ads

Minggu, 28 Agustus 2016

Cinderela Jakarta

ELLIZA gemar melukis, terutama melukis wajah cowok yang ditaksirnya. Bila Elliza melihat cowok yang disukai di sekolah maupun di jalan maka ia simpan sketsa wajah cowok itu di benaknya. Setibanya di rumah, barulah ia tuangkan ke kanvas.

Seperti malam itu. Elliza baru saja melukis wajah seorang cowok yang ia lihat di sebuah taman. Cowok itu Elliza temukan di sebuah kursi taman saat ia pulang sekolah. Ketika melintasi taman itu, wajahnya sempat beradu pandang dengan wajah si cowok.Sekilas senyum si cowok mengembang, hingga membekas dalam ingatan Elliza. Senyum cowok itu begitu manis, semanis susu rasa stroberi yang sering disediakan mama di rumah.

Sayangnya,cowok di taman itu duduk berdua dengan seorang cewek. Entah siapa cewek yang duduk bersanding dengan cowok itu. Mungkin adiknya, sodaranya, teman sekolahnya, atau ...?

Ah,Elliza enggan berpikir yang nggak-nggak! Ia nggak mau termakan perasaan. Melenyapkan rasa cemburu yang tiba-tiba menghampiri jiwanya. Ke-mudian,Elliza mengandaikan cowok di bangku taman itu masih sendirian, dan senyumnya itu memberikan tanda bahwa si cowok sangat mengharapkan kenal dengan Elliza.

Elliza pernah punya pengalaman tentang seorang cowok yang duduk berduaan dengan seorang cewek. Kala itu, cowok yang Elliza lihat duduk berdua dengan seorang cewek, kemudian cowok itu mendekati Elliza untuk berkenalan.Tetapi, Elliza menolaknya. Elliza takut melukai perasaan cewek yang duduk di sebelah sang cowok. Elliza memutuskan pergi meninggalkan cowok itu, dan melupakannya.

Namun, belakangan Elliza baru tahu. Ternyata, cewek yang duduk di sebelah si cowok itu bukan pacarnya, tetapi hanya teman biasa. Elliza tahu karena di kemudian hari, melihat cewek itu jalan dengan cowok lain. Dan si cowok itu tetap sendirian. Tentu saja, Elliza menyesal. Apalagi ketika Elliza ingin mengenal lebih dekat dengan cowok itu, sang cowok keburu akrab dengan cewek lain! Pupuslah harapannya.

Oleh sebab itulah, Elliza nggak mau berpikir macam-macam terhadap cewek yang duduk di sebelah cowok di bangku taman itu, cowok yang wajahnya ia lukis di sebuah kanvas berbingkai indah. Dan Elliza hanya mau mengingat-ingat cowok itu. Senyum manis cowok itu ia letakkan di sebuah dinding, berjejer dengan lukisan lain yang pernah ia lukis, menambah koleksi lukisannya.

"ELLIZA, berhentilah melukis wajah cowok! Lukislah momen lain.Bukankah masih banyak hal yang bisa kamu lukis, selain wajah cowok-cowok itu?"

"Elliza nggak bisa, Ma.Elliza hanya bisa melukis wajah cowok. Siapa tahu, cowok yang Elliza lukis mau jadi teman dekat Elliza?"

"Mendapatkan seorang cowok nggak harus melukisnya lebih dulu, Sayang!"

"Mengapa, Ma? Bukankah Mama dulu pernah melukis wajah papa, waktu Mama ingin mengenal papa? Mama memberikan lukisan wajah papa itu ke papa, hingga akhirnya papa suka sama Mama?"

"Iya, Sayang, kamu benar. Tapi, Mama hanya melukis wajah papa, bukan pria lain."

"Elliza belum bisa mendapatkan wajah cowok yang mau sama Elliza, Ma?"

"Lalu, apa kamu harus terus melukis wajah- wajah itu?"

"Iya, M a."

"Sampai kapan?"

"Sampai Elliza mendapatkan dia dan menjadikan cowok itu teman spesial Elliza!"

Mamanya geleng-geleng, tetapi tentunya sangat mengerti. Putri tersayangnya yang saat ini duduk di kelas tiga SMA, memang belum pernah terdengar dekat sama cowok. Setiap kali Elliza cerita, yang ia dengar adalah keluhan mengapa Elliza sulit mendapatkan teman cowok yang ia inginkan. Keputusan melukis wajah-wajah cowok yang ia suka akhirnya menjadi pilihan. Sebelum Elliza benar-benar mendapatkan cowok yang dilukisnya itu.
 
