ads

Rabu, 05 Juli 2017

Bismillah : Ini Tentang Cinta

Komentar Mimin Tentang Novel ini : Bingung! Katanya "Novel Islami", tapi menjadikan anak-anak SMA sebagai tokoh yang cenderung sinetronisme... lebih banyak menceritakan cinta-cintaan ketimbang pelajaran sekolah atau masa depan cemerlang, terlalu jauh bila dibandingkan dengan novel Kang Abik yang menggunakan tokoh dewasa (kuliah).. lalu pemaksaan dialog dalam bahasa Inggris pun cukup mengganggu, sebab cenderung meniru novel Kang Abik yang setting-nya di luar negeri... Kalau memakai bahasa jawa, gak masalah sebab memang settinganya berada di Semarang.

Mimin sih cuma bisa berkomentara, Lumayan... nilai 7 dari 10 bintang.  Cuma terus terang aja, Mimin keburu bosen membaca novel ini karena imajinasi Mimin kayak nonton sinetron yang ada di TV-TV tentang anak sekolah SMP-SMA yang cenderung kurang mendidik penonton. Mungkin bedanya, dalam novel ini terselip nasehat-nasehat islami yang bisa diambil hikmahnya... Harusnya penulis tidak menjadikan tokoh SMA yang setiap bab nya memikirkan cinta.

Mungkin, kalau penulis memakai tokoh yang BUKAN ANAK SMS, ceritanya akan terkesan seru. Sekian review Mimin. Cmiwww...

Resensi Novelnya bisa kamu baca disini.

Novel ini bercerita tentang seorang murid SMA bernama Haydar beserta 2 orang gadis yang kemudian menjadi takdirnya, Salma dan Lexa. Sebuah cinta segitiga yang dialami anak-anak remaja namun berakhir dengan indah.

Jika kita membaca sekilas alur cerintanya, pasti kita akan berfikir bahwa novel ini mirip dengan novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy. Tapi tidak sepenuhnya. Karena ketika membacanya kita akan menemukan banyak hal yang berbeda. Kita tidak akan menemukan sosok seperti Fahri yang sangat sempurna dan sangat taat. Melainkan sosok Haydar Ali Said seorang anak SMA yang masih nakal, anak band, humoris namun tetap religius. Kemiripan akan kita temukan pada sosok pemeran wanita, Lexa dan Salma. Salma mirip denga sosok Aisha, dan Lexa mirip dengan Maria. Namun tetap saja ada hal yang berbeda, Misalnya latar belakang Lexa yang berasal dari keluarga yang berantakan. Perbedaan lain juga kita temukan pada setting cerita yang bertempat di Kota Semarang, berbeda dengan novel Ayat-ayat Cinta yang bernafaskan timur tengah.

Aku mendapatkan banyak sekali pelajaran dari novel ini, sampai aku lupa dan harus mengingat-ngingatnya dulu. Penulis menyisipkan banyak sekali pesan moral melalui alur cerita yang kadang kala lucu dan menyentuh, hingga pembacanya menitikkan air mata, termasuk aku.

Pertama, tentang kebaktian seorang anak kepada ibunya. Pada bab 19, halaman 253. Ketika sebuah puisi dalam jam pelajaran bahasa inggris menyadarkan Haydar akan arti seorang ibu. Bagaimana seorang anak sering lupa akan keberadaan ibunya dan lebih mementingkan teman-temannya, bahkan pacarnya daripada ibunya sendiri. Saat itu juga Haydar menyiapkan sebuah kado ulang tahun untuk ibunya, walaupun uang itu akan ia gunakan untuk mengganti handphonenya yang telah rusak. Sesuatu yang jarang seorang anak lakukan pada ibunya.

