ads

Minggu, 28 Agustus 2016

One For The Money

Kubeli sekaleng soda di Fiorello's dan aku melangkah ke mobil sembari minum. Aku menyelinap di balik kemudi dan, menyerah pada hawa gerah, aku melepas dua kancing blus sutra merahku serta melucuti stoking. Lalu, aku membuka-buka berkas Morelli, pertama menilik foto-foto—beberapa diambil saat penangkapan Morelli, ada pula jepretan jarak jauh dirinya dalam balutan jaket pilot cokelat dan jins, serta sebuah pose formal memakai kemeja dan dasi, jelas dikliping dari dokumen kepolisian. Ia tak banyak berubah. Agak kurusan, mungkin. Tulang wajahnya lebih tegas. Sedikit kerut di mata. Parut tipis luka melintangi alis kanannya, mengakibatkan kelopaknya agak turun. Kesan yang keseluruhan bikin merinding. Mengancam.

Morelli pernah menyalahgunakan kenaifanku, bukan hanya sekali tapi dua kali. Sehabis berbuat di lantai bakeri, ia tak pernah menelepon, tak pernah mengirim kartu pos, bahkan tak mengucapkan selamat tinggal. Dan bagian yang terburuk, aku justru mengharap teleponnya. Mary Lou Molnar benar soal Morelli. Dia memang perayu ulung.

Semua itu tinggal sejarah, kutegaskan pada diriku. Dan rentang 11 tahun belakangan, aku tak melihat laki-laki itu lebih dari dua atau tiga kali, dan itu pun cuma dari jauh.

Morelli hanyalah kenangan dari masa kecilku, dan perasaanku saat masih kanak-kanak tak punya tempat di masa kini. Aku punya tugas yang harus dituntaskan. Jelas dan sederhana. Tak ada maksud membalas luka lama. Menemukan Morelli tak berkaitan dengan dendam. Menemukan Morelli berkaitan dengan uang sewa. Yeah, yang benar saja. Karena inilah perutku tiba-tiba mulas.

Berdasarkan informasi dalam kontrak jaminan, Morelli berdomisili di kompleks apartemen yang berdekataan dengan Route 1. Sepertinya itu tempat terbaik untuk mulai menyidik. Kusangsikan Morelli ada di apartemennya, tapi aku bisa mewawancarai para tetangga dan memeriksa apakah ia mengambil surat-suratnya.

Aku meletakkan berkas itu di samping dan dengan berat hati menyusupkan kaki ke dalam sepatu hitamku yang bertumit tinggi. Kuputar kunci starter. Tak ada respons. Tinjuku menggebrak dasbor dengan kencang dan aku menggeram puas saat mesin menyala.

Sepuluh menit kemudian, kumasuki halaman parkir Morelli. Gedung-gedung bata, bertingkat dua, utiliter. Tiap gedung dilengkapi dua jalur beratap. Delapan apartemen berjejer sepanjang jalur-jalur itu, empat di atas, empat di bawah. Kupadamkan mesin dan memantau nomor-nomor pintu. Morelli menempati apartemen ujung di lantai dasar.

Sejenak aku duduk saja, merasa tolol dan tak becus. Andai Morelli ada di rumah, apa yang harus kulakukan? Mengancam akan mengadu pada ibunya jika dia tak mau ikut dengan sukarela? Laki-laki ini dicari karena membunuh. Banyak yang dia pertaruhkan. Aku tak bisa membayangkan ia mencederaiku, namun ada kemungkinan besar aku bakal mempermalukan diri. Bukannya aku tipe orang yang membiarkan aib kecil menghalangi perangaiku yang membabi-buta saat nyemplung dalam proyek-proyek bodoh... seperti per-nikahanku yang nahas dengan Dickie Orr, si bokong kuda. Memori itu membuatku mengernyit tanpa sadar. Sulit dipercaya aku betul-betul menikahi seorang pria bernama Dickie.

