mereka pimpin, para kepala cabang Kay Pang ini juga memanfaatkan pertemuan ini untuk saling silaturahmi dengan anggota lainnya hingga pertemuan tingkat tinggi ini biasanya diakhiri dengan mabuk-mabukan sampai pagi.

Download

Pendekar Cinta I

Kedatangan Lie Kun Liong dan Liok Han Ki tepat pada waktunya. Sambil menyabut pedang dari sarungnya Liok Han Ki berteriak, "Perampok dari mana yang berani mati merampas barang di tengah hari bolong!". Lalu ia menyabetkan pedangnya ke arah perampok bercambang lebat.

Sambil mengelak si perampok berkata "Rupanya bocah bau tengik tadi yang berlagak mau jadi pahlawan. Lebih baik segera pulang ke pangkuan ibumu sebelum pedang toyaku ini menembus badanmu!"

Liok Han Ki dengan murka melancarkan serangan secara beruntun. Tanpa belas kasihan ia mencecar si perampok dengan ilmu pedang kebanggaannya.

Dengan susah payah si perampok melayani serangan Liok Han Ki.

"Bocah dari mana asalnya ini, kok ilmu pedangnya sangat lihai?" kata si perampok dalam hati. Ia menangkis sekuat tenaga jurus terakhir yang dilancarkan Liok Han Ki. Gagang pedang ditangannya hampir terlepas dari pegangannya, telapak tangannya terasa sakit. Dengan penuh rasa kaget si perampok melawan sekuat tenaga serangan Liok Han Ki.

Kalau si perampok yang melawan Liok Han Ki terkaget kaget, perampok satunya lagi yang melawan Lie Kun Li ong juga tidak kalah terkejutnya. Setiap serangan pedang Lie Kun Liong hanya dengan susah payah dapat ia punahkan. Ia yang sudah berpengalaman puluhan tahun sekarang ketemu batunya, bahkan ilmu pedang yang dimainkan Lie Kun Liong tidak dapat ia raba asalnya.

Syukur baginya Lie Kun Liong baru terjun ke dunia kang-ouw sehingga pengalaman bertempurnya masih sedikit dan ragu-ragu untuk meneruskan serangan yang lebih mematikan, kalau tidak sudah dari tadi si perampok berbaju abu-abu itu kalah.

Suatu saat Lie Kun Liong mengincar dan menusuk ke arah pundak kiri si perampok namun dengan tiba-tiba ujung pedangnya membentuk lingkaran dan arah yang di tuju adalah pundak kanan si perampok. Kali ini si perampok tidak dapat berkelit lagi, ia sudah salah mengantisipasi jurus serangan Lie Kun Liong yang awalnya menuju ke pundak sebelah kirinya tapi mendadak di tengah jalan mengincar pundak kanannya. Pedang yang ia pegang di tangan kanannya jatuh ke tanah dan sebelum ia bereaksi lebih lanjut ujung pedang Lie Kun Liong sudah berada di depan tenggorokannya. Dengan rasa jeri dan takjub terlihat jelas di wajah si perampok.

Lie Kun Liong menutuk tiam hiat (jalan darah) si perampok sehingga tidak dapat bergerak. Lalu ia memandang pertempuran antara Liok Han Ki dengan perampok yang lainnya juga hampir selesai. Ia kagum dengan kelihaian ilmu pedang Liok Han Ki, kecepatan dan ketepatan jurus yang dilancarkan Liok Han Ki sangat akurat, hanya mereka yang sudah mencapai tingkat tertinggi dari ilmu pedang yang dapat melakukan gerakan seperti yang barusan diperagakan oleh Liok Han Ki.

Suatu ketika cukup dengan sontekan ujung pedangnya perut si perampok tertembus pedang Liok Han Ki dan si perampok jatuh ke tanah berlumuran darah, nasibnya jauh lebih buruk dari perampok yang melawan Lie Kun Liong. Ternyata Liok Han Ki masih merasa marah deng an perkataan si perampok di warung makan tadi sehingga ia bertindak cukup kejam dengan membunuh si perampok.

Download

Pendekar Cinta III

Dalam serang menyerang ini, kedua pihak sama-sama mengakui kelihaian lawan masing-masing. Beruntung bagi Li Kun Liong sudah menguasai gerakan langkah ajaib yang ia temukan di dalam gua, apabila tidak dia pasti kewalahan melayani jago dari negeri Thian-Tok ini. Aliran ilmu silat Rameshwara berbeda dengan aliran Tiong-goan, banyak gerakan-gerakan yang aneh dan tak terduga hingga Li Kun Liong harus ekstra hati-hati. Ilmu tenaga dalam Rameshwara berasal dari ilmu Yoga, mereka yang telah menguasai ilmu yoga ini dengan sempurna akan memiliki kelenturan tubuh yang hebat, tenaga dalam yang tinggi serta panca indera yang sangat tajam. Ilmu yoga ini memiliki bermacam-macam gerakan tergantung aliran masing-masing, ada yang mudah, ada juga yang sangat sulit dilakukan. Umumnya hanya pertapa-pertapa tingkat tinggi yang dapat mencapai kesempurnaan dalam ilmu yoga ini. Di negeri Thian-Tok sendiri, yoga di pandang sebagai ilmu mandarguna sehingga tidak jarang kesaktian ilmu ini menjadi legenda. Penduduk negeri Thian-tok sangat mempercayai yoga bahkan kabarnya dengan ilmu ini, seseorang dapat melayang di atas permukaan air tanpa peralatan apa pun atau menembus api yang berkobar-kobar tanpa terluka.

Dilain pihak, Rameshwara pertempuran ini benar-benar menguras ilmunya. Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia pelajari, namun tetap saja tidak dapat mendesak lawan.
Hingga akhirnya terpaksa ia mengeluarkan ilmu simpanannya yaitu ilmu Ya-hwe-siau-thian (api liar membakar langit). Perlahan-lahan sorot matanya mengeluarkan sinar yang aneh, berusaha memaksa Li Kun Liong saling bertatapan mata.

Pada bentrokan mata tadi, Li Kun Liong sudah mengetahui kelihaian sorot mata Rameshwara hingga dia tentu saja tidak berani bertatapan langsung. Sebisa mungkin matanya tidak bentrok dengan sorot mata Rameshwara, kalaupun terpaksa segera ia mengalihkannya ke lain jurusan. Dengan demikian konsentrasinya jadi terganggu, di satu pihak dia harus melayani serangan-serangan lihai lawan, di lain pihak harus berjaga-jaga terhadap sorot mata lawan. Li Kun Liong semakin kerepotan bahakan suatu saat tanpa disadarinya matanya bertatapan cukup lama dengan mata Rameshwara. Pikirannya langsung seolah-olah berhenti, tidak mau mengikuti lagi bahkan tenaganya pun mandek. Walaupun hanya sedetik saja, tapi dalam pertarungan tingkat tinggi, kelengahan semacam ini dapat berakibat fatal.

Diiringi lengkingan panjang Li Kun Liong yang berusaha melepaskan diri dari sorot mata Rameshwara, tahu-tahu merasakan berderaknya tulang pundaknya. Pukulan Rameshwara berhasil mampir dan menghantam pundak kirinya. Syukur tenaga pukulan tersebut telah berkurang banyak, terpengaruh lengkingan Li Kun Liong, kalau tidak tulang pundak Li Kun Liong pasti patah.

Rameshwara sendiri bukannya tidak apa-apa, lengkingan yang dikeluarkan Li Kun Liong merupakan serangan melalui suara, mirip dengan pekikan singa namun jauh lebih dahsyat. Lengkingan tersebut telah menggetar jantung Rameshwara dan membuat kacau pergerakan aliran darahnya. Bagi seorang ahli silat, aliran darah yang kacau dapat membuat dirinya terluka parah apabila tetap melanjutkan pertarungan, apalagi bila lawan yang dihadapi seimbang atau lebih tinggi tenaga dalamnya. Dia harus segera merawat diri dengan melakukan siulan yoga untuk melancarkan aliran darah agar kembali normal.

Menyadari lawan-lawannya kali ini tidak dapat di pandang enteng, sambil memegang pundak kirinya yang sakit dan tidak dapat digerakkannya dengan leluasa, Li Kun Liong untuk ke sekian kalinya harus segera mengambil langkah mundur. Dengan ginkang yang dimilikinya saat ini, tidak susah baginya untuk melarikan diri dari musuh-musuhnya.

Seperti orang yang sial berturut-turut, demikian juga nasib Li Kun Liong. Semaju apa pun ilmu silatnya, tetap saja ia harus mengalami kesialan di keroyok tokoh-tokoh kosen dunia persilatan. Sejak terjun ke sungai telaga, entah sudah berapa kali lipat kemajuan ilmu silatnya bila dibandingkan dengan pertama kali turun gunung. Namun kesialan terus mengikutinya, ia harus mengalami beberapa kali musibah, pengeroyokan, fitnahan dan lain-lain.

Jumat, 13 Juli 2018

Wiro Sableng (103) Hantu Bara Kaliatus

"Latandai. Ap... apa maksud ucapanmu. Bukan.... Bukankah kau berkata tidak ingin membicarakan hal masa silam. Lag... lagi pula aku tidak pernah melakukan perbuatan tidak senonoh dengan Lasingar...."

Latandai mendengus. "Delapan puluh tahun lalu kau berdusta. Sekarang masih saja berdusta! Siapa percaya padamu! Aku sudah sembuh Luhsantini!

Dengar. Aku sudah sembuh! Dan aku tidak memerlukan dirimu lagi! Mampuslah perempuan jalang!"
Sepuluh jari kokoh Latandai disertai tenaga luar dan dalam yang sangat hebat mencengkeram siap menghancurkan leher Luhsantini. Pada saat itulah tangan kanan Luhsantini menghantam ke depan, mengarah ke perut Latandai. Melepas pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung!

Tapi Latandai tidak buta. Tangan kirinya secepat kilat di babatkan ke bawah.

"Bukkk!"