Download


Kunanti Di Gerbang Pakuan (Buku III)

“Hati-hati anak muda. Kalau pun engkau bersedia ikut dalam misi ini, tapi jangan kau jadikan gerakan kita ini sebagai ajang untuk pemuas balas dendam. Ini adalah perjuangan. Dan tak ada urusan pribadi di sini. Dalam agamaku tabu melakukan peperangan dengan dada bersimbah dendam!” kata Perwira Goparana mengingatkandengan suara tegas.

Pragola masih menundukkan wajahnya.

“Sepuluh tahun silam, Cirebon mengutus ksatrianya untuk menyusup ke Pakuan. Dia sudah hampir berhasil mengemban misi dalam upaya melemahkan sendi-sendi kekuatan di pusat istana. Sayang sekali, ksatria yang masih muda itu terperosok ke dalam urusan pribadi. Dia mendendam Sang Prabu Ratu Sakti karena urusan cinta…” kata Perwira Goparana.

“Mungkin yang dimaksud olehmu adalah Raden Purbajaya. Sepuluh tahun lalu memang ada peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Ratu Sakti. Peristiwa ini hampir-hampir melibatkan Bangsawan Yogascitra,” gumam Pangeran Yudakara.

“Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Raja sebetulnya di luar perintah Cirebon. Tapi apa pun kenyataannya, menurutku tindakan Purbajaya waktu itu bisa membantu usaha-usaha kita. Paling tidak dengan adanya peristiwa itu, telah terjadi bentrokan dan saling curiga di antara pejabat dan bangsawan Pakuan,” tutur Pangeran Yudakara seperti bicara pada diri sendiri.

“Namun harus diingat Pangeran,tujuan Cirebon menyusupkan orang-orangnya ke pusat pemerintahan Pajajaran bukan sekadar ingin mengadu-domba dan membuat kekacauan di Pakuan. Tujuan Cirebon adalah menginginkan Pajajaran benar-benar menjadi negara besar dengan landasan kepercayaan dan keyakinan agama baru,” giliran Perwira Jaya Sasana yang berbicara, padahal sejak tadi lelaki setengah baya ini kerjanya hanya mengatupkan bibir saja.

Perwira Goparana mula-mula termenung mendengar perkataan rekannya ini, namun pada akhirnya mengangguk jugasebagai tanda membenarkan akan pendapat Perwira Jaya Sasana ini.

Mereka bertiga berbincang-bincang dulu sebentar. Namun sesudahnya, kembali menatap Pragola.

“Sudah sejauh mana pengetahuanmu tentang Dayo Pakuan beserta tugasmu nanti, anak muda?” tanya Perwira Goparana. Pemuda itu tidak menjawab, melainkan menoleh kepada Paman Manggala.

“Sudah saya beri sedikit pengetahuan. Tapi alangkah baiknya bila Juragan sendiri yang memberi pengarahannya…”tutur Paman Manggala hormat sekali.

Suasana hening sejenak. Perwira Goparana malah tengahmenyaksikan seekor nyamuk yang mendekati api pelita. Nyamuk itu terbang mengelilingi cahaya pelita. Dan dengan gagah berani menyambar-nyambar lidah api pelita. Namun keberaniannya kurang perhitungan. Sebab pada suatu saat tubuhnya hangus menabrak lidah api pelita. Perwira Goparana tersenyum melecehkan manakala melihat tubuh nyamuk yang sedikit gosong dan jatuh tak berarti diatas tikar pandan.

“Syarat utama memasuki Pakuan bukan keberanian, melainkan kehati-hatian,” gumam Perwira Goparana tanpamenatap ke arah siapa pun. “Dan engkau anak muda, engkau hanya bisa berhasil ikut dalam ikut misi ini bila sanggup bertindak hati-hati,” sambungnya sambil mulai menatap Pragola.
“Seusai pergantian pucuk pimpinan dari Sang Prabu Ratu Sakti kepada Sang Lumahing Majaya, ada beberapa perubahan situasi di Pakuan. Dulu, zamannya Ratu Sakti, suasana di dalam istana seperti api dalam sekam. Sesama pejabat saling bercuriga satu sama lain. Atau bahkan saling bermusuhan dan saling menjelek-jelekkan. Akibat dari situasi ini, mereka lengah terhadap gerakan penyusupan. Namun kini keadaan sudah tak seperti itu. Sang Lumahing Majaya bukan orang berperangai keras, namun kendati dia bukan pemarah dan pendendam, dia adalah seorang Raja yang amat hati-hati. Barangkali rasa hati-hati ini terbentuk karena peristiwa yang menyertai sebelumnya. Kekacauan bahkan pertempuranyang beberapa kali terjadi di wilayah Pakuan, berlangsung karena adanya tindak penyusupan dan pengkhianatan.Maka bercermin dari peristiwa ini, semua pejabat dan perwira di Pakuan amat berhati-hati dalam menerima kedatangan orang dari luar. Wilayah-wilayah kandagalante seperti Tanjungpura, Muaraberes, Tanjungbarat, kendati masih di bawah kekuasaan Pakuan tapi penguasa di sana sudah menaruh kecurigaan lain. Apalagiterhadap wilayah Sagaraherang.Bahwa sepuluh tahun yang lalu wilayah ini menjadi pusat pengendali penyerbuan ke Pakuan, masih menjadi mimpi buruk yang tak mau mereka lupakan. Itulah sebabnya,, dalamupaya penyusupan ini, engkau harus bertindak hati-hati…” kata Perwira Goparana panjang-lebar.