Oke, batinku, lupakan Dickie. Sekarang adalah proyek Morelli. Periksa kotak suratnya, lantas apartemennya. Bila aku beruntung (atau apes, tergantung caramu memandangnya), karena ternyata Morelli membuka pintunya, aku tinggal asal mengarang dusta dan cabut. Setelah itu aku akan menelepon polisi dan biarlah mereka yang menangangi urusan fisik.

Aku melangkah mantap menyeberangi aspal dan dengan cermat meneliti deretan kotak surat yang menjorok dari dinding bata. Seluruhnya disesaki amplop-amplop; milik Morelli-lah yang paling penuh. Aku menyusuri jalur beratap dan mengetuk pintu apartemennya. Tak ada jawaban. Betapa mengejutkan. Aku mengetuk-ulang dan menunggu. Nihil. Kuberjalan mengitari bangunan dan menghitung jendela-jendela. Empat punya Morelli dan empat punya apartemen yang memunggungi miliknya. Morelli telah mengatupkan kerai. Toh aku tetap mendekat, sambil mengendap-endap, berusaha mengintip lewat celah antara pinggir kerai dan tembok. Andai kerainya mendadak tersibak dan seraut wajah nongol, aku pasti ngompol di tempat. Untungnya, kerai itu tidak tersibak, dan sayangnya aku tak berhasil melihat ada apa di baliknya. Kembali ke jalur beratap, dan aku mendatangi tiga apartemen yang lain. Dua pintu tidak disahut. Yang terakhir dihuni oleh wanita uzur yang selama enam tahun tinggal di situ tak pernah melihat Morelli. Jalan buntu.
 
http://www.mediafire.com/download/6qginp1y4xisfuq/One_For_The_Money.rar


Manajemen Kecerdasan

Sekali waktu, datang ke tempat praktik saya seorang lelaki 40-an tahun, yang bekerja sebagai eksekutif di sebuah perusahaan. Saya tidak mengenalnya sebagaimana ia juga tidak mengenal saya. Ia datang ke tempat praktik setelah membaca beberapa tulisan saya yang dimuat secara rutin setiap Sabtu di harian Manado Post. Kedatangannya, sebagaimana pengakuannya, hanya untuk berbincang-bincang beberapa hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. 

Ia orang Jawa tulen, terdidik, berpengalaman cukup luas dengan pergaulan yang luas. Perusahaan menempatkannya di Manado un-tuk memulai sebuah cabang baru. Sebagian besar karyawan perusahaan adalah orang lokal dengan jenis kelamin perempuan. Belum sebulan kantornya beraktivitas, ia telah mencium gelagat kurang me-nguntungkan dari pelayanan yang ditunjukkan kar-yawan. Maklum, perusahaan ini bekerja di sektor jasa yang membutuhkan keahlian tersendiri dalam melayani orang. Karyawannya tidak memiliki (menurut istilahnya) bakat dan talenta untuk bekerja di sektor jasa. Hampir semua anak buahnya tampak enggan memberikan pelayanan optimal bagi pelanggan. Mereka tampak bekerja setengah hati dan tidak serius.

Saya tidak tahu harus memberikan advis apa. Bukankah saya hanya seorang dokter yang hobi menulis dan sedikit pengetahuan soal otak? Namun, saya tetap diminta memberikan pendapat soal ini. Dengan optimistis, saya menawarinya untuk melakukan tes yang saya sebut "Tes Kompetensi Otak". Saya memodifikasi sedikit tes-tes yang dilakukan oleh Ned Herrmann, yang disebut The Herrmann Brain Dominance Instrument (HDBI). 

Tes ini sudah sangat terkenal di Amerika. Dengan pengetahuan terbatas, karena memang belum pernah melakukan tes ini, saya menyampaikan beberapa isian untuk karyawan. Antusiasme dari karyawan dan keseriusan dari sang eksekutif memaksa saya untuk lebih jauh mendalaminya. Singkat kata, hasil tes itu memberikan pengetahuan soal job distribution. Saya mengusulkan kepada sang eksekutif untuk melakukan perombakan kecil-kecilan dalam formasi kerja. Ia melakukannya dan alhamdulillah ada sedikit kemajuan yang bermakna.