Dua lengan saling beradu keras. Kedua orang itu ter- pental dan sama-sama kesakitan. Begitu lepas dari cekikan Latandai, Luhsantini berteriak marah. "Manusia laknat! Binatang saja kalau ditolong tidak akan pernah berkhianat! Kau memang Hantu jahanam yang harus dimusnahkan!" untuk kedua kalinya Luhsantini menyerang dengan pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung.

Latandai cepat menyingkir. Gerakannya memang tidak terlalu cepat akibat kendala di bagian bawah perutnya. Sadar dan khawatir serangan lawan bisa mencelakainya maka lelaki ini menangkis dengan melepaskan pukulan sakti Selusin Bianglala Hitam. Dua belas larikan sinar hitam halus menggebubu. Luhsantini seperti gila melihat berkiblatnya dua belas sinar hitam itu. Delapan puluh tahun silam, pukulan inilah yang telah membuat cacat puteranya Lamatahati!

Seperti hendak mengadu jiwa, dengan nekad Luhsantini sambuti pukulan lawan dengan pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung. Kali ini dengan tangan kiri kanan sekaligus.

Kesaktian Luhsantini boleh hebat, namun dia kalah jauh pada tenaga dalam. Begitu dua pukulan sakti bentrokan, terdengarlah pekik perempuan ini. Tubuhnya terlempar ke udara setinggi tiga tombak lalu jatuh di atas batu. Darah mengucur di mulutnya. Dada pakaian merahnya robek dan hangus besar hingga auratnya tersingkap putih.

Latandai sendiri terlempar satu tombak. Punggungnya menghantam gundukan batu. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Dadanya mendenyut sakit dan tubuhnya bagian bawah seolah hendak tanggal. Terbungkuk-bungkuk dia melangkah mendekati sosok Luhsantini. Saat itu dilihatnya saiah satu kaki perempuan itu bergerak hingga pakaiannya tersibak di bagian paha. Nafas Latandai sesaat tertahan. Darahnya menyentak- nyentak. Apalagi ketika matanya membentur dada Luhsantini yang tidak tertutup. Nafsunya langsung menggelegak.

"Mungkin ada baiknya dia tidak segera mati..." kata Latandai menyeringai. Dia membungkuk di atas tubuh Luhsantini. Agar yakin perempuan itu tidak membuat gerakan tiba-tiba yang dapat mencelakainya, kedua tangan Luhsantini dilipatnya ke belakang.

"Kraaakk!"

Salah satu lengan Luhsantini berderak patah. Tapi tak ada suara jerit kesakitan keluar dari mulut perempuan ini, karena keadaannya saat itu nyaris pingsan.

Latandai menyeringai, tangannya bergerak menyingkapkan pakaian merah Luhsantini sesaat lagi maksud terkutuknya akan kesampaian tiba-tiba satu ringkikan keras menggelegar di kawasan bebatuan itu.

"Wuuuutt!"

Kalau tidak lekas menyingkir pecahlah keualn Latandai kena tendangan dua kaki depan kuda raksasa berkaki enam!

Download

Kamis, 05 Juli 2018

Wiro Sableng : Bola-Bola Iblis (102)

Braaakkk! Tiga pasang kaki berbulu aneh mendarat di atas bukit batu. Itu adalah kaki-kaki seekor kuda hitam bermata merah yang pada kepalanya terdapat dua buah tanduk mencuat tajam. Keanehan lain dari kuda ini ialah dia memiliki tiga pasang kaki. Tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan!

Di atas kuda aneh itu duduk seorang lelaki yang muka dan tubuhnya penuh luka bersimbah darah.

"Lakasipo!" teriak Luhrinjani begitu melihat orang di atas kuda yang bukan lain adalah suaminya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi. Bukankah menurut Lahopeng suaminya itu telah menemui ajal di tangan komplotan pemberontak. Luhrinjani berpaling ke arah Lahopeng. Pemuda ini tampak tegak tertegun. Matanya terbeliak dan mukanya yang kebiru-biruan menda dak pucat. Luhrinjani hendak menghambur lari mendapatkan lelaki itu tapi langkahnya tertahan begitu sadar akan keadaan dirinya yang saat itu tidak tertutup selembar benang pun karena tadi Lahopeng telah sempat menanggalkan pakaiannya. Dengan cepat Luhrinjani mengambil pakaiannya lalu mengenakannya dengan tergesa-gesa. Lahopeng segera pula menyambar celana merahnya.

Walau matanya laksana ditusuk tombak api dan dada- nya seolah terbakar menyaksikan keadaan istrinya namun Lakasipo tidak perdulikan perempuan itu. Dia melesat dari atas kuda dan langsung menghadapi Lahopeng.

"Lahopeng kerabat keparat! Busuk tidak kusangka sifatmu! Diriku kau khianati!"

"Lakasipo, jangan salah kau bersangka! Biar kujelas- kan padamu..." Lahopeng tergagap.

"Tidak perlu penjelasan! Aku tahu sudah apa yang ter- jadi! Lebih dari itu sudah kubuktikan sendiri apa yang ada dalam bungkusan kepalamu! Keji!" Alis dan kumis Lakasipo yang lebat sampai berjingkrak saking marah- nya.

"Lakasipo, tunggu dulu!"

"Jahanam! Jangan kau berani bermulut banyak! Kau sengaja menjebak aku Lahopeng! Kau katakan ada se- kelompok orang hendak merampas kedudukanku seba gai Kepala Negeri Latanahsilam. Kau bawa aku ke Lembah Labengkok. Ternyata yang menunggu di sana bukan pemberontak. Tapi kaki tanganmu. Dibantu Hantu Muka Dua! Kau begitu yakin aku akan terbunuh! Kau beritahu Luhrinjani bahwa aku sudah tewas. Agar kau bisa mengawininya! Pengkhianat laknat ter- kutuk! Dari belakang kau menohok! Kau gunting leher ku dalam lipatan! Tapi para roh dan para dewa menolongku! Aku masih hidup Lahopeng! Kau harus tebus kejahatanmu dengan nyawa busukmu!"

"Lakasipo wahai suamiku!" jerit Luhrinjani yang saat itu sudah mengenakan pakaiannya dan menghambur ke arah Lakasipo. Tapi lelaki itu membentaknya dengan suara garang dan wajah sebuas setan.

"Perempuan tidak berbudi! Mana kesetiaanmu!"

"Suamiku...."

"Jangan panggil aku suamimu! Tiga hari baru kau jadi istriku! Belum satu minggu kau kukawini! Sampai hati kau menyerahkan hati dan tubuhmu pada lelaki lain!"

"Lakasipo, aku tertipu. Aku...."

"Kau tidak tertipu Luhrinjani! Justru kau sendiri meni- pu diri!" Lakasipo lalu mendorong tubuh perempuan itu hingga Luhrinjani jatuh terjengkang dekat pelaminan batu.

Di tempat gelap Lamahila dan Laduliu saling berbisik.

"Tak kusangka hal seperti ini bakal terjadi! Lahopeng dan kaki tangannya rupanya sengaja menipu Luhrinja ni agar dapatkan randa itu. Kita ikut tertipu Nenek Lamahila..." suara Laduliu bernada penuh khawatir.

"Ditakuti tak ada yang perlu!" jawab Lamahila. "Bukankah aku sudah merapal. Apapun yang bakal terjadi semua tanggung jawab Lahopeng dan Luhrinjani! Itu perjanjian disaksikan langit dan bumi. Disaksikan pela minan batu! Didengar para roh, para Peri dan para Dewa!"

"Tapi Nenek Lamahila. Pikirkan keselamatan sendiri. Lebih baik kita segera angkat kaki dari puncak Bukit Batu Kawin ini!"

Si nenek berambut putih riap-riapan anggukkan kepala. "Aku setuju ucapanmu Laduliu! Lekas kita merat dari sini!" kata si nenek pula. Lalu dua orang itu deng- an cepat segera tinggalkan Bukit Batu Kawin, menghilang dalam kegelapan.

Dengan keluarkan suara menggembor Lakasipo me- nerjang ke arah Lahopeng. Tangan kanannya bergerak. Lima jari tangan kanannya menjentik. Lima larik sinar hitam menderu menghantam Lahopeng.

"Pukulan Lima Kutuk Dari Langit!" teriak Lahopeng yang mengenali pukulan maut itu dan menjadi sadar kalau Lakasipo benar-benar nekad ingin membunuh- nya.

Secepat kilat Lahopeng jatuhkan diri ke bukit batu. Lima larik sinar hitam lewat hanya sejengkal di sampingnya. Menghantam dua buah pohon besar enam tombak di ujung kiri. Sesaat kemudian terdengar suara bergemeletak seperti kayu kering dimakan api. Padahal tak ada kayu yang terbakar. Ketika Lahopeng palingkan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi, mu kanya yang kebiru-biruan menjadi putih dan nyawanya seperti terbang. Dua pohon tinggi besar yang terkena pukulan Lima Kutuk Dari Langit saat itu telah berubah ciut mengkeret menjadi dua pohon kering kerontang tanpa daun. Dan tingginya kini hanya sampai sebatas lutut!
Download


Minggu, 15 Oktober 2017

Rajawali Emas - Pendekar Cengeng

Dewi Murah Senyum makin diguncang gairah. Tetapi di saat dia hendak membuka pakaiannya kembali, mendadak lagi-lagi didengarnya suara isakan di luar,

"Huhuhu... aku tidak tahu jalan keluar dari tempat ini... huhuhu... tunjukkan segera padaku..."

"Jahanam terkutuk!" geram Dewi Murah Senyum.

Dengan kemarahan yang telah tiba di ubun-ubun, dia langsung melesat dan melompat keluar dari dalam tandu. Kedua kakinya begitu ringan tatkala menginjak tanah dan berdiri sejarak lima langkah dari sosok Pendekar Cengeng!

"Pemuda cengeng, kau telah mengabaikan perintahku! Berarti, kematian yang akan kau terima!"

"Huhuhu... aku cuma bermaksud bertanya padamu. Jangan ancam aku..."

"Keparat!" bergetar suara dan tubuh Dewi Murah Senyum. "Lekas katakan apa yang hendak kau tanyakan!"
Sambil bersikap seolah mengusap-usap air matanya padahal tak ada yang keluar, pemuda berpakaian putih ini berkata, "Tunjukkan padaku jalan keluar dari tempat ini..."