Kedua, tentang kerja keras. Sebenarnya Haydar bukan berasal dari keluarga yang miskin. Tapi hanya karena ia ingin belajar bekerja keras dan meringankan beban ibunya yang sudah menjanda, ia bekerja sebagai loper Koran sebelum ia berangkat sekolah. Begitu juga dengan hobinya menulis. Walaupun tulisan yang ia kirimkan selalu ditolak, ia tetap tidak menyerah walaupun ia sampai jatuh sakit. Ia hanya yakin akan sebuah kata bijak yang ia tempel di kamarnya, bahwa "Akan ada satu keberhasilan diantara seribu kegagalan". Walaupun akhirnya ia sempat merasa putus asa, saat itulah ia mendapatkan keberhasilan ketika novelnya dijadikan cerbung dalam sebuah Koran lokal. Sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak mudah menyerah untuk menggapai cita-cita dan terus berusaha.

Ketiga, tentang arti sebuah persahabatan. Penulis menyajikan sebuah cerita persahabatan yang konyol dan menyentuh. Sebuah cerita persahabatan yang indah kala SMA. Novel ini mengajarkan kita bagaimana mengikat tali persahabatan sesama teman. Misalnya dengan saling memberi kado saat ulang tahun, dan surprise-surprise lainnya. Ketika Haydar terluka dan ingin balas dendam, teman-temannya tidak sungkan membantunya, bahkan ketika mereka harus masuk bui bersama, mereka tidak saling menyalahkan tapi saling berpelukan dan memberi semangat. Disinilah kita belajar ikhlas, saling menerima, dan setia kawan. That’s a beautiful friendship….

https://www.mediafire.com/?xbqa6dj63b23kk1

Sabtu, 01 Juli 2017

Protes! Protes! Protes!

Rumah itu masih terlihat besar, tapi tampak sederhana. Attar, si sulung yang berbadan tambun datang menjenguk ayah dan ibunya. Maklum, setelah punya rumah baru yang diperolehnya dengan cara mencicil, dan disibukkan pekerjaannya sebagai redaktur di Hari an Layar Perak, Attar jarang berkunjung ke rumah tempat dia dibesarkan itu.

Tapi sore itu tampak aneh. Baru saja Attar menginjak- kan kakinya di beranda depan, terlihat sosok yang unik. Sosok itu mirip dengan pahlawan film anak-an ak, Power Ranger atau Ultraman.

"Satu, dua, tiga, ciat! Satu, dua, tiga, ciat!"

Terdengar teriakan penuh semangat keluar dari bibir sosok aneh itu. Bagaimana tidak aneh, tampak seo- rang perempuan sepertinya memakai jilbab, tetapi ada helm besar di kepalanya. Helm itu berwarna hi- tam bertuliskan KAMMI lengkap dengan kaca di dep- annya. Bajunya juga unik seperti seragam silat. Tang- an dan kakinya bergerak-gerak layaknya sedang mem peragakan gerakan-gerakan silat aliran Partai Penge- mis dari Utara. Lengkap dengan Tongkat Penggebuk Anjing yang pernah dikuasai Oey Young, tokoh da- lam Sin Tiaw Eng Hiong alias Si Pendekar Pemanah Rajawali.

Tongkat itu dipakai, tampaknya untuk menghadang pukulan lawan, atau memukul bagian bawah sang musuh. Dengan penuh semangat sosok itu mempera- gakan gerakan bela diri dan menyerang secara ber- gantian.

Attar menatap sosok aneh itu dengan pandangan tak jub. Seolah tahu kalau dirinya ada yang mengamati, sosok ajaib tadi langsung menghentikan latihan silatnya.

Attar tiba-tiba sadar dan tergelak sendiri.

"Walah... walah... dikirain ada pendekar dari Pulau Bunga Persik. Ternyata adikku tersayang." ujarnya, sambil menahan tawa.

Ratna, sang adik, segera menghentikan latihannya dan mencibir, "Huuu...dasar Bocah Tua Nakal."

Mereka tertawa. Sudah lama keduanya tidak berceng kerama karena sibuk oleh kegiatan masing- masing.

"Lagi latihan apaan, sih? Teater ya?" Attar pura-pura tidak tahu.

"Ah, Abang. Ya, latihan buat demo besok dong! Gimana, sih! Apa gak lihat penampilanku yang udah heboh gini?" jelas Ratna, sambil memain-mainkan tongkatnya.