Instrumen Ned Herrmann merupakan satu di antara banyak instrumen untuk penelitian dan pengembangan diri. Dengan riset puluhan tahun pada lebih dari 1.000 orang, Herrmann memformulasikan instrumen untuk menentukan kecenderungan otak seseorang. Seperti diketahui, dominansi otak orang per orang berbeda satu dengan lainnya. Anda dan saya memiliki cara yang berbeda dalam menanggapi satu hal karena cara dan corak otak kita memang berbeda. Perhatikan Gambar 1 di bawah; bagaimana 4 orang wartawan dengan dominansi otak yang berbeda akan menanggapi sebuah kejadian.

Download

Samita - Sepak Terjang Hui Sing

Hui Sing memejamkan matanya. Dara itu duduk bersila di atas batu hitam di bawah pohon waringin besar di tengah hutan, agak jauh dari gua tempat rombongannya beristirahat. Dua telapak tangannya menengadah dan diletakkan di atas lutut. Ujung jari tengah dan ibu jarinya menyatu, sedangkan tiga jari lainnya meregang.

Desah napasnya begitu jarang dan tertata. Hui Sing mulai merasakan dath dingin menyebar di seluruh jalan darahnya. Nyaman sekali. Senyum gadis itu merekah. Dalam kondisi meditasi seperti ini, pancaindra Hui Sing sangat peka menangkap segala gerak di sekelilingnya.

Suara gesekan daun yang terembus angin di pucuk dahan pun bisa ia dengarkan. Terpisah dari hiruk pikuk satwa hutan yang juga sibuk siang itu. Kelinci hutan, burung-burung, sampai geliat ular pohon juga tak henti mengeluarkan getar suara yang berbeda.

Tiba-tiba dua kelopak mata Hui Sing terbuka. Ia mendengar gesekan angin yang berbeda tak jauh dari tempatnya bersemedi. Gerakan tubuh sese¬orang berilmu kanuragan yang tidak rendah. Hui Sing hanya punya waktu sesaat untuk menduga-duga.

Dalam sekejap, ia merasakan angin mendesak sangat keras dari arah belakang. Sontak Hui Sing menyentakkan tubuhnya ke atas. Sesosok hitam bercadar muncul dan memburu tubuh Hui Sing dengan sebilah golok. Gerakannya luar biasa cepat. Beberapa kali Hui Sing harus berjumpalitan di udara menghindari serangan maut yang dilancarkan nyaris tanpa suara itu.

Bahkan, beberapa kali batang golok itu hanya sebatas jari lewat dari leher Hui Sing.

"Siapa kau?!"

Tubuh Hui Sing terus melenting menghindar dari serangan golok itu. Tapi rupanya sosok bercadar itu tak ingin berkompromi. Dia terus mengurung ruang gerak Hui Sing dengan goloknya yang haus darah.

Hui Sing lalu melompat ke dahan pohon, men¬cari posisi yang lebih bagus. Si penyerang misterius itu pun tak hendak mengendurkan serangannya. Jadilah keduanya bayangan cepat, berlompatan di dahan-dahan raksasa bak dua ekor tupai yang sedang berkejaran.

Hui Sing tak mau gegabah. Jurus-jurus yang digunakan penyerangnya begitu asing. Gadis itu tak mau sembarangan bertindak hingga merugikan diri sendiri. Makanya, dia memilih terus menghindar. Mengandalkan gin kangis untuk terus berlompatan di dahan-dahan pohon raksasa itu.

Rambut legamnya pun berkibaran indah meng¬ikuti gerakan tubuhnya yang lebih mirip orang yang sedang menari. Hui Sing sedang menerapkan jurus Tarian Bidadari yang tersohor di daratan Tiongkok. Dia bergerak waspada, namun lemah gemulai.

Beberapa kali lengannya menjadi tumpuan, bergelantung di dahan-dahan pohon untuk menye-lamatkan diri dari serbuan golok si penyerang yang semakin dahsyat. Rupanya, penyerang berca-dar itu pun penasaran bukan main karena sudah puluhan jurus, namun tak dapat menyentuh Hui Sing satu helai rambut pun.