"Dari mana kau datang tadi?!" bentak Dewi Murah Senyum penuh kegeraman.

"Dari arah tirnur..."

"Mengapa kau tak segera pergi ke arah tirnur?!"

"Huhuhu... jangan bentak aku... aku tidak tahu di mana arah timur sekarang..."

"Terkutuk! Mengapa aku harus melayani percakapan sinting dengan pemuda cengeng ini?!" damprat Dewi Murah Senyum dalam hati. Kemudian katanya, "Kau tengok ke arah kananmu... Di sanalah arah timur! Cepat menyingkir dari sini!"

Pendekar Cengeng sejenak arahkan pandangannya ke kanan. Lalu dengan masih mengisak dia berkata, "Huhu... aku tak berani melangkah sendiri... maukah kau menemaniku?"

"Setan alas!!" maki Dewi Murah Senyum dalam hati dengan kemarahan yang sudah tak bisa ditahankan lagi.

Sebelum dia berkata, Pendekar Cengeng sudah berkata, "Huhu... kalau kau keberatan mengantarku tidak mengapa tetapi, bagaimana dengan gadis di dalam tandu- mu itu? Barangkali saja dia mau mengantarku... huhu..."

Mendengar kata-kata orang yang sama sekali tak disangkanya, sampai surut satu tindak kaki Dewi Murah Senyum.

"Setan! Siapa pemuda ini sebenarnya? Dia bisa tahu kalau ada orang lain di tanduku? Padahal aku merasa tak membiarkan pandangan siapa pun masuk ke dalam tanduku ini? Bahkan tanduku terbuat dari bahan yang cukup tebal! Terkutuk! Lebih baik kubunuh saja dia sebelum akhirnya memang mengganggu keasyikankui"

Memutuskan demikian, seraya maju dua tindak ke depan, Dewi Murah Senyum berkata, "Kau kesulitan menemukan arah yang harus kau tuju, dan kau ketakutan melangkah sendiri! Bagus! Kalau begitu... kutunjukkan jalanpadamu yang lebihbaik! Jalanke neraka!!"

Belum habis bentakannya terdengar, sosoknya sudah mencelat ke arah Pendekar Cengeng. Hawa panas seketika menebar.

https://www.mediafire.com/file/6ierm3l60crkyap/Rajawali%20Sakti%20-%20Pendekar%20Cengeng.rar

Selasa, 01 Agustus 2017

Pendekar Wanita Penjebar Bunga

Yang Tjong Hay telah saksikan itu semua, dia berlompat memburu. Dia ada sangat lincah, gerakannya sangat pesat. Kepandaiannya ilmu enteng tubuh memang istimewa.

Sin Tjoe dapat lihat orang datang, ia memapaki dengan satu tikaman tombak.

"Crok!" demikian satu suara benterokan, dan ujung tombak itu terbabat kutung!

Tanpa menghiraukan tombaknya buntung, Sin Tjoe mengeprak kudanya, supaya binatang itu berlompat maju, guna pergi menyingkir lebih jauh.

"Awas!" teriak Tjong Hay, yang sudah lantas menimpuk dengan ujung tombak lawannya itu.

Sin Tjoe menangkis, tetapi tombak itu terpental ke samping, tepat nancap di pundaknya Tjoei Hong, hingga darahnya si nyonya lantas saja bercucuran keluar.

"Panah!" Tjong Hay berteriak pula, mengasi titahnya.

Ie Sin Tjoe putar tombak buntungnya, untuk mengeprak jatuh setiap anak panah. Dan kudanya, di lain pihak, sambil meringkik keras, sudah berlompat, untuk kabur. Dia dapat lari keras walaupun punggungnya memuat tiga orang. Sama sekali binatang ini tidak menjadi kaget dengan datangnya anak-anak panah.

Tiba-tiba saja San Bin ingat suatu apa dan terus berseru: "Mari kita tolongi si pengurus rumah makan!"

"Lambat sedikit saja, kita semua tidak bakal lolos!" Sin Tjoe bilang.

"Toako, kau perlu lolos terlebih dulu," Tjoei Hong pun bilang.

"Dia telah tolongi kita, apa boleh kita tidak menolongi dia?" tanya San Bin keras.

Justeru itu terdengar teriakan aneh dari Law Tong Soen, kapan San Bin menoleh ke belakang, ia tampak si tongnia Gielimkoen tengah mengangkat tu-buhnya pengurus rumah makan itu, kedua tangan siapa telah tertelikung, setelah mana orang dilemparkan kepada satu perwira berpangkat geetjiang. Habis itu, Tong Soen lari memburu.

Saking gusar dan mendongkol, San Bin berseru keras, hingga ia memuntahkan darah, habis mana ia pingsan, tubuhnya terjatuh ke belakang, syukur Tjoei Hong lantas menyamber untuk dipeluki.Dengan tangannya yang sebelah lagi, nyonya ini mainkan goloknya, untuk melindungi diri. Di waktu begitu, ia melupakan luka di pundaknya.

Kuda putih lari terus, akan membuka jalan di antara serdadu-serdadu tukang panah itu. Di mana kuda sampai, orang lari menyingkir. Maka sebentar kemudian, kuda jempolan ini sudah meninggalkan jauh tentera negeri itu, malah Yang Tjong Hay pun tidak sanggup mengejarnya, hanya ia penasaran dan menya-yangi yang kuda itu dapat lolos. Achirnya ia menjadi seperti nekat, ia siapkan panahnya, dengan mengertak gigi, ia menarik tali panah. Di saat itu, ia bersangsi pula, maka sejenak kemudian, kuda putih itu dan penunggangnya semua telah pergi jauh...

Untuk beberapa lie, kuda itu kabur terus, sampai di jurusan timurnya terdengar suara tambur dan terompet tentera. Ie Sin Tjoe tidak ingin bertemu pula sama tentera negeri, ia tarik les kuda, untuk lari ke arah barat, hingga di lain saat mereka berada di mana tak ada seorang lain jua. Di sini kuda lari di jalanan gunung yang sempit dan berliku-liku.

Sampai di situ, lega hatinya Tjoei Hong, tetapi justeru itu, ia seperti kehabisan semangat, hingga ia rasai tubuhnya lemah, tubuh itu bergoyang- goyang seperti hendak jatuh dari atas kuda.

Sin Tjoe lihat orang lelah, ia lantas memeluk. Ia sekarang melihat tegas darah di pundak nyonya itu, yang masih mengalir. Tidak ayal lagi, ia buka baju si nyonya, untuk di atas kuda juga mengobati lukanya itu.

Sampai di situ, San Bin pun sadar dengan pelahan-lahan. Ia terkejut akan menyaksikan Sin Tjoe tengah mengolah tubuh isterinya. Ia lantas ulur sebelah tangannya, guna merangkul isterinya itu, dengan hawa amarah naik, ia membentak: "Eh, kau bikin apa?"

Sin Tjoe terkejut akan mendapati orang bergusar. Dalam sesaat itu, ia lupa bahwa ia dandan sebagai satu anak muda.

Tjoei Hong tertawa tiba-tiba. Ia kata: "Toako, kau bikin berisik apa? Dia adalah satu nona!"

Ia ingat halnya dulu In Loei, yang telah permainkan padanya, maka itu, setelah pengalamannya itu, ia lantas ketahui Sin Tjoe adalah satu nona.

Sin Tjoe pun tertawa, terus ia kasi turun kopianya, hingga terlihat rambutnya yang bagus.

"Tjioe Tjeetjoe, untuk apa kau bercem- buru?" ia pun menanya sambil tertawa.

San Bin tahu ia ke-cele, ia jengah sendirinya, tetapi lekas ia menghaturkan maaf.

Ketika itu matahari sudah doyong rendah ke barat, manusia dan kuda letih bersama. Sin Tjoe lompat turun dari kudanya, ia membantui suami isteri itu turun. Ia pun lantas periksa lukanya San Bin, Kalau luka Tjoei Hong tidak mengenai urat atau tulang, luka itu tidak berbahaya, tidak demikian dengan tjeetjoe ini, jeriji tangannya Tong Soen membuatnya ia terluka parah. Sin Tjoe lantas kasi ia makan dua butir pil Siauwyang Siauwhoan tan dan menitahkannya dia beristirahat.

Berselang lama juga, San Bin merasakan kesegarannya pulih sedikit. Ingat kepada lukanya, ia jadi sengit. Katanya: "Pernah aku berperang sama tentera Watzu, sampai beratus kali, belum pernah aku terkalahkan sebagai ini. Sakit hati ini mesti aku balas!"

Tjoei Hong hiburkan suami itu.

"Mana gurumu?" ke-mudian San Bin tanya Nona Ie. "Oleh karena kami mendengar kabar pemerintah bermaksud tidak baik terhadapnya, kami sengaja datang untuk menyambut padanya. Apakah dia tidak kurang suatu apa?"

"Soehoe sudah menyingkir sejak siang- siang," sahut Sin Tjoe. "Untukmu ia telah titipkan sepucuk surat."

Nona itu lantas keluarkan surat gurunya itu.

San Bin sambuti surat itu, untuk dibuka dan dibaca, habisnya, ia menghela napas: "Ah! Gurumu melarang aku menuntut balas!"

"Apakah yang Thio Tan Hong tulis?" Tjoei Hong tanya.

"Dia bilang di pesisir timur selatan keamanan tengah terganggu oleh perompak-perompak bangsa kate, jikalau aksinya kawanan perompak itu tidak dicegah, mereka bisa menjadi bencana besar di belakang hari," sahut San Bin. "Karena ini ia menghendaki aku memecah sebahagian tenteraku, guna dipin-dahkan ke Kanglam, untuk bekerja sama kawan sepaham di pesisir timur selatan itu untuk menentang pengaruhnya perompak- perompak bangsa kate itu. Inilah bukan pekerjaan gampang."

"Apakah yang sulit?" Sin Tjoe menanya.