"Oooh..." mata Attar bersinar nakal.

"Udah, jangan ngeledek aku terus. Masuk dulu deh, ada Mama tuh."

"Ntar dulu, ah. Mau ngadem dulu di luar."

"Ya, udah."

Ratna membuka helmnya. Gadis itu lalu menaruh helm dan tongkatnya di garasi, tak jauh dari tempat sang Abang berdiri.

"Emangnya, kali ini apaan yang didemo?"

"Sekarang sih soal politikus busuk."

---> Download Disini <---


Mukjizat Al-Fatihah

Sebuah hadits menyebutkan, Ali bin Abi Thalib berkata, "Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman, Aku membagi surat Al-Fatihah menjadi dua bagian, setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku. Apa yang dimintanya akan Aku kabulkan.

Apabila ia membaca bismillaahirRahmanirrohiim, Allah berfirman, Hamba-Ku memulai pekerjaannya dengan menyebut nama-Ku, menjadi kewajiban-Ku untuk menyempurnakan seluruh pekerjaannya serta memberkahi seluruh keadaannya.

Apabila ia membaca alhamdulillahi rabbil alamiin , Allah berfirman, Hamba-Ku mengetahui bahwa seluruh nikmat yang dirasakannya berasal dari-Ku, dan bahwa ia telah terhindar dari petaka karena kekuasaanKu. Persaksikanlah olehmu (hai para malaikat) bahwa Aku akan menganugerahkan kepadanya nikmat-nikmat di akhirat selain nikmat-nikmat di dunia. Aku akan hindarkan pula ia dan petaka di dunia dan akhirat.

Apabila ia membaca Ar-Rahman Ar-Rahim, Allah berfirman, Aku diakui oleh hamba-Ku sebagai Pemberi rahmat dan Sumber segala rahmat. Persaksikanlah olehmu (hai para malaikat) bahwa Aku akan curahkan rahmat-Ku kepadanya dengan sempurna dan Aku akan perbanyak pula anugerah-Ku untuknya.

Apabila ia membaca maaliki yaumid diin, Allah berfirman, Hamba-Ku mengakui bahwa Aku adalah Raja, Pemilik hari pembalasan. Persaksikan olehmu (hai para malaikat), Aku pasti akan mempermudah perhitungan baginya pada hari itu. Aku akan terima kebaikan-kebaikannya, dan Aku akan ampuni dosa-dosanya.

Apabila ia membaca iyyaaka nabudu, Allah berfirman, Benar apa yang diucapkan oleh hamba Ku bahwa hanya Aku yang disembahnya, Persaksikan olehmu (hai para malaikat), Aku akan memberi ganjaran atas ibadahnya dengan ganjaran yang membuat semua orang yang berbeda ibadah dengannya akan merasa iri dengan ganjaran Itu.

Apabila ia membaca wa iyyaaka nastaiin, Allah berfirman, Hamba-Ku memohon pertolongan dan perlindungan kepada-Ku. Persaksikan olehmu (hai para malaikat), Aku pasti akan membantunya dalam segala urusannya. Aku akan tolong ia dalam segala kesulitannya, dan Aku akan bimbing ia pada saat-saat genting.

Apabila ia membaca ihdiinash shiraathai mustaqiim sampai akhir ayat surat Al-Fatihah (sampai waladh dhaaflim), Allah berfirman, Inilah permintaan hamba-Ku dan baginya apa yang dimintanya. Aku telah memperkenankan permintaannya; Aku penuhi harapannya, dan Aku tenteramkan jiwanya dan segala yang mengkhawatirkannya.”