Pragola mengangguk-angguk kecil beberapa kali sebagai tanda maklum akan penjelasan ini. Namun sesudah merenung sejenak, pada akhirnya pemuda bermata bulat binar ini mengemukakan pendapatnya.

“Ampun beribu ampun Juragan bila apa yang ingin saya kemukakan ini tak berkenan di hati,” tuturnya menyembah danmenunduk.

“Sampaikanlah apa yang menjadipikiranmu, anak muda. Sebab lebih banyak pendapat yang masuk, akan lebih bagus,” kata Perwira Jaya Sasana menatap pemuda itu.

“katakanlah anak muda!” kata Perwira Goparana pendek.

Download


Kemelut Di Cakrabuana (Buku II)

LELAKI tua berjenggot putih itu mangangkat kaki kanannya dengan lutut sejajar pusar, sedangkan sepasang tangannya siap siaga di depan dada dengan telapak terbuka lebar.

Lelaki itu menahan napas sejenak, mulutnya berkomat-kamit. Secara tiba-tiba kaki kanan yang terangkat itu melompat ke depan. Bersamaan dengan itu sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga kuat. Tenaga dorongan mengarah ke depan, ke arah sebongkah batu yang jaraknya ada sekitar lima depa (1 depa kurang lebih 1,698 meter). Seiring dengan teriakan yang keluar dari mulut lelaki tua itu angin pukulan pun terdengar berciutan. Kemudian tak lama antaranya terdengar suara ledakan memecah jantung. Bongkahan itu hancur hampir menjadi kerikil bertaburan.

"Mengagumkan sekali Paman Jayaratu!" teriak seorang pemuda yang berdiri terpana pada jarak sejauh lima depa.

"Suatu saat, engkau yang harus melakukan gerakan ini," kata Paman Jayaratu menatap pemuda itu.

"Saya?"

"Ya, Purbajaya ...!"

"Untuk apakah?"

"Untuk membela agamamu! Untuk memperkokoh, memperkuat bahkan membuatnya besar," tutur Paman Jayaratu.

"Paman kan pernah bilang, Islam tak butuh kekerasan," kata Purbajaya.

"Memang betul, Islam tak butuh kekerasan tapi kekuatan. Ilmu kedigjayaan adalah bagian dari kekuatan. Dan itu perlu untuk kewibawaan agama kita," tutur lagi Paman Jayaratu.

"Harus dengan kedigjayaankah Islam melebarkan sayap?" tanya pemuda itu, duduk bersila di sebuah hamparan tikar pandan.

Paman Jayaratu menghela napas. Kemudian dia pun mencoba duduk bersila di atas tikar yang sudah ditempati pemuda itu. Sebelum meneruskan percakapan, Paman Jayaratu mengnakan kembali baju kurung warna hitamnya. Ikat kepalanya yang juga berwarna hitam pun segera dikenakannya lagi, sehingga nampak kontras dengan warna rambut putihnya yang riap-riapan tertebak semilir angin tengah hari.

Mereka berdua duduk di bawah pohon kaso yang rindang yang berdiri terpencil di kaki bukit itu. Nun jauh ke sebelah utara nampak dataran rendah pantai utara yang langsung berbatasan dengan warna laut biru pesisir Cirebon.

"Kenakan kembali pakaianmu, Purba..." kata Paman Jayaratu.

Purbajaya segera mengambil baju rompi hitam yang terbuat dari kain beludru biru. Dadanya yang bidang dan putih sedikit tertutup oleh rompi. Purbajaya pun segera mengikat kepalanya dengan ikat kepala warna putih.