"Pertama-tama kita orang Utara tidak bisa berenang," jawab San Bin. "Kedua kita telah lama bermusuh sama pemerintah, sekarang kita mesti bawa pasukan tentera melintasi tempat-tempat jagaan pemerintah, sulitnya bukan main. Ketiga, dengan begini apa kita bukan seperti juga membantu pemerintah si orang she Tjoe itu?"

"Kau telah belajar si-lat, apakah kau anggap belajar berenang lebih sukar daripada belajar silat itu?" Sin Tjoe tanya.

"Tentu saja belajar silat ada terlebih sukar."

Si nona lantas ter-tawa.

"Kalau begitu, kesu- karanmu yang pertama itu tidak beralasan!" ia berkata. "Siapa pun tak bisa begitu dilahirkan lantas dapat berenang. Orang Utara juga, satu kali dia sampai di Selatan, dia bakal bisa berenang. Kita bisa belajar berperang di air."

"Dan tentang kesulitan tentera kita berangkat ke selatan," Tjoei Hong turut bicara, "untuk bisa melintasi tempat jagaan tentera negeri, baiklah kita atur supaya mereka menyamar sebagai pelbagai golongan penduduk, jalannya pun dengan berpencaran. Kita mesti masuk ke Selatan dengan menyelundup."

San Bin tertawa.

"Kamu berdua mem-bilang begini, aku jadinya tak seperti kamu kaum wanita!" ia kata. "Aku bukannya tidak mengarti maksudnya Thio Tan Hong, bahwa menolongi rakyat dari ancaman bahaya adalah tugas kita.

Memang tidak dapat aku menampik. Aku hanya tidak puas kita keluarkan tenaga untuk pemerintah si orang she Tjoe. Pemerintahlah yang mesti tolong rakyat di Selatan itu. Kalau sekarang kita yang menolongi, habisnya, pemerintah bakal melabrak musna pada kita!"

"Tetapi kau harus ingat, toako, Thio Tan Hong sendiri tidak mengutarakan penasaran seperti kau ini," berkata Tjoei Hong, sang isteri. "Bicara perihal sakit hati, dia sebenarnya lebih mem-benci dan mendendam kepada pemerintah!"

San Bin memang mengarti soal itu.

"Baiklah!" katanya. "Asal kita bisa pulang ke tempat kita, akan aku kerahkan tenteraku..."

https://www.mediafire.com/file/hidl9dhk454hi7l/Pendekar%20Wanita%20Penjebar%20Bunga%20-%20San%20Hoa%20Lie%20Hiap%20%283%20Jilid%29.rar

Dua Musuh Turunan

Pada matanya In Loei, surat wasiat berdarah itu tampaknya seperti melar semakin besar. Pada saat itu, tak tahu ia, warta San Bin ini harus diterima dengan kegirangan atau kedukaan. Ia tahu, pesan kakeknya, yang mewajibkan dia menuntut balas, tidak dapat diabaikan, bahwa musuh she Thio itu tidak boleh diberi ampun. Bolehkah dia membiarkannya pembalasan itu dilakukan oleh lain orang? Pantaskah kalau ia tidak turun tangan sendiri?

Tapi, ketika ia bayangkan halnya Thio Tan Hong nanti tercingcang goloknya kaum Rimba Hijau, tidak berani ia membayangkannya terlebih jauh, tidak berani ia memikirkannya.

"Adik In," terdengar pula San Bin berkata, "sejak kau meninggalkan gunung, aku selalu pikirkan kau"

Suara ini sangat perlahan, manis terdengarnya.

"Banyak terima kasih untuk perhatianmu," katanya, lemah.

Kecewa San Bin melihat orang lesu.

"Sejak perpisahan kita itu, aku selalu ingin bertemu pula dengan kau," berkata pula pemuda she Tjioe itu, "sayang, aku senantiasa repot. Mana bisa aku segera cari kau? Baharu satu bulan yang lalu mata-mataku di perbatasan dapat mengendus bahwa putera Thio Tjong Tjioe sendirian saja masuk ke Tionggoan, bahwa dia telah menyamar sebagai satu mahasiswa dengan menunggang seekor kuda putih, kuda jempolan. Lantas ayahku berdamai dengan orang-orang kita. Rata-rata orang anggap kedatangannya Thio Tjong Tjioe ke Tionggoan, tidak nanti dia mengandung maksud baik, pasti dia bertujuan untuk mengacau balau Tiongkok, maka itu ayah menugaskan aku pergi mencari, guna mengintai dia. Aku dipesan supaya bekerja sama dengan semua saudara Rimba Hijau, untuk bersama membekuk dia. Begitulah, loklim tjian telah disiarkan. Tempat ini termasuk wilayah Shoasay, pemimpin Rimba Hijau dari kedua propinsi Shoasay dan Siamsay adalah Tjio Eng, dari itu aku sudah lantas cari ketua she Tjio itu. Sayang, ketika aku sampai di rumahnya, Tjio looenghiong kebetulan tidak ada di rumah, aku cuma dapat bertemu dengan puterinya. Dari Nona Tjio aku mendapat keterangan, kau telah menjadi baba mantunya Tjio looenghiong itu. Selagi aku cari Tjio looenghiong, dia sendiri sedang mencari kau. Haha, adik In, sandiwaramu ini membikin aku tertawa geli sampai perutku mulas! Kau tahu, Nona Tjio itu sungguh-sungguh menyintai kau!"

In Loei bersenyum.

"Bagaimana kau lihat Nona Tjio itu?" ia tanya.

"Ilmu silatnya cukup baik," sahut San Bin.

"Yang lainnya lagi?" tanya pula In Loei.

"Aku kenal dia sebentar saja, mana aku ketahui sifatnya yang lain lagi?" San Bin membaliki.

In Loei bersenyum pula. Hendak dia berkata pula, tapi ia tercegah halnya loklim tjian, panah Rimba Hijau itu. Ia bingung. Tjio Eng begitu menghormati Thio Tan Hong, kenapa dia bekerja sama dengan San Bin menyiarkan panah istimewa itu? Inilah satu soal, yang perlu ia ketahui jelas.

San Bin tidak tahu apa yang si nona pikirkan, menerkanya pun tidak. Ia bicara terus.

"Itu hari bersama-sama nona Tjio aku telah kejar muridnya Tantai Mie Ming," kata dia. "Murid Mie Ming itu menunggang seekor kuda pilihan, kita kejar dia sampai kira kira empat puluh lie, tapi tak dapat kita menyandaknya. Kuda kita semua telah kehabisan tenaga. Kuda dia lari bagaikan terbang, tak dapat disusul terus    "

"Bagaimana dengan nona Tjio?" tanya In Loei.

San Bin tertawa.

"Hai, nyonya, rupa-rupanya terhadap aku, kau kandung suatu maksud!" katanya. "Terus menerus kau angkat aku, dari suaramu, agaknya kau merasa kurang puas terhadap kakak angkatmu ini, hingga kau membuatnya aku tidak mengerti! Aku toh kakak angkatmu? Ada hubungan apa antara nona Tjio itu dengan aku?"

Di dalam hatinya, In Loei tertawa. Ia ingat hal¬nya sendiri pada malam pengantin, terhadap Tjoei Hong berulang kali ia menyebut-nyebut San Bin.

San Bin mengangkat pundak, ia berkata pula: "Oleh karena kita gagal mengejar musuh itu, Tjoei Hong dan aku berselisih mulut sebentar, katanya dia hendak pulang sendirian saja, tidak ingin dia mengajak aku untuk menemui ayahnya. Dia pun membikin banyak ribut, dia ingin aku kembalikan batu sanhu kepadanya, seperti juga dia anggap sanhu itu bagaikan jiwanya    "

Tanpa merasa, In Loei tertawa.

San Bin berkata pula:    "Aku tahu, batu itu engkaulah yang memberikan padanya selaku tanda mata, terhadapmu, dia sangat menyinta, pantas ia sangat menyayangi batu itu."

In Loei tertawa.

"Tetapi kali ini adalah kau yang memberikan dia tanda mata, bukannya aku yang memberikannya!" katanya.

San Bin tercengang, wajahnya segera berubah menjadi merah.

"Ah kau, setan cilik! Kau ngaco belo! Nanti aku robek mulutmu!" Dan ia ulur tangannya.

In Loei palingkan mukanya, masih ia tertawa.

"Mari kita bicara dari hal urusan yang benar," ia kata kemudian. "Nona Tjio tidak sudi mengajak kau menemui ayahnya, habis dari manakah kau dapatkan panah Loklim tjian itu?"

"Itu adalah kejadian yang kebetulan saja," jawab San Bin. "Sesudah nona Tjio tidak mau mengajak aku, dia berangkat, kemudian aku pun berangkat. Aku menuju ke barat. Tidak lama kemudian, aku bertemu dengan Hongthianloei Tjio Eng, ayahnya itu. Tjio Eng belum tahu bahwa barusan aku berada bersama gadisnya. Rupanya ayah dan anak itu mengambil jalan yang berlainan, hingga mereka tak bertemu satu dengan lain."

"Bukankah Tjio looenghiong itu ada bersama empat saudagar barang permata?" In Loei tanya.

"Benar! Dia jalan terburu-buru seperti mempunyai urusan sangat penting, hingga dia tak sempat bicara banyak denganku. Aku minta Loklim tjian padanya. Sebenarnya hendak aku bicara lebih banyak padanya, untuk menceritakan gadisnya, tapi dia sudah mendahului menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata: "Nama Kimtoo Tjeetjoe sangat kesohor, siapakah yang tidak ketahui? Kau hendak bekuk seseorang, dia tentunya ada seorang yang jahat tak berampun, maka tentang dia, tak usah kau menjelaskannya. Kau perlu Loklim tjian, kau boleh dapatkan itu. Aku mempunyai urusan penting, maafkan aku, tidak dapat aku menemani kau. Siauwtjeetjoe, kalau urusanmu telah selesai, aku undang kau datang ke Heksek tjhoeng, nanti kita pasang omong dengan asyik    

Tanpa tanya apa-apa lagi, ia serahkan Loklim tjian padaku, terus ia ajak ke empat saudagar itu melanjutkan perjalanannya."