Beberapa kali bacokan golok di tangannya menebas ruang kosong atau dahan-dahan kayu tua. Keruan saja, dahan pohon berumur ratusan tahun itu hancur dalam satu kibas saja.

Kini, gerakan golok itu semakin menggila. Ber-putar keras mengincar ulu hati Hui Sing. Namun, murid utama Laksamana Cheng Ho itu tahu benar bahwa lawan yang ia hadapi mempunyai kemam¬puan mumpuni. Makanya, dia pun sangat berhati- hati. Bahkan sekadar menggerakkan ujung jari sekali pun, dipikir dengan penuh perhitungan.

Akan tetapi, kali ini Hui Sing bertemu dengan lawan yang benar-benar tangguh sekaligus ulet. Langkah menghindarnya tak cukup untuk melindungi diri. Setelah melewati empat puluh jurus, si penyerang berhasil mendesaknya.

"Hiyaaa ...!"

Tak ada pilihan. Ujung golok itu nyaris saja menyentuh kulit leher Hui Sing. Tak mau mati konyol, Hui Sing menghentakkan dath dingin lewat telapak tangannya yang mengangsur ke depan.

Download

Money A Memoir

Pada suatu saat di atas Samudra Pasifik aku tersadar bahwa sebaiknya aku menghitung uangku. Di bandara tadi tidak ada waktu. Aku terlalu sibuk menggiring anak usia empat tahun sekaligus bergelut dengan perasaan kaku, efisien, dan duka yang tercampur-aduk. Kuperiksa bawaanku-satu dus mainan, satu koper penuh dengan pakaian tropis dan menoleh. Kulihat suamiku sedang berlutut di samping putranya, dua-duanya berlinang air mata. Aku dan putraku akan meninggalkan Singapura, padahal baru lima minggu yang lalu kami pindah ke sini dari New York untuk bergabung dengan suamiku yang sudah enam bulan bekerja di kota ini. Tetapi, saat kami tiba, suamiku sudah berubah pikiran menyangkut perkawinan kami.

"Aku mohon, pulanglah ke Amerika," katanya, mengakhiri diskusi penuh tangis yang kami lakukan dalam minggu pertamaku di Singapura.

Kukemukakan bahwa itu sulit karena kami sudah menjual apartemen setelah memperkirakan akan tinggal di Asia selama tiga tahun.

"Pergilah. Tolong," ulangnya.

Empat minggu kemudian, setelah kehabisan semua harapan untuk menyelamatkan perkawinan kami, aku me-ngantre di gerai Singapore Airlines sementara orang-orang di sekelilingku bergegas mantap menuju suatu tempat atau menjauhi seseorang. Aku sulit memusatkan perhatian pada apa yang sedang terjadi. Satu tanganku memegang erat dua paspor dan tangan satunya segenggam uang kertas yang tadi diambil dari satu gepokan tebal. Dengan terkesiap aku menjejalkan uang itu ke dalam saku, meraih tangan anakku, lalu diam di hadapan suami- ku. Haruskah kami berpelukan? Berciuman? Tak ada jalan bagi tubuh kami untuk mengucapkan selamat berpisah. Aku bergumam bahwa aku akan menelepon dari San Fransisco bila sudah tiba di rumah Sue temanku, lalu sam- bil menyeret anakku yang kebingungan aku melangkah me-nyusuri garbarata menuju pesawat yang sudah menunggu.

Ada lima belas lembar uang kertas $100.

Aku baru saja kehilangan perkawinan dan rumahku, dan aku punya seribu lima ratus dolar.

Karena buku ini tentang uang, aku tidak akan terlalu jauh membahas bagian aku kehilangan perkawinan itu. Cukuplah dikatakan bahwa hal pertama yang ada dalam pikiranku sewaktu aku terbang 35.000 kaki di atas Guam menuju Amerika lagi bukanlah uang. Tetapi, jika patah hati itu dikesampingkan, me-mang ada beberapa hal yang kukhawatirkan: Pendampingku adalah anak umur empat tahun, aku tidak punya pekerjaan, tidak ada rumah untuk kembali, dan setiap barang rumah tangga yang kumiliki sekarang terkunci dalam sebuah peti kemas di atas kapal kargo raksasa yang sedang berlayar menuju Asia melalui Terusan Suez.