Demikianlah sambutan Allah setiap kali kita membaca ayat demi ayat surat Al-Fatihah. Karena itu, ketika kita membacanya, kaitkanlah dengan kandungan makna hadits qudsi di atas. Ucapkanlah aamiin dengan maksud, "Ya Allah, perkenankanlah semua permohonan kami, jangan kecewakan kami ”



Adam 31 Meter

Pada mulanya saya tidak percaya Nabi Adam tingginya 30-an meter. Namun, berkat KH Ahmad Syahid (Mbah Syahid) Kemadu almarhum, saya percaya seratus persen, one hundred percent, (mi’ah fî al-mi’ah)! Sebelumnya tanpa saya beritahu, Mbah Syahid sudah tahu bahwa saya: tidak percaya!
Mbah Syahid berkata:

“Hadits bahwa Bapak Adam tingginya 30-an meter itu benar adanya dan benar-benar dari Kanjeng Nabi Muhammad. Kitab-kitab kunthet (kecil) yang memuat keterangan demikian pun benar adanya. Sampeyan harus percaya, bahwa beliau dan Ibu Hawa memang betul-betul amat tinggi. Kalau tidak, waktu hendak duduk berdampingan di atas Jabal Rahmat yang tingginya belasan meter tentu beliau berdua harus lebih dulu mencari tangga. Tapi tidak, beliau berdua ya langsung duduk begitu saja, sebab mereka memang betul-betul amat tinggi. Sunan Kalijaga mengenang hal ini dengan mengajarkan tradisi pengantin laki-laki dan perempuan agar duduk di kursi yang tinggi (orang Jawa menyebutnya “padhi-padhi”)!”

“Meskipun para ahli zaman sekarang, belum menemukan bukti adanya manusia yang tingginya puluhan meter, tapi soal ini sungguh ilmiah. Bapak Adam turun di Gunung Himalaya, Ibu Hawa di Makah! Makam Ibu Hawa di Jeddah. Ibu Hawa tingginya 28 meter. Sampeyan harus percaya!”

Seperti itulah kejadiannya, Mbah Syahid dengan persis membaca pikiran saya soal “keanehan”/musykilah hadits tentang tinggi badan Bapak Adam. Alhamdulillah, saya seka- rang tidak minder lagi membaca Teori Evolusi dengan segala kontroversinya.

Saya justru menjadi penggemar berat kajian tentang “manusia” purba. Karena tampak bagi saya, sebenarnya amat jelas dunung (proporsi dan porsi masing-masing) soal “manusia” purba dan manusia keturunan Adam! Keduanya berbeda nasab/lineage atau diskrit/terpisah secara genetik. Bagi saya, konyol kalau orang percaya bahwa “manusia” purba itu kemudian berevolusi menjadi manusia modern, seperti Darwin! Konyol juga kalau orang menolak fakta bahwa “manusia” purba pernah ada, seperti Harun Yahya!

Saya tidak akan malu membagi pengalaman tentang Mbah Syahid itu dan mengakui beliau adalah seorang jenius- keramat yang memulai dan membimbing wacana penting soal “manusia purba”, evolusi, dan manusia keturunan Adam ini.

Kepada pembaca, saya ingin berbagi “kenikmatan” memahami evolusi dan menemukan bukti-bukti formalnya dalam Al-Qur’an tanpa harus terjebak dalm arus pemikiran Darwinisme.

---> Download Disini <---


Smart Love : Rahasia Sukses Dalam Cinta

Bekal Cari Gebetan

Secara umum, supaya acara cari gebetan berlangsung Msukses, kamu perlu membekali diri dengan hal-hal berikut.

Perbaiki Penampilan

Meskipun kamu nggak ganteng atau cantik, tapi penampilan yang rapi akan membuat kamu enak dilihat. Apakah rambut perlu dipotong supaya kamu terlihat lebih keren? Apakah kuku tangan dan kaki kamu nggak dekil? Lihat penampilan kamu di kaca. Usahakan agar kamu sendiri senang melihat orang yang muncul di cermin itu. Kalau kamu sendiri nggak suka dengan penampilan kamu, gimana orang lain? Tapi perlu diingat, nobodys perfectl Jadi, kalau kulit kamu memang hitam  atau muka kamu penuh jerawat, mau diapain lagi? Yang penting kamu tampil rapi dan bersih.

Cari Tahu

Penting untuk mengetahui beberapa hal mendasar tentang si dia. Misalnya, sudah pernah punya pacar atau belum? Apakah dia jomblo seumur-umur? Apa kebiasaan dan hobinya? Kamu nggak perlu nanya langsung, bisa nanya ke temannya atau orang yang cukup kenal dengan dia.