"Oh, demikian duduknya hal"

In Loei berpikir.

"Coba Tjio Eng menanyakannya dan ia ketahui siapa yang hendak dibekuk orang she Tjioe ini, tidak nanti akan terjadi kekeliruan semacam ini    "

"Aku bertemu dengan Tjio looenghiong di dekat tanjakan Bengliangkong," berkata pula San Bin, "tempat itu adalah daerah pengaruhnya Tjeetjoe Na Thian Sek. Aku lantas pergi menemui Thian Sek, aku serahkan Loklim tjian kepadanya sambil menitahkan dia agar dalam tempo tiga hari, panah itu sudah sampai kepada seluruh kaum Rimba Hijau.

Aku berdiam satu hari di pesanggrahannya, untuk mendengar dengar kabar. Lancar jalannya urusan itu. Dengan bekerja sama antara Tjio Eng dan ayahku, ada beberapa orang yang tadinya tidak sudi mendengar titah, yang biasa menjagoi di tempatnya masing-masing telah menyatakan sudi memberikan bantuannya. Adik In, kali ini pastilah sakit hatimu dapat dibalaskan! Eh, eh, kau kenapa? Kenapa kau kelihatannya tidak gembira?"

San Bin terkejut, ia ucapkan kata-katanya yang terakhir ini karena tiba-tiba saja ia tampak wajah si nona menjadi pucat. Akan tetapi nona itu, begitu ditegur, dia telah paksakan diri untuk tertawa.

"Sebenarnya aku merasa kurang sehat," ia kata. "Tapi sekarang aku sudah sehat, aku, aku girang sekali."

"Tentang Loklim tjian itu, tidak usah aku memperhatikannya terlebih jauh," San Bin menerangkan pula. "Satu kali panah telah di kirimkan, orang-orang loklim sendiri masing-masing tahu bagaimana harus mengurusnya. Aku ingat hari itu di tempat ini aku bertemu dengan kuda merahmu, karenanya aku kembali untuk mencari kau. Thian mengasihani aku, beruntung aku telah bertemu denganmu!"

In Loei berdiam.

San Bin masih hendak bicara lebih jauh, tapi ia seperti dengar suatu apa, lantas ia jatuhkan diri, untuk mendekam di tanah seraya memasang kupingnya.

https://www.mediafire.com/file/9ddd6se37c7867w/Dua%20Musuh%20Turunan.rar

Kamis, 27 Juli 2017

Wiro Sableng 101 : Gerhana Di Gajah Mungkur

Ini Episode Wiro Sableng yang sangat Mimin Suka, ceritanya seolah-olah berakhir tapi ternyata masih berlanjut. Kemudian, cerita pun berlanjut ke Episode-episode pengembaraan Wiro Sableng Ke Negeri Latanah Silam... Dan jujur saja, Episode Latanah Silam adalah episode yang paling bagus ceritanya menurut Mimin... Meski Om Bastian Tito masih dengan "gaya khas-nya" yaitu, selalu muncul kata TIBA-TIBA ketika tokoh sedang akan dibunuh.

Berikut Cuplikan ceritanya:

 BERLARI cukup lama Wiro belum juga mencapai tepi barat Telaga Gajahmungkur. Di satu tempat dia berhenti dan mendongak ke atas. Langit gelap gulita. Memandang berkeliling hanya kepekatan dan pohon-pohon serta semak belukar menghitam dilihatnya.

Tiba-tiba murid Sinto Gendeng merasa sambaran angin di samping kirinya disertai berkelebatnya satu bayangan. Namun dia tidak melihat apa-apa.

"Ratu Duyung.... Kaukah itu?" ujar Wiro karena menyangka gadis bermata biru itu menyusulnya. Tak ada jawaban. "Orang bercadar.... Kau ada di sekitar sini?!" ujar Wiro kembali menduga sambil memandang berkeliling. Tetap tak ada jawaban. Mendadak satu tawa mengekeh merobek kesunyian di tempat itu. Membuat Pendekar 212 tersentak kaget dan cepat berpaling ke kiri. "Astaga! Makhluk apa yang ada di bawah pohon besar itu.

"Pendekar 212, lihat baik-baik! Apa kau masih mengenali diriku?!"

Wiro buka matanya lebar-lebar. Sejarak sepuluh langkah di hadapannya, di bawah bayang-bayang gelap sebuah pohon besar berdiri satu sosok yang tubuh dan pakaiannya menebar bau busuk. Bukan bau busuk ini yang menyebabkan Wiro merasa tercekat, namun cara orang itu berdiri yang membuatnya melengak ngeri.

"Makhluk aneh. Berujud seorang kakek. Berdiri di atas dua tangannya. Sepasang kakinya sebatas lutut ke bawah tidak berdaging. Hanya merupakan tulang pipih. Aku tidak ingat apa pernah melihat makhluk ini sebelumnya.

"Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau mungkin lupa. Orang yang mau mati memang sering-sering lupa. Ha... ha... ha...."

"Orang aneh! Kau siapa?!" tanya Pendekar 212.

"Ingat peristiwa-di sebuah pulau di pantai barat Andalas beberapa waktu lalu? Kau dan Tua Gila menjebloskan aku ke dalam sebuah makam batu tanpa nisan!"

"Kau...!" Wiro coba mengingat-ingat. "Kau Datuk Tinggi Raja Di Langit!" Lidah Wiro mendadak seolah menjadi kelu.

"Ha... ha... ha! Kau ingat sekarang! Itu julukanku di masa lalu. Sekarang gelarku adalah Jagal iblis Makam Setan. Artinya setiap orang yang menjadi musuhku akan kujagal dengan sepasang kakiku dan kuburnya adalah di makam setan! Ha... ha... ha!"

Tengkuk Wiro menjadi dingin. Dia tahu sekali bagaimana jahatnya manusia satu ini. Apalagi dia menaruh dendam kesumat pula pada dirinya. "Celaka! Kalau dia berniat hendak membunuhku, apa aku bisa bertahan dengan jubah sakti yang melekat di tubuhku? Apa yang harus kuperbuat. Kabur saja selamatkan diri? Mustahil aku mampu!

"Jagal Iblis.... tidak ada waktu membicarakan ikhwal masa lalu denganmu. Aku harus pergi! Aku tertarik pada perempuan cantik yang berdiri di belakangmu. Apakah datang bersama-samanya?"

Jagal iblis Makam Setan berpaling ke belakang. Secepat kilat Wiro melompat ke balik semak belukar di dekatnya lalu menghambur lari. Namun baru berlari sejauh beberapa tombak, di depannya terdengar tawa bergelak dan tahu-tahu makhluk berjuluk Jagal iblis

Makam Setan itu telah menghadang jalannya. Berdiri dengan tangan di bawah kaki di atas. Wiro merasa nyawanya seperti terbang. Tipuannya tidak mengena.

"Pendekar keparat! Kau tak bisa menipuku! Kau tak bisa lolos dari tanganku! Malam ini adalah malam kematianmu!"

"Wuutt!" Kaki kanan Jagal iblis Makam Setan yang hanya tinggal tulang pipih menyerupai pedang tajam itu menabas ke arah lehernya. Secepat kilat dia jatuhkan diri ke samping. Lehernya selamat. Tapi "bukkk! Breettt!"

Wiro tak mampu menghindar, tak berani menangkis ketika kaki kiri Jagal iblis membacok ke arah dadanya. Wiro terlempar sampai satu tombak dan terkapar di tanah.

Jagal iblis Makam Setan pelototkan mata. "Jahanam ini punya ilmu apa! Kudengar dia kehilangan kesaktian dan tenaga dalam! Mengapa kaki pedangku tak mampu membacok dadanya!"

"Wuuutt!"

Kakek angker berjuluk Jagal iblis itu jungkir balik di udara. Sesaat kemudian dia telah berdiri sebagaimana wajarnya manusia yaitu dengan dua kaki berada di tanah.

Wiro merasa dadanya seperti dihantam pentungan besar terbuat dari besi. Nafasnya sesak. Dia berusaha bangkit tapi kaki kanan si kakek tahu-tahu sudah menginjak lehernya. Sedikit saja kaki itu ditusukkan atau disayatkan ke leher Wiro, tamatlah riwayat sang pendekar.

Si kakek masih memandang dengan mata mendelik. "Pakaian merahnya jelas-jelas robek besar! Tapi mengapa badannya tidak cidera? Bangsat ini pasti memiliki semacam ilmu kebal. Atau mungkin pakaian merahnya yang berbentuk jubah ini? Hemmm...."

#



Jumat, 02 September 2016

Sebilah Pedang Mustika

Entah berapa lama sudah lewat, mendadak Hian Kie seperti mendusin dari mimpinya yang buruk dan hebat, dia seperti dibawa terbang kudanya berlaksa lie, dia bertempur dahsyat di gunung belukar di malam hari, lalu dia ingat kejadian atas dirinya. Ia menggeraki tubuhnya, untuk berbalik.

"Ha, aku berada di mana?" tanyanya seorang diri. "Mana Siangkoan Thian Ya? Mana Oen Lan? Mana kudaku? Eh, tempat ini tempat apakah?"

Ia terbenam dalam keheranan, matanya mengawasi ke arah jendela. Di sana terasa angin halus mendesir masuk, hidungnya membaui bau yang harum halus, hatinya menjadi lapang. Karena ia merasakan nyaman itu, tiba-tiba ia berbangkit untuk berduduk.

"Hai, mengapa aku telah kembali ke rumahku?" ia berseru seorang diri tanpa ia merasa.

Inilah sungguh di luar dugaan. Ia me- ngucak-ngucak kedua matanya, ia pun menggigit jari tangannya sendiri. Bukan, ia bukan tengah bermimpi! Ia ingat baik sekali bahwa ia telah tiba di gunung Holan San, di kaki gunung, yang terpisah dari rumahnya ribuan lie. Mustahilkah ia telah ketiduran hingga seratus hari? Bahwa tengah pulas orang sudah mengangkatnya, menggotong ia pulang ke rumahnya? Atau, mustahillah di dalam dunia ini ada dewa, yang telah menggunakan ilmunya membikin ciut bumi, hingga dari kaki gunung Holan San ia telah dibawa pulang ke kampung halamannya di Soetjoan Utara?