Sepanjang ingatanku, aku selalu hidup dengan semacam pe-rasaan cemas yang kronis bahwa hal seperti ini akan terjadi. Bahwa aku akan kehilangan pijakan finansialku dan akhirnya harus berjalan mondar-mandir menyeret kaki yang beralas sandal rumah sambil mendorong kereta belanja menyusuri sebuah gang. Jika dilihat dari luar, rasa takutku itu tidak rasional. Karena aku lahir sebagai anak dari kelas menengah ke atas dengan semua hak istimewa, pengalaman, dan pilihan yang sudah termasuk dalam keanggotaan di Klub Penghasilan Setelah Pajak. Peluang bahwa aku akan tetap berada dalam batas bawah atau atas golongan penghasilan itu kemungkinan akan sangat besar. (Juga fakta bahwa, di saat-saat aku lebih waras, aku memang tahu bahwa suamiku adalah seorang laki-laki yang tidak bahagia dalam perkawinan ini bukan jahat dan bahwa ia tidak akan menelantarkan aku dan putranya). Namun, itu tidak menghilangkan kekhawatiranku bahwa suatu hari, tanpa peringatan, aku akan terjatuh dari amannya kehidupan-ku yang enak itu ke dalam kalau bukan kemiskinan suatu kualitas hidup yang begitu rendahnya hingga aku tidak akan sanggup menanggung. Ketakutan- ketakutan yang bandel ini terus bercokol meski selama bertahun-tahun aku sudah mencapai ke-mandirian finansial, dan biasanya membangunkanku pukul empat pagi dengan menyamar sebagai penyesalan karena aku sudah terdorong membeli sesuatu yang tidak perlu, dan aku yakin bahwa rasa takut itu merupakan langkah pertama pada jalan curam menuju kehancuran total.

Lalu, suatu hari, dengan sangat mendadak, ketakutan ter-burukku terwujud. Tanpa peringatan, perkawinanku hancur dengan menyeret keterjaminan finansialku. Bagaimanapun juga, aku sudah (dengan suka rela) menyerahkan kehidupan keuanganku kepada suamiku. Sekarang ia dan seluruh harta kami bergerak mundur dengan kecepatan lima ratus mil per jam.

Inilah yang sudah jelas: bahwa aku tidak akan mendapatkan kembali perkawinanku.

http://downloads.ziddu.com/downloadffile/17094803/MoneyMemoar-WanitaEmosidanUang.rar.html

The Baby Book

Tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya memulai praktik sebagai dokter anak, saya, yang telah dilatih di dua rumah sakit dokter anak terbaik di dunia, berpikir bahwa saya telah mengetahui segalanya tentang dunia bayi. Sebenarnya, teman-teman kami selalu mengatakan kepada Martha betapa berun tungnya ia karena menikahi seorang dokter anak. Martha selalu menjawabnya dengan, "Suami saya hanya dapat mengobati bayi-bayi yang sakit".

Pada minggu-minggu pertama saya melakukan praktik, saya merasa sangat terkejut. Para ibu selalu mengajukan pertanyaan nonmedis: "Perlukah saya membiarkan bayi menangis?" atau "Apakah kami akan membuat bayi kami manja bila sering menggendongnya?" atau "Apakah kami membuat pilihan yang tepat bila kami tidur dengan bayi kami?"

Saya tidak mengetahui jawaban per tanyaan ini, tetapi para orangtua mengandalkan saya karena saya seorang dokter spesialis anak.

Semua ini bukanlah pertanyaan medis, melainkan pertanyaan mengenai cara mengasuh anak. Saya mengetahui hal yang harus kami kerjakan dengan dua bayi kami, tetapi saya tidak berpikir bahwa hal ini dengan serta-merta membuat saya menjadi seorang ahli. Maka, saya membaca buku-buku mengenai bayi, persis seperti yang sedang Anda kerjakan sekarang. Buku-buku yang telah ada sangat mem-bingungkan karena terlihat seperti pendapat si penulis dan bukan berdasarkan hasil penelitian. Kebanyakan penulis kekurangan akal sehat, tidak memiliki pendirian, atau hanya mengajarkan hal yang sedang populer, baik efektif maupun tidak.

Saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahli yang sesungguhnya, yakni orangtua yang berpengalaman dalam praktik saya yang tampaknya dapat menangani masalah pengasuhan. Mereka adalah orangtua yang tampak selaras dengan anak-anak mereka, yang bisa membaca isyarat bayi mereka, dan yang menjawab secara intuitif serta sewajarnya; orangtua yang menikmati perannya sebagai orangtua, dan anak-anaknya tampak berhasil dengan baik.

Orangtua ini dan anak-anak mereka menjadi guru saya, dan saya menjadi pendengar yang baik dan pengamat bayi yang penuh minat. Saya membuat catatan dengan saksama tentang gaya pengasuhan yang mereka laksanakan. Saya me-ngumpulkannya dalam daftar "hal-hal yang berhasil", dan Martha bekerja dengan saya sepanjang masa-masa awal (sampai anak keempat kami lahir, Hayden) praktik saya itu, dan dia masih aktif sebagai penasihat orangtua serta konsultan tentang penyusuan. Praktik yang kami lakukan adalah penelitian lapangan, dan kami mempunyai "laboratorium" kami sendiri di rumah.

Setelah sembilan tahun mendengarkan dan mempelajari ketiga anak kami, kami mulai menarik beberapa kesimpulan tentang cara mengasuh anak. Dari daftar gaya pengasuhan para orangtua, kami memilih gaya yang berhasil dilakukan oleh banyak orangtua, dari waktu ke waktu. Kami mengajarkan konsep ini kepada orangtua lainnya dalam praktik sebagai dokter anak, dan kami menggunakannya dalam keluarga kami sendiri saat menjadi orangtua bagi kedelapan anak kami. Dari tahun ke tahun, Martha dan saya telah memodifikasi model pendekatan kami untuk menyesuaikan dengan perubahan gaya hidup dan memenuhi kebutuhan dari setiap anak (dan kami masih terus belajar). Dalam bab yang singkat ini, Anda dapat menemukan esensi dari praktik saya sebagai dokter anak selama 30 tahun, menjadi orangtua bagi kedelapan anak kami, dan menjadi konsultan bagi ribuan pasang orangtua.

Jangan harap Anda dapat mempelajari semuanya dengan sekejap. Pengasuhan anak adalah pekerjaan sepanjang hayat dan membutuhkan pengalaman secara langsung. Saran kami hanyalah kiat awal. Dari dasar-dasar ini, Anda dapat mengembangkan dan membangun gaya sendiri, gaya yang terbaik bagi temperamen bayi Anda dan kepribadian Anda. Selain itu, tidak ada cara terbaik yang dapat Anda putuskan bila Anda belum memiliki bayi. Anda tidak memiliki ide tentang hal yang dapat diperbuat seorang bayi bagi kehidupan Anda, dan cara seorang bayi dapat mengubah pandangan Anda. Dibutuhkan praktik secara langsung agar Anda bisa memutuskan seberapa sering Anda menggendong bayi, hal yang akan dilakukan bila bayi Anda bangun jam 3 pagi, dan waktu yang diperlukan untuk menyusui bayi Anda. Simpan ke- putusan-keputusan ini hingga Andamengetahui karakter bayi Anda. Namun, ada beberapa gaya pengasuhan yang harus disadari sebelum pekerjaan yang se-sungguhnya dimulai.