Pendekatan yang dilakukan pasti berbeda kalau kamu sudah tau sedikit tentang si dia. Dan ini akan membuat kamu lebih lancar ngomong. Tapi, kalau totally blank alias nggak tau apa-apa karena baru pertama kali ketemu si dia, lakukan pembicaraan yang bersifat penjajakan. Misalnya kamu suka musik apa, suka jalan kemana, dan pertanyaan standar lainnya. Kalau omongan sudah nyambung baru nanya hal yang lebih privat. 

Siapkan Hal Penting

Mau jalan bareng? jangan lupa membawa beberapa barang penting seperti handphone, dompet, atau credit card. Apalagi buat para cowok. Handphone penting buat nyimpen nomer HP si dia atau nomer telepon rumahnya. Dompet berisi duit cash penting kalau tiba tiba pedekate kalian berlanjut ke acara makan bareng atau jalan bareng ke suatu tempat. Sementara credit card akan menjadi sangat penting kalau uang cash kamu kurang!

Tenangkan Diri

Sebagai umat beragama, nggak ada salahnya kamu berdoa dulu. Bisa juga kamu katakan kepada diri sendiri, "Tenang aja, aku pasti bisa tampil percaya diri di hadapannya dan bisa ngobrol dengan santai". Dengan melakukan sugesti, paling nggak kamu bisa lebih tenang dan pede. Atau hirup napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan supaya jantung nggak terlalu berdebar kencang atau nervous kala ketemu dia.


Minggu, 25 Juni 2017

Khadijah : Tersingkapnya Rahasia Mim

Setelah Ibrahim dan Hajar meninggalkan Al-Quds, keduanya harus menempuh perjalanan panjang meng- arungi padang pasir. Di belakang mereka hanya ada satu teman perjalanan. Ia adalah "angin sakinah" yang berembus tidak terlalu kencang. Tiupan angin ini begitu sepoi, lembut membelai, seolah hendak mengungkapkan dukungannya kepada keluarga yang tunduk berserah diri itu. Setiap langkah yang diayunkan merupakan satu tataran terangkatnya derajat mereka karena mampu melewati ujian yang akan membuat keduanya dikenang sebagai hamba yang agung dalam sejarah.

Selama berhari-hari, tanpa bicara, mereka terus berjalan. Sang ayah berada di depan, sementara sang ibu berada persis di belakangnya dengan seorang bayi mungil dalam pelukan. Sementara itu, "angin sakinah" menyelimuti mereka dalam tiupan lembut membelai dan terus mengiringi mereka berjalan... terus berjalan.

Mereka kemudian berhenti di suatu bukit kecil yang banyak sisa reruntuhan. Tempat ini dinamakan Bait al-Atik, tempat yang dulu pernah ditinggali Adam, rumah paling tua di dunia yang saat itu dalam keadaan rusak dan reyot, dengan dinding hampir roboh karena hempasan angin dan berada sendirian di antara ham- paran samudra padang pasir yang mengelilinginya.

Hajar lalu bertanya kepada suami dan juga nabi yang diimaninya.

"Akankah Kanda meninggalkan kami berdua di sini?" Tak ada jawaban, tak pernah ada jawaban…

Sampai akhirnya sebuah pertanyaan yang terucap, "Ataukah semua ini adalah sebuah ujian yang diperin- tahkan Allah?"

Ayahanda kita, Ibrahim, dengan wajah menanggung pedih namun berserah diri kepada takdir yang menim panya berkata, "Iya, Dinda akan ditinggal di sini seba- gai perintah dan ujian dari Allah."

Ibrahim pun melangkahkan kaki untuk meninggalkan nya.

Ibunda Hajar hanya seorang diri di tengah-tengah pa- dang pasir dengan bayinya. Ibrahim meninggalkan me reka di Baitul Atik yang tinggal puing-puing bertim- bun pasir. Perintah Allah telah menghendaki yang demikian sebagai ujian sehingga Ibunda Hajar pun men- jadi "Hajar" yang sesungguhnya.