Tidak, itulah tak dapat terjadi! Toh ia bukannya lagi bermimpi!

Jendela di depannya itu menghadap ke selatan, jendela itu tertutup dengan kaca, di luar jendela berbayang pohon bwee. Semua itu, berikut almari buku di dalam kamarnya ini — ia ingat, adalah kamar tulisnya sendiri...

Ketika itu terdengar tindakan kaki di luar kamar.

Tidak ayal lagi, pemuda ini bergerak untuk turun dari pembaringan.

"Ibu!" ia memanggil keras.

Tiba-tiba terdengarlah suara tertawa geli, lalu tertampak    seorang    nona menyingkap    layar bertindak masuk. Dialah seorang nona dengan alis lengkung bagaikan bulan sisir, mulutnya kecil mungil seperti buah engtho, dan di sorot matahari pagi itu, mukanya yang potongan telur bersemu dadu cemerlang, hingga    jelaslah kecantikan    dan kesegarannya. Hanya pada wajah itu nampak roman kekanak-kanakkan.

Heran Hian Kie hingga ia berdiri tercengang.

"Bagus!" terdengar si nona membuka mulutnya, memperdengarkan suara yang halus. "Kau telah dapat turun dari pembaringan! Bagaimana? Apakah kau kangen akan rumahmu?"

Kembali Hian Kie tercengang.

"Ah, jadinya ini bukan rumahku?" pikirnya heran.

Nona itu menghampirkan dengan tindakan perlahan sekali hingga terasa hawa mulutnya yang harum wangi. Ia tertawa pula ketika ia berkata lagi: "Aku lihat kau membawa-bawa pedang, kau menunggang seekor kuda jempolan, tetapi kiranya kaulah seorang bocah gedeh, sebab begitu kau sadar kau memanggil ibu!"

Hian Kie heran, ia tak mengambil mumat kata- kata itu.

"Aku mohon bertanya, nona apakah shemu yang mulia ?" tanyanya. "Kenapa aku dapat datang kemari?"

Si nona kembali tertawa.

"Aku justeru hendak menanyakannya kepada mu!" sahutnya. "Kenapa orang telah melukai kau begini hebat? Coba aku tidak menyimpan pel mustajab Siauwyang Siauwhoan tan, aku kuatir kau bakal mesti merawat sedikitnya setengah tahun."

"Terima kasih, nona, terima kasih! Aku mohon bertanya, tempat ini tempat apakah?"

"Inilah rumahku. Adakah kau mencelanya buruk?"

Hian Kie mementang lebar kedua matanya. Ia mengawasi ke sekitarnya.

Di tembok ada tergantung sebuah pigura yang melukiskan panorama di waktu malam di musim rontok di sungai Tiangkang, di sana nampak si Puteri Malam tergantung di atasan sungai, di sungai sendiri terlihat empat atau lima buah kapal perang. Kota pun seperti berlatarkan belakang sungai itu, kotanya besar dan angkar. Di atasan itu ada seruas syair yang memuji keindahan sungai Tiangkang itu.

Di samping pigura itu pula ada tergantung sebatang pedang, mungkin pedang mustika, sebab romannya luar biasa.

Itulah dua rupa benda yang tak ada di dalam kamarnya sendiri.

Maka lagi sekali ia memandang kelilingan.

Perlengkapan kamar ini ada bagiannya yang tak sama dengan kamarnya, hanya itu jendela kaca, pula luarnya jendela di mana ada pohon bwee.

Bagaimana mirip!

Nona itu tertawa mengawasi orang yang ber diam bingung seperti si tolol.

"Kenapa?" tanyanya.

"Kamar ini indah, mengapa dibuatnya jendela itu?" si anak muda bertanya.

Biasanya dulu-dulu, sebuah rumah besar berjendela kecil dan dipakaikan kaca keluaran Pakkhia dan itu jarang tertampak kecuali di Kanglam. Nona itu heran orang menanyakan jendela. Tapi ia bersenyum manis.

"Itulah perlengkapan yang dibuat ayahku," sahutnya.

Sambil berpegangan pada tembok, Hian Kie menghampirkan jendela itu, perlahan tindakannya.
Ketika itu di luar jendela, bunga bwee tengah mekar, baunya harum.

Tanpa merasa, Hian Kie berkata perlahan: "Membuka jendela menyambut matahari pagi, menggulung layar mencium bau harum, di mana telah berada pekarangan penuh dengan bunga bwee, sudah seharusnya diadakannya jendela ini..."

Mendengar itu, si nona melengak.

"Ah," serunya perlahan, "nyatalah kegemaran- mu sama dengan kegemaran ayahku. Ayah pun membilangnya, lebih banyak jendela dibuka, supaya sinar matahari nembus ke dalam, hingga harum bunga memenuhi kamar, itu membuatnya pikiran orang nyaman dan terbuka."

Hian Kie pun heran.

"Tapi itulah bukan kegemaranku belaka, itu lah..." katanya.

"Bagaimana?" si nona memotong.

"Kamarmu ini tak beda banyak dengan kamar ku," menerangkan si anak muda. "Hanya kamarku itu adalah ibuku yang mengaturnya."

Kelihatan nona itu sangat ketarik hati dan kagum.

"Kau mempunyai ibu seperti ibumu itu, sungguh kau beruntung!"

Hian Kie dan ibunya memang sangat saling menyayangi, maka itu senang ia mendengar pujian...
 
Download

Kamis, 01 September 2016

Ksatria Hutan Larangan (Buku I)

Judul : Seri Kesatria Hutan Larangan; Pangeran Anggadipati, Darah dan Cinta di Kota Medang
Penulis : Saini K.M
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang
Terbit : Agustus 2008
Tebal : viii + 394 halaman
Genre : Fiksi Sejarah
ISBN : 978-979-1227-28-5
 
Sejak munculnya Gajah Mada yang ditulis oleh Langit Kresna Hadi, genre fiksi sejarah Jawa membanjiri khasanah buku hingga saat ini dan sukses melegakan dahaga para pencinta cerita silat jaman dahulu. Salah satu kisah yang ikut bergulat dan memeriahkan dunia buku silat adalah karya dari pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, yang ikut memprakarsai terbentuknya Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, Saini K.M.

Walaupun kemunculan buku seri Kesatria Hutan Larangan yang diterbitkan Bentang ini setelah Gajah Mada, ternyata buku ini sudah ditulis secara bersambung di harian Pikiran Rakyat pada tahun 70-an dengan judul Puragabaya. Selain itu, karya cerita silat yang berlatar sejarah kerajaan Sunda Pajajaran ini pernah dipentaskan dalam bentuk teater.

Secara garis besar buku ini mengisahkan tentang Pangeran Muda dari Kutabarang yang menempuh penggemblengan menjadi seorang puragabaya. Lulusan puragabaya nantinya akan bertugas untuk menjadi pengawal para pemimpin Pajajaran. Saat berumur sebelas tahun, dia dijemput oleh seorang guru yang juga puragabaya bernama Rakean. Tidak sembarang orang dapat menjadi calon puragabaya karena untuk mendapatkan sosok belia untuk ditempa di Padepokan Tajimalela, pendidik harus melakukan penyelidikan latar keluarga serta tabiat keseharian si calon.

Sebelum Pangeran Muda mengetahui keterpilihannya, dia Muda sempat melihat kematian sahabat sepermainannya, Raden Jamu yang pernah menjalani pelatihan sebagai calon puragabaya. Melihat kematian sahabatnya tersebut, Pangeran Muda menyadari bahwa pendidikan yang akan didapatkan di Padepokan Tajimalela bukanlah main-main dan nyawa adalah taruhannya.

Calon puragabaya akan gembleng menjadi manusia yang sangat langka, berkemampuan laksana binatang buas, sekaligus harus berbudi pekerti yang halus. Hal ini membuat para calon tidak hanya mendapat keahlian bertarung, namun juga pelajaran rohani yang langsung diberikan oleh Eyang Resi, sang pemimpin Padepokan. Di awal kedatangannya, Pangeran Muda tertinggal pelajaran. Beruntung Pangeran Muda mendapatkan teman baru, sekaligus teman sekamar, yang dengan rendah hati memberikan bantuan, Raden Jalak Sungsang atau Janur.

Sayang, Janur tidak dapat lebih lama mengikuti pelatihan karena kematian menghampirinya di salah satu tahapan menjadi puragabaya. Setelah ditinggal Janur, Pangeran Muda kemudian sekamar dengan Raden Jante Jalawuyung. Jante lah yang nantinya akan menjadi pusat konflik dari trilogi Kesatria Hutan Larangan, walaupun sosoknya hanya sering sekelabat saja dikisahkan.

Setelah melewati tahun ketiga, para calon puragabaya harus menjalani ‘praktek lapangan’ dengan mengirim mereka untuk mendampingi para pemimpin di Pajajaran. Sebelum berangkat ke Pakuan Pajajaran, Pangeran Muda diajak oleh Jante untuk mengunjungi rumahnya. Disinilah asmara mulai mewarnai kisah dalam buku setebal 394 halaman ini, antara Pangeran Muda dan Putri Yuta Inten, putri dari kerajaan Medang, yang tidak lain adalah adik dari Jante Jalawuyung.

Latar kehidupan Saini K.M yang diwarnai oleh dunia seni, dengan kampung yang selalu marak dengan kesenian, termasuk pencak silat, membuat beliau mampu mendeskripsikan gerakan-gerakan silat dengan sangat apik, dan dapat melayangkan imajinasi pembaca pada kehidupan masyarakat para jaman kerajaan Pajajaran. Selain itu, cara penulis yang dikenal sebagai penggiat sastra dan teater di Tanah Pasundan, dalam menuturkan ceritanya sangat mengalir, sehingga membuat proses membaca terasa nyaman, apalagi didukung dengan ‘kebersihan’ typo.