Sebelum kita masuk ke beragam gaya pengasuhan, mari buat kesepakatan. Pada awalnya, beberapa gagasan yang akan kami bagi dengan Anda mungkin asing dan berbeda bila dibandingkan dengan nasihat yang sudah Anda dengar di tempat lain. Namun, tolong jangan tutup pikiran Anda. Masuki dunia karier Anda sebagai orangtua dengan pikiran terbuka, atau Anda ber siap untuk frustrasi. Bayi yang mudah ditangani, seperti yang Anda harapkan, mungkin bukan bayi Anda. Tetap terbuka dengan ide-ide baru, dan pilihlah hal terbaik yang sesuai dengan keluarga Anda. Sebagai imbalannya, yakinlah bahwa semua hal yang kami paparkan dalam buku ini telah melalui penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Download


Authentic Happiness

Pada 1932, Cecilia O'Payne melakukan kaulnya di Milwaukee. Sebagai calon biarawati di Sekolah Biarawati Notre Dame, dia berjanji mendedikasikan seluruh sisa hidupnya untuk mengajar anak-anak. Saat diminta untuk memberikan gambaran singkat kehidupannya pada saat penting ini, dia menulis:

Tuhan memulai kehidupanku dengan baik, dengan menganugerahiku kasih yang tak ternilai.... Tahun-tahun yang kuhabiskan sebagai calon biarawati di Notre Dame adalah tahun-tahun yang sangat menyenangkan. Sekarang, aku menunggu dengan penuh semangat untuk menerima Jubah Suci Bunda Maria (jubah biarawati) dan untuk menjalani kehidupan yang bersatu dengan Kasih Ilahi.

Pada tahun yang sama, di kota yang sama, Marguerite Donnelly yang melakukan kaul yang sama mengungkapkan dalam autobio grafinya:

Saya lahir pada 26 September 1909 sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara, lima perempuan dan dua laki-laki... Tahun-tahun sebagai calon biarawati saya habiskan di biara, mengajar kimia dan bahasa Latin untuk siswa tahun kedua di Notre Dame Institute. Dengan kemurahan Tuhan, saya bertekad akan berbuat sebaik-baiknya untuk ordo kita, penyebaran agama, dan penyucian diri saya.

Dengan melakukan kaul itu, kedua biarawati ini, bersama 178 biarawati lainnya, menjadi subjek dari kajian paling menonjol yang pernah dilakukan tentang kebahagiaan dan umur panjang.

Upaya meneliti berapa lama manusia bisa hidup dan kondisi apa yang memperpendek dan mem-perpanjang umur sangatlah penting. Namun, ini adalah problem ilmiah yang amat pelik. Dilaporkan, misalnya, bahwa penduduk Utah berumur lebih panjang daripada penduduk di negara bagian yang menjadi tetangganya, Nevada. Namun, apa sebabnya? Apakah karena udara pegunungan yang bersih di Utah, atau karena Las Vegas dipenuhi dengan asap buangan? Apakah karena kehidupan Mormon lebih tenang dibandingkan dengan gaya hidup yang lebih ingar-bingar di rata-rata daerah Nevada? Apakah penyebabnya adalah menu makanan yang stereotip di Nevad a-junk food, camilan di penghujung malam, alkohol, kopi, dan rokok dibandingkan dengan makanan sehat dan segar dari pertanian, serta jarangnya alkohol, kopi, dan tembakau di Utah? Terlalu banyaknya faktor merugikan (begitu pula faktor menyehatkan) dalam kasus Nevada dan Utah membuat para ilmuwan kesulitan mendefinisikan penyebab umur panjang.

Tidak seperti warga Nevada atau bahkan Utah, para biarawati menjalani kehidupan yang rutin dan terjaga. Mereka memakan makanan yang secara umum serupa. Mereka tidak merokok dan minum alkohol. Mereka memiliki riwayat reproduksi dan perkawinan yang sama. Mereka tidak terkena penyakit seksual menular. Mereka memiliki kelas ekonomi dan sosial yang sama dan mereka memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan. Jadi, hampir semua faktor yang biasanya menyulitkan penelitian tidak dijumpai di sini. Namun, masih terdapat variasi umur serta tingkat kesehatan para biarawati itu. Cecilia masih hidup hingga usia 98 tahun dan belum pernah sakit sehari pun dalam hidupnya. Sebaliknya, Marguerite terkena stroke pada usia 59 tahun dan meninggal tidak lama setelah itu. Kita bisa pastikan bahwa gaya hidup, pola makan, dan pemeliharaan kesehatan mereka bukanlah penyebabnya. Akan tetapi, jika kita baca dengan saksama tulisan dari 180 calon biarawati itu, tampaklah perbedaan yang sangat menonjol dan mengejutkan. Lihatlah kembali apa yang ditulis Cecilia dan Marguerite, bisakah Anda menemukannya?