Hajar berarti batu
Ia berarti pula ruangan
buaian
dan juga: mata

Setelah sejenak memandangi hamparan padang pasir di panas terik tanpa ada tempat berteduh, tebersit perasaan papa dalam hati Hajar yang masih muda belia. Memang telah disampaikan jauh sebelumnya bahwa semua ini adalah sebatas ujian baginya. Namun, tetap saja hatinya tersayat dan semakin tersayat oleh lang- kah kaki sang suami yang semakin menjauh mening- galkannya.

Inilah saat awal dimulainya rangkaian ujian. Ibrahim Khalilullah adalah satu-satunya tempat berteduh, seo- rang nabi yang diimani, seorang suami yang dicintai, tempat berbagi dan segalanya baginya.

Kini, ibunda kita hanya seorang diri, sunyi di tengah- tengah hamparan samudra padang pasir dalam usia- nya yang masih muda.

Akankah hanya terus duduk dan menunggu? Ah… setidaknya Ismail masih ada di sisinya.

Ismail adalah buaiannya. Tidaklah mungkin ia tahan terhadap terik padang pasir, haus yang melanda, dan panas mentari tanpa dipayungi yang dapat menghenti kan detak jantungnya. Panik bercampur gelisah hati Hajar. Ia pun bersimpuh di hadapan buah hatinya, memerhatikan dengan penuh iba wajah bayinya yang pucat pasi karena berhari-hari dalam perjalanan. Wa- jah mungil itu lalu diusapnya dan kemudian ditutupi.

"Duhai Allah, janganlah Engkau perlihatkan kematian nya kepadaku," pintanya dalam pilu.

Setelah bersimpuh merintih dalam tangisan, kembali- lah sang ibunda kita dalam kesadaran. Ya, suaminya yang juga seorang nabi telah berpesan bahwa semua ini adalah serangkaian ujian. Untuk itu, ia tidak ingin melewati serangkaian ujian ini hanya dengan duduk menanti. Mungkin saja, seandainya hanya sendiri, akan ia kuatkan ujian ini dengan hanya menanti. Na- mun, sebagaimana jiwa seorang ibu, Hajar menyadari kalau kehidupannya tidak akan mungkin berlalu se- orang diri.

Ia pun kembali bangkit untuk sang buah hati. Demi anaknya, ia basuh wajahnya dari linangan air mata. Ibunda kita itu bangkit untuknya.

Dengan cepat, ia berlari ke bukit Safa. Semakin jauh berlari, dalam pandangannya, bukit itu terlihat penuh dengan rerimbunan pepohonan. Hatinya penuh harap saat berlari ke sana.

Benarkah yang ia lihat hanya mimpi? Ataukah itu hanya sebuah ilusi?

Sesaat Hajar tertegun, tebersit merenungi tabir mimpi itu. Tabir mimpi itu mengentakkan jiwanya untuk ber- lari. Ia kumpulkan kembali tenaga untuk berlari; pela- rian untuk mengejar iradah, harapan, dan kedekatan. Sesuatu yang penuh dengan jiwa yang terbakar, lesatan seorang ibunda ke dalam kobaran unggun perapian.

Sesampai di Safa, matanya menyapu sekeliling bukit. Ia menerawang mencari kailah yang berlalu atau sumber air yang ada di kejauhan. Ia mencari dan terus mencari. Namun, semua itu tiada. Tidak ada sama sekali yang tersapu oleh pandangannya, baik jejak kaki maupun gerakan yang memberikan harapan.

Kemudian, ia kembali berlari dengan cepat menuruni bukit. Ia terus menatap bukit yang lain dalam lesatan kaki berlari. Nama bukit itu adalah Marwa. Kali ini, hatinya penuh harap. Mungkin ia akan mendapati apa yang dicari dengan mendaki puncaknya.