Konflik dalam buku ini terbilang tidak berkepanjangan. Konflik-konflik dalam buku ini dirasa hanya untuk memperkuat gambaran sosok seorang Puragabaya dan bagaimana mereka mengambil tindakan dalam menghadapi masalah. Konflik baru terasa ‘berat’ ketika tanpa sengaja Pangeran Muda membunuh Jante, yang nantinya akan berlanjut pada buku Seri kedua Kesatria Hutan Larangan; Raden Banyak Sumba, Bara Dendam Menuntut Balas.

Download

Senin, 29 Agustus 2016

Dragon Keeper

Mangkuk bambu itu melayang ke arah kepala si gadis budak. Seketika ia menunduk. Dia sudah berpengalaman menghindari bendabenda yang dilemparkan ke arahnya, mulai dari batu tinta hingga tulang ayam.

Tuannya kembali mengempaskan diri ke tempat tidur, kehabisan tenaga karena berusaha melempar mangkuk tadi. "Beri makan binatang- binatang itu, anak sialan."

"Ya, Master Lan," sahut si gadis.

Lan merengut dan menatapnya dengan ekspresi muak, seakan dia melihat sesuatu yang menjijikkan. Lan hanya tersenyum kalau sedang menertawakan ketololan si gadis budak.

"Jangan lama-lama."

"Tidak, Master Lan."

Si gadis menyelinap ke luar rumah tepat ketika sebuah guci anggur kosong melayang ke arah pintu.

Hari itu udara terasa dingin menusuk tulang. Si gadis budak pun bergegas menuju kandang- kandang binatang. Kelihatannya tak lama lagi bakal turun hujan salju, karena langit tampak mendung.

Si gadis memakai celana panjang yang kepen-dekan, dan pada bagian lututnya penuh tambalan. Tuniknya pun sudah lusuh dan banyak tisikannya. Pakaiannya itu tidak dapat menghentikan angin dingin yang langsung menembus ke kulitnya.

Si gadis tidak mempunyai nama; dia pun tidak tahu berapa usianya. Rasanya sudah seumur hidup dia tinggal di Istana Huangling. Pernah pada musim panas tahun lalu, Lan mengatai bahwa dia terlalu bodoh untuk ukuran gadis berumur sepuluh tahun. Karena hanya bisa menghitung sampai sepuluh, dia tidak tahu sudah berapa usianya sekarang.

Gunung Huangling termasuk dalam serangkaian pebukitan gersang yang menandai perbatasan sebelah barat kekaisaran Han. Sepanjang musim dingin, wilayah tersebut terkubur salju hingga sepinggang, dan di terpa angin dingin membekukan. Sebaliknya pada musim panas hawanya begitu membakar sehingga rasanya seperti bernapas dalam kobaran api. Ayah sang Kaisar sengaja membangun istana di tempat terpencil ini untuk menunjukkan kepada dunia betapa luas wilayah kekaisarannya. Tapi saking jauhnya lokasi istana ini dari mana- mana, hanya sedikit sekali orang yang pernah melihatnya.

Tempat kediaman Kaisar luasnya lebih dari tiga perempat keseluruhan lahan istana yang dikelilingi tembok tinggi. Kandang, gudang, dan pondok pelayan dibangun berdesakan di seperempat bagian tanah yang tersisa. Selama si gadis budak di Huangling, belum sekali pun Kaisar datang ke istana itu.

Para budak tidak diperkenankan masuk ke dalam istana. Master Lan mengancam akan memukul kalau si gadis budak berani masuk ke sana. Kadang- kadang Master Lan pergi ke istana itu, dan biasa¬nya dia pulang dalam keadaan marah. Dia terus menggerutu tentang ruangan yang terbuang sia-sia serta perabot yang hanya diselubungi kain, semen¬tara dia harus tidur di rumah yang berkamar satu dan beratap bocor.

Dibandingkan sudut kandang lembu, tempat si gadis budak tidur yang beralaskan jerami, rumah Master Lan tampak sangat mewah. Lantai tanahnya dilapisi karpet, dan ada lukisan naga di atas bentangan sutra biru di temboknya. Perapian terus dinyalakan sepanjang musim dingin, begitu juga sistem pipa yang dipasang untuk menghangatkan tempat tidurnya. Bahkan jika disamakan dengan tempat tinggal si gadis budak, kandang kambing tampak lebih bagus.

Tapi bukan kambing itu yang akan diberi makan oleh si gadis. Juga bukan lembu, babi atau ayam. Di sudut terjauh di istana itu, ada sebuah "kandang" lain. "Kandang" itu berupa lubang di dalam tanah, sumur batu karang Huangling yang dipahat dengan kasar. Satu-satunya jalan masuk ke lubang ini berupa pintu berjeruji, bukan terbuat dari bambu seperti kandang binatang lainnya, melainkan dari perunggu.

Ketika melongok ke dalam lubang, dia tak bisa.......

Download

Minggu, 28 Agustus 2016

Samita - Sepak Terjang Hui Sing

Hui Sing memejamkan matanya. Dara itu duduk bersila di atas batu hitam di bawah pohon waringin besar di tengah hutan, agak jauh dari gua tempat rombongannya beristirahat. Dua telapak tangannya menengadah dan diletakkan di atas lutut. Ujung jari tengah dan ibu jarinya menyatu, sedangkan tiga jari lainnya meregang.

Desah napasnya begitu jarang dan tertata. Hui Sing mulai merasakan dath dingin menyebar di seluruh jalan darahnya. Nyaman sekali. Senyum gadis itu merekah. Dalam kondisi meditasi seperti ini, pancaindra Hui Sing sangat peka menangkap segala gerak di sekelilingnya.

Suara gesekan daun yang terembus angin di pucuk dahan pun bisa ia dengarkan. Terpisah dari hiruk pikuk satwa hutan yang juga sibuk siang itu. Kelinci hutan, burung-burung, sampai geliat ular pohon juga tak henti mengeluarkan getar suara yang berbeda.

Tiba-tiba dua kelopak mata Hui Sing terbuka. Ia mendengar gesekan angin yang berbeda tak jauh dari tempatnya bersemedi. Gerakan tubuh sese¬orang berilmu kanuragan yang tidak rendah. Hui Sing hanya punya waktu sesaat untuk menduga-duga.

Dalam sekejap, ia merasakan angin mendesak sangat keras dari arah belakang. Sontak Hui Sing menyentakkan tubuhnya ke atas. Sesosok hitam bercadar muncul dan memburu tubuh Hui Sing dengan sebilah golok. Gerakannya luar biasa cepat. Beberapa kali Hui Sing harus berjumpalitan di udara menghindari serangan maut yang dilancarkan nyaris tanpa suara itu.

Bahkan, beberapa kali batang golok itu hanya sebatas jari lewat dari leher Hui Sing.

"Siapa kau?!"

Tubuh Hui Sing terus melenting menghindar dari serangan golok itu. Tapi rupanya sosok bercadar itu tak ingin berkompromi. Dia terus mengurung ruang gerak Hui Sing dengan goloknya yang haus darah.

Hui Sing lalu melompat ke dahan pohon, men¬cari posisi yang lebih bagus. Si penyerang misterius itu pun tak hendak mengendurkan serangannya. Jadilah keduanya bayangan cepat, berlompatan di dahan-dahan raksasa bak dua ekor tupai yang sedang berkejaran.

Hui Sing tak mau gegabah. Jurus-jurus yang digunakan penyerangnya begitu asing. Gadis itu tak mau sembarangan bertindak hingga merugikan diri sendiri. Makanya, dia memilih terus menghindar. Mengandalkan gin kangis untuk terus berlompatan di dahan-dahan pohon raksasa itu.

Rambut legamnya pun berkibaran indah meng¬ikuti gerakan tubuhnya yang lebih mirip orang yang sedang menari. Hui Sing sedang menerapkan jurus Tarian Bidadari yang tersohor di daratan Tiongkok. Dia bergerak waspada, namun lemah gemulai.

Beberapa kali lengannya menjadi tumpuan, bergelantung di dahan-dahan pohon untuk menye-lamatkan diri dari serbuan golok si penyerang yang semakin dahsyat. Rupanya, penyerang berca-dar itu pun penasaran bukan main karena sudah puluhan jurus, namun tak dapat menyentuh Hui Sing satu helai rambut pun.

Beberapa kali bacokan golok di tangannya menebas ruang kosong atau dahan-dahan kayu tua. Keruan saja, dahan pohon berumur ratusan tahun itu hancur dalam satu kibas saja.

Kini, gerakan golok itu semakin menggila. Ber-putar keras mengincar ulu hati Hui Sing. Namun, murid utama Laksamana Cheng Ho itu tahu benar bahwa lawan yang ia hadapi mempunyai kemam¬puan mumpuni. Makanya, dia pun sangat berhati- hati. Bahkan sekadar menggerakkan ujung jari sekali pun, dipikir dengan penuh perhitungan.

Akan tetapi, kali ini Hui Sing bertemu dengan lawan yang benar-benar tangguh sekaligus ulet. Langkah menghindarnya tak cukup untuk melindungi diri. Setelah melewati empat puluh jurus, si penyerang berhasil mendesaknya.

"Hiyaaa ...!"

Tak ada pilihan. Ujung golok itu nyaris saja menyentuh kulit leher Hui Sing. Tak mau mati konyol, Hui Sing menghentakkan dath dingin lewat telapak tangannya yang mengangsur ke depan.

Download

Kunanti Di Gerbang Pakuan (Buku III)

“Hati-hati anak muda. Kalau pun engkau bersedia ikut dalam misi ini, tapi jangan kau jadikan gerakan kita ini sebagai ajang untuk pemuas balas dendam. Ini adalah perjuangan. Dan tak ada urusan pribadi di sini. Dalam agamaku tabu melakukan peperangan dengan dada bersimbah dendam!” kata Perwira Goparana mengingatkandengan suara tegas.

Pragola masih menundukkan wajahnya.

“Sepuluh tahun silam, Cirebon mengutus ksatrianya untuk menyusup ke Pakuan. Dia sudah hampir berhasil mengemban misi dalam upaya melemahkan sendi-sendi kekuatan di pusat istana. Sayang sekali, ksatria yang masih muda itu terperosok ke dalam urusan pribadi. Dia mendendam Sang Prabu Ratu Sakti karena urusan cinta…” kata Perwira Goparana.