"Dalam hal apa pun kedigjayaan adalah lambang kegagahan. Namun harus diingat, kegagahan hanyalah sebuah pelengkap, atau bagaikan kembang pelengkap keindahan. Sedangkan sumber dari segala kekuatan itu sendiri adalah saripatinya. Islam di saat saat perkembangannya memang butuh kegagahan. Namun kegagahan itu sudah barang tentu jangan mengalahkan tujuan utamanya sendiri. Ingatlah, kalau pun ada terdengar orang Islam melakukan peperangan, itu bukanlah pamer kegagahan atau pun pamer kekuasaan, melainkan mempertahankan keberadaan. Kita berkewajiban mempertahankan keberadaan Islam. Untuk itu kita butuh kedigjayaan dan kekuatan," tutur Paman Jayaratu panjang lebar.

Purbajaya duduk tegak memangku kedua belah tangan. Termenung sejenak, kemudian mengangguk-angguk.

"Saya siap berlatih kedigjayaan, Paman ..." kata Purbajaya pada akhirnya.

"Tapi ingatlah, kau tidak dididik untuk jadi tukang berkelahi atau pun tukang pukul. Agama kita benci kepada kesombongan, takabur dan kejam," tutur Paman Jayaratu. Pemuda itu mengangguk-angguk lagi.

"Apakah agama kita benci pembunuhan?" tanya pemuda itu tiba-tiba.

"Hati-hatilah bicara pembunuhan sebab dalam agama kita, pengadilan pertama di hari kiamat adalah perkara pembunuhan!" potong Paman Jayaratu tegas.

"Jadi dalam agama kita tak boleh ada pembunuhan, Paman?"

"Di sini bukan berbicara masalah boleh atau tak bolehnya tapi menitikberatkan pada perkara apa yang kita hadapi ini."

"Tugas saya kelak dari Negri Carbon ini adalah menyelundup ke Pajajaran," gumam Purbajaya tiba-tiba dengan wajah tegang. Dia khawatir di tempat musuh nanti akan berhadapan dengan tugas-tugas membunuh.

Download

Rahasia Sukses Ekonomi China

Kebangkitan Cina Menggeser Amerika Serikat Sebagai Superpower Ekonomi Dunia

* Cina menaikkan anggaran militernya, diperkirakan setidaknya enam kali lipat dari anggaran 1991-2004.

* Cina telah menggeser AS sebagai eksportir terbesar kedua di dunia, dan diprediksikan pada 2010 akan merebut tempat pertama dari Jerman.

* Pada 2006, Cina memiliki surplus simpanan bank terbesar di dunia hampir $180 miliar.

* 57 persen perusahaan di kawasan Asia Pasifik percaya bahwa 10 tahun lagi, Cina akan menjadi pasar konsumer terbesar di dunia, menggeser AS.

+ Cadangan devisa Cina adalah yang terbesar di dunia mencapai $1 triliun lebih.
* Pada 2006, Cina merupakan ekonomi terbesar kedua setelah AS, dan diperkirakan pada 2050 akan menjadi nomor satu di dunia.

Dalam tahun-tahun belakangan, kebangkitan perekonomian Cina mengguncang seluruh dunia. Hanya dalam waktu singkat, ribuan perusahaan di Eropa, Asia, dan Amerika menjadi korban serbuan perdagangan Cina. Apa rahasia di balik kesuksesan ekonomi Cina ini? Apa dampak-dampaknya bagi seluruh dunia? James Kynge, jurnalis berpengalaman puluhan tahun meliput kawasan Asia, membongkar fakta-fakta yang tak kalah mengagetkan dari kebangkitan Cina itu. Keahlian jurnalisme membuat tulisannya lebih tajam daripada analisis para pakar yang sekadar mencermati data-data di meja dan terpesona oleh angka-angka yang menakjubkan dari perekonomian Cina.

Kynge, terjun langsung di lapangan, menguak fakta-fakta di berbagai tempat yang tak terduga. Hasilnya, dia bisa menunjukkan banyak hal yang sering luput dari perhatian dunia. Bukan hanya mengungkap sisi-sisi gemilang kebangkitan Cina, buku ini juga menguak sisi-sisi gelap yang tersembunyi.

Inilah buku yang wajib dibaca para pebisnis, pengamat ekonomi, jurnalis, dan siapa pun yang ingin memahami secara lengkap fenomena kebangkitan ekonomi Cina dan dampak-dampak internasionalnya di berbagai bidang.