Demikian seterusnya hingga genap tujuh kali ibunda kita naik turun di antara bentangan dua kaki bukit Safa dan Marwa dengan terus berlari. Berlari dan terus berlari sembari hatinya penuh dengan tangis, mendoa, dan merintih dengan kelembutan air susu ibu kepada Ilahi Rabbi. Ia bakar dirinya dengan api tazar- ru' yang membara, seolah dirinya telah menjadi lilin yang berpijar nyala apinya.

Dan Allah telah mengujinya dengan kesendirian. Per- juangannya telah menjadi mahkota ujian suci ini, yang pada akhirnya dijawab dengan air Zamzam yang terkumpul untuknya.

Zamzam adalah air cinta, perjuangan, dan kemaksum an seorang ibu.

Air telah menjadikan kehidupan baru bagi Hajar dan buah hatinya. Pun sebagai hadiah sebuah kota baru bagi umat manusia. Lesatan ibunda Hajar di antara bentangan dua bukit Safa dan Marwa bukan hanya bagi buah hatinya, melainkan juga bagi kota Mekah yang akan dibangun kemudian.

Para penduduk Mekah selalu mengenang perjuangan ini dengan menaruh ke dalam keyakinan penghormat- an atas dua bukit yang telah Allah jadikan sebagai is- yarat. Hajar berupaya mengumpulkan air yang mer- embes dari dalam tanah dengan terus berkata "tung- gu!" seraya membendungi sekitarnya dengan tanah, dengan perasaan khawatir akan lenyap.

"Tunggu… tunggu…."

"Zamzam…."

Lewat dirinyalah air bersejarah itu hingga kini memi- liki nama.

Tatkala tempat di sekitar sumur mulai hijau merim- bun, saat burung-burung mulai beterbangan hinggap di sana, dengan menukik dari ketinggian terbangnya, hal itu menjadikan tanda adanya sumber air bagi para musair yang memandanginya dari kejauhan. Mereka pun mengikuti arah terbang burung-burung itu. Se- sampainya di sana, di saat mereka dapati sebuah su- mur dengan seorang ibu dan putranya, segeralah me- reka berucap salam.

Demikianlah, dengan persyaratan menjunjung hak Hajar dan putranya, para pengembara yang melewati nya satu persatu ditawari menetap di sana. Mereka pun dengan senang hati memutuskan menetap di tem- pat itu. Kabilah Jurhum telah memenuhi janji untuk menjunjung hak Ibunda Hajar dan putranya. Mereka menetap di sana untuk menjadi saksi terbangunnya kota nan indah yang baru: "Bekah".

Para pengembara kaum badui sering melafalkan huruf B berdekatan dengan huruf M sehingga kaum Jurhum kemudian lebih terbiasa menyebut Bekah dengan Mekah. Lalu, tibalah masa putra Ibunda Hajar, Ismail, yang juga seorang nabi seperti ayahandanya, Ibrahim, menikah dengan salah satu putri penduduk Mekah dari al-Quds.

Setelah berabad-abad kemudian, generasi yang berasal dari garis keturunan Jurhum, yaitu Qusay, yang juga menjadi pemimpin bagi kota Mekah, menjadikan garis keturunan nabi terakhir terhubung dari Nabi Ismail, Ibunda Hajar, hingga Nabiyullah Ibrahim.

Buku ini tertulis dengan niat menjelaskan sosok ibun- da mulia Khadijah al-Kubra, yang juga merupakan istri sang utusan terakhir, Muhammad, dan cucu dari Ibunda Hajar yang terlahir berabad-abad kemudian.

Semoga Allah berkenan mencurahkan rida dan rid wan-Nya kepada mereka dan semoga kita yang mewarisinya mampu meneladani kehidupannya dalam guyuran limpahan safaatnya.