“Mungkin yang dimaksud olehmu adalah Raden Purbajaya. Sepuluh tahun lalu memang ada peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Ratu Sakti. Peristiwa ini hampir-hampir melibatkan Bangsawan Yogascitra,” gumam Pangeran Yudakara.

“Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Raja sebetulnya di luar perintah Cirebon. Tapi apa pun kenyataannya, menurutku tindakan Purbajaya waktu itu bisa membantu usaha-usaha kita. Paling tidak dengan adanya peristiwa itu, telah terjadi bentrokan dan saling curiga di antara pejabat dan bangsawan Pakuan,” tutur Pangeran Yudakara seperti bicara pada diri sendiri.

“Namun harus diingat Pangeran,tujuan Cirebon menyusupkan orang-orangnya ke pusat pemerintahan Pajajaran bukan sekadar ingin mengadu-domba dan membuat kekacauan di Pakuan. Tujuan Cirebon adalah menginginkan Pajajaran benar-benar menjadi negara besar dengan landasan kepercayaan dan keyakinan agama baru,” giliran Perwira Jaya Sasana yang berbicara, padahal sejak tadi lelaki setengah baya ini kerjanya hanya mengatupkan bibir saja.

Perwira Goparana mula-mula termenung mendengar perkataan rekannya ini, namun pada akhirnya mengangguk jugasebagai tanda membenarkan akan pendapat Perwira Jaya Sasana ini.

Mereka bertiga berbincang-bincang dulu sebentar. Namun sesudahnya, kembali menatap Pragola.

“Sudah sejauh mana pengetahuanmu tentang Dayo Pakuan beserta tugasmu nanti, anak muda?” tanya Perwira Goparana. Pemuda itu tidak menjawab, melainkan menoleh kepada Paman Manggala.

“Sudah saya beri sedikit pengetahuan. Tapi alangkah baiknya bila Juragan sendiri yang memberi pengarahannya…”tutur Paman Manggala hormat sekali.

Suasana hening sejenak. Perwira Goparana malah tengahmenyaksikan seekor nyamuk yang mendekati api pelita. Nyamuk itu terbang mengelilingi cahaya pelita. Dan dengan gagah berani menyambar-nyambar lidah api pelita. Namun keberaniannya kurang perhitungan. Sebab pada suatu saat tubuhnya hangus menabrak lidah api pelita. Perwira Goparana tersenyum melecehkan manakala melihat tubuh nyamuk yang sedikit gosong dan jatuh tak berarti diatas tikar pandan.

“Syarat utama memasuki Pakuan bukan keberanian, melainkan kehati-hatian,” gumam Perwira Goparana tanpamenatap ke arah siapa pun. “Dan engkau anak muda, engkau hanya bisa berhasil ikut dalam ikut misi ini bila sanggup bertindak hati-hati,” sambungnya sambil mulai menatap Pragola.
“Seusai pergantian pucuk pimpinan dari Sang Prabu Ratu Sakti kepada Sang Lumahing Majaya, ada beberapa perubahan situasi di Pakuan. Dulu, zamannya Ratu Sakti, suasana di dalam istana seperti api dalam sekam. Sesama pejabat saling bercuriga satu sama lain. Atau bahkan saling bermusuhan dan saling menjelek-jelekkan. Akibat dari situasi ini, mereka lengah terhadap gerakan penyusupan. Namun kini keadaan sudah tak seperti itu. Sang Lumahing Majaya bukan orang berperangai keras, namun kendati dia bukan pemarah dan pendendam, dia adalah seorang Raja yang amat hati-hati. Barangkali rasa hati-hati ini terbentuk karena peristiwa yang menyertai sebelumnya. Kekacauan bahkan pertempuranyang beberapa kali terjadi di wilayah Pakuan, berlangsung karena adanya tindak penyusupan dan pengkhianatan.Maka bercermin dari peristiwa ini, semua pejabat dan perwira di Pakuan amat berhati-hati dalam menerima kedatangan orang dari luar. Wilayah-wilayah kandagalante seperti Tanjungpura, Muaraberes, Tanjungbarat, kendati masih di bawah kekuasaan Pakuan tapi penguasa di sana sudah menaruh kecurigaan lain. Apalagiterhadap wilayah Sagaraherang.Bahwa sepuluh tahun yang lalu wilayah ini menjadi pusat pengendali penyerbuan ke Pakuan, masih menjadi mimpi buruk yang tak mau mereka lupakan. Itulah sebabnya,, dalamupaya penyusupan ini, engkau harus bertindak hati-hati…” kata Perwira Goparana panjang-lebar.

Pragola mengangguk-angguk kecil beberapa kali sebagai tanda maklum akan penjelasan ini. Namun sesudah merenung sejenak, pada akhirnya pemuda bermata bulat binar ini mengemukakan pendapatnya.

“Ampun beribu ampun Juragan bila apa yang ingin saya kemukakan ini tak berkenan di hati,” tuturnya menyembah danmenunduk.

“Sampaikanlah apa yang menjadipikiranmu, anak muda. Sebab lebih banyak pendapat yang masuk, akan lebih bagus,” kata Perwira Jaya Sasana menatap pemuda itu.

“katakanlah anak muda!” kata Perwira Goparana pendek.

Download


Kemelut Di Cakrabuana (Buku II)

LELAKI tua berjenggot putih itu mangangkat kaki kanannya dengan lutut sejajar pusar, sedangkan sepasang tangannya siap siaga di depan dada dengan telapak terbuka lebar.

Lelaki itu menahan napas sejenak, mulutnya berkomat-kamit. Secara tiba-tiba kaki kanan yang terangkat itu melompat ke depan. Bersamaan dengan itu sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga kuat. Tenaga dorongan mengarah ke depan, ke arah sebongkah batu yang jaraknya ada sekitar lima depa (1 depa kurang lebih 1,698 meter). Seiring dengan teriakan yang keluar dari mulut lelaki tua itu angin pukulan pun terdengar berciutan. Kemudian tak lama antaranya terdengar suara ledakan memecah jantung. Bongkahan itu hancur hampir menjadi kerikil bertaburan.

"Mengagumkan sekali Paman Jayaratu!" teriak seorang pemuda yang berdiri terpana pada jarak sejauh lima depa.

"Suatu saat, engkau yang harus melakukan gerakan ini," kata Paman Jayaratu menatap pemuda itu.

"Saya?"

"Ya, Purbajaya ...!"

"Untuk apakah?"

"Untuk membela agamamu! Untuk memperkokoh, memperkuat bahkan membuatnya besar," tutur Paman Jayaratu.

"Paman kan pernah bilang, Islam tak butuh kekerasan," kata Purbajaya.

"Memang betul, Islam tak butuh kekerasan tapi kekuatan. Ilmu kedigjayaan adalah bagian dari kekuatan. Dan itu perlu untuk kewibawaan agama kita," tutur lagi Paman Jayaratu.

"Harus dengan kedigjayaankah Islam melebarkan sayap?" tanya pemuda itu, duduk bersila di sebuah hamparan tikar pandan.

Paman Jayaratu menghela napas. Kemudian dia pun mencoba duduk bersila di atas tikar yang sudah ditempati pemuda itu. Sebelum meneruskan percakapan, Paman Jayaratu mengnakan kembali baju kurung warna hitamnya. Ikat kepalanya yang juga berwarna hitam pun segera dikenakannya lagi, sehingga nampak kontras dengan warna rambut putihnya yang riap-riapan tertebak semilir angin tengah hari.

Mereka berdua duduk di bawah pohon kaso yang rindang yang berdiri terpencil di kaki bukit itu. Nun jauh ke sebelah utara nampak dataran rendah pantai utara yang langsung berbatasan dengan warna laut biru pesisir Cirebon.

"Kenakan kembali pakaianmu, Purba..." kata Paman Jayaratu.

Purbajaya segera mengambil baju rompi hitam yang terbuat dari kain beludru biru. Dadanya yang bidang dan putih sedikit tertutup oleh rompi. Purbajaya pun segera mengikat kepalanya dengan ikat kepala warna putih.

"Dalam hal apa pun kedigjayaan adalah lambang kegagahan. Namun harus diingat, kegagahan hanyalah sebuah pelengkap, atau bagaikan kembang pelengkap keindahan. Sedangkan sumber dari segala kekuatan itu sendiri adalah saripatinya. Islam di saat saat perkembangannya memang butuh kegagahan. Namun kegagahan itu sudah barang tentu jangan mengalahkan tujuan utamanya sendiri. Ingatlah, kalau pun ada terdengar orang Islam melakukan peperangan, itu bukanlah pamer kegagahan atau pun pamer kekuasaan, melainkan mempertahankan keberadaan. Kita berkewajiban mempertahankan keberadaan Islam. Untuk itu kita butuh kedigjayaan dan kekuatan," tutur Paman Jayaratu panjang lebar.

Purbajaya duduk tegak memangku kedua belah tangan. Termenung sejenak, kemudian mengangguk-angguk.

"Saya siap berlatih kedigjayaan, Paman ..." kata Purbajaya pada akhirnya.

"Tapi ingatlah, kau tidak dididik untuk jadi tukang berkelahi atau pun tukang pukul. Agama kita benci kepada kesombongan, takabur dan kejam," tutur Paman Jayaratu. Pemuda itu mengangguk-angguk lagi.

"Apakah agama kita benci pembunuhan?" tanya pemuda itu tiba-tiba.

"Hati-hatilah bicara pembunuhan sebab dalam agama kita, pengadilan pertama di hari kiamat adalah perkara pembunuhan!" potong Paman Jayaratu tegas.

"Jadi dalam agama kita tak boleh ada pembunuhan, Paman?"

"Di sini bukan berbicara masalah boleh atau tak bolehnya tapi menitikberatkan pada perkara apa yang kita hadapi ini."

"Tugas saya kelak dari Negri Carbon ini adalah menyelundup ke Pajajaran," gumam Purbajaya tiba-tiba dengan wajah tegang. Dia khawatir di tempat musuh nanti akan berhadapan dengan tugas-tugas membunuh.

Download

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...