Download


Change Your Mindset, Change Your Life

KETIKA SAYA masih menjadi peneliti muda yang baru saja memulai tugas, suatu kejadian mengubah hidup saya. Saya terobsesi untuk memahami cara manusia menghadapi kegagalan. Saya memutuskan untuk mempelajarinya dengan memerhatikan cara para siswa bergulat dengan persoalan-persoalan sulit. Suatu ketika, saya putuskan untuk membawa anak-anak ke sebuah ruangan di sekolah mereka, membuat mereka nyaman, kemudian memberi mereka serangkaian teka-teki untuk dipecahkan.

Teka-teki awal memang mudah, tetapi teka-teki be-rikutnya cukup sulit. Ketika para siswa tersebut menggerutu, berkeringat, dan berusaha keras, saya mengawasi strategi-strategi mereka dan mencari tahu apa yang mungkin mereka pikirkan dan rasakan. Saya berharap ada perbedaan di antara anak-anak tersebut berkaitan dengan cara mereka menghadapi kesulitan. Tetapi, saya menyaksikan sesuatu yang tak pernah saya sangka- sangka.

Ketika dihadapkan dengan teka-teki sulit, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun menarik kursinya, menggosok-gosokkan kedua tangannya, berdecak, kemudian berteriak, "Aku suka tantangan!" Seorang siswa lainnya, yang tengah berusaha keras menyelesaikan teka- teki ini, menatap dengan ekspresi gembira dan dengan mantap mengatakan, "Kamu tahu, saya berharap ini akan memberi banyak pengetahuan!"

Apa yang salah dengan mereka? Saya bertanya- tanya. Saya selalu berpikir Anda dapat mengatasi kegagalan atau Anda tidak dapat mengatasinya. Saya tidak pernah berpikir seseorang menyukaikegagalan. Apakah anak-anak ini aneh ataukah mereka benar-benar memahami sesuatu?
Setiap orang memiliki teladan (ro/e model), seseorang yang menunjukkan jalan pada saat terpenting dalam hidupnya. Anak-anak ini adalah teladan saya. Jelas sekali mereka mengetahui sesuatu yang tidak saya ketahui. Dan, saya bertekad untuk mencari jawabannya agar dapat memahami jenis mindset yang dapat mengubah kegagalan menjadi karunia.

Apa yang mereka ketahui? Mereka tahu bahwa kualitas-kualitas manusia, semisal keterampilan intelektual, dapat dikembangkan melalui upaya tertentu. Dan, itulah yang mereka lakukan menjadi lebih cerdas. Bukan hanya tidak takut akan kegagalan, mereka bahkan tidak menganggap diri mereka gagal. Mereka menganggap diri mereka sedang belajar.

Di sisi lain, saya menganggap kualitas-kualitas manusia itu sudah ditetapkan (carved in stone). Anda cerdas atau Anda tidak cerdas dan kegagalan berarti Anda tidak cerdas. Sederhana saja. Jika Anda dapat meraih kesuksesan dan menghindari kegagalan (betapapun sulitnya), Anda bisa tetap cerdas. Perjuangan, kesalahan, dan ketekunan sama sekali tidak menjadi bagian dari gambaran ini.

Apakah kualitas-kualitas manusia merupakan sesuatu yang bisa dikembangkan atau sudah ditetapkan adalah persoalan lama. Makna dari kepercayaan-kepercayaan ini bagi Anda adalah sebuah kepercayaan baru: Apa konsekuensi dari pendapat bahwa inteligensi atau kepribadian Anda adalah sesuatu yang dapat Anda kembangkan, yang dipertentangkan dengan sesuatu yang merupakan sifat bawaan yang tetap? Pertama-tama mari kita tengok perdebatan lama yang sangat sengit tentang watak manusia, kemudian kembali ke pertanyaan apa arti kepercayaan-kepercayaan ini bagi Anda.

Download




INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...