Sabtu, 17 Juni 2017

Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah

GARIS keturunan Bani Utsmani bersambung pada kabilah Turkmaniyah yang mendiami Kurdistan, pada awal abad ke-7 H (abad ke-13 M). Mereka berprofesi sebagai penggembala. Akibat serangan orang-orang Mongolia di bawah pimpinan Jengis Khan ke Irak dan wilayah-wilayah Asia Kecil; Sulaiman, kakek dari Utsman melakukan hijrah tahun 617 H/1220 M untuk menyelamatkan diri. Bersama kabilahnya, dia meninggalkan Kurdistan menuju Anatolia dan menetap di Kota Akhlath. Sulaiman sendiri meninggal tahun 628 H/1230 M. Dia digantikan salah seorang puteranya bernama Urthughril yang terus bergerak sampai mencapai Barat Laut Anatolia. Bersamanya terdapat sekitar 100 kepala keluarga yang dikawal lebih dari 400 penunggang kuda. 

Tatkala Urthughril, ayah Utsman, melarikan diri bersama keluarganya yang berjumlah sekitar 100 keluarga menghindari serangan orang-orang Mongolia, tiba-tiba dia melihat dengan jelas sebuah keributan. Tatkala mendekati lokasi keributan itu, disana dia mendapati satu pertempuran sengit antara kaum muslimin dan orang-orang Nasrani. Ketika itu, pendulum kemenangan berada di pihak orang-orang Byzantium. Melihat kenyataan tersebut, hati Urtughril terdorong untuk menolong saudara-saudaranya kaum muslimin. Bantuan ini ternyata menyebabkan kemenangan di pihak kaum muslimin atas orang-orang Nasrani. 

Seusai pertempuran, komandan pasukan Saljuk memberi penghargaan atas sikap dan bantuan Urtughril bersama rombongan. Dia memberikan sebidang tanah di perbatasan Barat Anatolia, di dekat perbatasan Romawi. Selain itu, dia diberikan wewenang menaklukkan wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Dengan demikian, pemerintahan Saljuk telah berhasil membentuk sekutu baru dalam berjihad melawan orang-orang Romawi. Persekutuan antara Saljuk dan negeri baru itu terjalin kuat, adanya satu musuh bersama (common enemy).

Aliansi itu terus terjalin kuat selama masa hidup Urtughril. Urtughril sendiri meninggal tahun 699 H/1299 M. Setelah meninggal dia digantikan oleh anaknya yang bernama Utsman. Dalam menjalankan roda pemerintahan, dia mengikuti kebijakan ayahnya dalam memperluas wilayah di negeri-negeri Romawi.

Pada tahun 656 H/1267 M, Utsman anak Urtughril lahir. Utsman inilah yang kemudian menjadi nisbat (ikon) kekuasaan Khilafiah Utsmaniyah. Tahun kelahirannya bersamaan dengan serbuan pasukan Mongolia di bawah pimpinan Hulaku yang menyerbu ibukota Khilafah Abbasiyah, Baghdad. Penyerbuan ini merupakan tragedi paling mengenaskan dalam sejarah kaum Muslimin.

Tentang kejamnya serbuan Hulaku itu, Ibnu Katsir menjelaskan, "Mereka datang menyerbu Baghdad, membunuh siapa saja yang bisa mereka bunuh baik laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, orang jumpo, maupun remaja. Saking ketakutan, banyak orang yang bersembunyi beberapa hari di dalam sumur, di tempat-tempat binatang buas, tempat-tempat kotor, atau sama sekali tidak berani keluar rumah. Ada sebagian orang yang berusaha bersembunyi di dalam toko-toko, lalu mereka menutupkan pintu. Namun pasukan Mongol membuka pintu dengan paksa, baik dengan cara mendobrak atau membakar. Kemudian mereka memasuki toko-toko itu dan menyeret orang-orang di dalamnya ke atas atap-atap rumah, lalu dibunuh disana sehingga darah mengalir demikian derasnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Demikian pula orang-orang yang sembunyi di dalam mesjid, tempat-tempat pertemuan, semuanya dibunuh. Tak ada yang selamat kecuali mereka yang berasal dari kalangan Ahli Dzimmah, yaitu Yahudi orang-orang Nasrani dan orang-orang yang meminta perlindungan pada mereka.”




INFORMASI

Musrenbang RKPD 2020: Ini Daftar 9 Prioritas Pembangunan Jawa Barat

BANDUNG, BAPPEDA JABAR –  Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rancangan ...