"Haruskah AS mengkhawatirkan Cina? Pasti, dan Kynge mengungkapkan alasan-alasan yang tak terduga." -Kirkus Reviews

"Salah satu laporan terbaik tentang kebangkitan Cina." -South China Morning Post

"Otoritatif dan mencerahkan." -Publishers Weekly

"Sangat direkomendasikan." -Library Journal

"Kynge membuktikan diri sebagai jurnalis andal dengan menemukan bukti-bukti kebangkitan Cina di tempat-tempat tak terduga." - Foreign Affairs


James Kynge meraih M.A. dalam Bahasa Cina dan Jepang pada 1985 di Edinburgh University, Skotlandia. Dia juga meraih diploma Bahasa Cina dari Shandong University, Jinan. Latar belakangnya ini membuatnya fasih berbahasa Cina dan Jepang.

Pada 1989, Kynge meliput secara langsung Pembantaian Tiananmen. Pada 1991, dia mengembara ke Mongolia, yang kemudian membuahkan buku Nomads Among Stones. Dia bergabung dengan Reuters pada 1993 dan pindah ke Tashkent, Uzbekistan. Di sana ia mendirikan kantor Reuters pertama wilayah itu. Pada 1994, dia pindah ke Taiwan untuk menjabat sebagai kepala Kantor Berita Reuters Taiwan. Kemudian, dia bergabung dengan Financial Times sebagai koresponden untuk Asia Tenggara, bertempat di Malaysia dan Singapura sejak 1996. Tidak lama kemudian, dia mengikuti secara amat dekat krisis finansial Asia yang meledak pada 1997. Pada 1998, dia pindah ke Beijing untuk menjabat sebagai Kepala Kantor Cabang Cina dan menyaksikan dari dekat transformasi ekonomi paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Selama tugasnya itu, dia telah mengunjungi semua provinsi di Cina. Pada 2004, James terpilih sebagai Business Journalist of the Year.

Kynge adalah kontributor tetap untuk program televisi dan radio di BBC, CNN, Deutsche Welle, National Public Radio of the US, France Radio International, dan lain-lain. Dia sering menjadi pembicara dalam berbagai konferensi dan forum di Cina maupun di negara-negara lain, termasuk World Economic Forum di Beijing, konferensi tahunan China British Business Council di Inggris, CLSA Investor Conference di Shanghai, konferensi tahunan World Maganese Institute di Shanghai, Tsinghua University School of Journalism, Peking University School of Journalism, dan masih banyak lagi.

Kynge kini menjabat sebagai Chief Representative Pearson Group, menangani kepentingan bisnis grup itu di seluruh Cina. Dia tinggal di Beijing bersama istri dan anak-anaknya.

Keunggulan buku ini:

1. Memberikan informasi lengkap tentang rahasia keberhasilan Cina menjadi raksasa ekonomi dunia.

2. Menunjukkan dampak dari kebangkitan ekonomi Cina di seluruh dunia, termasuk dalam bidang bisnis dan politik.

Download

Minggu, 21 Agustus 2016

Pesan K.H. Hasan Abdullah Sahal untuk Orangtua Santri



K.H. Hasan Abdullah Sahal merupakan salah satu Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor  Ponorogo. Putra keenam K.H.Ahmad Sahal ini, lahir di desa Gontor pada 24 Mei 1947.  Pondok Gontor telah meluluskan banyak santri yang menjadi tokoh terkemuka di Indonesia, di antaranya Nurcholish Madjid, Hasyim Muzadi, Hidayat NurWahid, dan lain sebagainya.

Dalam satu kesempatan, K.H. Sahal berpesan untuk

Selasa, 16 Agustus 2016

Kangkung Hidroponik: Kisah Sukses dan Teknik

Kisah Sukses Petani Kangkung Berpenghasilan 97.2 Juta/Bulan



Beberapa minggu ini nama Charlie Tjendapati seorang praktisi hidroponik dari Bandung mendadak menjadi viral dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, terutama dikalangan pecinta hidroponik dan penggemar tanaman. Kisah tersebut berawal setelah beliau memposting sebuah status diberandanya, beliau menceritakan tentang

Senin, 18 Juli 2016

Rahasia Sukses Mengatur Keuangan Keluarga



Masalah utama sebuah keluarga yang selalu ada biasanya seputar keuangan. Bisa karena kekurangan uang, kelebihan uang :) atau karena bingung bagaimana mengatur uang yang penghasilannya pas-pasan sedangkan kebutuhan selalu melebihi pemasukan.

Namun muara dari itu semua kata kuncinya adalah bagaimana mengatur keuangan keluarga atau pribadi dengan cerdas, cermat dan sebaik-baiknya. Karena masalah

INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...